I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Merasa curiga


__ADS_3

"Aku berangkat dulu, ya Sayang," ucap Rafael yang saat ini berada di teras rumah dan berencana untuk pergi menemui Aealeasha di rumah mantan mertuanya.


Alesha kini hanya menganggukkan kepala dan melambaikan tangan saat sang suami berjalan pergi setelah mencium keningnya.


Hingga ia pun kini juga melihat sang ibu tengah berbicara dengan mertuanya saat hendak pulang. Tadi sudah dibahas jika besok, sang ibu akan tinggal bersamanya di tempat sang suami.


Jadi, hari ini memang akan tinggal di sini sambil berkemas dan besok pagi akan pergi bersama sang suami saat sekalian berangkat ke kantor.


"Aku sudah tidak sabar Jeng tinggal bersama kami. Pasti rumah akan semakin ramai hingga kelahiran dari cucu kita akan menambah satu anggota keluarga." Tiana sebenarnya tadi ingin pulang bersama dengan putranya.


Namun, setelah mengetahui rencana putranya untuk menyelesaikan masalah yang dialami oleh Aealeasha dan istri dari putranya, sama sekali tidak keberatan, membuatnya merasa lega dan memilih untuk pulang sendiri dengan supir.


Sementara itu, Lia Nuraini saat ini tersenyum dan mengingat tentang semua barang belanjaan yang tadi dibeli dari Mall. "Terima kasih, Jeng karena sudah menjadi mertua serta besan yang sangat baik."


"Oh ya, besok, semua barang belanjaan hari ini akan dibawa saja daripada hanya diam di kulkas. Hati-hati di jalan, Jeng." Mengusap lembut lengan besannya yang menganggukkan kepala.


"Iya, terserah Jeng saja." Kemudian Tiana melakukan ritual cipika-cipiki pada besan serta menantunya. "Sampai berjumpa lagi besok di rumah, Alesha."


Kemudian ia sudah mengusap perut datar yang ada calon cucunya di sana. "Nenek pergi dulu, cucuku. Besok kita bertemu lagi."


Alesha hanya tertawa melihat tingkah mertuanya yang seperti anak kecil karena selalu saja mengajak bicara janin yang bahkan mungkin masih sebesar biji jagung.


Apalagi perutnya masih datar dan belum terlihat benjolan sama sekali, jadi menganggap sikap mertuanya terlalu semangat begitu mengetahui ia mengandung dan akan memberikan seorang cucu.


"Iya, Ma. Kami bisa saja di sini dan besok kita bisa ketemu lagi di rumah." Alesha berjalan sambil memeluk sang ibu ketika mengantarkan mertuanya masuk ke dalam mobil.


Kemudian mereka melambaikan tangan sebagai salam perpisahan dan beberapa saat kemudian kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang membawa wanita paruh baya tersebut sudah menghilang di balik gelapnya malam.


"Ayo, Ibu, aku akan membantu berkemas." Alesha sangat bahagia karena akhirnya bisa tinggal satu rumah dengan satu tim lagi dan tidak terpisahkan.


Lia Nuraini hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi dari putrinya yang sangat berlebihan. "Ibu hanya membawa beberapa baju saja. Bukan satu koper dan bisa melakukannya sendiri."


Mereka berjalan menuju ke ruangan kamar dan Alesha memilih duduk di atas ranjang sambil melihat sang Ibu berkemas. "Aku benar-benar menjadi ratu semenjak hamil karena kalian sangat perhatian padaku."


"Kalau begini, jadi ingin hamil terus dan punya banyak anak." Alesha sebenarnya hanya bercanda karena ia tahu bagaimana repotnya mengurus anak.


Ia memang belum membicarakan mengenai masalah anak dengan sang suami, tapi mempunyai rencana untuk memiliki dua anak saja dan berharap bisa lahir laki-laki dan perempuan.


Hingga ia pun membulatkan mata begitu mendapatkan sebuah persetujuan dari sang ibu yang terlihat sangat bersemangat sambil memasukkan pakaian ke dalam tas.

