I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Sambil menyelam minum air


__ADS_3

Saat ini, Aeleasha tidak bisa menghentikan bulir bening yang semenjak dari tadi mengalir melalui bibir putihnya karena kesedihan teramat sangat ketika mengingat sosok sang suami yang berselingkuh dengan wanita lain.


Bahkan selalu dibahas oleh mantan suaminya yang saat ini sibuk mengusap punggung putranya. Ingin ia mengungkapkan nada protes pada Rafael karena selalu menyerang dengan mengingatkan tentang luka yang didapatkan dari sang suami. Hingga membuatnya kabur dari rumah.


Bahkan tidak kembali ke rumah orang tua dan memilih untuk bersembunyi di sini. Seolah ingin menyembunyikan diri dari siapapun yang mengenalnya dan pastinya akan menginterogasi macam-macam.


Hal itu hanya akan membuatnya semakin terluka dan tidak bisa menahan kesedihan di dalam hati.


Seperti saat ini, ia tidak bisa mengendalikan diri untuk menghentikan bulir kesedihan yang jatuh tanpa seizinnya.


Meskipun sama sekali tidak mengeluarkan suara, tetapi tubuhnya bergetar hebat ketika membayangkan sang suami berada di kamar hotel dengan wanita lain dan melakukan hubungan terlarang, sedangkan ia saat ini juga berada dengan seorang pria yang merupakan mantan suaminya.


Akan tetapi, tidak melakukan apapun yang dilarang karena bukanlah seorang wanita murahan yang dengan rela melakukan **** bersama pria yang bukan merupakan suami.


'Kenapa aku harus dua kali mengalami ini dalam hidupku? Apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah aku harus bercerai dengan pria yang sangat kucintai? Kenapa aku masih mencintai suami yang telah menodai ikatan suci pernikahan?'


'Seharusnya aku membencinya dan tidak akan pernah memaafkan pria jahat itu."


"Lebih baik menghilang dari pandangan pria itu, agar ia merasa puas." Aeleasha berbicara dengan suara tertahan dan juga serak karena masih efek menangis membuat ia mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, yaitu simpati.


Sebenarnya ia dari dulu sangat tidak menyukai jika ada yang merasa iba padanya, sehingga membuat Aeleasha selalu menyembunyikan perasaan terluka yang dirasakan. Ia selalu tampil ceria di depan orang lain, meski sebenarnya perasaannya sedang hancur.


Seperti yang dilakukan dulu saat mempunyai ibu tiri yang sangat jahat dan selalu tersenyum di depan semua orang, seolah ia baik-baik saja. Padahal jauh di lubuk hati, merasakan terluka begitu dalam.


Rafael dari tadi tidak berkedip menatap Aeleasha sudah meluapkan perasaan di depannya.


Rafael merasa lega dan senang karena sosok wanita yang berada di hadapannya tersebut sudah kembali menjadi mantan istri yang ia kenal.

__ADS_1


Ya, sang istri dulu selalu menangis tersedu-sedu di depannya ketika merasa bersedih. Seolah telah mempercayainya dan ia selalu menghibur dengan menjadi pelipur lara dari wanita yang dicintai.


Tanpa mengharapkan imbalan karena selalu tulus dan berharap ada sebuah keajaiban yang merubah hati seorang Aeleasha agar membuka pintu hati untuknya. Namun, sudah bertahun-tahun ia menunggu, harapan yang dipupuk tidaklah membuahkan hasil sama sekali.


Rafael awalnya hanya ingin diam dan menatap Aeleasha yang sudah banjir air mata tersebut. Namun, ternyata hatinya tidak setegar itu, sehingga ia segera beranjak dari posisinya yang berbaring di sebelah Arza.


Kemudian Rafael berjalan mendekati Aeleasha dan berniat untuk mendekap erat tubuh yang sesekali bergetar hebat karena menangis tersedu-sedu tersebut.


Namun, belum sempat ia melakukan itu, suara Aeleasha membuatnya tidak berkutik di dekat ranjang. Ya, Rafael sudah berjalan memutar ranjang karena ada tubuh Arza di tengah, tetapi gagal melakukannya ketika ditolak mentah-mentah oleh wanita yang seketika menutup wajah dengan bantal.


