
"Aku baru saja mengirimkan percakapan wanita itu yang dijebak oleh orang suruhanku. Siapa tahu kau ingin mendengarnya." Adelardo memberikan sebuah kode pada Arsenio agar membuka video yang baru saja ia kirimkan.
Meskipun sedikit kecewa karena tidak mendapatkan pesan dari sang istri, tetapi saat ini merasa sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah, sehingga langsung mengarahkan jari telunjuk pada tombol play.
Ia bisa melihat suasana di dalam club dan sosok wanita dengan gaun berwarna hitam tengah memegang gelas berisi minuman beralkohol sambil tersenyum.
Hingga beberapa saat kemudian, mendengar jika wanita yang ia duga telah memberikan obat tidur pada minumannya ketika berada di hotel, kini telah menjelaskan semua hal yang terjadi.
Apalagi posisi wanita itu yang sedang mabuk, membuat ia bisa mengetahui apa yang terjadi saat tidak sadarkan diri.
"Jadi, benar Nick yang menyuruhnya? Sialan!"
Nick dan wanita ini harus mempertanggungjawabkan perbuatan di penjara!" umpat Arsenio dengan wajah memerah saat ia merasa sangat marah ketika mengetahui jika wanita itu menelanjanginya dan berpose seperti tengah melakukan hubungan ****.
Memang saat ia melihat foto-foto yang tersebar, seperti benar-benar bercinta dengan seorang wanita. Meskipun matanya terpejam dan tidak sadarkan diri, mungkin orang berpikir jika ia menikmati percintaan itu.
Padahal, ia sama sekali tidak tahu apapun karena memang tidak sadarkan diri. Hingga ia kembali mendapatkan sebuah tepukan pada pundaknya.
"Jadi, kamu harus tahu jika semua permasalahan yang terjadi akan ada titik terang dan penyelesaian. Yakinlah itu, Arsenio. Bangkit dan kembalilah menjadi seorang pria hebat seperti biasanya. Putraku tidak boleh jatuh hanya karena masalah kecil seperti ini."
Adelardo terdiam sejenak dan ingin sekali mengatakan jika nyawanya tidak lama lagi, tapi ia berubah pikiran saat mendengar suara dering ponsel miliknya berbunyi.
"Sebentar."
Arsenio saat ini hanya mengangguk perlahan dan membiarkan sang ayah menerima telpon. Ia hanya menatap datar ke arah sebelah kanan. Di mana banyak mobil melintas dengan berjuta perasaan membuncah yang menyeruak memenuhi jiwanya.
Ia sangat merindukan sang istri dan juga ingin melihat wajah menggemaskan putranya. Namun, menyadari jika itu tidak bisa dilakukan sebelum semua masalah perusahaan selesai.
Arsenio kali ini memilih untuk mendengarkan pembicaraan mencurigakan dari sang ayah.
__ADS_1
Hingga membuat ia menoleh ke arah sosok pria paruh baya di sebelah kirinya ketika terdengar seperti orang yang sangat kesal ketika marah.
"Tidak perlu! Aku sendiri yang akan memutuskan untuk ke sana atau tidak. Jadi, tidak perlu terus menghubungiku, oke!"
Adelardo terlihat sangat marah dan ia bahkan mengepalkan kedua tangannya ketika merasa kesal saat dipaksa untuk segera dirawat di rumah sakit.
Tanpa membuang waktu, ia sudah mematikan sambungan telpon yang tak lain adalah dokter pribadinya. Berpikir jika kekhawatiran dari sang dokter yang akhirnya memaksa agar segera dirawat karena kanker yang ia derita sudah stadium akhir.
Adelardo tidak langsung memasukkan benda pipih itu ke saku jas, tetapi memilih untuk menghubungi sekretaris.
"Apa semuanya sudah siap?"
"Sudah, Tuan Adelardo."
"Bagus. Sepuluh menit lagi aku tiba dan pastikan meeting hari ini tidak ada kendala. Soal siaran langsung dari beberapa stasiun televisi juga harus dipastikan siap karena aku akan menyampaikan hal penting setelah meeting nanti "
Jika pria berkulit putih itu terlihat sangat antusias dengan meeting penting hari ini di perusahaan, hal berbeda dirasakan oleh Arsenio saat ini yang tengah mengerutkan kening ketika mendengar sesuatu.
