
Alesha sebenarnya ingin menangis tersedu-sedu saat berada di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan kota Jakarta.
Karena hari ini adalah weekend, sehingga jalanan padat merayap dengan kendaraan roda empat yang memenuhi sepanjang jalan ibu kota.
Alex yang kini tengah mengantarkan Alesha pulang, sesekali melirik pada wanita di sebelahnya. Ia benar-benar sangat iba pada wanita yang sangat dicintai hamil, tapi sudah diceraikan oleh sang suami.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Alesha?" Sebenarnya Alex ingin memanggil seperti biasa.
Panggilan sayang untuk Alesha adalah hal paling membahagiakan untuknya, tapi saat ini tidak bisa melakukannya karena wanita itu menolak dan menyuruhnya untuk melupakannya.
Padahal ia sudah menceritakan bahwa perasaan pada Alesha sama sekali tidak berubah begitu mengetahui bahwa wanita itu hamil.
Namun, niat baiknya ditolak mentah-mentah oleh Alesha dengan alasan tidak pantas untuknya. Alex bahkan berpikir bahwa itu adalah alasan klise yang selalu dipakai oleh para wanita ketika menolak pria adalah seperti itu.
Padahal yang sebenarnya adalah tidak mencintai, sehingga menolak dengan alasan lebih manusiawi. "Kamu sedang hamil, jangan terlalu banyak pikiran. Bukankah tadi dokter sudah mengatakan itu padamu demi kebaikan janin di rahimmu?"
"Alesha, jangan diam saja!" Alex menaikkan nada suaranya karena benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan wanita yang lebih pendiam hari ini.
Meskipun ia sakit hati atas penolakan Alesha, tetap saja tidak tega untuk marah dan bersikap kasar pada wanita yang sangat dicintai. Jadi, berbicara dengan suara keras agar wanita yang dari tadi memalingkan wajah itu segera menoleh padanya.
Hingga ia kembali mendengar suara lirih wanita yang membuatnya merasa sangat tidak tega. Lagipula bukan itu yang diinginkan olehnya.
"Alex, jangan terlalu baik padaku karena aku tidak akan pernah bisa membalasnya. Aku hanyalah seorang wanita bodoh yang mencintai pria yang sama sekali tidak mencintaiku."
Alesha ingin menyadarkan pria di balik kemudi itu agar tidak sampai terluka untuk kesekian kali karena tidak bisa membalas perasaan Alex. Ia sadar jika cintanya sekarang hanya untuk Rafael. Pria yang tidak pernah bisa move on dari sang mantan istri.
"Aku baru sadar bahwa perasaan itu tidak bisa disesuaikan dengan keinginan. Perasaan selalu bersikap sesuka hati dan tidak perduli apakah itu akan membuat bahagia atau tidak. Selalu berbuat sesuka hati tanpa kita bisa mengendalikannya."
Alesha bahkan ingin menertawakan nasib orang-orang yang tersiksa karena cinta yang tidak bisa dimiliki.
Bagaimana Rafael yang dianggapnya dulu adalah pria sangat bodoh karena mencintai mantan istri yang sama sekali tidak mencintainya, tapi sekarang ia pun juga mengalami hal sama dan mengerti bagaimana tersiksanya seorang Rafael.
Sekarang Alex pun juga menunjukkan kebodohan karena masih mencintainya saat ia berkhianat dan telah hamil benih pria lain. Refleks Alesha tertawa miris mengingat semua itu. Ia pun kembali menoleh pada Alex yang memicingkan mata ketika melihatnya.
"Kalau dipikir-pikir, kita bertiga adalah sekumpulan orang bodoh yang bertepuk sebelah tangan. Benar, bukan?"
Tidak ingin sepenuhnya membenarkan perkataan Alesha, kini Alex meraih jemari lentik itu dan menggenggam erat. "Aku pernah merasakan cintamu, Alesha. Jadi, jangan berkata seolah-olah aku selalu bertepuk sebelah tangan."
