
Setelah setengah jam menangis tersedu-sedu meratapi kesalahan yang membuatnya benar-benar tidak punya muka di depan mertua, Alesha kini bangkit berdiri dari posisinya yang bersimpuh di lantai.
Kini, ia memutuskan untuk segera angkat kaki dari rumah megah bak istana yang sudah memberikan banyak kemewahan serta kasih sayang yang didapatkan dari seorang mertua.
Karena merasa sangat khawatir dengan keadaan dari ibu mertuanya, Alesha mengirimkan pesan pada Rafael Karena untuk saat ini biar tidak ingin bicara dengan siapapun, termasuk dia yang menjadi penyebab ia menjadi seorang wanita tidak berperasaan.
Karena telah menipu hati seorang ibu yang ingin melihat putranya hidup bahagia bersama dengan seorang istri.
Aku setelah mengatakan semuanya pada mama. Maafkan aku karena tidak ada pilihan saat mama mencurigaiku. Aku tidak bisa lebih lama menyimpan kebohongan ini karena melihat wajah mama yang tadi ingin aku mengatakan hal yang sebenarnya, membuatku tidak bisa berbohong.
Pulanglah sekarang karena aku khawatir dengan keadaan mama yang saat ini merasa kecewa pada kita karena telah menipunya dengan melakukan pernikahan kontrak.
Alesha dengan wajah sembab kini mengirimkan pesan yang baru saja diketik dan berjalan keluar dari ruang kerja untuk mengambil koper yang sudah berisi semua barang-barangnya.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk melihat di manakah keberadaan mertuanya yang tadi meninggalkannya.
"Apa Mama saat ini berada di dalam kamar?" Alesha yang sudah menaiki anak tangga dan masuk ke dalam ruangan pribadi Rafael, segera mengambil koper serta tas yang miliknya.
Saat melihat sekeliling, ia mengembuskan naas karena merasa bahwa hari ini adalah hari terakhir ia bisa melihat ruangan yang menjadi saksi bisu cinta tak terbalas.
"Kali ini, aku benar-benar meninggalkan kamar ini. Selamat tinggal kamar ternyaman," lirih Alesha dengan menarik koper keluar dari ruangan pribadi pria yang telah meremukkan hatinya.
Saat ia berjalan melewati ruangan kamar mertuanya yang terdengar sangat sepi, Alesha mengetuk pintu karena ia ingin berpamitan. Tidak mungkin ia menjadi menantu tidak tahu diri yang pergi begitu saja.
"Mama! Apa Mama ada di dalam?" Baru saja ia hendak membuka karena tidak ada jawaban dari dalam, Alesha tidak jadi melakukannya karena suara dering ponsel miliknya berbunyi dan ia tahu siapa yang menelpon saat ini.
"Pasti Rafael yang hendak mengamuk padaku karena mengatakan pada Mama sebelum waktunya. Cepat atau lambat, semuanya tetap akan diketahui oleh mama."
Diandra yang tidak ingin berbicara dengan Rafael karena malas untuk mendengar kemurkaan pria itu, lebih memilih untuk membuka pintu di hadapannya karena ia harus segera pergi dari sini sebelum pria itu kembali dan semakin membuatnya bertambah sakit hati.
Begitu melihat ruangan yang sangat sepi dan tidak ada wanita paruh baya yang dicarinya, padahal saat ini berpikir bahwa mertuanya telah berada di atas ranjang.
"Tidak ada? Ke mana mama?" Saat ia baru saja menutup mulut, sangat terkejut begitu mendengar suara wanita yang dicarinya baru saja keluar dari ruang ganti dan berpakaian sangat rapi.
"Mama mau pergi?" tanya Alesha yang saat ini merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita paruh baya yang sudah berganti pakaian tersebut.
Namun, ia tidak langsung mendapatkan jawaban dan hanya melihat mertuanya tengah mengambil tas dan berjalan ke arahnya. Hingga ia pun menelan kasar salivanya begitu wanita paruh baya tersebut mendekat ke arahnya.
"Aku sudah menduga jika kamu akan pergi hari ini. Aku akan membantu menjelaskan pada ibumu. Tidak mungkin aku membiarkanmu pergi sendiri dan mendapatkan kemurkaan dari ibumu."
