
"Ma, suamiku sama sekali tidak bersalah karena tadi hanya ...."
Alesha menggaruk tengkuk karena bingung harus menjelaskan bagaimana.
Ia merasa sangat malu untuk menjelaskan apa yang tadi dilakukan oleh pria yang duduk di lantai itu.
"Sayang, lebih baik kamu saja yang menjelaskan pada Mama. Aku bingung."
Alesha seketika menelan saliva dengan kasar ketika melihat sang suami menatapnya tajam, seperti hendak menerkamnya saat ini juga.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Alesha yang memegang kedua telinganya.
Karena ingin menunjukkan bahwa ia merasa bersalah telah membuat hubungan ibu dan anak itu mengalami masalah akibat dirinya yang salah paham dengan pertanyaan mertuanya beberapa saat yang lalu.
Hingga ia bisa melihat jika sang suami sudah sangat malas untuk berbicara karena mengunci rapat bibir dan tidak memperdulikannya lagi, singgah merasa bersalah.
Rafael terlalu pusing untuk menjelaskan tentang hal yang tadi dilakukan di dalam kamar. Apalagi ia sudah terlanjur mendapatkan hukuman dan merasa tidak penting lagi untuk menjelaskan karena dianggap sangat percuma.
'Setelah aku dihukum oleh mama, enak saja ia mau minta maaf dan mengharapkan aku tidak marah. Tentu saja ia harus dihukum nanti. Bahkan ibu mertua saja mengerti, tapi mama dan istriku sendiri malah tidak paham.'
Rafael sebenarnya ingin memeluk mertuanya karena telah membelanya, tapi merasa gengsi. Ia berharap jika tiga wanita itu berpikir ia sangat marah dan kesal.
Namun, ada sesuatu yang saat ini terpikirkan di otaknya begitu mendapatkan sebuah ide dari pencerahan yang dikatakan oleh mertuanya barusan.
'Hukuman untukmu akan segera datang, sayang. Lihat saja nanti di dalam kamar. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Jika tidak boleh melakukannya dengan normal, pakai cara lain saja. Mana mungkin aku mau pulang dengan mama ke rumah yang sama sekali tidak ada istriku.'
Tiana saat ini merasa ada yang tidak beres di antara pasangan suami istri tersebut dan ingin mengetahui seperti apa hal yang sebenarnya tidak diketahui olehnya.
__ADS_1
"Katakan saja pada Mama, Sayang. Mama melakukan semua ini juga demi kebaikanmu dan calon cucu yang ada di sini." Kemudian mengusap lembut perut yang masih datar tersebut dan ada nyawa di dalam sana yang sebentar lagi akan meramaikan rumah setelah dilahirkan.
"Ehm ... itu, Ma ...."
Alesha benar-benar tidak mungkin bisa menjelaskan apa yang dilakukan oleh sang suami tadi di dalam kamar.
Hingga ia yang merasa kebingungan untuk menjelaskan, merasa lega saat sang suami bangkit berdiri dan menjelaskan pada sang ibu.
"Aku tadi hanya memakai cara lain untuk membuatnya senang, Ma. Jadi, tadi aku belum sempat bercinta dengan istri, tapi dia sudah mendapatkan puncaknya hanya dengan sedikit disentuh pakai ini!"
Rafael yang saat ini tidak merasa malu untuk mengatakan hal sebenarnya, kini mengulurkan lidah agar sang ibu mengerti bahwa tadi hanya mengirimkan puncak kenikmatan pada sang istri tanpa mendapatkan balasan yang sama.
Refleks Alesha merasa sangat malu dan wajahnya berubah memerah seperti kepiting rebus. Bahkan ia refleks langsung meninju dengan kekar sang suami.
"Sayang, kenapa dijelaskan detail seperti itu, sih! Ya ampun!"
"Rasanya sudah sampai di ubun-ubun, Ma. Istriku harus bertanggung jawab, bukan? Seperti yang dikatakan oleh ibu tadi bahwa aku bisa melakukan cara lain tanpa membahayakan calon anakku."
