
Suasana di dalam ruangan sebuah kamar hotel yang sangat sepi dan hening, seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Namun, di atas ranjang king size, terlihat sosok pria yang saat ini tengah menggerakkan tangan dan juga kaki.
Sosok pria yang tak lain adalah Arsenio, kini perlahan membuka kedua mata dan memijat pelipis saat merasa pusing menyerang. Hingga beberapa saat kemudian, ia perlahan membuka kedua bola mata dan mengamati suasana di dalam ruangan kamar hotel.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa tertidur di ranjang ini?" tanya Arsenio yang saat ini mencoba untuk mengingat kejadian terakhir saat kehilangan kesadaran.
Ia bahkan sudah bangkit dari posisi yang sebelumnya telentang dan kini duduk dengan bersila sambil masih memijat kepala yang terasa berat dan membuatnya merasa aneh.
Kemudian ia mencoba untuk mengingat segala potongan memori yang sebelum kehilangan kesadaran dan tidak tidak mengingat apapun.
"Tadi, aku berbicara tentang perusahaan dengan investor yang menanamkan saham itu."
Arsenio terdiam beberapa saat ketika mengingat semua hal yang tadi dialami dan membuatnya merasa seperti orang bodoh saat melupakan kejadian yang membuatnya bisa berakhir tidur di atas ranjang king size tersebut.
Hingga kepingan memori berhenti tepat pada saat ia minum kopi yang diberikan oleh seorang wanita. Kemudian ia merasa seperti sangat mengantuk dan tidak bisa menahan bola mata agar tidak terpejam.
Merasa tidak seperti biasa dan juga sangat aneh ketika siang hari sudah sangat mengantuk. Selintas terbersit hal buruk di dalam pikirannya dan membuat Arsenio berusaha untuk menolak kenyataan.
Sebuah pikiran buruk kini terlintas dan menari di otaknya. Namun, ia berkali-kali menggelengkan kepala karena merasa bahwa itu tidak mungkin terjadi.
"Tidak mungkin!"
Arsenio saat ini mencoba untuk bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir di dekat ranjang sambil berpikir tentang kemungkinan buruk yang dialami.
"Tidak mungkin wanita itu yang membuat aku tidak sadar dengan memasukkan obat tidur ke dalam minuman hingga membuatku berakhir di atas ranjang ini. Aku bahkan tidak mengenalnya dan juga baru pertama kali bertemu dengan investor itu."
__ADS_1
"Lalu, apa yang mereka lakukan saat aku tidak sadarkan diri?" Arsenio merasa degup jantungnya berdetak melebihi batas normal saat pikirannya dipenuhi dengan hal-hal yang buruk.
"Jebakan. Apakah ini semua adalah jebakan dan mereka akan menghancurkanku? Namun, apa yang mereka lakukan saat aku tidak sadarkan diri?"
Arsenio refleks langsung menundukkan kepala untuk melihat penampilannya saat ini dan mengerutkan kening karena merasa sangat aneh ketika kancing kemeja yang biasa rapi sudah terlepas beberapa.
Tidak hanya itu saja karena kemeja itu tidak dimasukkan ke dalam celana panjang berwarna hitam yang melindungi bagian bawah tubuhnya. Selain itu, ia melihat jas miliknya tergolek tidak berdaya di atas lantai sebelah ranjang dan membuatnya sangat yakin jika tadi ada yang melepaskan pelindung tubuhnya.
"Berengsek! Siapa mereka sebenarnya? Apa maksud mereka melakukan semuanya padaku saat aku tidak mengenal dan baru pertama kali bertemu hari ini. Jika ini adalah sebuah konspirasi, mungkin akan terjadi sebuah hal buruk dalam hidupku."
"Namun, apa yang sebenarnya mereka lakukan padaku di dalam kamar ini? Mereka tidak membuatku telanjang dan memotret, lalu menyebarkan ke media, kan?"
