I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Ingin pulang ke mana?


__ADS_3

Jika Rafael sangat senang karena membayangkan bisa tidur bersama dengan Alesha malam ini, berbeda dengan yang dirasakan oleh wanita yang mendapatkan tatapan dari mertua serta ibunya.


Ia saat ini menutupi kebodohannya karena merasa seperti seorang wanita penggoda ketika membahas ranjang nyaman yang selama ini ditempati.


'Sialan! Aku tadi benar-benar keceplosan karena selama ini memang merasa sangat nyaman tidur di atas ranjang di kamar Rafael karena sangat berbeda dengan tempat tidur tipis di kamarku,' gumam Alesha yang masih tidak bisa menahan rasa malu karena berpikir ia dianggap menggoda Rafael tanpa merasa malu di depan ibu dan mertuanya.


Ingin sekali ia mengunci mulut rapat-rapat agar tidak salah lagi ketika berbicara. Namun, ketika melihat senyuman penuh seringnya dari Rafael serta tatapan menggoda dari ibu dan mertuanya, membuatnya ingin menguraikan kesalahpahaman yang terjadi.


"Kalian jangan salah paham dengan berpikir aku ...."


Alesha merasa bingung bagaimana harus menjelaskan dan kembali mendapatkan kalimat bernada ejekan dari pria yang saat ini mengedipkan mata padanya dan membuatnya benar-benar geram.


"Aku apa? Kenapa tidak diteruskan? Apa kamu merasa malu pada Mama dan juga Ibu? Katakan saja karena kami pasti akan mendengarkan dengan seksama apa yang kamu maksudkan dan perlu untuk dijelaskan secara detail mengenai alasanmu yang tidak ingin dirawat di rumah sakit."


Tentu saja Rafael semakin bersemangat untuk menggoda sang istri yang membuatnya benar-benar gemas. Bahkan rasa nyeri yang dirasakan di bagian wajah seolah tidak terasa karena terhibur dengan sikap sang istri yang sangat menggemaskan ketika memanggilnya sayang untuk pertama kalinya.


Ia merasa sangat senang karena akhirnya Alesha tidak merasa malu lagi padanya, meskipun mengetahui bahwa wanita yang sangat dicintainya itu bersikap seperti itu hanya demi bisa merayunya agar dituruti untuk pulang ke rumah.


Jika ia tadi sangat keberatan jika Alesha pulang ke rumah karena khawatir pada keadaan sang istri yang hamil dan pingsan, seketika berubah pikiran.


Karena ingin Alesha berada di rumah dan ia bisa berduaan tanpa ada yang mengganggu di dalam kamar. Membayangkan hal seperti itu saja sudah membuatnya sangat bersemangat dan langsung mengungkapkan pada perawat yang ada di hadapannya.


"Aah ... sudahlah karena percuma aku menjelaskan saat pikiranmu dipenuhi dengan hal-hal buruk mengenai aku." Alesha sangat malas untuk menjelaskan karena ia merasa malu mendapatkan tatapan dari ibu serta mertuanya yang tertawa melihat tingkahnya saat merajuk.


Hingga kekesalannya terbayar sudah saat perawat tidak mempersulit keinginannya untuk pulang dan tidak mau dirawat di rumah sakit.


"Lebih baik anda segera mengurus ke ruangan administrasi dengan mengatakan semuanya agar pihak yang bersangkutan mengurusnya karena saya tidak punya kuasa di sini. Setelah semuanya selesai, saya akan membantu pasien melepas infus saat hendak pulang."

__ADS_1


Perawat wanita tersebut melihat masih ada seperempat cairan infus yang mungkin nanti akan pas begitu selesai mengurus administrasi. Kemudian ia berpamitan pergi meninggalkan pasien yang membuat masalah di rumah sakit hari ini.


Bahkan beberapa kali geleng-geleng kepala melihat interaksi antara pasangan suami istri yang menurutnya sangat luar biasa konyol.


Namun, sedikit banyak ia mengerti seperti apa kehidupan rumah tangga pasien tersebut dan terakhir kali membuatnya merasa iri dengan perasaan keduanya yang baru disadari.


'Baru kali ini pasien membuat ulah hanya karena kehamilan yang diragukan dan dikira berasal dari benih pria lain. Konyol, tapi benar-benar terjadi,' gumam sang perawat yang bersitatap dengan rekannya saat berjalan menuju ke meja kerja.


Sementara itu, Tiana dan Lia Nuraini saat ini merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Alesha tidak ada yang salah karena hanya ingin keluar dari rumah sakit.


