I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Ia adalah istriku


__ADS_3

Selama berada di dalam mobil yang membelah kemacetan ibu kota, Alesha masih diam dan menunggu hingga pria di balik kemudi tersebut membuka pembicaraan karena ia tidak ingin kembali salah berbicara.


Namun, selama setengah jam perjalanan, tetap saja hanya keheningan yang terjadi di antara pasangan suami istri tersebut. Alesha saat ini berpikir bahwa Rafael tengah marah padanya.


'Apa ia benar-benar marah padaku? Aku yang salah karena membuatnya merasa tidak dihargai saat berusaha untuk membuatku menjadi seorang wanita yang dicintai,' gumam Alesha ketika memikirkan sesuatu untuk membuat Rafael tidak lagi marah padanya.


Ia berpikir apa yang bisa membuat Rafael kembali bersikap manis padanya seperti di rumah sakit tadi saat selalu menggodanya karena itu jauh lebih baik daripada melihat wajah masam dengan bibir terkunci rapat seperti yang saat ini terjadi.


Namun, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, sehingga akhirnya memilih pasrah dan membiarkan Rafael bersikap sesuka hati.


'Mungkin aku akan diam saja jika nanti Rafael meluapkan kekesalannya padaku.' Alesha saat ini berpikir tidak akan mengungkapkan nada protes seperti tadi dan menunggu hingga amarah dari pria itu reda.


Hingga beberapa saat kemudian, mobil mewah berwarna hitam yang dikemudikan oleh Rafael sudah berbelok ke arah gang yang menjadi rumah Alesha.


Rafael langsung parkir di depan rumah dan keluar dari mobil tanpa menoleh ke arah Alesha saat melepaskan sabuk pengaman.


Sementara itu, Alesha menelan ludah dengan kasar saat melepaskan seat belt karena melihat sikap cuek dari Rafael. Namun, ia tersenyum simpul begitu melihat pria itu berjalan memutar mobil dan membuka pintu untuknya tanpa bersuara.


Bahkan masih menunggu di dekat mobil sampai ia keluar. Ia akhirnya beranjak keluar dari mobil dengan berjalan masuk ke dalam rumah. Padahal ia tadinya berpikir bahwa sang suami akan kembali menggendongnya seperti yang dilakukan di rumah sakit.


Hingga ia menyadari bahwa wajah Rafael masih masam dan membuatnya tidak lagi mengukir harapan tinggi. Tadi ia mendapatkan pesan dari sang ibu bahwa tadi menyuruh tetangga untuk mengunci pintu karena langsung pergi saat gugup dan mengkhawatirkan keadaannya ketika dikabari oleh sopir taksi.


Jadi, sang ibu meminta tetangga sebelah mengunci pintu dan menaruh di bawah alas kaki. Kini, ia mengambil kunci dan langsung membuka pintu. Niatnya adalah menoleh ke belakang dan menyuruh Rafael untuk masuk, tapi yang terjadi malah pria itu sudah melangkahkan kaki ke dalam.


'Issh ... menyebalkan sekali!' umpat Alesha di di dalam hati sambil mengikuti pergerakan dari pria yang terlihat melepaskan jas di tubuhnya dan bertanya padanya.


"Di mana kamarmu?" Rafael sengaja tidak memanggil dengan panggilan sayang karena ingin memberikan pelajaran pada wanita yang terlihat merasa bersalah dan itu membuatnya merasa senang.


Karena berpikir bahwa Alesha menyadari kesalahan, sehingga tidak mengumpat ataupun marah-marah lagi padanya seperti biasanya.


'Kalau diam seperti ini malah terlihat sangat manis karena ia pasti merasa bersalah padaku,' gumam Rafael yang kini melihat Alesha menunjuk ke arah kamar nomor dua di sudut sebelah kiri.


Kemudian ia langsung membuka pintu dan mengedarkan pandangan ke dalam ruangan kamar yang belum pernah dimasuki karena selama ini tidak pernah tidur di tempat mertua.