__ADS_1
Tiana kemudian berlalu pergi dari hadapan wanita yang membawa koper itu dan berharap akan mengikutinya. Ia sebenarnya benar-benar merasa kecewa pada menantu sekaligus putranya yang mempermainkan hati seorang ibu.
Padahal ia hanya ingin melihat kebahagiaan putranya yang bisa hidup bersama dengan seorang istri dan mempunyai anak yang akan meneruskan keturunan keluarga Zafran.
Sementara itu, Alesha yang semakin merasa bersalah pada wanita yang sudah pergi tersebut, seketika berjalan cepat menyusul dan melihat hingga menuruni anak tangga.
"Mama, tunggu!" Begitu melihat wanita baru pria tersebut berhenti menoleh ke arahnya, ia mengungkapkan apa yang dirasakan. "Jangan membuatku semakin merasa bersalah jika mama tetap baik padaku seperti ini."
"Aku tidak baik padamu, tapi hanya merasakan bagaimana kecewanya seorang ibu pada anaknya. Ibumu tidak sekuat aku, Alesha. Apa kamu lupa jika Ibu mempunyai riwayat penyakit jantung?"
"Paling tidak, aku bisa menjelaskan pada ibumu dengan pelan-pelan agar tidak merasa sock dan terkena serangan jantung. Aku kita ingin menjadi wanita yang berdosa dan menyesal seumur hidup jika sampai terjadi sesuatu pada ibumu gara-gara putraku."
Alesha merasa tertampar dengan semua kebaikan dari wanita bak Dewi tersebut. Ia memang mengetahui hal itu dan sudah memikirkan masa-masa selama beberapa hari ini.
"Aku sudah memikirkan jalan keluarnya, Ma."
Tiana mengerutkan kening karena penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh menantunya tersebut. "Jalan keluar apa yang dimiliki seorang anak ketika menyakiti perasaan seorang ibu? Aku ingin tahu sampai di mana kecerdasan yang kamu miliki."
Alesha jika kita menelan saliva dengan kasar karena merasa kalimat terakhir dari sang mertua itu tengah menyindirnya. "Aku tahu bukan cerdas yang Mama maksud, tapi licik karena asyik menipu orang-orang yang tidak bersalah."
"Aku tinggal di tempat kos temanku untuk sementara waktu karena tidak mungkin mengatakan pada ibuku mengenai rumah tangga yang tercipta atas dasar pernikahan kontrak di atas surat perjanjian."
Ia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk karena pasti akan menyesal seumur hidup dan tidak bisa memaafkan diri sendiri.
"Jadi, Mama tidak perlu mengantarku dan membuatku semakin merasa berdosa. Aku hanya ingin mama selalu hidup bahagia dan sehat setelah aku pergi dari sini."
Refleks Tiana tertawa terbahak-bahak karena merasa bahwa mantan menantunya tersebut memiliki sebuah harapan yang tidak mungkin bisa ia rasakan.
"Setelah semua yang kalian lakukan padaku, kamu masih berharap Mama bisa hidup bahagia dan tenang seperti sebelumnya? Apakah kamu berpikir sebelum mengatakan itu?" Tiana akan menunjukkan tangannya pada Alesha.
"Lihatlah ini! Bahkan tangan ini masih gemetar begitu mengetahui bahwa kalian yang kupercaya telah sengaja menipuku dengan mempermainkan perasaan tulus seorang ibu."
Refleks Diandra melepaskan genggaman pada pegangan koper dan menghambur meraih tangan yang sudah memutar tersebut. Bahkan ia menggenggam erat sambil menciumnya.
"Mama, maafkan aku karena telah menyakitimu. Aku ia benar sangat menyesal karena melakukan semua ini." Alesha merasa sangat terkejut karena mantan mertuanya menarik tangan seolah tidak ingin dipegang olehnya.
"Terlalu mudah semua orang mengucapkan kata maaf setelah melakukan kesalahan fatal yang menyakiti perasaan seseorang. Mungkin aku bisa memaafkanmu setelah menata hati, tapi tidak bisa melupakan semua yang kamu lakukan dengan Rafael."
"Baiklah, jika kamu tidak ingin Mama mengantarmu, pergilah dan kejar impianmu. Mama tidak mungkin memaksa seseorang yang tidak ingin bertahan di sini." Tiana benar-benar merasa sangat kecewa pada Alesha.
__ADS_1
Padahal selama ini ia sudah menganggap wanita itu seperti putri kandungnya sendiri dan benar-benar tidak tahu harus melakukan apa saat ini untuk menahannya.
