I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menjadi rebutan


__ADS_3

Sang perawat yang kini menatap ke arah pasien, tentu saja tidak mengambil keputusan. Karena yang berhak mengambil keputusan adalah dokter yang sebentar lagi akan tiba dan ia pun menjelaskan mengenai semua itu.


"Kita akan menunggu dokter yang sebentar lagi akan tiba karena melakukan proses persalinan secara normal. Tadi saya sudah memeriksa bahwa semuanya bisa dilakukan secara normal dan dokter pun mengatakan demikian."


Sang perawat masih mencoba untuk berbicara sebelum dilakukan penanganan seperti yang diinginkan oleh pasien yang dari tadi berteriak kesakitan tersebut. "Apa Anda yakin meminta untuk dioperasi saat posisi bayi sudah berada pada pinggul dan mencari jalan keluar?"


Sementara itu, Rafael yang mendapatkan pertanyaan tersebut, ketika langsung menoleh ke arah istrimu agar menjawab karena ia akan melakukan apapun sesuai dengan keinginan wanita yang sangat dicintai dan membuatnya tidak tega melihat saat kesakitan.


"Bagaimana, Sayang? Apa operasi saja?" tanya Rafael yang saat ini merasa sangat khawatir melihat keadaan sang istri dengan wajah pucat dan perlu bercucuran membasahi pelipis.


Sementara itu, Alesha yang dari tadi menahan kesakitan luar biasa pada perutnya saat kontraksi semakin kuat, sebenarnya saat ini ingin segera mengakhiri rasa sakit tidak tertahankan yang dirasakan.


Namun, pertanyaan dari perawat membuatnya merasa ragu dan kembali berteriak kesakitan. "Aaarggh ... sakit sekali! Anakku, cepat keluar dan jangan susah ibu, Sayang. Ya Allah, sesakit ini rasanya saat melahirkan?"


Alesha bahkan saat ini mengingat sang ibu yang telah melahirkannya dan membesarkan tanpa sosok ayah. Ia yang selama ini selalu merasa penasaran dengan sosok ayah, kini mengerti seperti apa perjuangan ibunya.


Ia pun menatap ke arah sang suami dan membuka suara untuk mengungkapkan apa yang saat ini dipikirkan. "Sayang, maafkan aku jika melakukan kesalahan padamu."


Rafael yang merasa semakin tidak karuan perasaannya. Ia sangat ketakutan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada sang istri karena mengatakan hal-hal seperti hendak berpisah selamanya.


"Sayang, jangan berbicara seperti itu. Kamu akan melahirkan dengan selamat dan juga putra kita bisa melihat dunia indah ini tanpa kurang suatu apapun. Aku akan berdoa agar anak kita segera keluar." Rafael saat ini masih menggenggam erat telapak tangan Alesha dan merasa sangat iba.


Hingga ia pun mengerti apa maksud dari sang istri yang saat ini menyuruhnya untuk memanggil sang ibu.


Alesha saat ini berubah pikiran untuk dioperasi karena berpikir bahwa semua wanita pernah merasakan sakitnya melahirkan seorang anak.


Ia ingin berjuang secara normal karena perawat mengatakan jika putranya sudah mencari jalan lahir, sehingga membuatnya merasakan sakit luar biasa seperti semua tulang-tulangnya remuk saat itu juga.


"Sayang, aku sudah pasrah dan akan berusaha untuk melahirkan anak kita agar selamat dan bisa melihat dunia ini, tapi sebelum itu, tolong panggilkan ibu dan mama karena aku ingin meminta maaf pada mereka. Aku sekarang mengerti bagaimana mempertaruhkan nyawa saat melahirkan."


Ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan dan jika nyawanya tidak selamat saat melahirkan, akan pergi dengan tenang setelah meminta maaf pada semua orang, khususnya sang ibu yang telah melahirkannya dan merawatnya dengan baik tanpa figur seorang ayah.


"Baik, Sayang. Aku akan memanggil mama dan ibu secepatnya." Kemudian berjalan keluar untuk memanggil dua wanita yang menunggu di luar.


Ia bertanya pada sang perawat terlebih dahulu Apakah diperbolehkan jika ibu dan mertuanya masuk ke dalam. Begitu mendapatkan jawaban anggukan kepala, ia seketika berlari keluar.


