I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Pertanyaan menyakitkan


__ADS_3

Alex sedang bergelut dengan rasa penasaran mengenai Alesha–mahasiswi baru di kampus. Kejadian di rumah sakit sungguh diluar dugaan. Bahkan, ia tidak menyangka jika Rafael akan melakukan pembuktian dengan sengaja.


Adegan mencium dan mengungkap siapa Alesha, membuat Alex panas. Rasa sakit, lebih tepatnya cemburu yang dirasakannya membuat malam menjadi semakin kelam.


Deru napas dengan emosi yang sedang dialaminya, membuat Alex masih berguling ke kanan dan ke kiri di tempat tidur. Kemudian ia merasa terkejut dengan suara dari luar.


Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarnya dan memanggil Alex untuk makan malam. Rupanya itu sang ibu yang kini sudah berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka.


“Waktunya makan malam, mau sampai kapan kamu di kamar?” tanya Ana yang saat ini berada di atas kursi roda yang sudah didorong oleh sang suami


Memang ruangan kamar mereka bersebelahan dan tadi ketika ia akan turun ke lantai dasar, meminta sang suami untuk mengingatkan Alex agar tidak hanya berdiam diri di kamar.


Ia merasa tidak tenang setelah melihat wanita yang sangat tidak disukai berada di rumah sakit yang sama dan tadi menyuruh orang untuk menyelidiki. Kekhawatiran yang saat ini dirasakan olehnya adalah Alex akan mencoba untuk mengingat wanita itu dan membuatnya kembali mendapatkan potongan memori yang sebagian hilang.


Sementara Alex yang saat ini masih belum beranjak dari tempat tidur, kini langsung menjawab, “Iya, Ma. Alex ke sana sebentar lagi. Kalian turun saja dulu."


"Baiklah, kami turun dulu. Jangan lama-lama karena Papa sudah sangat lapar." Robert kini beralih menatap ke arah sang istri setelah putranya menganggukkan kepala tanda mengerti dan setuju. "Ayo, kita ke ruang makan!"


Ana kini hanya mengiyakan ajakan dari sang suami setelah sebelumnya melirik sekilas wajah putranya karena ia masih belum bisa tenang. Saat pintu ditutup, ia kini langsung berbicara lirih pada sang suami.


"Mama ingin Alex tidak berhubungan dengan wanita murahan itu. Jangan sampai ada celah di antara mereka untuk bertemu karena itu bisa mengembalikan ingatan Alex. Mama tidak mau itu terjadi," ucap Ana yang saat ini masih ingin menegaskan pada sang suami agar tidak berbuat kesalahan seperti beberapa tahun lalu.


Terlalu membebaskan putra mereka untuk mendapatkan pengganti sang istri yang telah meninggal karena kecelakaan, sehingga berakhir dengan seorang wanita murahan. Hal itulah yang membuatnya sangat kesal dan tidak ingin sampai terjadi lagi untuk kedua kali.


Sementara Robert yang yang baru saja mendorong kursi roda sang istri masuk ke dalam lift khusus di rumah mereka, hanya bisa mengiyakan perintah tersebut dan tidak ingin mengungkit kesalahan lalu.


Ia akui bahwa kesalahan terbesar yang dilakukan adalah ketika mengatakan pada putranya saat terpuruk.


Bahwa ia menyuruh Alex melupakan sang istri yang telah meninggal dengan cara mencari pengganti dan akan memberikan restu pada siapapun wanita yang dicintai putranya.


Robert awalnya berpikir bahwa putranya merupakan seorang pria yang sangat cerdas dan juga mempunyai selera wanita yang tinggi. Hal itulah yang membuatnya berbicara seperti itu. Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka jika ternyata wanita yang membuat Alex tertarik adalah seorang sugar baby.


Kini, Robert menatap ke arah sang istri yang berada di sebelah kanan tempatnya berdiri. "Aku akan menjamin hal itu, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir karena aku tadi sudah menyuruh orang untuk mencari tahu tentang wanita itu."


