I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Cara lebih ampuh


__ADS_3

Beberapa jam lalu, Alesha membeli untuk menghabiskan waktu hari ini dengan membuka sosial media miliknya dan menuliskan kalimat yang dianggap sangat mewakili apa yang dihadapi.


Ia tadinya ingin menangisi nasibnya karena Rafael membuatnya sakit hati, tapi tidak ingin menjadi seorang wanita bodoh yang galau hanya gara-gara seorang pria.


Jadi, mencoba untuk menenangkan diri dengan mengalihkan perhatian pada media sosial. Bahkan ia melihat video-video lucu yang membuatnya tertawa agar melupakan semua hal buruk yang menimpanya.


Namun, itu tidak membuatnya bisa melupakan sakit hatinya pada pria yang berstatus sebagai suami itu. "Rafael berengsek itu sangat menyebalkan!"


Kemudian ia melemparkan bantal ke sembarang arah untuk melampiaskan amarah yang membuncah di dalam hati saat ini. Ia saat ini menyesal karena menolak ajakan dari mertuanya untuk menghabiskan uang sang suami.


"Seharusnya aku tadi menyetujui ajakan mama dan berbelanja bersama ibu sekalian. Pasti sangat menyenangkan menghabiskan waktu dengan ibu serta mertua."


"Menguras uang hasil kerja keras pria sialan itu adalah cara terbaik untuk membalas dendam karena membuatku kesal. Sayangnya aku sangat khawatir jika ada salah satu pria yang dulu menggunakan jasaku."


Alesha sebenarnya tidak memperdulikan diri sendiri, tapi sangat khawatir jika sampai ibu mertuanya mendapatkan masalah dan merasa malu karena perbuatannya di masa lalu.


"Bukan karena ingin menjaga nama baik Rafael, tapi semua demi mertuaku yang berhati malaikat itu. Mama adalah seorang wanita yang mempunyai sifat seperti malaikat dan aku tidak ingin menyakitinya ataupun mempermalukannya."


Alesha kembali menghembuskan napas kasar dan mengempaskan tubuhnya di atas ranjang. Kini, ia menatap langit-langit kamar yang terlihat sangat indah dan dicat seperti langit. Bahkan terlihat ada bintang yang menghiasi di sana.


"Seandainya aku bisa menggapai bintang itu." Alesha mengangkat tangan ke atas dan beberapa kali menggenggam serta membukanya.


"Namun, meskipun aku berdiri ataupun melompat sekuat tenaga, tidak akan bisa mengambil bintang itu. Karena terlihat sangat jauh dan sulit digapai."


"Bintang itu seperti Rafael yang tidak mungkin aku gapai karena di dalam hatinya hanya ada Aealeasha. Satu-satunya wanita yang membuat Rafael berani mengambil keputusan untuk menikah lagi di atas kertas hanya demi menghindari perjodohan."


Alesha seperti kesulitan bernapas dan membuatnya tidak bisa leluasa mengambil oksigen untuk memenuhi paru-parunya. Hingga ia mendengar ponsel di sebelah kanannya berdering.


Kemudian meraih benda pipih di sebelahnya tersebut. Begitu melihat bahwa pria yang baru saja dibicarakan menelpon dan membuatnya mengerutkan kening karena merasa heran saat tiba-tiba Rafael menghubungi.


"Kenapa ia menelponku? Tidak biasanya ia menelponku. Apa yang ingin ia bicarakan denganku? Aku sedang kesal padanya, mana mungkin akan mengangkat telpon darinya."


Alesha yang sama sekali tidak berniat untuk berbicara dengan Rafael karena saat ini merasa sangat marah sekaligus patah hati, membiarkan suara dari ponsel miliknya berdering hingga mati.


Kemudian ia memilih untuk mengaktifkan mode getar agar tidak mendengar jika pria yang membuatnya sakit hati tersebut kembali menelpon.


"Bukankah ia tidak pernah peduli padaku karena hanya merasa senang ketika bersama dengan mantan istrinya? Jangan harap aku akan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa setelah mengetahui bahwa kamu selama ini mengurus mantan istri dengan baik."