Bahkan saat ini Rafael berusaha untuk menenangkan diri karena tangannya benar-benar gemetar ketika mengingat wajah pucat sang istri dan rasa sakit yang dirasakan akibat kontraksi sebelum melahirkan.


Ia sebenarnya merasa tidak tega melihatnya, tapi berusaha untuk kuat karena tidak mungkin pergi tanpa menunggu wanita yang telah berjuang untuk bisa melahirkan keturunannya.


Begitu melihat dua wanita paruh baya yang saat ini duduk di kursi tunggu, ketika membuatnya memanggil mereka.


"Ma, Bu. Alesha ingin meminta maaf pada kalian sebelum melahirkan," seru Rafael yang saat ini waktu khawatir jika Alesha menunggu terlalu lama.


Dua yang dari tadi menunggu dengan perasaan cemas, kini seketika bangkit berdiri dari kursi karena mendengar suara bariton dari Putra dan menantu mereka.


"Ya Allah, jadi Alesha sampai berpikir ingin meminta maaf pada kami?" tanya Tiana yang saat ini berkaca-kaca karena khawatir jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada menantunya.


Sementara itu, Lia Nuraini berusaha untuk tegar dan kuat karena ingin memberikan dukungan pada putrinya yang baru pertama kali melahirkan


"Ayo, kita temui putri kita, Jeng. Alesha pasti sangat kesakitan saat kontraksi menuju pembukaan 10 dan sebentar lagi pasti bayinya akan keluar. Aku sangat yakin jika beberapa saat lagi bisa melihat cucu kita yang tampan."


Rafael saat ini tidak ingin membuang waktu dan langsung berjalan masuk menunjukkan ruangan bersalin.


Sementara itu, Lia Nuraini menggandeng tangan besannya agar berjalan mengikuti Rafael untuk masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


Begitu berjalan memasuki ruangan khusus, kini mereka bisa melihat jika Alesha saat ini sudah terbaring dengan wajah pucat dan merintih kesakitan.


"Sayang," ucap Tiana dengan mengusap lengan menantunya.


Sementara itu, Lia Nuraini saat ini segera menghambur mencium putrinya. "Putriku, kamu sangat kuat dan bisa melalui ini semua."


Alesha saat ini mencoba untuk menahan rasa sakit yang luar biasa pada bagian pinggang dan perutnya, kini menatap ke arah sang ibu.


"Ibu, maafkan aku jika selama ini berbuat salah padamu. Jadi, seperti ini rasanya melahirkan. Aku berjanji akan menjadi anak yang berbakti dan tidak akan melawanmu." Alesha bicara dengan suara serak karena sudah berlinang air mata.


Ia tidak kuasa menahan bulir kesedihan yang lolos tanpa seizinnya karena saat ini benar-benar tidak bisa menahan kesedihan luar biasa ketika menyadari perjuangan seorang ibu yang melahirkan.


"Iya, Ibu selalu memaafkanmu, Nak. Ibu bahkan dari tadi berdoa agar kamu segera melahirkan dan cucuku segera melihat indahnya dunia." Lia Nuraini sudah tidak tahan lagi dan bercucuran air mata melihat putrinya yang baru saja meminta maaf.


Alesha kini beralih menatap ke arah mertuanya. "Mama, Aku juga mau minta maaf padamu jika telah melakukan kesalahan. Doakan aku agar bisa segera melahirkan cucu yang sudah mama tunggu dari dulu."


Tentu saja melihat menantunya yang pucat dan berurai arah, membuat Tiana menangis tersedu-sedu dan memeluk erat tubuh Alesha yang sudah dianggap sebagai putri kandung sendiri.


"Ya Allah, Sayang. Mama tidak pernah membencimu dan selalu memaafkan apapun yang kamu perbuat karena mengetahui bahwa kamu bukanlah menantu yang jahat. Mama sedang berdoa agar kamu bisa segera melahirkan cucu mama."


Tiana saat ini benar-benar tidak bisa menahan aura kesedihan penuh rasa harum yang saat ini menguar di antara mereka dan ia sudah beberapa kali mengusap perut Alesha agar cucunya segera keluar dan tidak terlalu lama menyiksa sang ibu.


Hingga mereka yang larut dalam rasa haru penuh tangisan itu mendengar suara dari perawat.


"Dokter akan segera tiba dan membantu proses persalinan. Jadi, untuk keluar dan hanya boleh ada sang suami yang menemani pasien," ucap perawat yang saat ini menyiapkan semua hal yang digunakan untuk proses persalinan.


