
Perusahaan Arsenio yang dulunya menjadi saingan terkuat dari beberapa perusahaan besar, kini seolah meredup pamornya.
Berhari-hari Arsenio disibukkan dengan pencarian pengkhianatan hingga meluluhlantakkan perusahaannya yang mulai goyah dan diambang kebangkrutan.
Arsenio bahkan tidak pulang berhari-hari dan terus menyelidiki dan mencari tahu siapa dalang yang telah membuat dirinya tidak bisa pulang dan makan dengan teratur.
Hingga hal itu membuat Aeleasha prihatin dan terus menanti kepulangan sang suami dengan penuh kecemasan.
Aeleasha yang cemas, mencoba menelpon Arsenio dari rumah. Namun, sang suami sangat sulit dihubungi.
Ia tidak menyerah dan terus mencoba untuk menghubungi. Hingga dering yang kesepuluh akhirnya sang suami mengangkat panggilan teleponnya.
“Halo, Sayang,” jawab Arsenio dengan suara yang terdengar lelah dan pelan.
“Sayang, bagaimana kabarmu? Apa kamu masih sibuk dengan masalah di perusahan?” tanya Aeleasha penuh prihatin.
“Ya, kamu tahu. Jika ini adalah kesempatan emas yang sudah gagal. Tentu saja, semuanya hilang dalam sekejap. Bahkan hanya dalam hitungan hari, semua pemilik saham pergi dan menuntut ganti rugi. Mungkin, perusahaan ini akan bangkrut sebentar lagi,” ucap Arsenio seolah putus asa.
Hal itu jauh dari sikapnya yang seperti biasanya.
“Jangan putus asa, Sayang. Aku yakin kamu pasti bisa menemukan jalan keluar. Entah dari mana pun asalnya, semuanya pasti akan terungkap sebentar lagi,” ucap Aeleasha mencoba menghibur dan memberikan semangat pada sang suami.
Arsenio tersenyum senang mendengar semangat dari istri tercintanya itu. Hatinya yang penuh dengan keputus-asaan dan hampir menyerah, kini terisi kembali dengan semangat yang membara.
Ternyata hanya dengan mendengar suara sang istri, bisa membangkitkan semangat dan kepercayaan diri yang telah mati.
“Iya, Honey. Terima kasih karena sudah menelpon untuk memberikanku semangat. Aku janji akan pulang beberapa hari lagi,” ucap Arsenio dan menjadi penuh percaya diri.
“Iya, Sayang. Jangan terlalu memforsir diri dan tetap jaga kesehatan agar tidak sakit,” ucap Aeleasha dan mengakhiri panggilan teleponnya itu.
Arsenio kini sudah memiliki semangat yang penuh memulai menilik semuanya dari awal. Ia bahkan kembali membaca semua berkas-berkas yang diberikan oleh sekretarisnya dan mulai menerka kembali. Melihat semua riwayat dan permasalahan dari pegawainya.
Butuh beberapa menit hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang janggal. Saat teringat akan salah satu pegawainya yang mulai memakai pakaian mahal dan mobil baru. Bahkan ponselnya berganti menjadi model yang terbaru.
Senyum kecil terulas dari wajah lelahnya itu. Ia pun memanggil sekretarisnya untuk masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
“Ya, Tuan Arsenio,” ucap sekretaris.
“Panggil Max ke sini. Aku sudah tau siapa dalang dari semua ini,” ucap Arsenio dengan senyuman licik. Sekretarisnya cukup tercengang, tapi tidak banyak tanya.
“Baik,” Ia pun segera pergi keluar dari ruangan bosnya. Berjalan menuruni lantai dengan menggunakan lift dan turun di lantai semua pegawai.
Langkahnya terburu dengan wajah yang serius. Jelas semua itu dilihat oleh semua pegawai yang sudah mendengar rumor bahwa perusahaan mereka akan segera bangkrut.
Hingga langkahnya terhenti dan menatap Max sedang berada di ruang pantri sedang memamerkan jam tangan mewah yang baru saja dibeli.
“Tuan Arsenio memanggil Anda untuk datang ke ruangannya. Sekarang juga,” ucap sekretaris dan membuat semua orang menoleh. Tentu saja ia masih menatap heran pada pria bernama Max tersebut.
Jelas pria itu seketika mendapatkan sebuah firasat buruk dengan rasa takut yang luar biasa.
Tanpa bisa menolak dan menghindar, ia pun mengangguk mengiyakan panggilan itu.