__ADS_1
"Kamu pernah mencintaiku, kan dulu?" Alex ingin memastikan apakah perasaannya benar dan itu membuatnya ingin mencari tahu jawaban dari wanita yang telah berhasil menjungkirbalikkan hatinya saat ini.
Hingga mobil yang tadinya berjalan merambat karena kemacetan efek weekend, kini sudah keluar dari sana dan ia menginjak pedal gas agar mobil bisa segera tiba di rumah Alesha.
Ia tidak mau jika ibu Alesha nanti akan berpikir macam-macam karena putrinya pulang larut malam. Apalagi ini sudah pukul sebelas malam, pastinya seorang ibu akan bertanya macam-macam karena efek khawatir.
Alesha memang dulu jatuh cinta pada Alex saat masih menjadi sugar baby dan berpikir semakin bertambah ketika pria itu menjadi dosennya. Namun, ia baru sadar bahwa yang dicintai adalah sugar daddy dingin dan datar yang tidak pernah meliriknya.
Ia jatuh cinta pada sikap dingin seorang Alex saat itu, sedangkan setelah pria itu hilang ingatan, sikap berubah menjadi lebih agresif dan memaksanya. Perasaannya berubah semenjak saat itu, tapi kini tidak ingin mengatakan pada Alex.
Mungkin jika pria itu tahu, akan semakin kecewa dan membuatnya merasa bersalah untuk kesekian kali. "Kamu benar. Aku memang pernah mencintaimu, Alex."
Sudut bibir Alex seketika melengkung ke atas ketika mendengar jawaban dari Alesha. Namun, seketika pusat begitu Alesha kembali menghancurkan perasaannya.
"Tapi sekarang aku tidak lagi mencintaimu, Alex. Maafkan aku." Alesha kemudian menunjuk ke arah depan gang yang menuju ke arah rumahnya. "Turunkan aku di sana!"
"Di gang rumahku aman. Jadi, kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak akan membiarkanmu membuntutiku. Para tetangga akan berpikiran buruk dan menjadikanku sebagai bahan ghibah." Alesha kemudian melepaskan seat belt dan mengambil tas jinjing miliknya.
"Jika itu terjadi dan sampai terdengar di telinga ibuku, aku khawatir ia akan memikirkannya dan menjadi sakit." Saat hendak membuka pintu, kini menatap ke arah pria yang sama sekali tidak mau menanggapi penolakannya.
"Selamat ulang tahun, Alex. Maafkan aku karena meninggalkan kenangan buruk di hari paling penting dalam hidupmu. Sampai jumpa." Beranjak keluar dari mobil dan saat hendak berjalan, melihat Alex juga keluar dari mobil.
"Setelah kamu tiba di rumah, kirim pesan padaku agar aku bisa tenang. Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu mengirimkan pesan jika sudah sampai di rumah dengan selamat."
"Baiklah." Alesha kini hendak melangkahkan kaki jenjangnya, tapi kembali menoleh ke belakang.
"Sekalian foto dengan ibumu," teriak Alex yang kini melambaikan tangan pada wanita yang langsung mengangguk tanda setuju.
Alex bahkan tidak mengalihkan pandangan dari siluet wanita yang kini mengenakan gaun berwarna hitam dan ia menyadari sesuatu.
"Jadi, itu alasan kamu memakai gaun hitam untuk menemuiku? Ternyata kamu sudah merencanakan semuanya untuk mengakhiri hubungan kita di hari ulang tahunku."
Alex kini sudah tidak bisa lagi melihat Alesha karena telah menghilang di balik gang dan kini kembali masuk ke dalam mobil untuk melihat hadiah apa yang tadi diberikan oleh Alesha.
Ia kini mulai membuka kotak berukuran sedang dan melihat jam tangan dengan merk seperti namanya. Alex kini tersenyum dan mengambil kartu ucapan kecil di dalam kotak tersebut.
Kemudian Alex membacanya dengan suara lirih dan hati berdenyut.
__ADS_1
Selamat ulang tahun, mantan sugar daddy dan dosenku. Maafkan aku karena menyakiti pria sebaik dirimu. Semoga kelak kamu mendapatkan pendamping hidup yang mencintaimu, meskipun itu bukan aku.