"Baik, Suster." Tiana dan Lia Nuraini dan memberikan kekuatan agar kuat saat melahirkan dan tidak menyerah ataupun berpikir buruk.


Rafael kembali memegang erat telapak tangan sang istri yang sudah tidak seperti beberapa saat lalu saat merasakan kesakitan. "Sayang, kamu pasti bisa. Kamu adalah istriku yang hebat dan sebentar lagi akan menjadi Ibu dari putra kita."


Alesha saat ini merasa perasaannya lebih tenang setelah meminta maaf pada sang ibu serta mertuanya dan juga yang utama adalah suami, seolah kesakitannya tidak seperti tadi.


Ia menatap ke arah sang dokter yang terlihat sudah memakai seragam dan sarung tangan lengkap dan langsung memeriksanya.


"Baiklah, Nyonya. Posisi bayi saat ini sudah berada di jalan lahir dan terlihat rambutnya. Anda harus mengejan setelah saya suruh agar bisa dengan mudah bayi keluar," ucap dokter yang saat ini sudah fokus dengan tugasnya.


Alesha saat ini benar-benar menahan kontraksi yang semakin luar biasa dan membiarkan perintah dari sang dokter.


"Iya, Dokter. Saya sudah tidak tahan lagi!" teriak Alesha mendengar suara dokter menghitung dan langsung mengejan sangat kuat.


"Bagus, Nyonya. Sekali lagi karena bayinya sudah terlihat semakin turun!" seru dokter yang saat ini kembali mengarahkan pasien untuk segera mengejan


Alesha yang mengikuti perintah dari dokter setelah hitungan selesai, saat mengejan sangat kuat dan ia seketika merasa lega begitu berhasil melahirkan bayinya yang langsung menangis sangat kencang.


"Selamat, Tuan dan Nyonya. Anaknya berjenis kelamin laki-laki," ucap sang dokter yang saat ini menimbang dan mengukur panjang bayi dibantu oleh perawat.


"Berat bayi 3,4 kg dan tinggi badan 50 cm, Dokter," ucap perawat yang kini langsung mencatatnya.


Sang dokter mengangguk perlahan dan membersihkan bekas darah dan beberapa saat kemudian langsung menaruh bayi tengkurap di atas tubuh sang ibu untuk melakukan IMD.


"Alhamdulillah, ya Allah!" teriak Rafael yang awalnya diliputi oleh kekhawatiran, kini berubah menjadi rasa lega begitu mendengar suara putranya yang menangis dengan sangat kencang.


Refleks ia langsung mencium kening sang istri untuk mengungkapkan kebahagiaan luar biasa yang baru saja dilihatnya hari ini. Bahkan baginya, tidak ada kebahagiaan yang lebih dari ini.


Bisa melihat perjuangan dari sang istri serta pertama kali mendengar suara tangisan putranya, tentu saja membuatnya tidak bisa menahan bulir air mata yang sudah lolos dari bola matanya.

__ADS_1


"Sayang, kamu hebat. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu dan aku akan menjadi seorang ayah. Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu," lirih Rafael dengan suara serak karena dipenuhi rasa haru ketika ketakutannya tadi sudah tidak berlaku.


Apalagi saat ini bisa melihat tubuh mungil putranya yang tengkurap di atas tubuh sang ibu dan tengah melakukan IMD.


"Alhamdulillah. Akhirnya aku melahirkan putraku dengan selamat. Terima kasih, ya Allah," lirih Alesha saat ini menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat putranya yang berada di pelukannya.


Bahkan ruangan bersalin tersebut sudah dipenuhi oleh suara tangisan dari ibu dan anak yang saling bersahutan. Sementara sang suami juga bersimbah air mata, tapi tidak sampai menangis tersedu-sedu seperti wanita.


Sementara itu, sang dokter yang saat ini tengah membersihkan sang ibu dengan dibantu oleh perawat.


"Syukurlah jalan lahirnya hanya akan ada sedikit jahitan, Nyonya," ucap sang dokter yang saat ini menyuruh perawat untuk membantu membersihkan bayi sebelum dipakaikan baju.


Sementara itu, Alesha saat ini merasa sangat bersyukur karena semuanya berjalan dengan mudah meski pada awalnya ia putus asa dan benar-benar tidak tahan rasanya kontraksi pada proses pembukaan.


"Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih, Dokter." Alesha saat ini melihat perawat sudah membawa putranya untuk dipakaikan pakaian setelah dibersihkan.


Ia menatap ke arah sang suami yang saat ini tengah menatap ke arah bayinya. "Sayang, jangan lupa di adzani putra kita."


Rafael seketika menganggukkan kepala emang dari tadi ia berniat untuk melakukannya setelah putranya dibersihkan jangan dipakaikan baju yang tadi sudah disiapkan.


Bahkan ia benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan dari malaikat kecilnya yang sangat mungil itu dan membuatnya sangat terharu.


"Iya, Sayang. Aku rasanya benar-benar tidak percaya jika saat ini sudah menjadi seorang ayah," lirih Rafael lagi dan melihat perawat memberikan kode padanya setelah selesai dan menaruh di bawah lampu kecil.


Kemudian ia langsung mengumandangkan adzan di telinga malaikat kecilnya yang sangat tampan.


Sementara itu, Alesha saat ini beberapa kali jadi saat dokter melakukan jahitan. Nasib baik tidak terlalu banyak dan membuatnya tidak terlalu lama menahan kesakitan saat jarum jahit menembus kulitnya.


Hingga beberapa saat kemudian, proses persalinan selesai dan Alesha langsung dipindahkan ke ruangan, sedangkan putranya berada dalam box bayi.


Rafael yang berjalan keluar dari ruangan, seketika mendapatkan pelukan dari sang ibu membuatnya berkaca-kaca karena rasa haru memenuhi hatinya saat ini.


"Alhamdulillah putramu sudah lahir, Sayang. Cucu Mama pasti sangat tampan sepertimu, bukan?" seru Tiana yang saat ini memeluk erat tubuh putranya untuk mengungkapkan kebahagiaan dan sekaligus rasa haru.


Sementara itu, hal yang sama juga dilakukan oleh Lia Nuraini ketika memeluk putrinya yang sudah dipindahkan ke ruangan.


"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar tanpa kurang suatu apapun, Nak. Ibu benar-benar bersyukur bisa melihat putri yang dulu kelahirkan dan kurawat baik-baik dengan penuh kasih sayang, sudah merasakan bagaimana nikmatnya proses menjadi seorang ibu."


Alesha seketika berurai air mata untuk kesekian kalinya. "Ibu, terima kasih atas semuanya. Aku tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa ibu padaku."


Lia Nuraini saat ini membersihkan bulir air mata yang menghiasi wajah putrinya. "Sudah, jangan menangis lagi karena sekarang waktunya bahagia karena putramu dan cucuku sudah lahir."


"Sebentar lagi, bayiku akan dibawa ke sini, Bu. Cucu Ibu sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari papanya," ujar Alesha yang seketika terkekeh melihat sang suami seketika menoleh ke arahnya dan memasang wajah masam.


"Kami sama-sama tampan, Sayang. Jangan coba-coba pilih kasih dengan membela putra kita terus aku tidak ingin ke sini dengannya. Kasih sayangmu bersama dan adil," seru Rafael yang tadinya melepaskan pelukan sang Ibu gara-gara mendengar suara sang istri, mengungkapkan ada protes karena tidak terima dibanding-bandingkan.


Alesha saat ini hanya tertawa melihat sikap kekanakan dari sang suami yang merasa iri pada putranya yang baru dilahirkan. "Dasar! Emang kamu bayi, apa! Hingga bisa iri pada putra sendiri dengan rebutan aku."


Karena pernah merasakan berada di posisi Alesha, kini Tiana langsung menyahut. "Nanti Rafael pasti akan iri pada putranya karena lebih banyak mendapatkan kasih sayang darimu, Sayang."


"Biarkan saja dia kekurangan kasih sayang, Ma karena aku ingin mencurahkan pada putraku yang saat ini menjadi pusat duniaku." Kembali Alesha menggoda sang suami agar semakin bertambah kesal dan membuatnya merasa terhibur melihat raut wajah masam itu.


Saat Rafael ingin mengungkapkan nada protes, tidak jadi melakukannya begitu melihat perawat menggendong putranya.


"Wah ... ini dalangnya perebut kasih sayang istriku sudah datang," ucap Rafael yang saat ini terlihat berbinar wajahnya saat menatap bayi mungil yang langsung menjadi rebutan dua nenek yang tidak sabar untuk menggendong.

__ADS_1


To be continued...


To be continued...


__ADS_2