
Rafael keluar dari ruangan ganti dan kini menatap ke arah sosok wanita yang sudah bersembunyi di balik selimut tebal dengan posisi memunggungi.
'Cepat sekali ia tidur,' gumam Rafael yang kini tengah berjalan menuju ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana.
Kini, ia mengambil ponsel dan memeriksa apakah ada pesan dari Aealeasha. Saat tidak ada pesan dari mantan istrinya yang sangat dikhawatirkan karena beberapa hari ini seperti menghindar, kini ia memencet tombol panggil.
Berharap mantan istrinya mau berbicara dengannya. Namun, meskipun sudah tersambung, tidak diangkat dan membuatnya sangat kesal.
"Apa ia akan selalu menghindar dariku? Bahkan melarangku pergi ke sana?" Rafael kini memilih untuk mengirimkan pesan karena mengetahui bahwa Aealeasha tidak akan mau berbicara dengannya karena statusnya yang merupakan suami wanita di atas ranjang tersebut.
'Satu bulan, setelah itu, aku bisa kembali bebas menemui Aealeasha setelah bercerai nanti. Alesha pun tidak akan menemui Alex, jadi aku pun harus melakukan hal sama.'
Rafael yang masih belum mengalihkan perhatian dari Alesha yang meringkuk sambil memeluk guling, kini mengingat kejadian saat tadi mencium wanita itu tanpa sengaja.
Refleks ia menepuk jidat berkali-kali karena merasa perbuatannya sangat konyol dan bodoh.
'Bisa-bisanya aku tadi mencium Alesha. Kenapa aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya saat melihat bibirnya?'
Rafael kini tidak berkedip menatap siluet wanita yang membuatnya merasa sangat bingung akan apa yang dilakukannya.
Ingin memastikan penyebab ia melakukan itu pada Alesha, kini bangkit berdiri dari sofa dan berjalan mendekati ranjang. Apalagi ia dari tadi tidak bisa melihat wajah wanita itu karena pada posisi memunggungi, sehingga kini berjalan mendekat.
Begitu tiba di sebelah kanan ranjang, Rafael terdiam sejenak saat menatap ke arah wanita dengan mata tertutup rapat tersebut. Ingin memastikan apakah Alesha sudah tidur, ia membuka suara.
"Alesha! Apa kamu sudah tidur?"
Karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan, kini Rafael mendaratkan tubuhnya di atas ranjang dan memanjakan mata untuk menatap sosok wanita di hadapannya tersebut.
__ADS_1
Ia terdiam dengan tidak berkedip menatap intens wajah wanita yang menurutnya memiliki paras cantik tersebut. Ia akui bahwa wanita yang terikat perjanjian pernikahan dengannya tersebut sangat cantik saat tertidur.
Pemandangan yang saat ini dilihatnya berbanding terbalik dengan kenyataan di masa lalu ketika Aealeasha masih menjadi istrinya di masa lalu. Ia memang menjadi suami siri Aealeasha dulu, tapi tidak pernah tidur dalam satu ruangan seperti ini.
'Dulu aku tidak pernah melihat wajah istriku saat tertidur karena kami berasal dalam ruangan berbeda. Meskipun miris, tetap saja aku sangat mencintai wanita yang tidak pernah bisa mencintaiku.'
'Aealeasha bisa melihat ketulusanku, tapi tidak bisa menerima cintaku karena hanya mencintai Arsenio sejak dulu. Nanti, sekarang aku kembali berharap jika takdir buruk Aealeasha adalah takdir baik untukku. Apakah kali ini aku bisa memiliki hatinya setelah Arsenio menyakitinya?'
Rafael kini menatap wanita yang tertidur pulas tersebut dengan berkutat pikiran galau karena membandingkan antara Alesha dan Aealeasha. Hingga pandangannya berhenti pada satu titik, yaitu bibir sensual yang tadi dinikmatinya.
Ia seketika menelan ludah karena kembali membayangkan bisa mencium bibir merah jambu wanita yang sudah larut dalam alam bawah sadar tersebut.
'Astaga! Kenapa otakku sekarang jadi sangat kotor semenjak menikmati bibir Alesha?' gumam Rafael yang kini memilih untuk menghindar dan beranjak dari ranjang dan kembali ke sofa sambil menepuk jidat berkali-kali.
