I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Mendengar pendapat Alesha


__ADS_3

Tentu saja Rafael sama sekali tidak sependapat dengan tuduhan dari sang pengacara sekaligus sahabatnya tersebut. Apalagi setelah melihat sendiri mengenai Alesha di rumah sakit semalam.


"Jangan coba-coba menghasutku dengan pikiran negatifmu itu. Justru aku yang seharusnya tahu diri karena lebih merepotkan Alesha." Rafael kini menumpu dagunya pada kedua tangannya, kembali mengingat apa yang ia lihat tadi malam.


"Apanya yang direpotkan? Tugasnya itu hanya berpura-pura menjadi istrimu, tetapi dia akan menumpang hidup padamu." Rudy kini menyipitkan matanya, benar-benar heran dengan jalan pikiran Rafael.


"Sepertinya kamu terlalu banyak melihat drama di TV." Rafael membalasnya malas.


"Hey, Tuan Rafael. Apa kamu sungguh lupa siapa aku ini? Aku adalah pengacara. Kasusku tidak ada yang gagal. Aku sudah berpengalaman melihat berbagai macam kisah."


"Kurasa kamu itu terlalu kurang pengalaman, sehingga tidak mengetahui apa-apa tentang dunia ini." Rudy kini mendaratkan badannya pada sofa yang terletak di depan meja Rafael


Lelaki itu mengangkat sebelah kakinya di pangkuan, kepalanya ia sandarkan pada punggung sofa.


"Hentikan omong kosongmu! Aku bukan anak kecil lagi yang harus dikhawatirkan dan yang paling penting, aku merasa Alesha bukanlah orang yang seperti kamu duga."


Rafael mengalihkan pandangannya, merasa sia-sia berdebat dengan lelaki satu ini. Ucapannya selalu dipenuhi praduga-praduga yang tidak masuk akal.


Rudy menggelengkan kepalanya. "Rafael, kamu serius? Baru mengenal wanita itu dua hari, kamu sudah mempercayainya? Apakah otakmu sudah dipengaruhi olehnya?"


"Jangan sok tahu. Kamu tidak tahu keadaannya bagaimana sekarang. Keadaannya menjadi rumit." Rafael kini kembali memegangi pelipisnya yang berdenyut.


"Nah, aku tanya sekarang. Memangnya apa yang terjadi sampai membuat pagimu kacau seperti ini?" Rudy kini memajukan tubuhnya. Ia sudah sejak tadi bertanya, tetapi jawabannya hanyalah dugaan-dugaannya saja.


"Ibuku menyuruhku buru-buru menikah."


Rudy membulatkan mulutnya tak percaya. Jadi ini masalahnya? "Lalu apa masalahnya? Kalian sudah menandatangani kontrak perjanjian pernikahan, Alesha sudah setuju, kalian hanya perlu menjalaninya, bukan? Apa lagi yang menjadi masalah?"


Rafael mengembuskan napasnya dengan berat.


"Masalahnya …."


Rafael sontak teringat saat ia mengetahui rahasia Alesha di rumah sakit semalam. Ini adalah masalah utamanya, tetapi lelaki itu memilih untuk kembali membungkam mulutnya. Menyadari bahwa itu adalah rahasia.


Rafael akhirnya terdiam, tidak jadi melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


Rudy yang melihatnya semakin dibuat kesal. "Rafael, kenapa kamu aneh sekali?"


Lelaki itu geram bukan main melihat sikap plin-plan temannya ini. Padahal, jelas-jelas kemarin ia baru saja memintanya untuk membuatkan surat perjanjian pernikahan kontrak untuknya, tetapi sekarang, ketika ibunya menyuruhnya cepat menikah, malah frustasi sendiri.


Rudy yakin, masalahnya bukan ada pada keadaan yang mendesaknya, tetapi pada Rafael sendiri.


"Kenapa? Apa kamu kepikiran mantan istrimu lagi?" Rudy bertanya dengan curiga. Lelaki itu tahu betul jawabannya.


Kali ini, Rafael mengembuskan napasnya kasar. "Kenapa hari ini semua orang bilang seperti itu."


Namun, ia tidak bisa menyangkal. Rafael memang masih memikirkan mantan istrinya. Ia benar-benar tidak siap untuk menikah lagi karena dia.


Tetapi masalahnya, Alesha kini lebih mendesak daripada alasannya.


