
Alex memang masih belum beranjak dari posisinya karena ingin menatap Alesha dari dalam mobil. Hingga suara dering ponsel miliknya berbunyi dan tanpa membuang waktu, langsung menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo, Tuan."
"Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Alex yang saat ini tengah menatap ke arah tiga wanita yang berbicara sambil tertawa.
Entah apa yang dibicarakan mahasiswa itu saat salah satunya adalah Alesha. Ia melihat Alesha seperti sangat bahagia karena tampak senyuman terukir ketika mengungkapkan perasaan.
Saat pandangan fokus pada Alesha, tetapi mulutnya berbicara dengan menanggapi pria di seberang telepon, tak lain adalah salah satu pria yang akan melancarkan rencana besar di pikirannya.
"Sama sekali tidak ada masalah, tapi hanya ingin memberitahu jika nanti rencananya saya akan menyamar sebagai pekerja wedding organizer bersama rekan wanita. Jadi, bisa dengan mudah menculik mempelai pengantin dari hotel."
"Baiklah. Terserah apa dan bagaimana caranya, yang terpenting adalah wanita itu harus dibawa kabur. Aku akan menunggu kalian di sana nanti.
"Baik, Tuan."
Alex kini mematikan sambungan telpon dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Ia kini merasa sangat kesal karena sudah tidak melihat Alesha lagi. Tidak sabar jam mengajar tiba.
Tentu saja agar bisa segera melihat Alesha lagi. Tadi, ia berpesan pada Alesha.
Alex menyuruh Alesha agar duduk di kursi bagian depan sendiri dan tengah. Ia berencana untuk mengajar bantu sambil duduk menatap wajah cantik Alesha. Membayangkan saja, rasanya seperti sangat menarik bagi siapapun yang mendengarnya.
Hingga ia pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke ruangan dengan sesekali mendapatkan sapaan dari dosen lain, serta para mahasiswa-mahasiswinya.
Tak lupa sudut bibirnya melengkung ke atas. Seolah menegaskan bahwa saat ini perasaannya sedang sangat baik.
Hingga ia pun sangat terkejut ketika seorang wanita menariknya ke dalam ruangan. "Astaga, apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
Alex menatap kesal ke arah sosok wanita yang merupakan rekan sesama dosen sekaligus teman baiknya tersebut.
"Alex! Kamu bisa dikeluarkan dari kampus nanti saat ada rektor yang mengetahui kebohonganmu. Bahkan namaku juga akan terseret nanti. Apalagi kamu sedang berhubungan dengan wanita yang merupakan calon istri dari pengusaha sukses di kota ini."
"Tenang saja karena tidak akan terjadi apapun karena semuanya aman terkendali. Aku akan bertanggungjawab jika apa yang kamu katakan itu menimpamu. Keluargaku punya banyak koneksi, jadi tidak sulit untuk mencarikan kampus untukmu jika dipecat dari sini."
Tanpa menunggu jawaban dari wanita dengan setelan hitam tersebut, Alex memilih untuk keluar dari ruangan sahabatnya tersebut karena tidak ingin ada seseorang yang menggosipkannya.
Satu-satunya hal yang dikhawatirkan sebenarnya adalah tidak ingin jika Alesha salah paham padanya. Itu akan membuat wanita itu membencinya.
Tanpa menoleh ke arah belakang, Alex melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri dan sudah waktunya ia mengajar. Nasib baik hari ini jam pertama ia mengajar di kelas Alesha.
Setelah menaruh tas kerja di dalam ruangannya, Alex melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah kelas yang menjadi tempat Alesha berada.
Setelah ia masuk ke dalam dan seperti biasa, mengucapkan salam dan mendapatkan tanggapan dari para mahasiswa. Kemudian melanjutkan untuk mengabsen siapa saja yang ikut dan absen dari kelasnya.
"Hari ini saya akan menjelaskan tentang materi ...."