'Lupakan itu dari pikiranmu, Rafael. Aku bukan pria mesum.'
Puas bergumam sendiri di dalam hati, kini Rafael memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas sofa dan berharap bisa segera tidur dan melupakan semua hal yang memenuhi pikirannya.
Meskipun faktanya adalah sang pria sama sekali tidak mengingatnya, tetap saja ia tidak bisa mengatakan semua yang terjadi. Ia hanya bisa menahan sendiri semuanya dengan perasaan berkecamuk dan membuncah yang menyiksa.
'Bisa-bisanya ia memikirkan mantan istrinya saat aku ada di hadapannya. Rafael, kenapa aku harus bertemu dengan pria berengsek sepertimu. Jika ia sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun padaku, kenapa tadi menciumku?'
'Kenapa bercinta denganku dan sama sekali tidak mengingatnya? Bahkan aku tidak bisa melupakan ekspresi wajahnya ketika menunjukkan saat mencapai puncak kenikmatan.'
Alesha yang kini masih pada posisi meringkuk di bawah selimut sambil memeluk erat guling, kini membuka mata dan melihat dinding berwarna abu-abu tersebut.
Ingin sekali ia berbalik badan dan melihat apa yang saat ini dilakukan Rafael. Bahkan ingin sekali ia marah pada pria yang dengan mudah menyebut nama mantan istri saat berada di hadapannya.
__ADS_1
Marah saja tidak cukup mewakili perasaannya saat ini, tapi ia harus menahan diri dengan berakting tidak merasakan apapun.
Hal yang membuatnya sangat tersiksa Adam tidak bisa protes atau marah atas perbuatan Rafael, sehingga hanya bisa berakting seperti tidak terjadi apapun padanya. Padahal sebenarnya hatinya bergejolak dan ingin sekali mengumpat pria yang telah menikmati tubuhnya.
Hingga ia berjenggit kaget saat mendengar suara bariton dari pria yang dari tadi ingin ia umpat.
"Berengsek! Aku tidak bisa tidur!" sarkas Rafael yang dari tadi selalu mengingat ciumannya pada Alesha, sehingga ia yang tadinya berbaring di atas sofa tersebut langsung bangkit dan kini duduk sambil menatap ke arah sosok wanita yang ada di atas ranjang.
"Kenapa aku tidak bisa melupakannya?" Rafael berbicara dengan mata terarah pada Alesha.
Di sisi lain, Alesha yang bisa mendengar pertanyaan Rafael, seketika mengepalkan tangan untuk meluapkan amarah yang membuncah di dalam hati.
'Dasar pria berengsek! Kau sudah menjadi mantan suami wanita itu, tapi kenapa masih memikirkan mantan istrimu yang telah bahagia bersama dengan suaminya? Dasar pria bodoh!'
Karena merasa sangat kesal, Alesha kini tidak lagi berpura-pura tidur dan berbalik badan untuk melihat sosok pria yang baru saja berteriak dan memecahkan keheningan di dalam ruangan.
"Apa yang kamu lakukan sebenarnya? Berteriak seperti sedang berada di hutan saja?" Alesha kini menatap tajam Rafael yang hanya diam saja ketika ia marah dan mengumpat.
Tentu saja hal itu membuatnya semakin kesal, sehingga langsung bangkit dari ranjang dengan posisi duduk. "Apa kamu tidak suka aku tidur di kamar ini? Hingga berteriak saat aku tertidur?"
Rafael yang tadinya tidak bermaksud untuk membangunkan Alesha karena umpatannya, kini tidak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya melihat Alesha yang menatapnya sangat tajam.
'Sial! Kenapa aku tadi berteriak? Alesha jadi bangun karena terkejut dan juga salah paham,' gumam Rafael yang kini melihat Alesha bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arahnya sambil mengumpat.
Namun, satu-satunya yang ia lihat saat ini hanyalah bibir sensual yang bergerak dan membuatnya kembali mengingat aksi ciumannya.
'Rasanya aku ingin menciumnya dan melanjutkan hal yang tadi sempat tertunda,' gumam Rafael yang saat ini menelan ludah dengan kasar kala membayangkan bisa membuat wanita yang kini sudah berdiri menjulang di hadapannya tersebut tanpa busana.
__ADS_1
To be continued...
To be continued...