"Berengsek! Siapa yang melakukan ini semua? Aku tidak akan tinggal diam dan akan menghancurkan orang itu!" sarkas Arsenio yang saat ini merasa sangat marah dan dikuasai oleh kemurkaan, sehingga langsung memporak-porandakan ruangan kamar hotel tanpa memikirkan apapun.
Apapun yang dilihat oleh mata, menjadi sasaran dan membuatnya tidak lagi bisa berpikir jernih ketika membayangkan hal buruk akan menimpa hidupnya.
"Aku tidak akan hancur semudah itu! Aku akan mencari jalan keluar jika nanti foto-foto telanjangku beredar di media dan mencemarkan nama baik. Perusahaan pasti akan kembali mengalami dampak buruk dari hal ini dan sudah bisa dipastikan aku akan disalahkan karena membuat harga saham turun."
Arsenio yang masih dikuasai oleh amarah dengan deru napas memburu, kini tidak bisa lagi berpikir jernih ketika otaknya seperti serasa terbakar amarah.
Membayangkan nasib perusahaan hancur dan ia akan kehilangan kekuasaan serta kepercayaan dari sang ayah angkat yang selama ini mempercayainya melebihi siapapun.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan perusahaan hancur semudah itu."
Arsenio terdiam beberapa detik saat otaknya menangkap seseorang yang menjadi dalang dibalik kejadian hari ini.
__ADS_1
"Perusahaan dan aku hancur. Hanya ada satu orang yang menginginkan hal itu dan sudah dipastikan jika dia yang merencanakan semua ini padaku."
Wajah Arsenio kembali memerah saat dikuasai oleh amarah ketika mengingat seseorang yang terlintas di pikiran. Bahkan ia sudah mengepalkan kedua tangan dan bunyi gemeretak rahang yang menandakan bersatunya deretan gigi yang menjadi korban kemurkaan.
"Nick. Ya, hanya dia yang bisa melakukan ini padaku. Berengsek! Seharusnya dulu aku melaporkannya kepada polisi dan tidak hanya membuat babak belur wajahnya. Hanya karena aku merasa tidak enak pada daddy, membuatku hanya memberikan sekedar pelajaran."
"Aku tidak ingin keluarga Adelardo dipermalukan karena perebutan kekuasaan dan harta, jika sampai keponakannya diketahui oleh publik tengah berencana jahat pada paman sendiri."
"Papa pasti akan merasa sangat malu dan juga nama baiknya tercemar. Nama baik keluarga Adelardo dipertaruhkan di sini. Sepertinya aku harus berbicara dengan daddy dan meminta saran apa yang harus kulakukan pada Nick."
"Daddy pasti sudah mengetahui seperti apa keponakannya yang akan melakukan segala cara untuk merebut perusahaan yang aku pimpin agar menjadi miliknya."
Arsenio yang saat ini mencari keberadaan ponsel miliknya karena ingin menghubungi pria yang menjadi investor dan sudah menandatangani surat perjanjian beberapa jam lalu.
Hingga ia melihat benda pipih miliknya tersebut ada di atas meja dan membuatnya segera meraih, serta memeriksa. Nasib baik memakai sandi dan tidak bisa dibuka oleh orang lain selain dirinya.
Kemudian ia memeriksa semua pesan dan tidak ada yang hilang karena itu akan dijadikan bukti saat melaporkan ke polisi perbuatan pria yang menjadi investor tersebut. Namun, sebelum melakukan itu, ia memilih untuk menelpon pria itu.
Hingga beberapa menit kemudian, kembali mengumpat dengan kasar saat nomor tidak aktif.
"Sialan! Pasti benar bahwa pria itu hanyalah seorang penipu yang ingin menghancurkanku atas suruhan dari Nick. Aku benar-benar tidak akan pernah melepaskanmu kali ini, Nick! Aku akan menghancurkanmu."
"Tunggu pembalasanku!" sarkas Arsenio yang saat ini mengepalkan kedua tangan dengan rahang mengeras yang menandakan bahwa saat ini dikuasai oleh kemurkaan.
To be continued...
__ADS_1