Jadi, berbicara tanpa pikir panjang dengan merayu Rafael dan membuat mereka dari tadi tersenyum saat melihat kekonyolan Alesha dan berakhir merasa malu seperti anak kecil.


Sementara itu, sosok wanita paruh baya yang saat ini ingin menanyakan keinginan putrinya, karena tidak ingin memaksakan kehendak.


"Kamu menginginkan pulang ke rumah atau ke tempat suami, Nak?" tanya Lia Nuraini yang saat ini ingin memastikan jawaban putrinya.


"Apa boleh aku langsung membawa istriku pulang ke rumah tanpa bertanya apakah ia setuju atau tidak?" Rafael merasa sangat percaya diri bahwa Alesha tidak akan keberatan jika ia mengajak pulang ke rumah.


Apalagi berpikir bahwa sang istri sudah menerimanya dan tidak lagi marah karena perbuatannya. "Bukankah sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk patuh pada suami dan ikut kemana pun suami tinggal?"


"Itu namanya egois," sarkas Tiana yang tidak ingin membuat putranya merasa sombong dengan mengatasnamakan posisi suami. "Ada baiknya berbicara pada sang istri dan mencari solusi yang terbaik, agar tidak ada yang merasa diberatkan."


Kemudian Tiana berani menatap ke arah Alesha yang saat ini masih belum membuka suara. "Kamu saat ini tengah hamil muda dan Mama ingin kamu selalu merasa bahagia dan tidak merasa terbebani atau pun stres."


"Jadi, Mama tidak ingin membuat kamu mengalami stres saat hamil muda, Sayang. Kamu bebas memutuskan mau tinggal di mana saja asalkan merasa bahagia dan nyaman. Itu adalah sebuah kebaikan untuk ibu yang sedang hamil agar janin dalam kandungan juga merasakan kebahagiaan."


Tadinya Alesha merasa sangat kesal pada Rafael yang terkesan seperti sangat berkuasa ketika mengungkapkan posisinya sebagai seorang suami, tetapi kini seketika tersenyum bahagia saat mertuanya membelanya.

__ADS_1


Hal yang membuatnya merasa bahagia tinggal di rumah mertua adalah tidak pernah merasa menjadi menantu di rumah megah itu. Karena wanita paruh baya tersebut selalu menganggapnya seperti putri sendiri dan menyayanginya melebihi Rafael yang notabene adalah putra kandung sendiri.


"Mama, aku sangat menyayangimu," ucap Alesha yang saat ini memeluk erat tubuh mertuanya yang berada di sebelah kiri ranjang perawatan.


Kemudian ia juga beralih menatap ke arah sang ibu untuk mengungkapkan sangat menyayangi dua wanita paruh baya itu. "Ibu, aku juga sangat menyayangimu."


"Ibu juga menyayangimu, Nak. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu mulai hari ini hingga nanti," lirih Tiana yang mengusap lembut rambut panjang putrinya untuk mengungkapkan kasih sayang.


Saat para wanita yang mengungkapkan perasaan saling menyayangi tersebut dilihat oleh Rafael yang bahagia, kini membuatnya merasa sangat terharu dan menyadari kesalahannya setelah diingatkan.


"Maafkan aku, Sayang karena memaksakan kehendak padamu. Benar apa yang dikatakan oleh Mama bahwa wanita hamil harus selalu bahagia agar bayi yang dikandung sehat dan tidak mengalami masalah. Aku tidak keberatan kamu tinggal di manapun sesuai dengan keinginanmu."


Meskipun sebenarnya Rafael sangat menginginkan jika sang istri tinggal di rumahnya yang nyaman karena mempunyai banyak fasilitas yang mendukung untuk perkembangan ibu hamil.


Namun, kali ini mengembalikan keputusan pada ibu dari calon buah cintanya. "Sekarang katakan pada kami, kamu ingin tinggal di mana?"


Rafael menatap ke arah wanita yang masih betah untuk mengunci rapat bibirnya karena tidak langsung menjawab. Seolah saat ini ia tengah menghadapi sebuah masa di mana keputusan Alesha tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.


Bahwa masa telah berganti dan membuatnya tidak akan pernah memaksakan kehendak seperti yang dulu dilakukan pada wanita yang dianggap hanyalah menjalani pernikahan kontrak dengannya.


Hingga berpikir bahwa ia sangat berkuasa dan apapun yang dikatakan akan dituruti oleh Alesha.


Kini, Alesha yang tengah menimbang-nimbang keputusannya apakah akan pulang ke rumah suami atau orang sang ibu yang selama ini kesepian, tapi tidak pernah mau diajak tinggal bersamanya di rumah megah mertua.


"Aku ingin pulang ke ...."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2