
Alesha kini memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dengan cara yang sama seperti saat ia memutuskan untuk datang ke kantor ini.
Menaiki bus mini, Alesha merasa ia benar-benar bisa menikmati perjalanannya kali ini. Arus lalu lintas sekarang cukup Alesha berhasil kembali ke rumah sakit dengan perjalanan lancar.
Wanita itu kemudian bergegas menemui dokter yang memeriksa, ibunya siang ini untuk menanyakan tentang operasi ibunya. Dokter itu pada akhirnya mengajak Alesha memasuki ruangannya.
"Dokter, kira-kira kapan ibu saya bisa dioperasi? Saya sudah memiliki uang untuk membayar biasa operasi itu. Kalau perlu, dilakukan secepatnya. Tolong lakukanlah." Alesha bertanya dengan khawatir.
"Nona, saya harap Anda bisa bersabar sedikit untuk saat ini. Operasi jantung ini harus dilakukan dengan persiapan matang dan beberapa banyak hal agar tidak membahayakan keselamatan pasien. Karena itu, sebelum operasi, juga perlu dilakukan berbagai pemeriksaan kesehatan."
Alesha mengangguk pelan, tanda mengerti karena memahami bahwa jantung adalah pusat kehidupan sang ibu.
"Jadi, kami akan mempersiapkan operasi ibu Anda. Namun, untuk pelaksanaannya, saat ini kondisi ibu Anda masih belum stabil." Dokter itu menambahkan.
"Baiklah. Tolong lakukan yang terbaik untuk ibu saya, dokter." Alesha menatap dokter itu dengan penuh harap.
Alesha harap semuanya akan berakhir baik-baik saja. Hatinya gelisah. Ia harap semuanya akan cepat berlalu secepat ia mengedipkan matanya.
Ia benar-benar sangat takut jika sang ibu tidak tertolong dan akan hidup di dunia ini sendiri.
'Aku sudah membawa uangnya, Bu. Ibu harus kuat dan terus berjuang. Demi aku, Bu. Aku tidak tahu harus berbuat apa tanpa ibu,' lirih Alesha di dalam hati dan tubuhnya hari ini terasa sangat lelah.
"Kenapa aku seperti baru saja berlari? Rasanya sangat lelah," ujar Alesha yang kini memilih untuk masuk ke dalam ruangan kamar perawatan sang ibu untuk sekedar duduk di kursi.
Berharap dengan begitu, mengurangi rasa lelah yang dirasakan. Bahkan ia telah membuka sepatu berhak tinggi yang tadi dikenakannya dan meninggalkan lecet di sana.
"Gara-gara harus terlihat elegan, aku memakai sepatu berhak tinggi seperti ini yang tidak pernah kusukai."
"Nasib baik, sepatu ini aku simpan dari dulu karena ini harganya sangat mahal dan merupakan pemberian dari salah satu sugar daddy-ku," ucap Alesha yang saat ini tengah menatap wajah pucat sosok wanita yang terbaring lemah tak berdaya dengan banyaknya peralatan medis yang menopang kehidupannya.
***
Pukul tiga sore, Rafael sudah datang ke Mall dan langsung mengajak Alesha pergi ke salon untuk merubah penampilan. Tadi ia sudah menelpon pihak salon agar merubah penampilan Alesha sesuai dengan yang diinginkan.
Beberapa jam kemudian, urusan rambut, kuku, dan riasan sudah selesai. Melihat hasilnya, Alesha menunjukkan raut tidak menyenangkan.
__ADS_1
Apalagi yang Alesha tahu, orang-orang biasanya ke salon untuk mempercantik penampilan mereka, tetapi pria itu malah membawanya ke salon untuk menjadikan sebaliknya.
Alesha sangat frustasi sampai tidak bisa menjelaskan seberapa patah hatinya ia kehilangan rambut lurusnya, serta kuku-kuku manis yang telah dirawat demi penampilan kampungan seperti ini.
"Tuan Rafael Zafran! Apa yang telah Anda lakukan?"
Wanita itu mengeluh, tetapi penuh dengan penekanan.
Alesha masih memandangi pantulan dirinya sendiri di cermin dengan pandangan kosong. Wanita itu benar-benar tidak suka dengan hasilnya. Di matanya saat ini, ia terlihat seperti orang yang sangat lemah dan lemas tidak bertenaga.
Rafael kemudian menilik penampilan wanita itu dari atas sampai ke bawah. "Ini bagus. Penampilan ini membuatmu terlihat polos."
