
Alesha yang sama sekali tidak ada niatan untuk kembali menjadi sugar baby karena berpikir bahwa sang ibu kini sudah sehat dan tidak membutuhkan biaya berobat. Selain alasan itu, ia juga tidak ingin membuat nama baik seorang Rafael Zafran tercemar karena ulahnya.
"Aku tidak boleh melakukan hal yang akan membuat nama baik Rafael buruk karena itu akan berpengaruh pada perusahaannya. Aku memang bukan lagi berstatus sebagai istrinya, tapi tetap harus menjaga nama baik pria yang telah menjadi penyelamat ibuku."
Alesha yang kini kembali menerima ponsel miliknya setelah Aila mengembalikan padanya, kini membuka sesuatu di mesin pencarian. Tentunya kembali ingin menunjukkan pada sahabatnya tersebut.
"Aku ingin jam tangan ini. Nanti belikan aku yang warna hitam. Jam Tangan Alexandre Christie Pria ini sangat cocok di tangan Alex karena sesuai dengan namanya, bukan?"
"Lagipula ini juga tidak terlalu mahal harganya, jadi tidak menguras kantongku." Diandra menunjuk ke arah gambar-gambar jam tangan dan memilih salah satu di antaranya.
Aila kini melihat sekilas pada layar ponsel dan terkekeh geli karena merasa ada perkembangan cukup baik dari sahabatnya.
"Kenapa malah tertawa? Apa jam tangan pilihanku terkesan kekanakan? Hingga kamu sampai tertawa seperti ini?" Alesha mengerutkan keningnya karena merasa aneh kala melihat sahabatnya malah terkekeh dan membuatnya kesal saja.
Aila yang saat ini masih tertawa, kemudian menggelengkan kepala agar tidak membuat sahabatnya kesal dan tersinggung. "Tidak! Bukan itu, tapi aku hanya ingin bilang kalau kamu sekarang susah mulai ada perkembangan setelah menjadi istri seorang CEO."
"Perkembangan?" Alesha masih tidak paham dengan apa maksud dari sahabatnya dan kini langsung mengarahkan pukulan pada lengan Aila agar segera mengobati rasa ingin tahunya.
Tidak tega karena melihat kebodohan Alesha kini membuka suara untuk mengatakan apa yang selama ini diingatnya dari sahabat baiknya itu. "Biasanya kamu selalu bilang apa-apa mahal dan sayang buat beli barang-barang tidak penting menurut versimu."
"Kamu selalu bilang sayang uangnya dan ingin menabung agar bisa menjadi kaya dengan semboyan 'pelit pangkal kaya'." Saat Aila belum selesai berbicara, kini malah ia melihat Alesha tertawa terbahak-bahak di sebelahnya sambil memegangi perut.
Ia sebenarnya merasa bahwa sikap sahabatnya sangat konyol kala menertawakan diri sendiri di masa lalu, tapi ia sangat lega melihat wajah yang biasanya murung itu kini bisa tertawa terbahak-bahak kala mengingat masa lalu.
Alesha tidak bisa menghentikan tawanya kala mengingat kekonyolannya yang dulu sering diumpat oleh sahabatnya karena ia sangat perhitungan dalam masalah uang.
Itu sebenarnya bukan kemauannya, tapi semua itu karena ia setiap saat harus memikirkan mengenai bagaimana caranya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi bisa membiayai pengobatan sang ibu.
Impiannya dulu untuk kuliah sudah dilupakan dan berubah menjadi hanya ingin melihat ibunya sembuh. Meski ia tahu bahwa biaya penyakit jantung tidaklah kecil, tetap berusaha untuk mencarinya.
Hingga dengan mudah ia menyembuhkan sang ibu setelah bertemu dengan Rafael. Semenjak ia merenungi semua itu, tidak lagi membenci Rafael karena memang saat itu melakukan sesuatu saat mabuk.
Ia kini bisa menerima semua kenyataan saat pria yang dicintai sama sekali tidak mencintainya seperti yang dirasakan. Jadi, tujuannya adalah ingin hidup tenang dan membuka lembaran baru setelah menceritakan pada sang ibu.
