
Meskipun terkadang ia merasa sangat iri melihat kedekatan dari Arsenio dan kepala pelayan karena hubungannya dengan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut tidak pernah sedekat itu. Hingga mau menceritakan semua hal tentang ayah angkat itu.
Beberapa saat kemudian, Aeleasha sudah berada di depan ruangan kamar dengan pintu berwarna merah tersebut. Sebenarnya ia dulu merasa sangat aneh karena melihat pintu itu sangat berbeda dengan pintu lain.
Jika pintu yang lain di cat coklat tua atau pun hitam, tetapi ruangan di depannya itu pintunya berwarna merah dan sangat mencolok dibandingkan dengan lainnya yang membuatnya merasa sangat penasaran dengan apa saja yang ada di dalam.
Aeleasha kini mengembuskan napas kasar sebelum mengangkat tangan untuk mengetuk pintu di hadapannya. Hingga begitu ia merasa tenang, langsung mengetuk pintu.
"Sayang, apa kamu di dalam?"
"Iya, tunggu sebentar."
Aeleasha yang merasa lega karena benar apa yang dipikirkannya bahwa pria itu sedang berada di dalam kamar itu. Namun, ia yang merasa sangat penasaran dengan apa saja yang ada di dalam sana, membuatnya kembali membuka suara.
"Apa aku boleh masuk? Aku ingin tahu apa yang ada di dalam."
"Tidak boleh!"
Aeleasha yang kini merasa sangat kecewa karena Arkan tidak mengizinkan untuk melihat dan membuatnya memilih menunggu dengan bersandar di dinding.
"Apa yang sebenarnya ada di dalam? Kenapa aku tidak boleh melihat?"
Saat ia terlihat memasang wajah masam penuh kekecewaan, lain halnya dengan sosok pria yang ada di dalam kamar.
Arsenio yang baru saja selesai menyiapkan kejutan untuk Aeleasha, tidak berhenti tersenyum karena berhasil membuat wanitanya merasa sangat penasaran dengan apa yang ada di sana.
__ADS_1
Tentu saja ia sangat hafal bagaimana sang istri yang mempunyai sifat sangat penasaran jika semakin dilarang.
'Sepertinya ia sudah masuk dalam jebakanku hari ini," ucap Arsenio yang saat ini tengah berjalan menuju ke arah lemari dan mengambil sesuatu dari sana, lalu memasukkan ke dalam saku jubah handuknya.
Kemudian berjalan membuka pintu dan langsung keluar. Ia melihat sosok wanita yang bersandar di dinding sambil bersedekap tangan di dada menatapnya dengan tatapan tajam menyelidik.
"Kenapa aku tidak boleh masuk?" tanya Aeleasha yang kini mengungkapkan kekesalannya.
Ia tadi berpikir ingin mengetahui apa yang ada di dalam ruangan tersebut.
Sementara itu, Arsenio yang kini berakting melarang dan terdengar sangat meyakinkan. Padahal ia sebenarnya sangat ingin tertawa terbahak-bahak menanggapi rasa ingin tahu Aeleasha yang menyeretnya masuk dalam jebakan yang telah disiapkannya.
"Tidak ada apapun di dalam. Kamu tidak perlu masuk untuk melihatnya. Ayo, kita turun." Arsenio yang kini berakting sangat meyakinkan, berniat untuk memeluk erat tubuh ramping wanita yang ada di hadapannya tersebut.
'Kelinci kecilku kini sudah masuk ke dalam jebakan,' gumam Arsenio yang kini melihat ekspresi wajah masam ditunjukkan oleh Aeleasha padanya.
"Jika tidak ada apa-apa, kenapa aku tidak boleh masuk? Aku curiga ada hal yang sangat mencurigakan di dalam sana. Aku harus melihatnya sendiri dengan mata kepalaku!"
Ia kini meminta kunci untuk membuka pintu karena tadi ia melihat gerak-gerik Arsenio saat mengunci pintu dan memasukkan ke dalam saku jubah handuk.
"Mana kuncinya? Aku mau masuk!"
Kalimat perintah mengintimidasi itu membuat Arsenio kembali terkekeh geli dan ia hanya menggelengkan kepala.
"Tidak boleh karena aku tidak ingin kamu merasa shock dan menyesal setelah masuk ke dalam ruangan terlarang ini."
__ADS_1
Hingga jawaban Aeleasha membuatnya merasa semakin dekat dengan kemenangan.
"Aku tidak akan pernah menyesal. Kamu tenang saja. Sekarang mana kuncinya!" Aeleasha yang tidak bisa mengendalikan rasa ingin tahu karena ia kali ini berjalan mendekati sosok pria yang seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang besar darinya.
"Kenapa diam saja? Cepat buka!"
"Aku akan membukanya, tapi ada beberapa hal yang harus kamu patuhi sebelum masuk ke dalam!" ucap Arsenio yang kali ini memasang wajah serius dan mengungkapkan ide di kepalanya.
"Aku akan mematuhinya. Kamu tenang saja," sahut Aeleasha dengan sangat enteng dan makin penasaran dengan apa yang ada di dalam sana.
Sementara itu, Arsenio kini langsung meraih penutup mata dari kantong dan menunjukkan pada Aeleasha "Aku tahu kamu akan bersikap seperti ini karena sangat mengenalmu dengan baik."
"Pertama-tama, kamu harus memakai penutup mata ini karena sebelum masuk, ini adalah syarat yang harus kamu patuhi."
Aeleasha yang kini menepuk jidatnya berkali-kali karena merasa bahwa Arsenio sangat konyol. "Jika aku memakai itu, lalu bagaimana aku mengetahui di dalam ada apa? Astaga, kamu sangat konyol!"
"Aku akan membukanya saat tiba waktunya. Bagaimana, apa kamu bersedia menutup mata? Atau tidak perlu melihat apa yang ada di dalam sana dan kita turun saja?" Arsenio sengaja menggantung ucapannya karena ingin semakin memancing rasa ingin tahu dari sang istri.
Hingga jawaban Aeleasha membuatnya merasa sangat puas dan tersenyum menyeringai.
Merasa sudah kepalang basah, Aeleasha tidak ingin mundur dan mulai berjalan mendekati Arsenio
"Aku ingin masuk ke dalam. Mana penutup matanya, aku akan patuh pada perintahmu, Suamiku."
To be continued...
__ADS_1