Biasanya ia hanya mengantarkan Alesha jika ingin pergi ke tempat ibunya dan menjemput saat pulang kerja. Jadi, ini adalah pertama kalinya ia masuk ke dalam ruangan kamar seorang wanita yang tak lain adalah istri sendiri.


Ruangan kamar berukuran sedang dengan nuansa warna putih mendominasi di antara beberapa lemari dan rak buku serta laci di sudut sebelah kanan terlihat sangat rapi dan tidak ada yang berantakan sama sekali.


Menandakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang sangat rajin bersih-bersih, sehingga apapun yang dilihat wanita itu selalu dirapikan. Bahkan ketika tinggal di rumahnya, tidak menyerahkan semua pekerjaan pada pelayan.

__ADS_1


Karena selalu membereskan sendiri ruangan kamar. Kini, ia menatap ke arah ranjang berukuran sedang dan mungkin akan terasa sangat sempit jika untuk ditempati dua orang.


Bahkan saat ini otaknya sudah dipenuhi oleh berbagai macam pikiran yang berhubungan dengan hal-hal intim dan mengingat jika ia bercinta dengan Alesha pada malam pertama dalam keadaan mabuk dan tidak bisa mengingatnya.


'Sialan! Seharusnya aku melakukannya untuk pertama kali dalam posisi sadar. Bahkan aku tidak mengingat apapun karena efek mabuk. Pasti saat itu istriku terlihat sangat cantik tanpa menggunakan satu helai benang pun di tubuhnya.'


Saat Rafael menaruh jas miliknya di atas ranjang, kini menoleh ke belakang dan tidak kunjung melihat sang istri. "Ke mana istriku? Kenapa tidak masuk juga?"


Berpikir sang istri mungkin bisa pingsan lagi jika tidak segera beristirahat, kini Rafael kembali berjalan keluar untuk memeriksa di mana Alesha berada. Ia mengerutkan kening karena pintu terbuka lebar.


"Astaga! Kenapa tidak ditutup? Bagaimana jika ada orang jahat yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah?" Sambil mengumpat, Rafael langsung menutup pintu dan menguncinya.


Kemudian berbalik badan dan mencari keberadaan sang istri ke bagian belakang rumah.


"Sayang!"


Alesha yang saat ini menyeduh kopi karena tidak tahu harus berbuat apa ketika ada Rafael di rumahnya. Merasa bahwa apa yang dialami sangat aneh karena berada di dalam rumah yang sepi hanya berdua.


Meskipun ia sudah sah menjadi istri dari Rafael, tetap saja gugup jika memikirkan saat ini rumah tengah sepi, sedangkan hubungan di antara mereka lebih baik karena sama-sama mengerti perasaan cinta yang dimiliki.


Saat dipanggil Sayang oleh Rafael, kini terukir senyuman di bibir Alesha saat mengaduk gula yang bercampur dengan kopi.


Hingga ia berjenggit kaget ketika mendapatkan sentuhan pada perutnya karena Rafael tiba-tiba memeluknya dari belakang.


Ia yang merasa sangat aneh dan ingin menghindar atas perbuatan intim pria yang mengeratkan dekapan, tidak bisa melakukannya karena bulu kuduknya meremang begitu mendengar suara bisikan di telinganya.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Aku dari tadi menunggumu di dalam kamar. Kenapa malah menyibuk di dapur?" ujar Rafael yang berbicara tepat di dekat daun telinga wanita yang tengah mengaduk kopi.


"Kamu harus beristirahat dan tidak boleh melakukan apapun. Bukankah tadi dokter bilang bahwa kandunganmu sangat lemah dan harus banyak beristirahat? Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada anakku."


Rafael kembali mengerutkan kening dan melepaskan kuasanya yang melingkar di perut yang masih datar itu. Kini, ia menatap penuh selidik untuk memarahi sang istri.


"Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk membuat kopi? Ini adalah rumah mertuaku dan sudah kuanggap sebagai rumahku sendiri, jadi aku akan membuat minum sendiri jika nanti membutuhkannya."