__ADS_1


"Iya, lebih baik punya banyak anak daripada hanya satu karena akan kesepian seperti yang dirasakan Ibu setelah kamu menikah."


"Kalau perlu, lima atau enam, itu wajar." Lia Nuraini menoleh ke arah putrinya yang terlihat membulatkan mata dan membuatnya tertawa karena sebenarnya ia hanya bercanda.


Ia tahu bagaimana repotnya saat membesarkan anak seorang diri. Karena sebenarnya ia dulu ditinggalkan oleh sang suami yang berselingkuh saat ia hamil putrinya.


Jadi, memilih untuk bercerai daripada memaafkan perbuatan sang suami yang telah menghianati ikatan suci pernikahan.


Bahkan ia membuang semua foto-foto kenangan bersama suami karena tidak ingin tersakiti ketika mengingatnya. Ia tidak ingin menceritakan tentang perihal suami pada putrinya agar tidak ikut merasakan sakit hati.


Jadi, mengatakan bahwa suaminya telah meninggal. Ia sebenarnya merasa berdosa pada putrinya, tapi berpikir jika itu jauh lebih baik daripada mendengar cerita yang sebenarnya.


Ia lebih baik merasa hancur sendiri daripada juga menghancurkan hati putrinya yang sangat dicintai dan rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.


Apalagi mantan suaminya tersebut tidak pernah sekalipun memberikan nafkah untuk putrinya dan menghilang entah ke mana bersama selingkuhannya. Ia tidak ingin mencari tahu apapun mengenai mantan suami yang dianggap sudah mati di hatinya.


"Aku hanya bercanda, Bu. Ya ampun, mana mungkin aku bisa merawat banyak anak. Membayangkannya saja sudah membuatku merasa pusing karena dulu melihat ada teman yang mengeluh sangat capek mengurus anaknya."


Alesha tahu bahwa perbuatan seorang ibu yang dengan tulus ikhlas merawat anaknya mendapatkan pahala yang luar biasa. Namun, tetap saja ia tidak ingin menyiksa diri dan berharap bisa mengatur kebahagiaan sesuka hati.


Jadi, akan mengatur jarak kelahiran dan tidak ingin seperti nasib temannya yang punya banyak anak karena tidak bisa mengaturnya.


Karena kasih sayang akan banyak terbagi dan masih banyak hal yang perlu dipikirkan. Ia ingin mencurahkan kasih sayang sepenuhnya dengan memiliki satu anak terlebih dahulu dan jika sudah beranjak besar, baru memikirkan untuk menambah momongan.


Meskipun pada dasarnya manusia hanya bisa berencana dan semua ditentukan oleh Tuhan, tetap saja pada kenyataannya tidak boleh menyerah dan berusaha.


Berharap diberikan semua yang terbaik dan selalu berdoa agar mendapatkan semua kemudahan. Alesha kini mengetahui jika sang ibu hanya bercanda begitu melihat wanita yang sangat disayanginya tersebut tertawa.


"Iya, Ibu pun cuma bercanda. Salah sendiri tadi berbicara seperti itu," ucap Lia Nuraini yang saat ini mengingat jika menantunya tengah pergi ke rumah mantan istri.


"Kamu sudah benar-benar percaya pada suamimu karena tidak lagi merasa cemburu saat Rafael pergi mengunjungi mantan istrinya."


Alesha sama sekali tidak ada keraguan ketika melepaskan sang suami yang tadi berpamitan. Jadi, dengan penuh percaya diri mengungkapkan apa yang ada di pikirannya agar sang ibu tidak mengkhawatirkan kehidupan rumah tangganya yang baik-baik saja saat ini.


"Iya, Bu. Aku sangat percaya pada Rafael karena menurutku, hubungan rumah tangga yang baik harus berlandaskan atas dasar kepercayaan dan saling menjaga perasaan pasangan."


Sementara itu, sebagai seorang ibu sekaligus istri yang pernah disakiti saat dikhianati ketika mengandung, tentu saja membuatnya merasa sangat trauma dan khawatir jika putrinya mengalami hal yang sama sepertinya.


