
Sejak taman kanak-kanak, dibanding dengan pelajaran hitungan, mengobservasi, mewarnai, menyanyi atau yang lainnya, Alesha paling suka pelajaran membaca. Membaca adalah pelajaran pertama yang diajarkan ibunya.
Ketika Alesha sudah berhasil mempelajarinya, ia semakin aktif mencari-cari bacaan sendiri di perpustakaan dan membacanya diam-diam ketika jam istirahat berlangsung.
Ketika Alesha menginjak jenjang selanjutnya, kebiasaannya masih sama. Ia masih sering diam-diam ke perpustakaan saat jam makan siang dibanding duduk lama-lama di kantin sambil menunggu jam istirahat selesai.
Saat Alesha SMP, ia mulai menabung dengan menyisihkan uang sakunya untuk membeli novel dari pasar loak karena peraturan perpustakaan SMP sangatlah merepotkan. Masa itu, ia semakin gencar mengeksplorasi jenis bacaannya.
Sampai ketika ia baru menginjak SMA, terkadang mulai merasa bosan dan sesekali membuat novel karangannya sendiri yang ia simpan dalam notes handphone bututnya. Kebiasaan itu terus berlanjut dan berakhir menjadi kegemaran yang ia tekuni.
Ketika baru memulai mencoba menulis karyanya sendiri, Alesha seringkali berangan menjadi penulis terkenal yang menuliskan karya-karya terbaik. Ia juga ingin sekali dapat menuliskan kisah perjalanan hidupnya agar dibaca orang-orang.
Perasaan itu tumbuh begitu saja seiring Alesha menekuni hobinya. Seperti remaja-remaja lain.
Alesha juga memiliki kegemaran yang ia banggakan. Perasaan senang dan puas tercipta begitu ia berhasil melakukan kegemarannya.
Akan tetapi, di samping rasa senang itu, ada banyak hal yang sebenarnya begitu meninggalkan kesan yang berarti bagi Alesha.
Ia tumbuh dewasa bersama dongeng-dongeng dan karangan cerita orang yang menemaninya. Ia tahu mungkin dongeng-dongeng, cerita-cerita, atau bahkan karya sastra literatur tua itu tidaklah nyata.
Dongeng-dongeng diciptakan untuk meninabobokan anak kecil. Cerita-cerita hanyalah karangan, sedangkan literatur dan sastra hanyalah sarana untuk menuangkannya.
Bagi orang lain, mungkin sebuah karangan hanyalah kebohongan-kebohongan yang dibuat untuk melarikan diri dari dunia. Mungkin memang benar, tetapi baginya dongeng-dongeng yang tumbuh dewasa bersamanya memiliki nilai yang tak tertaksir harganya.
Dalam dongeng yang diceritakan ibunya, terdapat ketulusan dan cinta yang membersamainya.
Dalam sebuah cerita yang dikarang seseorang, di samping rentetan narasi dan deskripsi yang berkesinambungan, terdapat nilai-nilai dan perasaan yang disalurkan.
Alesha selalu ingin menjadi seperti itu. Seperti yang dikatakannya pada Rafael, ia ingin pergi ke ujung dunia.
Ia ingin menuju ke suatu tempat di mana ia tak tahu di mana titik temunya. Tempat yang menjadi teka-teki, tetapi begitu ingin Alesha cari. Tempat yang tidak terjamah, tapi selalu ingin ia jejaki. Tempat yang berada di dalam kepalanya sendiri.
__ADS_1
Bagi Alesha, sebuah tulisan dan imajinasi manusia sama halnya seperti ujung dunia. Selalu menjadi teka-teki dan rangkaian puzzle yang menarik untuk disusun.
Bagaikan kanvas hitam yang harus ia lukis sendiri dan tempat tak terbatas yang selalu memanggil-manggil seseorang untuk dituju.
Sejak kecil, Alesha sangat menyukai berbagai dongeng dan cerita yang dibacakan ibunya. Ada kehangatan sendiri yang membuatnya selalu membuatnya selalu merindukan momen masa kecil itu. Ditambah lagi, cara ibunya membagikan sebuah cerita terlihat begitu keren di matanya.
Oleh karena itu, ia mempunyai impian untuk bisa membuat karya tulis yang dapat menyentuh hati dan membuat orang-orang terkesan dengan karangannya.
Akan tetapi, sejak segala pelik menimpanya belakangan ini, wanita itu tak pernah lagi ingin bermimpi terlalu besar. Bahkan mungkin lupa untuk sesaat meski hanya memikirkannya.
Namun begitu bertemu Rafael, Alesha jadi mengingat lagi tentang tatanan kehidupan yang diinginkannya.