Kemudian Rafael langsung membungkuk untuk meraup tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar tanpa menunggu jawaban dari sang ibu karena hanya geleng-geleng kepala begitu mendengar penjelasannya.
Ia bahkan tidak peduli pemikiran dari sang ibu serta mertuanya ketika mengatakan bahwa saat ini sudah tidak tahan lagi.
Sementara itu, Alesha yang merasa sangat terkejut dengan perbuatan sang suami ketika tiba-tiba menggendongnya, ini beralih menatap ke arah wajah memerah itu.
"Astaga, Sayang. Memalukan sekali. Dasar tidak tahu malu! Malu aku dilihatin mama dan ibu!" sarkas Alesha hanya saat ini mencubit lengan kekar sang suami dengan wajah kesalnya.
Namun, ia mengerjapkan mata begitu mendengar bisikan dari pria yang tersenyum menyeringai padanya seperti pemangsa yang mendapatkan santapan.
__ADS_1
"Tidak perlu pikirkan rasa malumu. Lupakan itu karena kamu harus dihukum karena telah berani memfitnahku di depan ibu dan mama," ucap Rafael yang kini sudah membayangkan akan memberikan sebuah hukuman pada sang istri di dalam kamar.
Bahkan bila perlu, ia akan mengajari atau menunjukkan contoh cara lain untuk membuatnya bisa menyalurkan gairah.
Alesha saat ini merasa jantungnya berdetak sangat kencang begitu mengetahui kata hukuman lolos dari bibir sang suami yang tersenyum menyeringai padanya.
Ia bukan seorang wanita bodoh nan polos yang tidak tahu apa-apa atas perkataan dari sang suami dan juga ibunya saat membahas mengenai cara lain untuk berhubungan.
'Aarrgh ... apa yang harus kulakukan saat ini? Rasanya aku ingin kabur dari sini agar terbebas dari hukumannya. Aku benar-benar sangat heran melihat perubahan sikap dari suamiku yang ternyata sangat tidak tahu malu dan mesum!'
Alesha berkali-kali menekan saliva dengan kasar saat tubuhnya diturunkan dengan sangat lembut di atas ranjang miliknya yang selama ini menjadi tempat ternyaman semasa masa lajang.
Namun, hari ini akan mengakhiri kepolosannya di ranjang itu untuk pertama kalinya karena dulu melakukannya saat suami mabuk di malam pertama di hotel.
Hingga ia bisa melihat siluet belakang pria dengan bahu lebar tersebut berjalan menuju ke arah pintu dan langsung menguncinya. Seolah tidak ada siapapun yang mengganggu ritual mereka.
Bahkan ia saat ini ingin sekali memejamkan mata agar tidak melihat kenakalan dari sang suami yang sudah melepaskan satu persatu kancing kemeja seperti yang tadi dilakukan sebelumnya.
Bahkan saat ini ia merasa gerakan dari pria yang merupakan suaminya tersebut sangat seksi dan membuatnya tidak bisa memalingkan wajah untuk memanjakan kedua mata dengan kenakalan sang suami yang sudah tidak sabar untuk menyalurkan gairah.
'Suamiku yang mesum ini benar-benar tidak tahu malu, tapi juga sangat seksi,' gumam Alesha yang saat ini mengerjapkan kedua mata saat pria yang kini sudah tidak memakai selembar benang pun di tubuhnya tersebut berjalan mendekat seperti seorang pemain film porno.
Tubuh sixpack dengan cetakan otot perut yang memanjakan matanya, seolah membuat Alesha merasa bahwa ia satu-satunya wanita yang memiliki suami paling seksi di dunia.
"Nikmati ini, Sayang karena aku benar-benar sudah tidak tahan dan bisa gila jika menahannya," ucap Rafael yang seketika menarik tangan sang istri agar bangkit dari posisinya di atas ranjang dan melakukan hal sama seperti yang dilakukannya tadi.
To be continued...
__ADS_1