
Alesha tidak mengerti ikatan takdir apa yang selalu terjadi di hari ulang tahun ibunya. Baginya, hari ini tentu saja merupakan hari yang sangat spesial.
Bukan hanya karena hari kelahiran ibunya, tetapi hari ini juga merupakan hari yang selalu mengingatkan akan lahirnya mimpi-mimpi yang selama ini dirajut.
Alesha selalu mengingat hari itu, ketika ia masih berusia 6 tahun. Pagi-pagi sekali, sudah melihat bunga lavender yang sudah menghiasi nakas milik sang ibu ketika ia membuka mata.
Namun, bukan aroma bunga itu yang tercium, aroma kue yang dipanggang lebih kuat merasuki indra penciumannya. Seolah memanggilnya, Alesha mengikuti ke mana arah aroma kue itu berada.
Terlihat wajah sumringah ibunya yang menyambutnya sambil mengangkat kue-kue kering dari dalam oven.
"Wah, putri ibu sudah bangun."
Alesha lalu mendekat, menaiki kursi yang tingginya hampir setengah badannya dengan susah payah. Ia lalu menumpu wajahnya di meja sambil memperhatikan gerak-gerik ibunya.
"Ibu sedang membuat apa?" tanya Alesha penasaran.
Wanita itu mengambil piring kecil, kemudian meletakkan satu kue kering berwarna coklat di atasnya. Ia lalu menyodorkan kue tersebut di depan Alesha.
"Kue ulang tahun!" seru ibunya.
"Ulang tahun? Aku kan sudah ulang tahun." Alesha heran.
Namun, tangannya bergerak mengambil kue hangat yang menggiurkan itu. Alesha lalu menggigitnya. Ia lantas membulatkan matanya.
"Wah! Enak!" pekiknya antusias.
Ibu Alesha terkekeh melihat putrinya yang senang.
"Hari ini ulang tahun Ibu," ucap wanita dengan sudut bibir melengkung di sela-sela tawa. "Sungguh enak?" tanyanya kemudian, gemas melihat Alesha kecil yang memakan kue itu dengan lahap.
"Sungguh hari ini ulang tahun Ibu? Selamat ulang tahun, Ibu!" Anak itu kemudian tampak berpikir sejenak. "Sayangnya aku tidak punya hadiah."
"Yah, sayang sekali." Ibu Alesha pura-pura cemberut. "Tapi tidak apa-apa. Saat seseorang ulang tahun, boleh saja kalau hanya dia sendiri yang membagikan kue enak kepada orang lain."
Alesha mendongak. "Boleh begitu?"
"Tentu saja." Ibu Alesha tersenyum riang. Ia kemudian mengambil satu kue lagi dan meletakkannya di atas piring mungil Alesha. "Ini namanya cookies. Dulu ini kue kesukaan ibu. Bagaimana rasanya, kamu suka?"
Alesha langsung mengambil kue itu dan kembali melahapnya sambil mengangguk mantap. Sambil mengunyah, anak itu kemudian bersuara.
__ADS_1
"Ibu, boleh tidak kalau Alesha ulang tahun nanti, mau dibuatkan kue ini juga?"
"Tentu saja boleh, Sayang." Ibu Alesha tersenyum. "Alesha mau tahu tidak? Ada cerita menarik dari cookies ini."
Alesha lalu mendongakkan wajah dan menatap sang ibu. "Apa itu?" tanyanya dengan antusias.
Ibu Alesha lantas duduk menghadap anaknya. "Jadi, suatu hari ada seorang balerina yang bekerja sebagai penjual kue kering. Toko kuenya selalu ramai karena dia selalu membuat kue dengan senang hati."
Alesha menaruh separuh kuenya di piring, mulai penasaran dengan cerita yang dituturkan ibunya.
"Tapi pada suatu hari, ada seorang pengunjung yang bertanya padanya."
"Apa yang dia tanyakan?"
Ibu Alesha kemudian berdehem. "Odette, kau setiap hari menjual berbagai macam jenis kue di sini. Tapi di antara kue-kue itu, apakah ada kue yang kau sukai?" Wanita itu menirukan suara laki-laki.
Ibu Alesha kemudian berdiri, lantas mengambil satu kue yang telah dibuatnya. "Odette lalu menjawab, 'Tentu saja ada, Tuan. Kue ini adalah kue paling istimewa bagiku', jawabnya penuh percaya diri."
Wanita itu lalu kembali duduk. "Namun, sayangnya pelanggan itu kurang puas dengan jawabannya, sehingga ia bertanya lagi. 'Kenapa kue itu menjadi kue paling istimewa bagimu?' tanyanya."
"Lalu apa yang dijawab Odette?"
Ibu Alesha berdiri kembali memperagakan gaya Odette. Ia mengatakan kuenya ke atas.
Alesha kemudian bertepuk tangan. "Ibu, aku ingin membuat kue dan mempunyai toko kue seperti Odette juga!"
