
Alesha keluar dari toilet dengan pandangan kosong. Ia masih syok setelah mendengar kebenaran yang telah didengarnya dari Stella bahwa Alex telah mengalami kecelakaan yang membuat pria itu mengalami amnesia.
Ia bahkan tidak tahu bagaimana memperjelas perasaannya sekarang. Rasanya semua terlalu bercampur aduk.
Bisa dibilang lega karena ia tahu kalau Alex tak mengingat masa lalunya, tentang mereka, dan aib yang ingin ditutupi.
Bisa juga dibilang khawatir karena nyatanya ia mengkhawatirkan bagaimana keadaan lelaki itu sekarang. Bagaimana rasanya hidup meninggalkan ingatan dan tidak mengetahui banyak hal yang terjadi dalam momen hidupnya?
Alesha mengembuskan napasnya pelan. Ia lantas menggelengkan kepalanya sendiri, mencoba menghilangkan lamunan tentang lelaki itu.
Ia akhirnya menegaskan niatnya dalam hati, untuk pura-pura tidak mengenal lelaki itu, tidak berurusan lagi dengannya, lantas menjalani masa kuliah dengan tenang. Ya, akan ia putuskan seperti itu. Pasti semuanya akan berjalan dengan baik.
Kemudian ia menipiskan bibirnya, lantas tersenyum percaya diri, memberikan energi positif pada diri sendiri.
Ia kemudian melihat jam pada handphone-nya, waktu menunjukkan bahwa jam kuliah akan dimulai sepuluh menit lagi. Alesha seketika panik. Ia kemudian bergegas menuju kelasnya.
Alesha kini terlihat menyusuri area kampus yang luas. Wanita itu sudah tahu bahwa ia butuh waktu tujuh menit untuk sampai ke gedung fakultasnya dari sana dan setelah sampai, hanya butuh beberapa saat untuk menemukan ruangan kelasnya.
Alesha kemudian memasuki ruangan kelas yang dituju seraya mengembuskan napas lega. Sudah ada beberapa mahasiswa yang duduk di sana menunggu jam kuliah yang akan berlangsung tak lama lagi.
Wanita itu kemudian duduk memilih kursi yang terletak di pojok kiri paling depan.
Tak lama kemudian, sang dosen memasuki kelas itu, seorang wanita yang mengenakan setelan blazer berwarna merah muda dan celana yang berwarna senada.
Wajahnya tetap terlihat cantik meski sudah berumur dan tubuh jenjangnya serta cara berjalannya yang terlihat elegan membuatnya tampak begitu berwibawa.
"Selamat pagi, semuanya. Mungkin kalian sudah tahu, tetapi saya akan kembali memperkenalkan diri secara singkat. Nama saya adalah Emy."
"Saya akan menemani kalian sebagai dosen dalam mata kuliah Technical Langue yang akan kalian pelajari dalam satu semester ke depan. Apakah kalian siap?"
Sang dosen memberikan salam pembuka, dibalas dengan sorakan semangat di dalam ruangannya.
Sementara Alesha ikut tersenyum ketika melihat wanita itu tersenyum. Aura positifnya begitu menular.
__ADS_1
Akan tetapi, kemudian Alesha merasakan ada hal yang aneh. Ia seketika menggerakkan bola matanya ke kanan dan ke kiri, sembari berpikir keras.
Tak lama, ia langsung membuka notes book-nya untuk memastikan. Wanita itu melihat jadwalnya sendiri dalam bukunya dan seketika kelopak matanya membulat, menyadari kesalahannya yang konyol.
Alesha menggigit bibir bawahnya. Ia kemudian memutuskan untuk mengangkat tangannya pelan.
Sampai kemudian sang dosen yang ada di depan menyadarinya. "Ya? Apakah ada sesuatu yang ingin ditanyakan?" tanyanya.
"Tidak, sebenarnya … ah ... tidak. Saya memohon maaf sebelumnya."
Alesha mengeluarkan suaranya dengan terbata. Ia terlalu gugup karena itu adalah pertama kalinya ia berbicara langsung dengan dosen di kampusnya. Rasanya mendebarkan. Andai saja situasinya tidak memalukan seperti ini.
"Untuk?" Emy kini menaikkan alisnya karena merasa aneh melihat sikap mahasiswi itu.
Alesha yang kini hanya bisa menggaruk tengkuknya kikuk. "Sepertinya saya sudah salah memasuki kelas."