Sementara itu, Alesha yang dari tadi menahan diri saat bulu kuduknya meremang atas sentuhan dari Rafael, berkali-kali menelan saliva dengan kasar dan suaranya seolah tercekat di tenggorokan ketika hendak menanggapi.


Bahkan ia merasa detak jantungnya seperti mau meledak saat berada dalam posisi sangat intim dengan pria yang mengarahkan tatapan tajam padanya.


"Aku pikir tadi kamu ingin minum kopi. Bukankah biasanya pulang kerja selalu minum kopi buatanku?" lirih Alesha yang berusaha menyembunyikan kegugupannya agar tidak ketahuan oleh Rafael.

__ADS_1


Rafael saat ini hanya terkekeh geli melihat sikap kikuk dari Alesha padanya. "Bukankah dulu kamu membuatkan kopi untukku agar dianggap sebagai seorang istri yang baik di depan mama?"


Namun, menyadari ada yang salah dengan perkataannya begitu melihat raut wajah memerah dari Alesha, seketika Rafael menepuk jidatnya.


"Aah ... maafkan aku, Sayang karena lupa bahwa kamu sudah mencintaiku dan semua yang kamu lakukan bukanlah sebuah sandiwara dan memang berusaha menjadi istri yang baik pada pria bodoh sepertiku."


Jika awalnya Alesha merasa sangat kesal pada Rafael, seketika mereda dan tersenyum simpul karena sang suami sudah menyadari kesalahan.


Namun, ia tidak suka pada kalimat terakhir yang diungkapkan, meskipun sangat mewakili bahwa memang benar suaminya tersebut adalah pria yang bodoh karena tidak peka.


Kini, ia menatap ke arah sosok pria di hadapannya. "Ternyata kamu sadar juga saat ini. Syukurlah kalau begitu. Kamu memang sangat bodoh!"


Kemudian ia langsung melarikan diri ke kamar karena tidak ingin mendapatkan hukuman saat mengejek pria yang langsung berniat bergerak untuk menggelitiknya.


"Wah ... sepertinya istriku sekarang sangat berani, ya!" teriak Rafael yang seketika mengejar Alesha karena sudah berlari meninggalkannya.


Ia kini bisa melihat jika sosok wanita yang dikejar menyembunyikan diri di bawah selimut begitu naik ke atas ranjang.


"Aku mau beristirahat! Jangan menggelitikku!" Alesha berteriak tanpa membuka selimut yang menutupi wajah dan tubuhnya.


Berharap mendapatkan belas kasihan dari sang suami yang suka menggelitiknya untuk memberikan sebuah hukuman.


Bahkan ia merasakan pergerakan di atas ranjang dan membuatnya semakin khawatir jika pria itu tidak mendengarkan permohonannya barusan.


Hingga ia merasa sangat terkejut saat selimut yang melindungi tubuhnya ditarik oleh pria yang sudah berada di atas ranjang menahan kedua sisi wajahnya agar tidak bisa berkutik.


"Enak saja menyuruhku tidak menghukum seorang istri yang nakal sepertimu. Aku memang mengakui sangat bodoh, tapi tidak berarti kamu sebagai istri boleh mengejek suami."


Rafael saat ini berbicara dengan tatapan penuh seringai seperti harimau hendak menerkam mangsa di hadapannya.


"Sekarang katakan padaku apa hukuman untuk istri yang mengejek suami?" tanya Rafael yang saat ini tengah menahan diri sekuat tenaga agar tidak menghambur untuk membungkam bibir sensual pucat yang kering itu.


'Astaga! Kenapa istriku berubah menjadi sangat cantik saat dilihat dari dekat seperti ini? Rasanya sekarang aku ingin menciumnya,' gumam Rafael yang saat ini melihat bibir Alesha terbuka ketika hendak menanggapi pertanyaannya.


Namun, ia merasa sudah tidak tahan dan akhirnya memilih untuk membungkukkan badan karena mengincar bibir pucat yang sangat kering itu.


'Aah ... persetan! Ini adalah istriku dan aku bebas melakukan apapun padanya,' gumam Rafael yang sudah membungkam bibir sensual wanita di hadapannya tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2