
Sementara itu, Aeleasha yang sebenarnya merasa sangat mengantuk, seperti langsung hilang begitu mendengar kalimat bernada vulgar yang kembali membuatnya merasa sangat malu dan tidak mempunyai muka lagi di depan pria dengan paras tampan tersebut.
'Sial, aku benar-benar tidak bisa tidur nyenyak hari ini. Dia memang sangat pandai membuatku serasa tidak mempunyai muka,' lirih Aeleasha yang kini masih bingung untuk menjelaskan tentang panggilan umpatannya dulu ketika membenci Arsenio.
Refleks ia mengingat kejadian saat hamil Arza selama sembilan bulan dan juga merawat putranya tanpa pria yang merupakan ayah biologis, yaitu pria di hadapannya.
"Itu panggilanku padamu dulu setelah tersiksa saat hamil. Astaga, takdir wanita itu untuk dilindungi, bukan malah disakiti. Bukankah kamu tidak lebih dari pecundang tidak berguna karena memperkosa seorang gadis dibawah umur."
"Jadi, rasakan ini karena aku belum pernah sekali pun membalas dendam padamu atas perbuatanmu yang dulu jahat padaku," umpat Aeleasha yang kali ini masih mengarahkan cubitan cukup kuat pada bagian perut, pinggang, terakhir lengan pria dengan lengkungan bibir saat meringis menahan rasa sakit akibat perbuatannya.
"Hentikan! Apa kamu mau dihukum?" sarkas Arsenio yang merasakan nyeri pada sasaran Zaara. Meskipun tidak terlalu sakit, tetapi ia merasa risi juga karena Aeleasha tidak berhenti mencubitnya.
Refleks otak Aeleasha seketika langsung traveling pada hukuman Arsenio yang selalu menghukum dengan bercinta di atas ranjang. Bahkan hanya dengan membayangkan saja, bulu kuduknya berdiri semua. Kini ia menghentikan perbuatannya dan tidak lagi mencubit tubuh Arsenio karena takut dihukum.
Saat ini, bibirnya mulai mengerucut karena merasa sangat kesal dan mulai mengeluhkan apa yang selama ini dirasakan. Berharap pria yang selalu berbicara vulgar tersebut menyadari kesalahan dan selalu membangkitkan kekesalan.
"Seperti inilah perbuatanmu yang selalu membuatku merasa sangat kesal padamu. Ancaman vulgar seperti makananku dan membuatku merasa sangat kenyang.'
Sementara itu, Arsenio, hanya tersenyum smirk dan sama sekali tidak pernah menyesali perbuatannya.
Ia malah sangat terpesona pada kecantikan seorang wanita yang terlihat seperti bidadari tersebut.
"Maafkan aku, Sayang. Aku sangat menyesal. Lagipula, bukankah aku sudah menjelaskannya padamu dulu?" ujar Arsenio yang kini masih pada posisi miring ke kanan sambil menatap ekspresi wajah wanita di hadapannya.
Aeleasha memang masih mengingat tentang penjelasan Arsenio yang mengatakan penyebab dari sikap jahat dahulu. Namun, tetap saja ia merasa sangat kesal jika mengingat masa saat terpuruk. Namun, ia ingin menghentikan pembicaraan itu karena malam telah semakin larut.
__ADS_1
"Iya, aku mengingatnya. Sekarang kita sama-sama mengetahui penyebabnya, bukan? Bukankah sekarang masalahnya telah selesai? Apakah aku sudah boleh tidur?"
"Apa kamu tidak merasa kasihan padaku? Aku sangat mengantuk dari tadi, tetapi kau malah tidak berhenti menggangguku."
Aeleasha menutup mulut saat menguap dan membuktikan bahwa ia saat ini benar-benar jujur karena terbukti sudah tidak kuat lagi untuk membuka mata.
Bola mata yang sudah meredup itu bisa dilihat oleh Arsenio saat ini. Bahwa wanita dengan wajah sayu tersebut benar-benar disiksa rasa kantuk yang berkepanjangan.
Berbeda dengan apa yang dirasakan olehnya karena sama sekali tidak mengantuk dan masih ingin mengajak sang istri berbicara. Seolah ia ingin menghabiskan waktu dengan cara mengobrol sampai pagi.
Ia ingin membahas tentang masa lalu untuk mengenang cerita cinta mereka. "Aku ingin kembali membahas tentang masa-masa yang terjadi dahulu, Sayang. Termasuk membahas tentang umpatanmu padaku soal pecundang tidak berguna yang juga digunakan oleh Rafael juga saat menghinaku."