Emy membulatkan mulutnya. "Astaga," gumamnya. "Kalau boleh tahu, kelas apa yang seharusnya kamu masuki saat ini?"
"Wah, mahasiswa tingkat satu, ya. Pantas saja bisa salah masuk kelas. Untung saja kamu langsung menyadarinya. Mata kuliahku bukan untuk dipelajari oleh mahasiswa tingkat satu."
Emy mengangguk maklum. "Kalau tidak salah, kelasnya berada dua kelas di sebelah sana." Wanita itu menunjuk ke arah utara.
Alesha yang merasa kesulitannya sudah teratasi, kini berdiri. Ia menunduk memberikan hormat. "Terima kasih banyak, Mrs. Emy. Saya memohon maaf sekali lagi. Kalau begitu, saya mohon undur diri dan permisi dari sini."
"Tidak apa-apa. Semangat!" balas Emy dengan senyum lembutnya.
Alesha kini kembali tersenyum. Melihat bagaimana sifat dosennya yang satu ini, rasanya ia seketika tertular energi positif.
Ia yang tadinya merasa harinya telah berantakan, kini merasa lebih baik.
Itu semua karena ia yang tadinya merasa cemas, kini perasaannya telah membaik. Alesha berharap ini adalah pertanda bagus.
Ia kemudian bergegas dengan tergesa menunju ruangan kelasnya seperti yang ditunjukkan oleh Mrs. Emy. Ia berjalan melewati satu dua ruangan hingga kelasnya terlihat.
__ADS_1
Langkah demi langkah telah ia jejaki. Alesha akhirnya berhasil memasuki kelasnya. Sayangnya, ia disambut dengan hening, serta tatapan-tatapan yang menghujaninya dari seisi kelas.
Wanita itu tertegun. Wah, kelasnya sudah terisi penuh sekarang, sedangkan dari ujung depan, seorang lelaki tengah menatapnya tajam sekarang. Alesha seketika melebarkan kelopak matanya.
Bukan hanya karena seorang dosen sedang menatapnya sengit di depan sana, tetapi karena orang itu adalah orang yang dikenalnya.
Siapa lagi kalau bukan Alex Claire.
Wanita itu kini mengigit bibirnya sendiri dan mengumpat di dalam hati. 'Mampuslah aku.'
"Maaf, Pak. Saya terlambat," ucapnya dengan suara bergetar.
Wanita itu kemudian menunduk dalam dengan gestur meminta maaf, sekaligus tidak berani menatap wajah lelaki di hadapannya.
Langkah kakinya bergerak ragu. Perlahan-lahan tungkainya ia gerakkan pada sudut terdekat menuju kursi yang masih tersisa. Sampai kemudian ia memberanikan diri untuk melangkah menjauh.
Akan tetapi, sayangnya, baru saja ia melangkah sejauh satu meter, sebuah suara kini menginterupsinya.
"Siapa yang memperbolehkanmu duduk?"
Suara penuh intonasi sinis yang terdengar kejam. Itulah yang Alesha pikirkan. Aura kelas yang dipijaknya sekarang menjadi berkali-kali lipat lebih menyeramkan. Bahkan lebih menyeramkan dari kelas kosong yang digunakan untuk acara uji nyali di televisi.
"Apakah kamu tahu apa akibatnya kecerobohan kecil dan keterlambatanmu kepada teman-teman sekelasmu yang lain? Ketidakdisiplinan itu sangat tidak bisa ditoleransi dalam kelas saya."
"Tidak disiplin, sama saja artinya dengan kamu tidak menghargai kelas saya." Alex melontarkan kata-kata penuh penekanan.
"Mohon maaf, Pak. Saya tadi baru saja jatuh dan harus membersihkannya. Saya sudah berusaha datang tepat waktu, tapi tidak disangka malah masuk kelas yang salah." Alesha tiba-tiba menjelaskan dengan frekuensi cepat.
"Orang yang tidak menghargai saya tidak pantas berada di dalam kelas ini dan tidak ada waktu untuk mendengar alasanmu. Jadi, silahkan keluar!" Alex tak mempedulikan penjelasan mahasiswi yang sangat dihafalnya tadi membuat sepatunya kotor.
Lelaki itu kini merentangkan satu tangan, mengarahkannya pada pintu, di mana gadis itu masuk tadi agar segera meninggalkan ruangan kelas.
To be continued...
__ADS_1