I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Tidak ada gunanya


__ADS_3

Rencana Rafael untuk membahas mengenai mantan istri yang telah kembali, tidak bisa diceritakan pada sang ibu karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan yang semakin menumpuk, belum lagi mengenai acara pernikahan.


Khususnya yang paling sibuk adalah sang ibu dan mertua yang malah jarang di rumah karena sangat bersemangat saat selalu mengawasi di ballroom hotel yang akan menjadi tempat bersejarah untuk putra-putri mereka.


Sementara Alesha yang sama sekali tidak bersemangat, menganggap acara pernikahan hanyalah sebuah sandiwara.


Semenjak ia bertengkar dengan Rafael, tidak pernah satu kali pun ia menghubungi pria itu. Malah lebih sering menghubungi Alex, meskipun hanya sekedar berbicara hal sepele, seperti mengenai makanan, pelajaran, pekerjaan.


Tidak ada pembahasan mengenai pernikahan. Seolah menunjukkan jika mereka tidak ingin membahas itu.


Seperti yang terjadi hari ini, Alesha baru saja bangun tidur dan akan pergi ke hotel yang akan menjadi tempat pernikahan. Sebenarnya semua kemewahan ia dapatkan saat pernikahan, tetapi hanya menganggap itu semua semu karena setelah satu bulan, akan bebas dari perjanjian yang serasa mencekik lehernya. Hingga membuatnya sulit untuk bernapas.


"Rasanya aku sangat muak dengan hari ini," ucap Alesha yang saat ini mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar. "Aku akan meninggalkan kamarku selama satu bulan dan tinggal di rumah pria berengsek itu."


Saat Alesha baru saja menutup mulut, ia mendengar suara dering ponsel miliknya dan tanpa membuang waktu langsung mengarahkan tangan pada laci untuk mengambil benda pipih tersebut.


Begitu melihat siapa yang menghubungi, seketika wajah kusutnya berubah cerah dan sudut bibir melengkung ke atas. Tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo."


"Apa kamu sudah siap?"


Alesha memicingkan mata karena pertanyaan pria di seberang telepon yang tak lain adalah Alex, membuatnya kesal.


"Apa maksudmu siap menikah?"


"Bukan."


"Lalu?" Alesha merasa aneh dengan keheningan yang tercipta karena Alex seolah ingin membuatnya merasa sangat penasaran atas kalimat singkat dan pendek dari pria itu.

__ADS_1


Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar kalimat Alex.


"Siap untuk diculik dari pelaminan maksudku. Anggap aku adalah Dewa Rahwana yang menculik Dewi Sinta dari Dewa Rama. Bukankah seperti itu cerita yang sering ditayangkan di televisi?"


"Astaga! Apa kamu pikir kisah hidupku sama seperti cerita di film itu?" Alesha yang kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena ingin bermalas-malasan sebelum seharian nanti tenaganya akan diforsir dengan acara pernikahan.


"Anggap saja begitu. Bagaimana jika aku melakukan itu? Apa kamu akan menyukainya?" tanya Alex dari seberang telpon yang hari ini wajahnya terlihat dipenuhi kantong mata karena semalaman tidak bisa tidur.


Apalagi hari ini adalah pernikahan Alesha, jadi ia tidak bisa beristirahat karena memikirkan wanita yang dicintai akan menikah. Tidak hanya itu, ia pun sudah menyuruh untuk orang yang dibayarnya mahal, akan melaksanakan rencana penculikan hari ini.


Namun, ia seketika menciut nyalinya begitu mendengar tanggapan dari Alesha di seberang telepon.


"Jika itu benar-benar terjadi, hancur sudah hidupku karena tidak ada lagi hal yang bisa membuatku bertahan hidup. Mungkin ibuku akan terkena serangan jantung dan meninggal di acara pernikahanku. Kemudian setelah aku mengetahuinya, akan menyusulnya ke surga."


Alesha refleks menjawab seperti apa yang dibayangkan olehnya. Ia kali ini tidak bisa berpikir jernih karena hanya itu yang terpikirkan.