Ini memang yang Rafael rencanakan. Ia berencana membawa Alesha menemui ibunya sesuai dengan tenggat ancaman yang wanita itu berikan. Namun, Rafael mana mungkin membawa Alesha dengan penampilan aslinya.
Alesha melirik Rafael dengan tatapan tidak percaya. Apakah pria itu sedang berada di zaman kuno? Zaman macam apa yang menginginkan pasangannya terlihat polos seperti anak sekolah.
Alesha benar-benar tidak habis pikir. "Astaga, polos apanya. Aku jadi terlihat seperti orang penyakitan seperti ini. Jelek sekali. Sama sekali bukan gayaku."
"Mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri menjadikan ini gayamu. Menurutku, cukup sebanding dengan uang yang telah kuberikan." Rafael lagi-lagi mengingatkan Alesha.
Alesha kemudian menatap pakaiannya, membandingkan gaya culun dengan pakaiannya. Sangat tidak cocok dengan celana jeans sepaha dan kemeja tipis surplice tanpa lengan yang saat ini dipakai.
Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya menyaksikan ketimpangan yang berada di tubuhnya sendiri.
Rafael yang menyaksikan Alesha sedang mengamati pakaiannya, kini teringat tempat selanjutnya yang akan mereka tuju.
Tentu saja Rafael harus membenahi satu lagi dari penampilan wanita itu, yaitu pakaiannya.
Kemudian membawa wanita itu turun dan keluar dari salon. Jalan setapak dilalui, melewati area depan yang penuh dengan kendaraan bermotor, mereka berdua memasuki lantai satu.
"Kenapa kita kembali ke sini?" Alesha bertanya bukan karena penasaran, tetapi intonasinya penuh dengan keluhan kali ini.
Rafael tidak langsung menjawab. Ia melangkahkan kaki panjangnya dengan cepat menuju gerai baju. "Jangan terlalu banyak tanya. Waktu kita tidak banyak."
Pria dengan postur tubuh tinggi tegap itu kemudian melangkah ke tempat pakaian wanita. Ia lalu melihat-lihat pakaian-pakaian itu dengan seksama, menilainya satu per satu, kira-kira mana yang cocok dipakai oleh Alesha saat ini.
__ADS_1
Sementara Alesha hanya menunggu sambil menyilangkan tangan di depan dadanya sembari menyender pada pilar.
Setelah beberapa lama, pria itu selesai dengan pilihannya. Ia memberikan blus lengan panjang berwarna putih gading, serta rok tiga per empat berwarna merah muda kepada Alesha.
"Coba ini."
Wanita itu lantas menukikkan alisnya. "Kamu memilih baju selama itu untuk baju kuno ini?"
"Itu akan membuatmu terlihat polos."
Alesha berdecak kesal dengan wajah memerah. "Kamu pikir aku ini manusia atau tembok, sampai harus terlihat polos?" Ia mengomel, tapi masih menyambar pakaian itu dari tangan Rafael dan segera pergi dari hadapan pria yang dianggapnya sangat menyebalkan menuju ruang ganti.
Rafael sama sekali tidak peduli dengan segala keluhan dan celotehan wanita itu. Ia berpikir wajar saja memang jika terus mengeluh karena penampilan sehari-harinya dipaksa dirombak habis-habisan.
Namun, ia rasa penampilannya tidak seburuk itu. Itu hanyalah masalah selera dan perspektif.
Pria itu kemudian kembali memilih beberapa pasang pakaian lagi untuk dicoba Alesha.
Sampai beberapa saat kemudian, Alesha keluar dari ruang gantinya dengan wajah sebal.
Kemudian Rafael hanya menganggukkan kepalanya, lantas memberikan satu pasang pakaian lagi pada Alesha.
"Coba ini juga."
Alesha menghela napasnya pelan, lantas kembali ke ruang ganti membawa pakaian yang dipilihkan.
Beberapa saat kemudian, wanita itu keluar dengan rok bermotif bunga-bunga kering, serta blus polos berwarna lilac yang membalut tubuhnya.
Lagi-lagi, Rafael hanya bereaksi dengan mengangguk dan kembali memberikan pakaian untuk dicoba. Hal itu mereka lakukan berulang-ulang kali, hingga Alesha sudah mencoba sepuluh pasang baju.
Alesha keluar dengan helaan napas kesal kali ini. "Apa kamu ingin membunuhku?" ucapnya kesal.
Rafael hanya terkekeh kecil melihat reaksi hiperbolis wanita dengan wajah memerah itu.
To be continued...
__ADS_1