Ia pun sudah selesai memasukkan beberapa pakaian yang akan dibawanya ketika tinggal di rumah menantunya. Kemudian berjalan menuju ranjang dan duduk di sebelah putrinya.

__ADS_1


"Percaya boleh, tapi jangan sampai terlalu membebaskan Rafael karena para pria bisa saja tergoda oleh wanita lain kapan saja. Kalau menurut Ibu, kamu tetap harus waspada dan berhati-hati, Alesha."


Saat ini, Alesha merasa bahwa sikap dari sang ibu sangat aneh dan membuatnya merasa curiga karena biasanya wanita yang melahirkannya tersebut selalu memuji Rafael.


Namun, saat ia memilih untuk percaya sepenuhnya ketika suami sudah menunjukkan bukti nyata, malah dibuat ragu oleh sang ibu. "Kenapa aku merasa jika sikap Ibu sangat aneh hari ini?"


"Seperti seorang istri yang mendapatkan pengkhianatan dari suami yang dipercaya. Apa dulu ayah mengkhianati Ibu?" tanya Alesha dengan wajah penuh soal pertanyaan.


Bahkan menatap penuh dengan kecurigaan karena berpikir jika perkataan sang ibu mewakili perasaan. Namun, ia saat ini melihat wanita paruh baya tersebut yang tertawa.


Seolah ingin bersembunyi di balik tawa yang dianggap penuh dengan kepalsuan. Ia bahkan mempunyai feeling jika sang ibu benar-benar dikhianati oleh sang ayah.


Makanya selama ini tidak pernah tahu seperti apa sosok sang ayah dan selalu terbersit tanya di hatinya mengenai seperti apa wajah dari pria yang menghadirkannya di dunia ini.


"Mana mungkin Ibu dikhianati jika ayahmu sangat mencintai Ibu. Ada-ada saja. Ibu hanya mengingatkan karena mengetahui ada banyak pelakor yang berterbangan di luaran sana. Jadi, jangan berpikir jika ayahmu mengkhianati Ibu."


Kemudian Lia Nuraini yang tidak ingin melanjutkan pembicaraan karena khawatir akan ketahuan bahwa ia telah berbohong pada putrinya. "Ibu sangat lelah dan ingin beristirahat. Kamu juga harus banyak istirahat. Sana, kembali ke kamar!"


Alesha sebenarnya sangat enggan untuk beranjak dari ranjang sang ibu karena belum selesai bertanya mengenai hal yang dianggap sangat mencurigakan. Hingga ia pun berpikir bahwa saat ini sang ibu telah menghindar darinya.


Akhirnya ia tidak ingin memaksa sang ibu yang seperti sengaja mengusirnya. Jadi, berniat untuk mengatakan pada sang suami mengenai pembicaraannya dan tidak ingin ada yang ditutupi dari hubungan mereka.


Ia berpikir bahwa kunci dari hubungan rumah tangga yang baik adalah komunikasi dan tidak menyembunyikan apapun.


'Aku akan meminta tolong pada suamiku untuk mencari tahu mengenai ayahku. Apakah ia sudah meninggal seperti yang dikatakan oleh ibu atau seperti feeling yang kurasakan.'


Alesha yang sudah berada di dalam kamar, kini memilih untuk menelpon sang suami. Begitu sambungan telpon tersambung, beberapa saat kemudian mendengar suara bariton dari seberang telpon.


"Halo, Sayang."


"Apa kamu sudah tiba di rumah keluarga Aealeasha, Sayang?" Alesha ingin berbicara dengan mantan istri suaminya agar kekhawatiran dari sang ibu tidak terjadi.


Meskipun ia sangat yakin jika suaminya sangat bisa dipercaya dan juga Aealeasha sangat mencintai Arsenio dan tidak akan pernah melirik Rafael.


"Sudah, Sayang. Kami baru saja tiba. Apa ada yang kamu butuhkan? Atau mengidam ingin sesuatu? Nanti aku akan membelikannya saat pulang," sahut Rafael dari seberang telpon.


Tanpa membuang waktu, kini Alesha mengungkapkan semuanya. "Aku mengidam ingin berbicara pada Aealeasha. Apa ia ada di dekatmu?"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2