
Pertama kali dihina habis-habisan atas kesalahan yang yang sama sekali tidak dilakukan dan sebenarnya itu adalah sebuah fitnah kejam dialami oleh Alesha dari sosok pria yang sudah berhasil menikmati tubuhnya dan disesali ia pun sempat terbuai hingga mencapai puncak kenikmatan.
Alesha tidak berhenti menganggap jijik pada diri sendiri karena sama sekali tidak bisa menolak ketika pria yang hanya menganggapnya tak lebih dari seonggok sampah ketika merenggut kesuciannya.
'Kenapa kata paling berharga yang selama ini kujaga malah kuserahkan pada seorang pria brengsek seperti ini. Aku bahkan tidak bisa marah ataupun mengelak semua tuduhan palsu darinya,' gumam Alesha yang hanya bisa meremas sebelah kiri sisi pakaian untuk meluapkan emosi.
Mungkin jika tidak berhubungan dengan sang ibu, ia sudah bergerak untuk mendekati pria itu dan mengarahkan kemudi untuk menabrak pembatas jalan dan mati bersama pada pria itu demi memberikan pelajaran.
'Sabar ... sabar, aku tidak boleh menanggapi pria gila ini. Bukankah yang terpenting adalah semua tuduhan yang tidak benar dan aku tidak melakukan hal itu? Menanggapi orang gila adalah dengan menjadi gila. Menanggapi orang bodoh diperlukan juga menjadi bodoh, tapi aku tidak ingin menjadi seperti itu.'
Akhirnya Alesha sebenarnya merasa amarah menguasai diri hingga membuat detak jantung yang seperti mau meledak saat ini, tetapi masih sekuat tenaga berusaha untuk menahan diri agar tidak menanggapi pria yang diketahui tengah sekilas menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Baiklah, anggap saja seperti itu."
Hanya beberapa patah kata yang saat ini diucapkan oleh Alesha untuk menanggapi semua penghinaan dari Rafael. Bahkan ia baru pertama kali ini merasakan sebuah penghinaan luar biasa.
Dengan berpedoman pada pepatah 'Anjing mengongong kafilah berlalu', Alesha tidak ingin beradu kekuatan dengan menunjukkan bahwa ia yang benar. Menganggap jika apapun yang dilakukan akan percuma.
'Meladeni orang yang marah sama saja dengan berdebat dengan orang gila. Jadi, lebih baik aku diam.'
Bahkan embusan napas kasar terdengar sangat jelas mewakili perasaan Alesha saat ini. Namun, lagi-lagi Rafael kembali menguji kesabarannya dengan menertawakan apa yang baru saja diungkapkan.
__ADS_1
Merasa jawaban Alesha tidak membuatnya puas, tentu saja Rafael butuh penjelasan panjang lebar agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi semalam.
"Wah ... sekarang kau dengan percaya diri mengakui bahwa semua yang kutuduhkan benar. Sebelum aku menuruti keinginanmu untuk mengurungkan niat mengatakan pada ibumu mengenai kelakuan putrinya yang sangat memalukan, sebaiknya ceritakan semua yang terjadi semalam."
Rafael ingin mendengar cerita Alesha dengan berkonsentrasi, sehingga saat ini menepikan kendaraan karena tidak ingin pikirannya terpecah antara mengemudi dan juga penjelasan dari wanita yang dianggap sangat licik tersebut.
Awalnya, Alesha berpikir bahwa jawabannya akan membuat Rafael berhenti untuk memberikan penjelasan mengenai kejadian yang dianggap sebuah petaka baginya. Jadi, begitu mendengar pria itu meminta ia bercerita, tentunya merasa bingung karena belum mengarang sebuah kebohongan.
'Aku akan menganggap tidak ada yang terjadi di antara kami. Biarkan hanya aku yang mengetahui hal ini karena tidak sudi melihat pria ini setelah satu bulan bercerai. Bahkan bila perlu, tidak akan melanjutkan kuliah karena ia yang membiayai semuanya.'
Saat masih mencoba untuk mengarang sebuah kebohongan yang akan diceritakan, Alesha berjenggit kaget ketika mendengar suara teriakan Rafael.
"Cepat katakan semuanya padaku! Apa kau berubah menjadi tunarungu?" sarkas Rafael yang saat ini tidak bisa bersabar karena benar-benar merasa sangat penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi di malam ia mabuk dan tidak bisa mengingat apapun.
