I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Mengorbankan perasaan


__ADS_3

Alex masih belum melepaskan kuasa, tetapi ia sedikit menoleh ke belakang karena tengah menatap ke arah kedua kaki di balik celana panjang berwarna biru tersebut.


"Kenapa kamu menyalahkanku karena kakimu tidak bergerak? Kalau kakimu kesemutan, luruskan saja di atas lantai. Aku hanya menguasai bagian atas tubuhmu karena kamu mungkin tidak akan mengizinkanku untuk konsentrasi pada bagian bawah."


Alex memang sengaja menggoda dengan kata kata ambigu yang mengarah vulgar, tetapi ia melakukan itu karena ingin melihat wajah menggemaskan dari wanita yang ingin sekali ia habisi tersebut jika sudah sah menjadi istrinya.


Sebagai seorang pria dewasa yang pernah menikah, Alex sebenarnya sangat ingin meledakkan cairan kenikmatan yang sudah lama tidak dikeluarkan. Namun, ia mengetahui batasan antara seorang wanita dan pria yang belum menikah meskipun saling mencintai.


"Kamu tahu, aku tidak akan bisa menahan diri jika kamu menampilkan wajah menggemaskan itu di hadapanku. Jadi, jangan berusaha memancing singa yang kelaparan, Sayang."


Alesha hanya bisa menelan ludah dengan kasar saat mengetahui apa maksud dari kalimat yang baru saja lolos dari bibir tebal Alex.


"Lepaskan aku, Alex! Aku ingin pulang dan sama sekali tidak memancing singa ataupun harimau kelaparan. Aku bukan daging yang bisa dinikmati dan mengenyangkan rasa lapar, tapi hanyalah seorang wanita lemah yang ingin hidup tenang tanpa merasa terbebani dengan segala masalah."


"Seperti yang kubilang tadi, aku akan menikah dengan Rafael beberapa hari lagi. Jadi, carilah wanita lain yang direstui oleh orang tuamu. Aku sama sekali tidak pantas untukmu karena hanyalah seorang wanita miskin tanpa ayah."


"Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah ayahku karena semua foto-foto yang dimiliki ibu sudah terbakar di rumah lama kami. Bahkan aku merasa ragu pada perkataan ibuku. Mungkin saja ia berbohong dan aku tidak mempunyai seorang ayah semenjak dilahirkan."


Tentu saja kalimat terakhir yang saat ini baru didengar oleh Alex, seketika membuatnya melepaskan kuasa dan tertarik dengan cerita wanita dengan suara mengenaskan saat menyebut ayah.


"Jika kamu tidak memiliki foto ayahmu, paling tidak mengetahui siapa namanya dan itu bisa kita cari tahu nanti. Aku akan membantumu mencari semua informasi mengenai ayahmu. Jika benar ia masih hidup di suatu tempat. Apakah di surat kelahiran ada nama ayahmu?"

__ADS_1


Alesha tanpa pikir panjang langsung menganggukkan kepala, seolah ia membenarkan perkataan dari Alex yang saat ini membahas tentang pria yang dirindukan.


"Iya, aku tahu nama ayahku saja, tanpa mengetahui seperti apa beliau. Kata ibuku, ayah sudah meninggal, semenjak aku masih kecil. Jadi, aku percaya dan tidak bertanya macam-macam pada ibuku yang pasti akan terluka jika memang memiliki masa lalu yang kelam."


"Sudah! Lupakan saja apa perkataanku tadi. Aku hanya ingin pulang saat ini. Mengenai Rafael, dia ada pekerjaan di luar kota. Jadi, tidak mengantar dan menjemputku seperti biasa. Rafael pun belum mengetahui kapan akan pulang. Jadi, aku pun tidak tahu kapan dia kembali."


Sudut bibir Alex saat ini melengkung ke atas karena berpikir bisa menghabiskan waktu seharian dengan Alesha tanpa ada gangguan dari Rafael.