***


Terus tidak tenang akan desakan ibunya, Rafael kini berpikir untuk menanyai Alesha sendiri. Ia sedari tadi bolak-balik memeriksa semua kontaknya, mencari nama Alesha. Ketika kontak itu sudah ia temukan, lelaki itu tanpa ragu menekan tombol panggilan dan menunggu jawaban dari seberang sana.


"Halo." Jawaban terdengar dari seberang. Didengar dari suaranya, sepertinya emosi Alesha sudah tidak separah semalam.


Alesha tertawa kecil. "Wah ... aku takjub karena kamu ingin mendengar pendapatku."


Wanita itu terdengar normal seperti sedia kala. Terdengar ringan, tetapi sarkas. Terdengar renyah, tapi tajam. Gurauan manis yang sinis, seolah sudah melekat dengannya.


Rafael berpikir sejenak, terlintas di otaknya untuk memberitahu Alesha kalau ia mengetahui kondisi ibunya, tetapi mendengar suara Alesha yang sepertinya sedang dalam emosi yang baik sekarang.


Ia mengurungkan niatnya. Lelaki itu tak mampu membayangkan akan semarah apa Alesha jika tahu ia diam-diam mengikutinya dan niatnya untuk berdiskusi dengan kepala dingin akan berakhir sia-sia nantinya.


Rafael pada akhirnya memutuskan untuk pura-pura tidak tahu.


"Tolong jawab aku dengan serius kali ini."


Rafael menginterupsi kekehan renyah yang terngiang di seberang. "Jika aku tanya lagi tentang keputusanmu kali ini, apa yang ingin kamu lakukan? Aku sedang memintamu untuk menjawab sejujurnya." Rafael berkata dengan intonasi serius.


"Kenapa kamu menanyai keputusanku alih-alih meyakinkan keputusanmu sendiri? Itu adalah pernikahanmu. Itu adalah masalahmu. Kenapa aku harus memikirkan hal berat seperti ini?"

__ADS_1


"Tuan Rafael, aku sudah pusing memikirkan koleksi tas, apalagi yang harus kubeli di rumah. Tolong mengertilah." Alesha menjawab dengan renyah.


Rafael menghela napasnya. "Kamu sudah bisa bercanda, ya."


Namun, jawaban itu terdengar begitu menyedihkan di telinga Rafael. Ia tidak habis pikir, bagaimana wanita ini semudah itu bergurau tentang kehidupannya sendiri. Jawaban Alesha yang membingungkan secara tersirat menyuarakan kebingungannya juga. Wanita itu pun tidak punya jawaban yang pasti.


"Lalu, keputusanmu sendiri bagaimana?" Wanita itu menanyainya balik.


"Aku tidak tahu." Jawaban enteng itu keluar begitu saja dari mulut si tuan.


Lalu terdengar decakan usai Rafael menyuarakan jawaban skeptis itu.


"Apakah kamu ini benar-benar tidak bisa tegas dan selalu penuh keraguan seperti ini? Astaga, beruntung aku adalah partner-mu. Aku memperingatkanmu sekali ini. Buatlah keputusan yang jelas, agar aku tidak perlu terus khawatir untuk panik lagi." Alesha kini berucap dengan tegas.


Kalau boleh mengatakannya, Alesha memang benar-benar kesal dengan Rafael.


Pertama karena pria itu menjebaknya dalam perjanjian konyol itu. Lalu, menyusahkannya dengan rencana dadakan. Kemudian, Alesha bahkan harus dibuat geram dengan sifat tidak pastinya itu.


Akan tetapi, Alesha cukup tahu diri untuk membantu lelaki itu.


Meski untuk sekarang, ia sedang mengalami kesulitannya sendiri. Entah semuanya akan berakhir seperti apa, Alesha hanya bisa berharap ada setitik keberuntungan yang memihaknya.


"Apakah kamu sibuk akhir-akhir ini?" Rafael bertanya basa-basi.


"Aku selalu sibuk." Alesha menjawab tanpa ragu. "Aku sangat sibuk karena seluruh dunia mencariku. Kalau kamu masih ingin menghindar dari pernikahan itu, bukan masalah juga buatku."


Rafael tersenyum kecil. Mungkin ini adalah jawaban yang ingin ia dengar. Ia mau mendengar bahwa ada yang berada di pihaknya. Ia mau mendengar bahwa ada yang satu tujuan dengannya.


Setidaknya, ia merasa sedikit lebih lega.


"Namun, masalah utamanya adalah menghentikannya, bukan?"


Kalimat tanya dari seberang berhasil membuat Rafael tergeming. Benar sekali. Itu adalah sebuah pertanyaan besar yang seharusnya Rafael jawab dan pertanggungjawabkan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2