Dari mantan sugar baby dan muridmu yang akan selalu mengagumimu.
Alex sebenarnya ingin meremas kartu ucapan yang berada di tangannya, tapi mengurungkan niat karena tahu bahwa itu adalah kenangan terakhir yang diberikan oleh sosok wanita yang sangat dicintai sampai saat ini.
Akhirnya ia kembali memasukkan kartu ucapan tersebut ke dalam kotak dan ini meraih jam tangan berwarna hitam yang langsung dipakainya setelah melepaskan jam tangan mewah miliknya.
"Aku akan selalu memakai ini, Alesha. Dengan memakai jam tangan pemberianmu ini, akan menganggapnya bahwa kamu selalu berada di sisiku. Aku tidak tahu apakah bisa menuruti permintaanmu untuk melupakan semua kenangan tentang kita."
Alex bahkan saat ini tidak berkedip menatap ke arah jam tangan Alexander Christie yang diketahuinya tidak sebanding dengan harga jam tangan mewah miliknya, tapi baginya itu jauh lebih berharga dari semua hal yang ia miliki.
"Kemewahan yang selama ini dimiliki tidak pernah bisa dibandingkan dengan pemberianmu ini. Aku sangat mencintaimu, Alesha. Aku akan menunggu hingga kamu kembali menerimaku. Sebelum kamu kembali pada Rafael, tetap masih ada kesempatan untukku."
Saat Alex tidak mengalihkan perhatian dari jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, ia mendengar suara notifikasi yang sudah bisa ditebak bahwa itu adalah dari wanita yang tadi diberikan perintah.
"Paling tidak, saat ini kamu masih menuruti perkataanku," ucap Alex yang saat ini tengah membaca pesan dari Alesha.
Aku sudah sampai di rumah dengan selamat dan kukirimkan foto bersama ibuku yang sangat khawatir saat melihatku pulang sendirian tanpa Rafael. Aku akan sangat sibuk menjelaskan pada ibuku, jadi jangan menelpon. Pulanglah dan hati-hatilah di jalan.
Alex tidak langsung menyalakan mesin mobil karena ia masih tidak berkedip menatap ke arah Alesha yang tersenyum di depan kamera saat memeluk sang ibu.
Meskipun posisi ibu wanita itu tengah memunggungi, ia saat ini merasa bahwa hati seorang ibu akan terluka melihat putrinya yang sudah menikah pulang sendirian tanpa suami.
"Kamu dan ibumu pasti akan sibuk menangis dan menghiasi rumah kalian dengan isak air mata. Bahkan hanya dengan membayangkan saja membuatku merasa sesak seperti kesulitan bernapas."
"Lalu, bagaimana dengan perasaanmu yang hancur kalah menceritakan semuanya pada ibumu. Meskipun tidak menceritakan mengenai perihal kehamilanmu, tetap saja akan membuat perasaan bergejolak memenuhi jiwamu."
Alex benar-benar tidak tega saat membayangkan wajah penuh air mata dari Alesha, tapi merasa sangat bodoh karena menjadi orang tidak berguna saat tidak bisa membantu sama sekali dan hanya bisa diam di dalam mobil seperti sekarang.
"Sampai kapan kamu akan memendam semuanya sendiri? Kamu akan hidup menderita jika tidak mengatakan apapun pada Rafael yang merupakan ayah dari janin yang kamu kandung saat ini."
Alex kini menyadarkan kepalanya dan memejamkan mata saat memikirkan wanita yang banyak mengalami masalah dalam hidup.
Bahkan sampai sekarang pun, Alesha tetap tidak mau menceritakan semua mengenai perihal pernikahan dengan Rafael, sehingga membuatnya ingin mencari tahu sendiri.
"Baiklah, jika kamu tidak mau menceritakannya padaku, biar aku yang mencari tahu sendiri."
__ADS_1
Kemudian Alex menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya meninggalkan area tempat tinggal Alesha dengan keyakinan bahwa ada rahasia besar yang tengah disembunyikan oleh wanita yang masih sangat dicintainya.
To be continued...