Saat mengingat perkataan dari Rafael tadi yang mengatakan Jika setiap pulang kerja selalu mengunjungi mantan istri dengan alasan lembur dan sampai di rumah malam hari.


"Berengsek! Aku benar-benar sangat kesal saat mengingat itu. Namun, aku tidak bisa melampiaskan kekesalanku pada seberengsek itu karena hanya akan membuatku sangat lemah di hadapannya."

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak ingin diinjak-injak oleh Rafael jika ia mengetahui bahwa aku mencintainya semenjak saat itu. Aku hanya mempunyai harga diri di depan Rafael dan hanya itu yang bisa kubanggakan."


Alesha saat ini memilih untuk memejamkan mata karena merasa kepalanya sangat pusing. "Lebih baik aku tidur saja seharian."


Kemudian ia memeluk guling dan fokus untuk beristirahat karena hari ini ingin bermalas-malasan di dalam kamar.


Jika biasanya ia akan mengobrol dengan sang ibu mertua atau menemani menonton TV, tapi kali ini ingin memanjakan tubuhnya serta menenangkan pikiran.


Hingga setengah jam kemudian, suara napas teratur terdengar menghiasi ruangan kamar dengan warna maskulin seorang pria.


***


Selama dalam perjalanan menuju ke rumah, Rafael mengingat perkataan dari mantan istrinya yang selalu saja mendorongnya agar mempertahankan rumah tangga dengan Alesha.


"Sampai kapan kamu menolakku dan menyuruhku untuk bahagia bersama wanita lain? Padahal jelas-jelas kamu tahu bahwa aku masih berharap bisa rujuk denganmu setelah bercerai dengan Arsenio."


Rafael terdiam sejenak begitu mengatakan kalimat terakhir karena di saat bersamaan mengingat sosok wanita yang tak lain adalah Alesha.


"Alesha ... wanita itu ...." Rafael tidak melanjutkan perkataannya karena jujur saja ia sendiri merasa bingung Apa yang dirasakan saat mengingat wanita itu.


Ia bahkan selalu mengingat ciuman penuh gairah dan liar yang dilakukannya pada Alesha. Bahkan masih mengingat jika Alesha pun membalasnya, seolah sangat menikmati ciumannya.


Rafael beberapa kali menggelengkan kepala dan menekuk jidat untuk menyadarkan diri agar tidak kebablasan berpikir mengenai wanita yang membuatnya merasakan sesuatu hal yang aneh.


Rafael bahkan sampai saat ini belum menemukan jawaban atas perbuatannya pada Alesha, sedangkan ia tidak bisa melakukan hal itu pada Aealeasha dulu.


Kadang ia berpikir apakah terlalu jahat pada Alesha? Namun, terkadang juga berpikir jika Alesha pantas mendapatkan itu karena membuatnya marah.


Karena tidak ingin pusing memikirkan perbedaan saat ia memperlakukan dua wanita yang mempunyai dua nama hampir sama tersebut, Rafael memilih fokus untuk mengemudikan kendaraan menuju ke rumah.


Beberapa saat kemudian, Rafael tiba di rumah tepat pukul lima sore. Ia melihat sang ibu saat ini sedang berada di halaman karena menyirami tanaman.


Tentu saja seperti biasa, ia selalu disambut oleh senyuman hangat wanita yang sangat disayanginya tersebut begitu turun dari mobil dan menghampiri sang ibu untuk mencium tangan.


"Tumben jam segini sudah pulang. Biasanya selalu saja pulang malam karena lembur." Tiana saat ini sengaja menyindir putranya yang dianggapnya gila kerja.


Meskipun ia merasa sangat senang ketika putranya hari ini pulang lebih awal.


Rafael yang baru saja membungkuk untuk mencium tangan sang ibu, kini menegakkan tubuh dan menatap wanita yang telah melahirkannya tersebut sambil geleng-geleng kepala.


"Mama ... Mama, seharusnya mengatakan senang melihatku pulang lebih awal dan tidak lembur. Bukan malah mengatakan tumben seolah mengejek."

__ADS_1


Kini, Tiana hanya terkekeh mendengar nada protes dari putranya dan juga mengarahkan pukulan ringan pada bagian lengan.