Max berjalan mengekor langkah sekretaris yang kembali menaiki lift menuju ruangan pemimpin perusahaan. Selama dalam lift, tangannya terus gemetaran dengan peluh yang memenuhi wajah.
Jelas sangat gelisah dan ketakutan. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sekretaris pun mengetahui itu dan sudah menyimpulkan apa yang terjadi sebenarnya.
Max menahan tangan pria di hadapannya untuk mengetuk pintu dan beberapa saat menyiapkan diri dan melepaskan tangan sekretaris, lalu mengetuk pintu.
“Masuk!” ucap Arsenio dengan suara keras dan menggelegar. Hanya mendengar suara bosnya, kaki Max sudah sangat lemas dan sulit sekali melangkah.
Selangkah demi selangkah ia masuk ke dalam ruangan dan melihat punggung presiden direktur yang membelakangi keduanya. Menatap langit dari jendela besar ruangannya yang sangat cerah.
“Tuan Arsenio, Max sudah ada di sini,” ucap sekretaris memanggil bosnya.
Perlahan Arsenio berbalik badan dan menatap tajam pada pria yang sudah gelisah dan penuh dengan rasa takut. Tubuh bergetar dengan hebat.
Belum sempat Arsenio mengucapkan satu kata pun, tiba-tiba pria itu sudah berlutut dan memohon ampunan.
“Mohon ampuni saya, Bos. Saya ... tidak melakukan apa-apa,” ucap Max penuh dengan binar ketakutan.
“Kenapa kau memohon ampun? Apa kau yakin tidak melakukan kesalahan?” tanya Arsenio dengan suara mencekam.
__ADS_1
Bahkan Max hampir tidak bernapas karena mendengar pertanyaan itu.
“Maafkan saya karena benar-benar telah gelap mata." Kembali memohon, bahkan sampai bersujud meminta ampunan.
Arsenio berjalan mendekat, langkahnya terdengar sangat berat dan mengerikan.
Setiap langkah bagai tombak yang menusuk jantung Max. Hingga Arsenio menepuk pundak itu yang langsung bergidik ngeri.
“Aku tahu, jika kau membeli mobil baru yang sangat mahal. Ponsel keluaran terbatas dan bahkan pakaian sangat bermerk,” ucap Arsenio perlahan, tapi bagai benang yang menggorok leher.
“Wah ... apa ini? Bukankah ini jam tangan yang sangat mahal?” ucap Arsenio lagi untuk melampiaskan kekesalannya.
“Maaf, Bos. Saya akan memberitahu semuanya,” ucap Max dengan mememelas. Matanya berkaca-kaca penuh ketakutan.
“Orang itu adalah Nick yang telah menyuruh saya menjual proposal itu padanya,” ucap Max dengan suara yang bergetar.
'Nick? Bukankah dia keponakan daddy?' batin Arsenio dengan wajah memerah dan mengepalkan tangan.
Ia tau, jika Nick sangat iri padanya karena telah diangkat anak oleh Giovanni Adelardo yang merupakan orang Amerika pemilik perusahaan utama karena tidak mempunyai keturunan.
Giovanni Adelardo dulu lebih mempercayainya semenjak kejadian dua saudara yang hanya mengincar harta dan hendak mencelakakannya.
Arsenio ingat betul bagaimana nasib Giovanni yang begitu terancam karena teror yang terus didapatkan hampir setiap hari. Bahkan merasa tidak kuat untuk bertahan.
Hingga suatu hari, Arsenio yang sedang dalam perjalanan, tidak sengaja menemukan dan menolong Giovanni Adelardo yang mengalami kecelakaan saat mobil jatuh ke sungai dulu.
Mengetahui pria yang tulus menolongnya, hingga membuat Giovanni Adelardo mengangkatnya sebagai anak angkat dan mempercayakan perusahaan diurus olehnya hingga detik ini.
Arsenio menggeram kesal mengetahui hal itu. Ia benar-benar tidak habis pikir bahwa Nick benar-benar seorang pengkhianat dan bahkan berani menghancurkan perusahaannya seperti saat ini.
"Berengsek!" sarkas Arsenio yang kini sudah mengempaskan tangannya pada meja kerja di depannya dan terlihat wajah memerah saat ini yang seolah mewakili perasaannya.
Di saat bersamaan, ia mendengar suara dering ponsel dari saku jas dan begitu melihat jika yang menghubungi adalah detektif, langsung diangkat.
"Apa kau sudah menemukan orangnya?"
__ADS_1
To be continued...