"Kalau begitu, lebih baik habiskan waktu bersama sebelum kamu menikah. Setelah kamu menikah nanti, mana mungkin aku bisa menemuimu atau mengajakmu makan dan pergi jalan ke Mall. Sepertinya aku harus menghormati keputusanmu."


"Meskipun sejujurnya di dalam hati, sangat tidak rela, tapi saat kamu memilih ibumu, seolah menyadarkanku arti posisiku bagimu. Aku tidak sehebat ibumu karena dia memang pantas untuk mendapatkan semua pengorbananmu."


Ia dengan sekuat tenaga menahan segala amarah yang memuncak dan memenuhi jiwanya saat ini. Bahkan memikirkan bahwa saat ini sudah kalah sebelum bertanding jika dihadapkan pada wanita yang melahirkan Alesha.


"Kamu juga akan melakukan hal sama sepertiku pada ibumu. Kamu tidak akan membantah wanita yang telah melahirkan seandainya tidak merestui hubungan dengan seorang wanita."


"Aku yakin jika kamu akan patuh pada ibumu dan meninggalkan wanita yang kamu cintai demi bisa menjadi anak yang berbakti." Alesha sengaja mengatakan hal itu agar pria di hadapannya tersebut sadar dan mungkin bisa mengingat tentang masa lalu.


Bahwa pria itu selalu mendapatkan kemurkaan sang ibu ketika pergi dengannya. Namun, Alex sama sekali tidak mematuhi perintah orang tua dan ia mengetahuinya.


Sengaja ia mengatakan hal tersebut, agar Alex mau melepaskannya. 'Kamu tidak mengingat tentang masa lalu kita. Jadi, tidak akan ada bantahan darimu. Meskipun aku sebenarnya sudah tahu jika kamu sama sekali tidak mendengarkan larangan dari orang tuamu agar melepaskanku sebagai sugar baby.'

__ADS_1


Hingga ia membulatkan mata saat apa yang dipikirkannya salah.


"Aku tidak akan seperti itu jika wanita yang dilarang itu adalah Alesha. Mungkin, aku bisa menerima jika itu pilihanmu untuk menjadi putri yang berbakti. Namun, itu tidak berlaku untukku sebagai seorang pria."


"Bukankah kamu tahu bahwa seorang pria memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus memiliki pendirian kuat. Jika aku menjadi pria yang tidak berpendirian dengan mengikuti perintah dari ibuku saat menganggap itu salah."


"Pastinya aku tidak akan pernah bisa menjadi kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab. Tidak semua perintah dari orang tua itu harus dipatuhi. Orang tua itu juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, Alesha."


"Jadi, jangan menganggapku selemah itu karena kupastikan padamu, jika ibuku melarang aku berhubungan denganmu, yang terjadi adalah langsung menikahimu."


"Saat kamu sudah sah menjadi istriku, memangnya apa yang akan dilakukan oleh ibuku? Bahkan aku tidak akan pernah tinggal di tempat yang sama dengan orang tua ketika sudah memiliki istri karena itu akan memancing perdebatan dan kehidupan rumah tangga tidak pernah bisa damai."


Alex yang baru saja menutup mulut saat menjelaskan pendapatnya, kini menatap dengan intens iris kecoklatan dari sosok wanita di hadapannya tersebut.


Sementara Alesha saat ini merasa bunga-bunga berterbangan di dalam hati karena terharu dengan penjelasan yang diungkapkan oleh seorang pria berdarah dingin di masa lalu tersebut.


'Kenapa aku menyukai pria nakal pemaksa ini Alex yang dingin dan datar di masa lalu. Rasanya saat ini ingin menghambur memeluk tubuhnya, tetapi tidak bisa melakukannya karena ia akan menculikku jika tahu aku sangat mencintainya dan pernikahanku dengan Rafael berantakan.'


'Kemudian ibuku akan kembali masuk ke rumah sakit dengan keadaan yang buruk. Tidak! Bukan itu yang kuinginkan. Aku harus mengorbankan perasaanku demi ibu.' gumam Alesha yang saat ini hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati dan tidak berniat untuk membuka mulut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2