Besok, ia berencana untuk bertemu sang ibu setelah memutuskan hubungan dengan Alex. Bahwa ia besok malam akan pulang ke rumah dan berharap sang ibu mau memaafkannya dan tidak marah padanya karena telah menipu hati dua wanita baik bak malaikat yang sangat menyayanginya
Kini, Alesha kembali berbicara pada sahabatnya setelah berhasil menormalkan tawanya. "Aku dulu memang sangat pelit, ya? Bukannya mengatakan hemat pangkal kaya, tapi malah menggantinya dengan pelit pangkal kaya."
__ADS_1
"Sekarang aku sadar kalau pelit tidak membuatku kaya, tapi sering bersedekah malah membuat rekeningku makin bertambah. Makanya aku tadi memberimu uang karena berpikir ingin berbagi rezeki agar uangku makin bertambah."
Kini, Aila bertepuk tangan sambil tersenyum sinis karena menganggap sahabatnya seperti pepatah 'ada udang di balik batu'.
"Wah ... sahabatku sekarang sangat bijak sekaligus licik karena berharap akan mendapatkan hasil dari kebaikan. Tapi itu bagus juga untuk wanita pelit sepertimu, sehingga ada banyak orang yang bisa merasakan kebaikan hati seorang Alesha yang pemurah karena sering berbagi."
"Aku tidak keberatan menerima uang lagi darimu dan tidak akan berpura-pura sok jaim karena ingin membiarkanmu mendapatkan banyak pahala dari berbuat kebaikan. Aku akan bersikap sekarang untuk pergi ke Mall karena ada janji dengan seseorang."
Aila bangkit berdiri dan berniat untuk mandi karena tadi hanya cuci muka saat keluar membeli sarapan setelah mengambil uang di ATM dekat jalan raya.
Sementara Alesha sebenarnya ingin bertanya pada sahabatnya ingin bertemu dengan siapa, tapi sudah keburu masuk ke dalam kamar mandi.
'Apa Aila punya gebetan baru? Gadis itu benar-benar playgirl. Suka sekali mempermainkan perasaan pria. Jika kena batunya sepertiku, baru tahu rasa. Aku yang tidak pernah mempermainkan perasaan pria saja malah kena akibatnya, selalu bertepuk sebelah tangan saat cinta mati.'
Alesha saat ini berharap jika suatu saat nanti akan melupakan cintanya untuk Rafael seperti yang dirasakannya pada Alex saat ini.
"Semoga waktu bisa membuatku melupakan pria yang sama sekali tidak bisa move on dari mantan istrinya itu." Embusan napas berat kini beralih menatap ke gambar-gambar jam tangan yang akan ia jadikan hadiah ulang tahun untuk Alex.
Mengingat bahwa tadi sahabatnya menertawakannya saat mengatakan jam seharga tiga juta itu murah. "Sebenarnya ini dianggap murah jika dibandingkan dengan jam tangan mewah Alex yang ratusan juta."
"Sandaran hati yang kuinginkan hanya tersisa dengan bersandar di dinding dengan kesepian seperti saat ini." Alesha yang masih memegang ponsel miliknya, kini ia membuka galeri dan seperti biasa, selalu menatap wajah rupawan pria yang membuatnya jatuh cinta.
Semenjak ia tidak bisa melihat atau pun sudah tidak bisa lagi mendengar Rafael berbicara, hatinya benar-benar terasa hampa.
'Jika aku dulu sangat ingin segera pergi darimu agar tidak melihatmu, tapi sekarang malah ingin bertemu. Aku benar-benar sangat rindu padanya. Sial! Kenapa aku harus bertemu dengan pria yang tidak bisa kumiliki?'
Rafael masih tidak berkedip menatap ke arah layar ponsel miliknya. Semua gambar Rafael ada di sana karena ia mengambil dari pernikahan. Ia sekarang baru menyadari ketampanan pria yang telah berstatus sebagai mantan suami tersebut.
"Ya ampun, ternyata Rafael benar-benar sangat tampan, gagah dan memesona. Aku heran kenapa dulu tidak bisa menyadarinya saat masih tinggal bersama?"
Alesha kini menggulir layar ponsel dan membuatnya bisa melihat pria yang sangat dirindukannya dalam berbagai macam pose.
"Ia malah seperti seorang foto model saja. Tinggi, badan proporsional dan wajah tampan. Aku sangat heran dengan gosipnya dulu saat ia dituduh sebagai seorang pria gay. Konyol sekali."