"Berhenti di sana, Brother! Jangan mendekat! Aku hanya ingin menangis, tapi tidak ingin sendirian. Ya, aku memang sangat munafik karena terkesan ingin menyiksamu."


"Kamu pasti iba dan tidak tega saat melihatku seperti ini, tapi aku tidak bisa menerima cintamu. Aku hanya ingin kamu menghiburku dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja."


Rafael mengepalkan kedua tangan dan wajahnya seketika memerah dengan rahang mengeras yang saat ini seolah mewakili perasaan hancur berkeping-keping.


Sialnya, ia tidak bisa memaksakan kehendak pada wanita yang masih menyembunyikan wajah di balik bantal.


"Semuanya tidak baik-baik saja setelah suamimu berselingkuh, Aeleasha!" Rafael berbicara sambil menarik dengan kuat bantal yang menghalangi pandangannya.


Bahkan ia sudah membuang bantal itu ke sembarang arah dan seketika teronggok tak berguna di lantai. Hingga ia kini bisa melihat wajah sembab penuh air mata.


Manik bening yang digenangi bulir kesedihan itu seolah tidak akan pernah surut jika sang pemilik tidak menghentikan sendiri. Saat ia bersitatap dengan iris kecoklatan di hadapannya, Rafael kini menarik pergelangan tangan Aeleasha.


Perbuatannya berhasil membuat Aeleasha seketika bangkit dari posisinya yang berbaring miring ke kiri sebelumnya.


"Ikut aku!"

__ADS_1


"Brother, lepaskan! Kamu mau mengajakku ke mana?" Aeleasha saat ini berniat untuk mengempaskan tangannya yang berada dalam kuasa mantan suaminya.


Namun, suara bariton dari pria yang saat ini seolah tidak memperdulikan penolakannya, kini membuatnya tak berkutik.


"Luapkan perasaanmu, tapi bukan di sini karena ada Arza yang sedang tidur!" Rafael kini masih menggenggam erat pergelangan tangan kiri Aeleasha dan keluar dari presidential suite room tersebut.


Ia membawa ke ruangan kamar yang tadi sudah di-booking untuk beristirahat karena tidak ingin pulang hari ini.


Rencananya adalah pulang besok pagi, tapi saat hari ini melihat Aeleasha seperti membutuhkan teman yang bisa menghibur, membuatnya memilih untuk tidur di kamar wanita itu bersama Arza.


Meskipun itu adalah perbuatan terlarang karena berada di dalam satu kamar bersama istri orang, tetapi Rafael berpikir jika ia tidak melakukan apapun dengan Aeleasha.


Jadi, ia berpikir tidak menjadi masalah. Kini, ia sudah berada di ruangan kamar yang sangat hening, berukuran sangat luas dan super mewah.


Kemudian memilih untuk melepaskan genggaman tangannya. "Di sini! Luapkan perasaanmu yang hancur di sini dan berteriaklah sekencang mungkin untuk meluapkan perasaanmu yang sedang terluka karena pria bajingan itu."


Sementara itu, Aeleasha hanya diam saja dan merasa ragu, serta khawatir ketika berada di dalam ruangan kamar hotel bersama sosok pria yang terlihat memerah wajahnya karena dikuasai oleh emosi tersebut.


Namun, kekhawatiran seketika hilang begitu mendengar suara bariton dari pria yang berdiri menjulang di hadapannya tersebut.


"Aku sudah menjadi suamimu lebih dari tiga tahun. Seharusnya kamu tidak berpikiran buruk padaku karena aku tidak akan pernah memperkosamu seperti bajingan itu!"


Namun, jika kamu ingin membalas dendam dengan cara demikian, agar bajingan itu menyesal dan memberinya hukuman, aku sama sekali tidak keberatan."


Kalimat terakhir dari Rafael tersebut sebenarnya merupakan sebuah candaan semata, tetapi jika itu membuat Aeleasha tertarik, ia pun akan sangat senang. Seperti pepatah yang mengatakan 'Sambil menyelam minum air' dan sangat mewakili perasaan Rafael saat ini.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2