'Padahal aku mengira bahwa kalian sudah saling mencintai dan tidak akan terpisahkan saat melihat keromantisan setiap hari. Ternyata semua itu hanya palsu dan semua karena ingin menipuku,' gumam Tiana yang saat ini mendengar suara bariton dari putranya yang berteriak-teriak memanggilnya.
Sementara itu, Alesha yang tidak bisa menjawab perkataan dari mertuanya, hanya diam dan seketika menoleh ke arah lantai bawah karena suara bariton yang sangat dihafal menggema.
"Mama!" teriak Rafael yang baru saja memasuki pintu utama dan berlari begitu melihat siluet sang ibu di lantai atas.
Kebetulan saat ia tadi mendapatkan pesan dari Alesha, kebetulan berada di restoran dekat dengan kompleks rumahnya dan merasa sangat terkejut sekaligus marah.
Ia semakin bertambah murka karena ketika menelpon Alesha, sama sekali tidak diangkat. Begitu menaikkan angka dengan berlarian agar bisa segera melihat keadaan sang ibu karena sepanjang perjalanan sangat mengkhawatirkannya, kini merasa lega begitu wanita paruh bayi yang disayanginya tersebut baik-baik saja.
"Mama!" Rafael seketika menghambur memeluk erat sang ibu. "Syukurlah Mama baik-baik saja."
Rafael seketika terhuyung ke belakang karena sang ibu mendorongnya serta melepaskan pelukannya. Seolah tidak ingin dipeluk olehnya karena merasa sangat marah karena mengetahui kebohongannya.
Rafael berniat untuk membuat perhitungan pada Alesha, tapi berpikir bahwa yang terpenting adalah menenangkan perasaan kecewa dari sang ibu yang sangat ia sayangi.
"Jangan memeluk Mama karena saat ini sangat kecewa padamu, Rafael! Bahkan putraku sendiri menganggap ibunya hanyalah seorang wanita bodoh." Tiana mengembuskan napas kasar ketika mengumpat pada putranya yang ditatap sangat tajam.
Bahkan ini adalah pertama kalinya merasa sangat kecewa pada putranya yang selama ini selalu menjadi anak yang dibanggakan olehnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika putranya bisa memiliki pemikiran yang tidak pernah diduga sama sekali.
Rafael saat ini benar-benar merasa sangat bersalah, tidak bisa berkata-kata karena memang awal mulanya ialah yang bersalah karena memikirkan untuk menipu sang ibu dengan pernikahan kontrak bersama Alesha.
"Mama, maafkan aku karena dulu tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin menikah dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai dan menghabiskan waktu seumur hidup dengan tersiksa."
"Jadi, aku ingin membuat Mama bahagia saat melihatku menikah sesuai dengan keinginan Mama. Kebetulan saat itu Alesha yang membutuhkan uang untuk kesembuhan sang ibu, jadi aku manfaatkan itu untuk mengajaknya bekerja sama."
Saat Rafael baru saja menutup mulut, merasakan rasa nyeri pada pipinya karena sebuah tamparan mendarat di sana. Sang ibu yang terlihat mengangkat tangan dan melakukan tamparan pada pipinya, seketika tidak bisa berkata-kata lagi.
Ini adalah pertama kali sang ibu murka padanya dengan menampar dan ia tahu bahwa kekecewaan wanita yang sangat disayanginya tersebut sangatlah besar.
"Mama sangat kecewa padamu, Rafael! Jangan bicara pada Mama karena tidak ingin melihat atau pun berbicara denganmu!" Tangan Tiana terasa panas karena sangat kuat ketika menampar wajah putranya.
Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan diri ketika sangat kecewa pada putranya yang telah menipunya hanya demi menghindar perjodohan yang direncanakan olehnya dulu.
Meskipun ia merasa bersalah karena puncak dari semuanya adalah perjodohan yang ingin dilakukannya, tetap saja tidak bisa memungkiri bahwa kekecewaan sangat besar dirasakan olehnya karena putranya telah menipunya habis-habisan.
Kemudian ia berbalik badan dan berjalan menuju ke arah kamar dan begitu masuk ke dalam, langsung membanting pintu hingga suara memekakkan telinga memenuhi rumah dengan lantai dua tersebut.
__ADS_1
To be continued...