"Bicara apa kamu. Jangan mengatakan hal sekonyol itu!" sarkas Alex yang merasa sangat marah, sekaligus kesal karena saat ini merasa ragu untuk melakukan rencana.


Sementara Alesha yang merasa bahwa candaan dari Alex bukanlah sebuah candaan, membuatnya berkata seperti itu untuk menghentikan aksi nekad pria yang dicintai.


"Aku tahu kamu mencintaiku, jadi tidak perlu membuktikan dengan hal yang malah membuatmu kehilangan. Jika kamu mempercayaiku, jangan mengacaukan pernikahan ini."


"Alesha!"


"Percayalah padaku! Satu bulan. Aku akan kembali padamu setelah itu, jadi jangan berbuat apapun selama waktu yang kusebutkan itu, oke!"


Tidak ada jawaban dari seberang telpon karena saat ini Alex merasa jika perkataan dari Alesha adalah sebuah ancaman yang serasa merantainya.


Hingga tidak bisa lepas dari jeratan rantai cinta wanita yang membuatnya jatuh cinta. Ia bahkan sudah mengeluarkan uang muka untuk membayar orang-orang yang nanti menculik Alesha setelah dirias.

__ADS_1


Namun, semua perkataan Alesha membuat nyalinya menciut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saat wanita yang dicintai menyebutkan kata mengakhiri hidup, itu bukanlah hal yang menjadi tujuan akhir hidupnya.


"Alex. Apa kamu masih di sana?" tanya Alesha yang saat ini merasa jika Alex tengah memikirkan ancaman darinya dan membuktikan bahwa apa yang ia takutkan benar.


Bahwa pria di seberang telpon itu memang tengah merencanakan sesuatu hal yang besar, yaitu menculiknya. Tidak, ia ingin mengubah itu menjadi hal masuk akal karena setelah satu bulan, akan kembali ke pelukan pria itu.


"Aku akan membuktikan cintaku padamu setelah satu bulan. Jadi, percayalah padaku dan jangan melakukan apapun di hari pernikahanku."


"Apa aku bisa melakukannya, Alesha? Apa kamu pikir itu mudah bagiku? Melepaskan wanita yang kucintai dan aku tahu jika kamu juga mencintaiku. Bagaimana aku bisa?" seru Alex dengan raut wajah muram.


"Bisa, asal kamu percaya padaku sepenuhnya karena aku akan membuktikan padamu satu bulan lagi. Jika kamu masih mencintaiku, tunjukkan buktinya dengan menuruti perintahku, oke!"


Saat Alesha baru saja menutup mulut, ia mendengar suara ketukan pintu dengan suara sang ibu yang memanggil dan langsung berbisik di dekat ponselnya.


"Aku harus pergi, Alex. Aku tutup telponnya!"


Tanpa menunggu jawaban dari seberang telepon, Alesha refleks menyembunyikan ponsel miliknya di bawah bantal dan beberapa saat kemudian sang ibu sudah masuk ke dalam kamar dengan perawat yang mendorong kursi roda.


Alesha melihat sosok ibunya yang berada di kursi roda dengan perawat yang selalu setia seharian penuh untuk merawat ibunya. Ada rasa bersalah dan penyesalan dari dirinya saat melihat itu.


Ia menyadari bahwa sampai saat ini masih bisa melihat ibunya yang sehat dengan dirawat perawat itu karena berkat Rafael—pria yang sangat dibenci.


Alesha kini menyadari bahwa kebencian pada Rafael sangat berlebihan karena menganggapnya adalah seorang wanita murahan.


Jika ia tidak dekat dengan Alex hingga menginap di apartemen pria itu, mana mungkin akan dianggap sebagai seorang wanita murahan.


Hari ini, ia berencana untuk menjalin hubungan baik dengan Rafael karena membutuhkan itu demi pernikahan palsu yang akan dijalani. Jadi, ia akan berakhir baik-baik setelah satu bulan bercerai.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2