I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Berhentilah membohongi diri sendiri


__ADS_3

"Sekarang kamu menghubungiku lagi seperti ini. Aku merasa semakin tidak mampu. Padahal aku tidak ingin mendengar suaramu lagi. Aku menjadi takut." Intonasinya semakin turun. Rafael kini mengacak rambutnya sendiri. merasa bodoh sendiri.


"Ya, mungkin aku terlihat bodoh di hadapanmu sekarang, tapi itulah kenyataannya. Aku selalu membutuhkan lebih banyak waktu untuk terbiasa tanpa kehadiranmu. Akan tetapi, semakin lama, aku malah semakin tidak terbiasa." Rafael menghela napasnya perlahan.


Lelaki itu semakin putus asa. Berkali-kali merutuki dirinya sendiri. Ia berkali-kali menahan diri, tetapi ia terus saja mengatakan hal-hal yang pada akhirnya akan ia sesali sendiri.


"Aeleasha ...."


"Brother," Aeleasha memotong ucapan Rafael dan sedetik kemudian ia melanjutkan, "menikahlah."


Lelaki itu mengatupkan rahangnya. Nyaris tak percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu.


Sakit.


Sakit sekali.


Berulang kali Rafael menggelengkan kepalanya tak percaya. Bahkan, wanita yang ia cintai kini menyuruhnya untuk menikah.


Rafael kini tertawa miris. "Bahkan kamu sekarang menyuruhku menikah?"


Suasana semakin di luar kendali. Aeleasha kini mengerjapkan matanya. "Maaf." Hanya itu yang bisa ia ucapkan pada akhirnya.


Aeleasha benar-benar bingung. Apalagi yang harus dilakukannya. Rasanya ia benar-benar sudah menjadi orang jahat sekarang.


Lelaki itu lagi-lagi tertawa putus asa. "Bukan salahmu. Selamanya tidak pernah sekali pun menjadi salahmu."


Rafael akhirnya menghentikan tawanya. "Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, tetapi tidak pernah sempat."


Lelaki itu kini menarik napas, mengatur ritmenya yang berantakan akibat emosinya yang tanpa sadar meningkat.


"Jangan pernah merasa bersalah, Aeleasha. Sedari dulu, yang kuinginkan hanyalah kebahagiaanmu."


Rafael kini menurunkan oktafnya. Memejamkan matanya sesaat, menyesal dengan perkataannya yang lagi-lagi keterlaluan.


"Brother, berhentilah memikirkan kebahagiaan orang lain. Pikirkanlah kebahagiaanmu sendiri kali ini." Aeleasha bersuara dengan oktaf naik satu tingkat lebih tinggi.


Kata-kata itu adalah kata-kata yang selalu ingin diucapkan sejak dulu. Selama wanita itu mengenal Rafael, lelaki itu adalah orang yang selalu saja baik kepadanya dan selalu mengutamakan orang lain melebihi diri sendiri.


Rafael selalu memiliki keinginan alami untuk membantu orang lain. Ia bahkan seringkali mengorbankan miliknya agar bisa membantu.


Tak peduli meski dirinya kesusahan, asal bisa membantu, asal bisa membuat orang lain senang, itu akan membuatnya merasa cukup.

__ADS_1


Rafael itu bagai sosok malaikat dalam wujud manusia.


Akan tetapi, melihat Rafael dalam keadaan sekarang ini, Aeleasha merasa juga memiliki kecemasan yang sama seperti orang-orang lainnya.


Rafael juga merasakan ketidakrelaan. Ia juga merasakan kesulitan.


Rafael hanya tersenyum tipis. "Kamu yang seharusnya berbahagia dengan bebas. Tidak perlu repot-repot memikirkan kebahagiaanku."


"Aku bukan hanya memikirkan tentang kamu saja, tetapi pikiran kekhawatiran mamamu juga."


Aeleasha menegaskan. "Terkadang yang terpenting bagi seseorang bukanlah bagaimana ia meninggalkan atau melupakan masa lalunya, tetapi bagaimana meninggalkan luka dan perih-perih itu di belakang dan mulai kembali berjalan maju dengan langkah yang baru."


Entah keberanian dari mana Aeleasha bisa mengatakan ini.


Rafael hanya terdiam dengan seribu pikiran yang terjebak dalam kepalanya. Entah kalimat seperti apa yang pantas diucapkannya kali ini.


"Aku juga hanya berharap kamu bahagia, Brother." Aeleasha mengembuskan napas, kini menundukkan kepalanya hingga rambutnya menjuntai menutupi wajah.


"Semoga," ucap Rafael kecil.


Tidak ada harapan khusus dalam semoga yang ia ucapkan itu. Rafael tidak pernah berani berharap. Ia tidak tahu apa harapannya.