"Karena Mama sangat geram padamu yang sibuk kerja dan selalu pulang larut malam. Kasihan istrimu karena kurang perhatianmu. Oh iya, tadi Mama mengajak Alesha untuk pergi shopping ke Mall, tapi ia menolak dengan alasan tidak enak badan."


"Cepat cek istrimu karena tadi Mama belum bertemu Alesha yang berada di dalam kamar. Mama khawatir jika istrimu sedang tidur dan mengganggu kenyamanannya. Tadi ia mengatakan tidak enak badan, tapi saat Mama mengatakan untuk memanggil dokter, istrimu tidak mau."


Tiana berharap menantunya akan patuh pada sang suami jika dipanggilkan dokter untuk memeriksa keadaannya. Sementara ia tidak bisa memaksa jika menantunya tersebut menolaknya.


Rafael yang tadinya ingin meluapkan amarah pada Alesha atas kejadian di restoran serta teleponnya yang tidak diangkat, kini seolah mengerti alasannya dan ingin memastikannya sendiri.


"Baiklah, aku akan ke kamar untuk memeriksa keadaan istriku dulu, Ma." Rafael kini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu utama begitu melihat sang ibu mengangguk tanda setuju.


Selama menaiki anak tangga, pikirannya dipenuhi oleh beragam pertanyaan sekaligus sesuatu hal yang ingin diungkapkan dengan penuh kekesalan pada Alesha.


Begitu tiba di depan pintu ruangan pribadinya, Rafael segera membuka kenop pintu dan berjalan masuk. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sosok wanita yang tengah meringkuk memunggunginya dengan memeluk guling.


'Jam segini tidur? Apa ia benar-benar tidak enak badan seperti yang mama katakan?' gumam Rafael yang saat ini memilih untuk berjalan mendekat untuk memeriksa dahi Alesha.


Ia perlahan mengarahkan telapak tangan pada wanita yang masih memejamkan mata tersebut. Hingga ia seketika menarik tangannya begitu merasakan panas tinggi pada telapak tangannya.


"Ternyata benar, ia demam tinggi sekarang." Saat Rafael baru saja menutup mulut, melihat pergerakan wanita yang kini berbalik menghadapnya dan membuka mata.


"Kamu sudah pulang? Sepertinya aku tidur sangat lama, hingga tidak menyadari bahwa waktu sudah malam," seru Alesha dengan suara serak khas bangun tidur."


Alesha yang baru saja membuka, masih mencoba untuk menormalkan cahaya yang masuk ke dalam retina saat menatap pria yang berdiri menjulang di hadapannya.


Tanpa berkomentar apapun karena mengetahui bahwa saat ini Alesha benar-benar sedang sakit karena tidak menyadari bahwa hari ini ia pulang lebih awal.


Rafael segera menghubungi dokter pribadi keluarga untuk datang memeriksa wanita yang mencoba untuk bangkit duduk di tepi ranjang.


Alesha yang saat ini sudah duduk, memijat pelipis karena merasa sangat pusing. Saat ia Rafael menyuruh dokter datang, bisa menebak bahwa itu untuk memeriksanya.


"Aku tidak apa-apa. Kenapa memanggil dokter?" Begitu menutup mulut, Alesha seketika kedinginan dan langsung meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Apa AC-nya nyala? Perasaan tadi aku tidak menyalakannya. Kenapa ruangan ini berubah seperti berada di dalam kulkas saja."


Rafael yang baru saja menghubungi dokter, bisa melihat bahwa Alesha benar-benar sakit. 'Ternyata waktunya sangat pas sekali karena saat aku ingin marah padamu, malah kamu sakit seperti ini."


Alesha kembali meringkuk ke atas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Namun, ia merasa sangat terkejut begitu tiba-tiba merasakan tangan dengan buku-buku kuat melingkar di tubuhnya.


"Selimut itu tidak akan bisa menghangatkan tubuhmu. Cara ini jauh lebih ampuh." Rafael segera naik ke atas ranjang dan seketika memeluk tubuh wanita yang bersembunyi di bawah selimut tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2