"Kenapa kau merasa sangat penasaran bagaimana cara aku menghancurkanmu? Apa kau sangat takut jika nama baikmu tercemar dan perusahaanmu hancur? Baiklah, aku akan menceritakannya."
"Semalam setelah aku selesai mandi, duduk di sebelahmu dan berniat untuk bertanya. Kenapa kau kembali cepat sebelum aku tidur. Namun, karena kau mabuk berat, saat menjawab, muntah-muntah di bajuku. Aku benar-benar sangat jijik dan marah karena harus mandi dua kali."
Sebenarnya Alesha tadi belum menemukan sebuah cerita konyol seperti itu, tapi begitu mengingat pertama kali Rafael padanya ketika duduk di sofa, sehingga tercipta hal itu.
Kemudian melanjutkan cerita bohong yang sudah mendapatkan titik akhir. "Setelah kau muntah-muntah, berjalan ke ranjang dan aku sibuk mandi lagi. Namun, saat aku selesai dan keluar kamar, kau sudah telanjang dan aku harus menutupi tubuhmu dengan selimut."
__ADS_1
"Sepertinya minuman keras itu membuatmu gerah dan tidak sadar melepaskan pakaian sendiri." Alesha mengakhiri ceritanya dan berharap Rafael percaya dan tidak membuatnya kembali mengingat semua kejadian yang membuatnya benar-benar merasa tidak berharga.
Bahkan ia sangat menyesal tidak melakukannya dengan Alex saja ketika menginap di apartemen pria itu. 'Jika aku melakukannya dengan Alex, mungkin tidak akan diperlakukan seperti ini ketika pertama kali melepaskan kesucian.'
'Kami saling mencintai dan pasti Alex akan bertanggung jawab padaku dengan menikahiku dan tidak akan ada penghinaan seperti ini,' gumam Alesha yang saat ini menunggu respon dari Rafael karena tidak langsung berbicara untuk menanggapi ceritanya yang penuh dengan kebohongan.
Rafael yang mendengarkan penjelasan Alesha, sambil mengingat kejadian terakhir yang ada di kepalanya. Ingatannya memang berakhir ketika Alesha duduk di sebelahnya dengan memakai kimono.
Kemudian, ia tidak mengingat lagi meskipun sudah berusaha untuk mencoba mengingat-ingat. 'Kenapa aku sama sekali tidak mengingat apapun? Apa benar aku sendiri yang melepaskan semua pakaianku?'
Masih terdiam karena tengah memikirkan sesuatu, Rafael kini menatap ke arah sosok wanita yang dari tadi berbicara sambil menatap ke depan dan enggan untuk melihatnya.
Kemudian ia memilih melepaskan sabuk pengaman dan bergerak mendekati Alesha. Tujuannya adalah ingin memastikan sendiri bahwa tidak ada kebohongan dari wanita yang langsung membuatnya mengangkat tangan dan meraih dagu lancip Alesha.
"Aku tidak yakin kau jujur padaku. Jadi, lihat mataku dan katakan bahwa semua ceritamu benar." Rafael menatap intens sosok wanita yang memiliki jarak sangat dekat dan ia sama sekali tidak mempedulikan hal itu karena satu-satunya yang dibutuhkan adalah ingin mencari kebenaran atas perkataan Alesha.
"Tatap aku dan bilang jika kau jujur dan tidak merekayasa semuanya!"
Tentu saja Alesha merasa sangat terkejut dengan perbuatan tiba-tiba dari Rafael, sehingga saat ini tengah berusaha untuk menormalkan perasaan karena tepat di hadapannya, ada wajah pria yang semalam tidak berhenti membuatnya merintih dengan tubuh menggeliat dan menarik helaian rambut hitam berkilat itu dengan jemarinya.
Alesha benar-benar merasa sangat gugup berada pada posisi sangat penting seperti itu di depan pria yang telah menyatu dengannya semalam.
__ADS_1
'Astaga! Pria ini benar-benar sudah gila! Jantungku, aku bisa gila jika terus-terusan berada pada posisi seperti ini dengan seorang bajingan,' umpat Alesha yang hanya bisa mengumpat di dalam hati ketika saat ini bersuara dengan iris tajam pekat yang berhasil menembus jantungnya.
To be continued...