Jika ia sampai berharap macam-macam, lelaki itu takut akan merusak segala tatanan yang sudah tertata rapi. Ia takut harapannya akan merusak kebahagiaan orang lain.


Wanita itu bersuara dengan intonasi rendah, seperti ******* yang dibacakan narator opera ketika tirai merah perlahan-lahan mulai menutup.


Satu kalimat perpisahan yang sudah Rafael hafal di luar kepala. Di saat seperti ini terdengar lebih menyedihkan dari yang ia kira.


"Kamu juga." Selanjutnya akan dibalas seperti ini.


Semuanya sudah bisa ditebak.


Rafael menghela napasnya, kemudian menurunkan ponselnya dari telinganya. Lantas panggilan ditutup.


Lelaki itu mengendurkan dasi yang mencekik lehernya, lantas menetralkan ritme napasnya yang kian kacau. Sungguh, ia benar-benar muak.


Sudah cukup semua orang di sekitarnya menyuruhnya mengurusi pernikahan dan ***** bengeknya dan sekarang, mantan istrinya, wanita yang namanya masih menduduki singgasana di hatinya itu kini menyuruhnya menikah juga.


Seperti mimpi buruk yang menjegalnya untuk bangun.


Rafael memejamkan matanya sesaat. Tangannya bergerak mematikan lampu di ruang kerjanya. Ia membiarkan ruangan itu diselimuti gelap dan dirinya tenggelam di dalamnya, agar tak hanya hatinya sendiri yang gulita.

__ADS_1


Ia kemudian berdiri, melangkah dengan tegas seolah percaya diri. Seisi kantor sudah sama gelapnya, tetapi Rafael melangkah dengan langkah rapi seolah tak ada yang terjadi.


Sampai kemudian ia keluar dari kantor itu menuju parkiran yang disinari pencahayaan yang remang-remang.


Lelaki itu menyalakan mesin mobilnya. Kemudian memutuskan untuk mengarahkan mobilnya dengan pasti, menuju satu tujuan. Jalanan yang ramai itu seperti biasa ia lalui dengan teliti.


Hingga akhirnya Rafael sampai.


Bangunan bernuansa putih bersih itu menyambutnya. Rafael melangkahkan tungkainya, menyusuri lorong demi lorong yang terlihat bagaikan labirin dalam isi kepalanya yang buntu. Sampai kemudian, ia menemukan wanita itu.


Wanita yang sedang menduduki kursi tunggu di luar ruang rawat inap. Surai legamnya menutupi sebagian wajahnya, menutupi kesedihan di sorot matanya, seolah ia sedang berusaha bersembunyi dari dunia. Rafael mengenalnya sebagai seseorang yang seperti itu.


Lelaki itu kemudian memberanikan langkahnya untuk mendekat.


Wanita itu masih menunduk. Perlahan ia melihat sepasang sepatu pantofel yang melangkah semakin dekat dengan teritorialnya. Ia kemudian mendongak. Mendapati wajah seorang lelaki yang sudah tak begitu asing di matanya.


"Jangan bersembunyi lagi." Lelaki itu berucap.


Wanita itu mengatupkan rahangnya. Matanya menatap dengan seksama. Hingga tatapan mereka bersitemu dalam satu garis lurus. Sampai kemudian rahangnya mengeras. Wanita itu semakin mendongakkan wajahnya.


"Bagaimana kamu bisa menemukanku di sini?"


Rafael menundukkan pandangannya hingga menatap sepatu yang memijaki lantai dingin itu. Ia kemudian tersenyum tipis. Putus asa dan miris.


Tatapan matanya kemudian kembali beralih pada kedua obsidian wanita itu yang seakan sedang mengobarkan api yang membara. Bukan api yang panas sampai bisa membuatnya menjadi abu, tetapi api yang begitu dingin, yang bisa membekukan alir nadinya hingga akhirnya pecah berkeping-keping.


Api dalam matanya, adalah api yang berbeda. Awalnya, Rafael akan mengira kalau itu adalah sebuah kemarahan, tetapi pada akhirnya ia merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekedar amarah. Sesuatu yang lebih menakutkan dari kemarahan.


"Jangan berbohong lagi."


Pada akhirnya, kalimat itu meluncur begitu saja. Membuat si puan kini memutus pandangannya. Berdecih sinis. Penuh kemuakan, penuh keangkuhan.


"Kamu sudah tahu dan melihat sendiri dari awal. Aku memang selalu berbohong. Bahkan dari detik pertama. Kamu tidak perlu repot-repot melakukan ini."


Wanita itu kini menegakkan tubuhnya, menyilangkan kedua tangannya dan menyenderkan tubuhnya ke belakang.


Rafael hanya tersenyum kecil sambil menarik napas dalam pelan-pelan. "Bukan itu maksudku."


Sementara wanita itu kini masih menatapnya lurus.


"Berhentilah membohongi dirimu sendiri, Alesha."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2