"Jika sampai ia kembali menghinaku seperti itu, aku akan menyuruhnya menarik kata-katanya karena dia benar-benar tidak berhak menjiplak kata-katamu."
Ancaman dari sosok pria yang berubah memerah wajah saat membahas tentang Rafael, kali ini membangkitkan sekilas ingatan di otak Aeleasha saat ini.
'Suamiku tidak akan membuat keributan saat nanti datang ke acara resepsi pernikahan, Rafael, kan? Jika sampai terjadi hal buruk dan mengacaukan pernikahan Rafael, aku benar-benar tidak mempunyai muka lagi.'
'Apa lebih baik aku batalkan saja niatku untuk menghadiri pernikahan mantan suami? Apakah aku tidak terlihat bodoh nanti di hadapan para tamu undangan jika mereka semua melihatku? Jika sampai Rafael merasa malu karena orang-orang akan bergosip jika aku—mantan istrinya. Aku tidak bisa membayangkan mau ditaruh di mana wajah Rafael.'
Lamunan Aeleasha seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari sosok pria yang ada di hadapannya tengah mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi. Seolah ingin menegaskan kuasa seorang suami.
"Kamu tidak berpikir ingin melihatku adu kekuatan dengan mantan suamimu yang tidak bisa move on itu, bukan? Aku tidak bisa berjanji padamu untuk tidak membuat wajahnya nanti babak belur di acara resepsi pernikahan jika sampai masih mengatakan tidak bisa melupakanmu."
"Oh ya, aku akan ke sana sambil mengurus masalah pemindahan kekuasaan dan tahu jika kamu pasti akan ikut! Jadi, kamu sudah tidak perlu datang ketika acara pernikahan mereka nanti," ujar Arsenio yang berniat untuk merubah pikiran Aeleasha, agar mau membatalkan rencana untuk menghadiri acara pernikahan.
__ADS_1
'Aku tahu Rafael masih sangat mencintaimu. Hal itulah yang membuatku masih tidak tenang dan ingin memberikan obat perangsang nanti saat malam pertama mereka. Aku ingin Rafael melupakanmu dan fokus pada wanita lain,' gumam Arsenio yang hanya bisa mengungkapkan perasaannya di dalam hati.
Aeleasha yang masih merasa sangat bingung untuk menjawab pertanyaan dari Arsenio, kini terlihat hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena sibuk memikirkan jawaban.
Hingga beberapa detik berlalu, ia yang kini mulai menimbang-nimbang keputusannya, akhirnya memilih untuk menganggukkan kepala.
"Baiklah. Aku tidak akan datang ke acara resepsi pernikahan mereka. Sepertinya ini adalah jalan yang terbaik untuk kita bersama. Aku dan kamu akan hidup tenang, sedangkan Rafael dan istrinya pun juga sama. Mereka akan hidup berbahagia selamanya."
Kini, sudut bibir Arsenio melengkung ke atas membentuk seulas senyuman yang menandakan bahwa saat ini ia merasa sangat senang karena sang istri tidak akan menghadiri acara pernikahan.
"Bagus. Itu adalah keputusan yang paling tepat, Sayang. Jika dari dulu begini, mana mungkin akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Kamu sudah membuatku senang. Sekarang sebutkan apa yang kamu inginkan karena aku akan memberikannya padamu."
Arsenio berhenti berbicara dan masih menatap intens wajah cantik wanita yang terlihat sangat redup bola matanya dan membuat ia terkekeh geli. "Lihatlah wajahmu itu. Kamu membuatku merasa seperti tengah menyiksamu saja."
Saat merasa sangat mengantuk dan ingin segera pergi ke alam mimpi, Aeleasha kali ini tidak banyak berpikir. "Saat ini, yang kuinginkan hanyalah bisa tidur nyenyak dalam pelukanmu."
Meskipun sebenarnya ia merasa permintaannya sangat lebay, tetapi tidak memperdulikannya karena satu-satunya yang diinginkan adalah ingin segera mengistirahatkan tubuh dan otaknya dari segala aktivitas dan beban pikiran.
Tentu saja Arsenio saat ini lagi-lagi hanya bisa tersenyum simpul begitu mendengar permintaan sederhana yang malah membuatnya merasa sangat senang.
Refleks ia langsung membaringkan tubuhnya dan membuka tangan, memberikan sebuah kode pada sang istri, agar masuk dalam pelukannya.
"Kemarilah. Aku akan memenuhi permintaanmu," ucap Arsenio yang kini merasakan tubuh Aeleasha sudah bergeser untuk mendekat dan tanpa membuang waktu, langsung memeluk erat tubuh ramping wanita yang sudah sibuk membenamkan wajah di dada bidangnya.
To be continued...
__ADS_1