"Kita tinggal menunggu saja karena semuanya akan terungkap setelah orang suruhanku memberi kabar."


"Semoga bukan kabar buruk yang akan mereka katakan karena aku sudah lelah dengan semua itu. Aku tidak ingin mempunyai seorang menantu yang merupakan wanita murahan dan berprofesi sebagai sugar baby. Bahkan membayangkannya saja membuat bulu kudukku merinding seperti ini."


Ana yang terlihat bergerak karena merasa sangat jijik membayangkan memiliki menantu yang sudah sering dijamah oleh para pria dan menganggap bahwa putranya tidak pantas mendapatkan hal itu.

__ADS_1


Refleks Robert mengusap pundak wanita yang sangat dicintainya tersebut untuk menenangkan agar tidak terlalu khawatir berlebihan.


"Tentu saja semua itu tidak akan pernah terjadi selama aku hidup. Alex juga tidak akan membantah perintah kita. Ia pasti akan berpikir bahwa perkataan orang tua adalah demi kebaikan anak sendiri."


"Baiklah. Aku percaya padamu."


Ana yang masih merasa pusing karena memikirkan pertemuan dengan Alesha di rumah sakit tadi, malas untuk bicara panjang lebar mengenai wanita itu.


Akhirnya ia hanya memilih untuk pasrah dan mempercayakan semuanya kepada sang suami karena tidak bisa lagi berjalan bebas untuk pergi kesana-kemari seperti biasanya. Bahkan ia sebenarnya sangat lelah karena dari dulu menasehati Alex, tapi tidak pernah didengarkan.


Ia merasa bahwa perkataannya seperti masuk dari telinga kanan dan langsung keluar dari kiri. Hal itulah yang membuat ia merasa sangat kesal. Kali ini tidak bisa lagi melakukan apapun ketika kakinya belum pulih sepenuhnya.


Keduanya mulai berjalan keluar dari lift dan menuju ke ruangan makan. Di mana di sana ada beberapa pelayan yang sudah bersiap untuk melayani dan juga terhidang menu makan malam di atas meja.


Tanpa mengganti kursi roda, Ana sudah menunggu putranya turun dari lantai atas. Namun, sesekali ia melirik pada para pelayan yang berdiri bagaikan patung di sudut meja.


"Hari ini kalian pergi saja karena aku ingin berbicara serius dengan putraku ketika makan."


"Baik, Nyonya," sahut dua pelayan wanita secara bersamaan.


Kemudian mereka langsung pergi dari hadapan sang majikan sebelum sang tuan muda di rumah itu turun dari lantai atas.


Ia benar-benar merasakan rasa nyeri di kepala karena tadi memaksa untuk mengingat momen beberapa tahun yang hilang dari dirinya dan ia merasa yakin bahwa ada sesuatu yang sangat penting telah dilupakan.


Perasaannya bahkan terasa sangat aneh, tapi tidak bisa memastikan apa yang terjadi mengenai wanita bernama Alesha.


Hingga ia sudah keluar dari lift karena hari ini sangat malas untuk naik turun anak tangga. Apalagi kepalanya terasa sangat pusing. Jika nekad, mungkin akan berakhir jatuh dari anak tangga.


Pandangan Alex sudah mengedar di sekitar area ruang makan dan mulai berjalan menuju ke arah kursi karena sang ibu sudah membuka suara.


“Duduklah! Cepat makan.” Ana yang melihat sekilas putranya, masih mengurungkan niat untuk membahas hal yang tiba-tiba saja terlintas di kepala.


“Iya, Ma.”


Baru saja Alex duduk, meraih piring dan langsung menambahkan nasi, sayur serta lauk pauk, ia seketika hilang mood saat mendengar sebuah pertanyaan mencuat dari bibir wanita paruh baya di seberangnya.