Lelaki yang membuat kesepakatan pernikahan kontrak dengannya itu kembali mengingatkannya akan tujuannya untuk melanjutkan pendidikan yang menjadi terancam pupus.
Akan tetapi, tak lama setelah itu, Alesha kembali dibuat seolah menaiki puncak bianglala, melambung tinggi dalam euforia.
Saat ini, Alesha telah diberi kesempatan yang begitu besar, sampai ia tak bisa mundur lagi. Impian yang selama ini ia dambakan kini tak lagi terlihat mustahil. Rasanya seperti menggapai rembulan yang kini hanya berjarak selangkah lagi dari pijakannya.
Alih-alih merasa berat hati seperti biasanya saat Rafael menyuruhnya ini dan itu, Alesha justru sekarang merasa sangat senang.
Ia yang ingin sekali menjadi penulis yang bisa membagikan karangan dan isi hatinya, pada akhirnya memilih jurusan Sastra Inggris pada formulir pendaftaran kampusnya.
Setitik terbesit rasa mendebarkan yang kembali menghampiri ketika Alesha kembali mengingatnya.
Formulir pendaftaran itu adalah formulir yang berisi formulir kampus dengan akreditasi fakultas bahasa yang paling baik di antara yang lainnya.
Setelah melalui berbagai proses untuk mendaftarkan kuliahnya, Alesha akhirnya dapat melewatinya dengan baik.
Beberapa hari yang lalu, Rafael mengantarnya untuk mendaftar kuliah. Lalu tak lama setelahnya, ia mendapatkan pengumuman kalau diterima.
Tidak sampai di situ, Rafael juga kemudian menyuruh orang untuk membantu menjaga ibunya selama kuliah. Wanita itu sempat khawatir.
__ADS_1
Lagi-lagi ia tidak bisa menjaga ibunya. Apalagi sekarang harus menjalani berbagai terapi untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.
Akan tetapi, lelaki itu dengan segera menghilangkan kekhawatiran yang muncul di hatinya.
Hari ini adalah hari pertama Alesha kuliah. Wanita itu begitu bersemangat sampai ia sudah datang ke kampusnya pagi-pagi. Wanita itu memilih untuk duduk-duduk di kantin kampus sambil menunggu waktu jam kelasnya tiba.
"Rasanya aku sama sekali tidak percaya bisa kuliah di universitas yang mayoritasnya adalah keturunan konglomerat karena biaya untuk pendaftaran saja sangat fantastis dan setara dengan gajiku puluhan tahun bekerja."
"Rafael dan mamanya benar-benar Dewa dan Dewi yang bagaikan telah merubah nasibku yang malang," lirih Alesha yang masih tidak bisa mempercayai bisa berada di kampus favorit tersebut.
Alesha terus mengamati sekitar, jantungnya seketika berdebar. Sudah lama sekali ia tak merasakan hangatnya area pendidikan sejak ia lulus dari SMA.
Saat sekolah dulu, Alesha pernah beberapa kali membayangkan bagaimana kalau ia sudah kuliah. Apakah lingkungannya begitu luas? Apakah ia bisa memiliki teman seperti saat masa SMA-nya? Apakah ia bisa menjalaninya dengan baik?
Pertanyaan-pertanyaan lugu itu selalu berputar-putar di otaknya dan membuatnya terpacu untuk semakin rajin belajar.
Tidak pernah terbayangkan kalau rasanya akan se-menyenangkan ini.
Bahkan dalam bayangan Alesha, mungkin ia hanya akan kuliah di kampus yang mampu dibayar sambil pontang-panting bekerja paruh waktu dan mencari beasiswa.
Akan tetapi, sekarang ia malah kuliah di institusi yang begitu bagus, mahal dan terlihat begitu megah jika dibandingkan standar hidupnya.
Alesha bahkan benar-benar tak berani membayangkan hal ini terjadi sebelumnya. Bahkan setelah ibunya sakit setahun yang lalu, hanya bisa membayangkan kesenangan saat ia pulang ke rumah di mana bisa mandi dan menyegarkan tubuhnya.
Kemudian mendengarkan progres kesehatan ibunya dengan tenang. Namun, jangankan bisa membayangkan dengan tenang, kehidupannya selama setahun ini bagai dikejar-kejar utang.
Setiap hari harus menghitung uang untuk kebutuhan hidup dan kembali menghitung sisanya untuk kebutuhan pemeriksaan rutin ibunya.
Wanita itu kini menyunggingkan senyumnya. Merasa takjub sendiri dengan banyak hal yang terjadi dalam hidupnya.
To be continued...
__ADS_1