Ibunya tersenyum manis. "Sungguh? Wah, kalau begitu, kamu harus membuat toko kue yang lebih besar dari toko milik Odette."
Sejak saat itu, tidak ada yang tahu kalau ucapan kecil yang diucapkan Alesha pada akhirnya semakin bertumbuh besar.
Ibu Alesha selalu membuat kue setiap ulang tahun Alesha tiba dan ia selalu mengamati pembuatan kue itu serta beberapa kali mencoba membantu ibunya.
Sampai pada suatu hari ketika ia SMP, Alesha mencoba membuat kue itu seperti yang diajarkan ibunya. Akan tetapi, kue yang dibuatnya gagal.
Saat itu, ibunya bertanya padanya, "Apa yang terjadi?"
Alesha yang gagal membuat kue itu hanya tertunduk lesu. "Aku sepertinya memanggang kue itu terlalu lama dan apinya terlalu besar. Aku melupakan apinya karena sedang asyik membaca buku."
Alesha bercerita sambil menatap ibunya, kemudian hanya tersenyum.
__ADS_1
"Lain kali, ketika kamu membuat cookies lagi, selain adonan yang perlu diperhatikan api dan waktu yang digunakan untuk memanggang kue itu juga sangat penting. Putri ibu rajin sekali, ya. Sampai melupakan panggangan kue yang sedang dibuat."
Alesha hanya menggaruk tengkuknya kikuk.
"Ngomong-ngomong, putri ibu yang rajin ini kalau sudah besar mau menjadi apa?"
Ibu Alesha mengambil buku tebal yang tergeletak di meja, melihat isinya yang beberapa bagiannya telah dicoret highlighter.
"Apakah kamu ingin menjadi guru atau dosen? Kelihatannya kamu cocok untuk mengajar."
Alesha sesaat menggeleng. "Aku mau membuka bisnis dan membuka toko kue untuk ibu."
"Kenapa?" tanya ibunya penasaran sambil mengamati coretan pada buku di tangannya.
"Ibu, aku ingin semua orang tahu kalau kue buatan ibu itu sangat enak. Kalau aku sudah besar nanti, akan mencari banyak uang untuk membeli toko kue."
Ibu Alesha tersenyum manis. Senang melihat putrinya yang begitu optimis. "Kamu pasti bisa. Karena itu kamu harus belajar lebih giat lagi."
Alesha mengangguk mantap. "Aku suka belajar. Sebentar lagi, aku akan masuk SMA, aku akan mempersiapkan dengan baik untuk masuk ke perguruan tinggi dan belajar berbisnis."
Sejak saat itu, Alesha semakin menjadi anak yang giat belajar. Ia selalu mendapat peringkat kelas meski tanpa les mahal. Ia juga dikenal sebagai siswi teladan dan tidak pernah sekali pun membuat masalah.
Sampai tiba hari kelulusan, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya tidak bisa membiayainya melanjutkan pendidikan.
Gaji buruh pabrik yang sedikit dengan kebutuhan yang terus melonjak, membuat ibunya kesulitan. Alesha pun terpaksa harus putus sekolah dan bekerja demi mengumpulkan uang untuk menabung agar bisa melanjutkan mimpinya.
Ibu Alesha merasa bersalah karena tidak bisa membiayai pendidikan putrinya. Ia pun jadi memforsir tenaganya untuk mengumpulkan uang lebih banyak.
Namun, keputusannya itu secara tidak sadar berdampak buruk pada tubuhnya, sehingga berakhir kian melemah.
Penyakit yang dimiliki ibu Alesha tanpa sadar semakin berkembang dan bertambah parah. Sampai suatu hari ia harus masuk rumah sakit dan harus berobat rutin. Akhirnya Alesha kembali merelakan cita-citanya untuk yang kedua kali. Ia kemudian hanya bekerja untuk biaya berobat ibunya.
Dalam satu tahun ini, harapannya hanyalah ingin ibu cepat sembuh dan setelah itu, ia bisa melanjutkan usahanya untuk mewujudkan cita-citanya melanjutkan pendidikan serta mendirikan toko cookies bersama ibunya.
Bagi orang berada, harapan itu tentu saja melupakan harapan kecil. Namun, bagi Alesha, harapan itu merupakan impian terbesar dalam hidupnya.
Alesha merupakan wanita yang selalu fokus mengejar keinginannya. Dalam pikirannya tak pernah sekalipun terlintas skenario bahwa ia akan menjalin hubungan keluarga baru dengan orang lain selain ibunya. Apalagi dalam bentuk pernikahan.
Ia tidak menyangka, hanya dalam satu malam saja, dunianya tiba-tiba saja berubah.
__ADS_1
Bertemu Rafael Zafran yang merupakan seorang CEO merupakan sebuah paradoks yang bertarung dalam suatu lingkaran. Di satu sisi, Alesha melihat sebuah harapan, tetapi di sisi lain ia mulai takut harapannya terancam.
To be continued...