“Usia kamu sudah tidak lagi muda, Alex. Mau sampai kapan kamu menyandang status seorang duda? Mama ingin segera menimang cucu."


Tentu saja pernyataan sekaligus pertanyaan dari sang ibu bagai sebuah tombak tajam bagi Alex saat ini. Ia menyadari bahwa hanya kenangan pahit yang dirasakan olehnya jika menyesali takdir, tetapi tidak bisa membuang kenyataan. Bahwa sang istri telah meninggal.

__ADS_1


Alex hanya bisa mengembuskan napasnya dengan berat. Matanya dipejamkan sesaat. Selama ini, ia menyibukkan diri dengan pekerjaan demi bisa melupakan kesedihannya.


Meskipun ia sadar bahwa semua itu sama sekali tidak berguna karena cintanya untuk sang istri tetap terpatri di dalam hati.


Kini, terlihat Alex meraih gelas di hadapannya dan langsung meneguk air putih di dalamnya.


Meskipun sebenarnya masih terluka atas kejadian kecelakaan sang istri, Alex hanya mencoba untuk terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang, seolah tak ada yang terjadi.


"Kenapa Mama tiba-tiba bertanya seperti itu? Aku belum berpikir untuk mencari pengganti Mikhaila."


Masih tidak menyerah, kini Ana meraih pergelangan tangan Alex. "Kamu tahu apa yang membuat Mama bahagia?"


"Apa yang Mama inginkan? Mama hanya ingin melihatmu bahagia hidup bersama seorang istri yang akan bisa menemanimu." Wanita itu menatap putranya dengan lembut, meraih tangan dengan jari kuat itu untuk digenggam sesaat.


"Kamu masih mencintai Mikhaila? Apakah kamu berpikir akan menyakiti istrimu yang sudah meninggal itu jika menikah lagi?"


Iris Alex melebar sesaat, ia pikir telah bersembunyi dengan baik selama ini. Alex kali ini hanya bisa tersenyum miris.


"Kalau iya atau tidak, itu tidak ada artinya sekarang. Mama tidak perlu mengkhawatirkan itu."


"Bagaimana mungkin tidak khawatir? Kamu bahkan selalu menutup hati untuk para wanita yang ingin mendekatimu. Harus sejauh mana lagi Mama diam membiarkan?" Ana kini sudah berakting memijat pelipis agar putranya merasa iba dan mau menuruti perintah untuk menikah.


"Aku akan menikah, tapi tidak sekarang. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja." Alex memaksakan tersenyum, mengusap punggung tangan sang ibu dengan lembut.


"Sampai kapan, Alex? Ini sudah beberapa tahun. Mau berapa lama lagi sampai kamu bisa melupakan Mikhaila dan menikah lagi?"


Alex terdiam karena sama sekali tidak tahu untuk memutuskan apa. Pertanyaan yang dibenci setiap orang yang memiliki usia cukup matang.


Apalagi Alex belum memiliki seseorang yang bisa mengisi hatinya setelah kepergian sang istri.


"Jawab, Alex! Jangan diam saja," titah sang ibu dengan wajah penuh kekesalan karena selalu melihat putranya terdiam ketika disuruh untuk segera menikah.


To be continued...


Seperti biasa, jangan lupa masukkan ke dalam rak baca karya dari Yenita Wati dengan judul Pengantin yang Ditukar. Terima kasih 🙏



Blurb:

__ADS_1


Demi menutupi skandal adik dan tunangannya, Haira terpaksa menerima pertukaran pengantin. Dia menikah dengan pria yang akan dijodohkan dengan adiknya, yaitu Aiden yang merupakan orang biasa. Bagaimana jika Haira mengetahui bahwa Aiden adalah pewaris tunggal Alexan Group yang terkenal tajir melintir? Dan apa yang melatarbelakangi penyamaran Aiden menjadi orang biasa?


__ADS_2