"Pria setampan ini dituduh gay hanya karena tidak pernah terlihat bersama dengan seorang wanita. Seharusnya mereka tahu bahwa Rafael adalah seorang pria yang limited edition karena sangat mahal."
Tanpa Alesha sadari, Aila kini diam-diam merekam dari sudut belakang karena tadi ia yang keluar dari kamar mandi malah melihat sahabatnya yang berbicara dengan asyik memuji mantan suami sambil fokus menatap layar ponsel.
__ADS_1
Ia yakin jika Alesha tengah menatap foto-foto dari Rafael. 'Ini akan menjadi video kenang-kenangan dari kebucinannya pada mantan suami.'
Nasib baik ia tadi meletakkan ponselnya di dekat meja kecil yang menjadi jalan ke arah belakang. Jadi, ia merasa sangat beruntung karena langsung mengambilnya begitu mendengar suara lirih Alesha yang memuji Rafael.
Bahkan ia tersenyum menyeringai kala memikirkan sebuah ide di kepala. 'Bagaimana jika aku mengirim ini pada Rafael? Kira-kira apa yang akan terjadi?'
Saat Aila menimbang-nimbang keputusannya, tapi ia belum memutuskan karena mempertimbangkan apakah keinginannya nanti akan membuat sahabatnya marah dan kesal padanya.
Setelah dirasa cukup, ia pun menghentikan merekam momen paling sakral kala sahabatnya mengungkapkan perasaannya. Kemudian ia melangkah dengan mengambil pakaian di lemari susun yang ada di sudut sebelah kanan ranjang.
"Selain jam tangan, kamu titip apa lagi? Apa camilan?" Aila berpakaian di depan sahabatnya tanpa merasa malu saat menurunkan handuk sebatas dada yang menjadi satu-satunya pelindung.
Alesha yang mengalihkan perhatian dari layar ponsel pada pergerakan sahabatnya, kini menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Aila ... Aila! Dasar gadis tidak tahu malu. Ada aku, kamu seperti tidak menganggapku sama sekali tanpa merasa malu. Seharusnya memakai pakaian di kamar mandi, bukan pamer di depanku."
Setelah selesai berpakaian, Aila hanya terkekeh tanpa merasa ada yang salah dengannya. "Kita sama-sama wanita, lalu buat apa aku malu padamu?"
"Kamu juga tidak akan memintanya, bukan?" Kemudian berjalan menuju ke arah meja untuk merias wajah setelah duduk di kursi. "Jadi, mau titip nggak?"
Alesha kini menaruh ponsel yang tadi dipegangnya ke atas kasur. Ia tiba-tiba ingin sesuatu yang tiba-tiba terlintas di pikiran.
"Belikan aku hamburger dan Kentucky. Aku ingin makan apapun yang kusukai mulai sekarang dan menghilangkan semboyan pelit pangkal kaya." Kemudian mengambil uang untuk membeli jam tangan serta junk food pesanannya dan memberikan pada Aila.
Aila kini menghitung uangnya dan mengembalikan bagian untuk membeli makanan pesanan sahabatnya. "Tenang saja, nanti aku belikan pakai uang kekasih baruku."
"Sekalian aku ingin mengetesnya. Apakah termasuk pria pelit atau royal padaku. Asal pelit, langsung kutendang dari calon kekasihku karena aku tidak butuh pria yang tidak modal."
Refleks Alesha mengangkat ibu jarinya. Kemudian memperhatikan bagaimana lincahnya tangan sahabatnya saat memakai make up di wajah.
"Baiklah kalau begitu. Terserah kamu saja. Oh ya, nanti sekalian kamu bungkus kadonya agar aku tidak ribet membungkusnya dan besok langsung memberikan pada Alex sebagai salam perpisahan dariku."
"Setelah besok, aku akan membuka lembaran baru dalam hidupku. Aku ingin fokus mengejar impian untuk menjadi seorang penulis terkenal."
"Melahirkan karya-karya yang nantinya bisa dikenal seluruh dunia dengan melanjutkan kuliah, tapi di universitas lain karena tidak ingin Alex yang menjadi dosenku." Alesha kini sudah mengambil keputusan penting dalam hidupnya dan berharap impiannya suatu saat nanti bisa menjadi kenyataan.
To be continued...
__ADS_1