Belum sempat Alex menyelesaikan perkataannya, suara ketukan pintu berhasil mengalihkan perhatiannya dan membuat ia menoleh.
Awalnya, ia berpikir jika yang mengetuk pintu adalah salah satu muridnya, tetapi ternyata seseorang yang sama sekali tidak diharapkan dan seketika menghancurkan garis senyuman yang dari tadi terpancar di wajah Alex.
'Kenapa dia datang ke kelas ini? Apa ingin menunjukkan pada semua mahasiswa di sini jika ia adalah calon suami Alesha?' gumam Alex yang saat ini tengah merasa jika kebahagiaannya seperti berakhir begitu melihat wajah Rafael.
Ya, orang yang baru saja mengetuk pintu ruang kelas tersebut adalah Rafael. Ia memang langsung menuju ke kampus setelah pulang dari hotel.
Seperti yang dikatakan oleh mertuanya tadi ketika menghubungi, ia ingin memastikan sendiri. Apakah benar jika di kampus sedang mengadakan acara untuk memperingati hari ulang tahun.
__ADS_1
Meskipun sebenarnya ia sudah tahu jika itu hanyalah sebuah kebohongan dan konspirasi dari Alesha dan sang dosen yang saat ini berdiri di dekat meja calon istrinya.
"Maaf, saya harus membawa Alesha Indira karena ada sesuatu hal yang penting. Sekalian ingin menegaskan jika selama seminggu ke depan, tidak bisa masuk kuliah karena disibukkan dengan acara pernikahan."
Alesha yang beberapa kali mengerjapkan mata karena tidak percaya jika Rafael malah secara jelas menjelaskan tentang pernikahan dan pastinya namanya akan menjadi trending topik di grup chat kampus.
'Kenapa Rafael bisa sekonyol ini? Tanpa bersusah payah untuk mengatakan pada para mahasiswa di sini, mereka sudah mengetahui karena ada banyak surat kabar dan media sosial yang memberitakan.'
Hal itulah yang membuatnya merasa sangat malu, tetapi tidak bisa berbuat apapun karena memang pria yang menikahinya bukanlah orang sembarangan.
Lamunan Alesha seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari Rafael ketika memanggilnya.
"Ayo, Sayang. Kamu harus fitting gaun pengantin menjelang hari pernikahan karena pihak butik khawatir ada yang kurang. Apakah kebesaran, kekecilan, ataukah sudah pas."
Setelah hari ini, kamu sudah tidak boleh keluar rumah karena ada hal-hal yang sangat sakral dan harus dihormati, serta dipatuhi." Rafael melambaikan tangan dengan mengarahkan tatapan lembut dan senyuman.
Semua itu terlihat sangat luar biasa menawan dan membuat para wanita di ruangan itu tidak berkedip karena terpesona.
Apalagi saat ini Rafael memakai setelan jas rapi yang membalut tubuh kekarnya.
Berbeda dengan apa yang saat ini dirasakan oleh Alesha karena bisa menebak jika ada sesuatu yang tidak beres dan pastinya ia akan terkena imbasnya.
Dengan sangat terpaksa, Alesha memilih untuk bangkit berdiri dari posisinya dan merapikan buku-buku yang langsung dimasukkan ke dalam tas. Ia pun melirik sekilas pada Alex, seolah ingin memberikan sebuah kode, agar pria itu bersikap seperti biasa dan layaknya seorang dosen.
Bukan pria yang berstatus sebagai kekasih gelap dengan kecemburuan. Ia sama sekali tidak menginginkan hal itu dan berharap hari ini tidak ada perang dunia di dalam kelas antara Alex dan Rafael.
'Jangan sampai ada perkelahian di kelas ini karena jika sampai terjadi, akan menimbulkan masalah besar,' lirih Alesha yang saat ini tengah merapal doa, agar dua pria yang ada di hadapannya tersebut tidak kehilangan kendali diri.
__ADS_1
To be continued...