"Nanti kau juga akan mengetahuinya sendiri." Adelardo menjawab sambil mengembalikan benda pipih tersebut di tempat biasa.
Ia hanya bisa mengatakannya di dalam hati karena memang menyembunyikan hal itu dari Arsenio.
'Aku akan menyerahkan semua hartaku padamu, Arsenio karena lebih mempercayakan semua usaha yang telah kurintis sejak lama padamu dibandingkan dengan Nick. Ia hanya akan menghancurkan perusahaanku karena mengincar uang saja.'
Saat ini, Arsenio masih terdiam membisu karena tidak tahu harus berbicara apa pada sang ayah yang memilih untuk merahasiakan hal tersebut. Hingga ia hanya bisa menebak-nebak saja.
'Apa daddy akan menyebarkan bukti itu dengan melibatkan stasiun televisi? Mungkin seperti itu,' gumam Arsenio yang saat ini tengah menatap ke arah sang ayah dengan intens.
"Baiklah, kalau memang Daddy tidak mau menjelaskan padaku. Aku akan bersabar untuk menunggunya."
__ADS_1
Arsenio terdiam dengan pikirannya sendiri dan beberapa saat kemudian ia mengerjapkan kedua mata begitu mendengar suara bariton dari pria di sebelah kirinya.
"Apa kau mau mengurus pria tua ini saat nanti sudah tidak bisa apa-apa?" Akhirnya Adelardo yang merasa jika nyawanya sudah tidak lama lagi, ingin mengetahui jawaban dari Arsenio.
Bahkan ia saat ini bisa melihat raut wajah itu seperti menampilkan sebuah belas kasih dan sebenarnya tidak disukainya. Ya, dari dulu Adelardo tidak pernah suka dikasihani. Ia selalu berdiri sendiri dan yakin bisa menghadapi masalah apapun dengan penuh perjuangan.
Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka akan menyerah dan tidak mempunyai semangat hidup lagi setelah divonis penyakit kanker otak dan hidupnya tinggal beberapa bulan saja.
Adelardo hanya bisa tersenyum simpul ketika mendengar jawaban dari Arsenio dan ia percaya jika keputusan yang diambil tidak salah.
Bahwa Arsenio adalah orang yang tepat dipercayai untuk memiliki seluruh aset berharga miliknya.
"Tentu saja aku akan selamanya mengurus Daddy dan mungkin nanti bergantian bersama dengan Arza. Bukankah putraku sangat menyayangimu, Dad? Jadi, tidak perlu mengatakan hal itu."
"Bukankah itu sama saja dengan meragukanku? Hanya saja, aku perlu berjuang untuk bisa mendapatkan kembali istriku yang kabur. Jadi, setelah masalah ini selesai, aku akan menjemput mereka agar mau kembali ke sini."
Refleks Adelardo menggelengkan kepala karena tidak menyetujui hal itu. "Kau tenang saja, biar aku yang mengajak mereka kembali ke sini nanti. Kau fokus saja memimpin perusahaan karena setelah hari ini, tanggungjawabmu akan lebih besar dan tidak bisa lagi sesuka hati pergi."
Saat Arsenio sibuk memikirkan tentang kalimat ambigu dari sang ayah, mobil yang membawa mereka telah tiba di depan gedung tinggi menjulang yang tak lain adalah perusahaan.
Ia menelan ludah kasar ketika membayangkan akan mendapatkan tatapan aneh saat masuk ke perusahaan nanti. Hingga saat ini, Arsenio memilih untuk mengangkat pandangannya ketika mendapat suntikan semangat dari sang ayah.
"Angkat pandangan dan jangan pernah menundukkan kepala saat kau tidak melakukan kesalahan, Arsenio! Para staf perusahaan harus mengetahui jika mereka memiliki seorang pemimpin yang sangat berwibawa dan tidak mudah digoyahkan oleh siapapun!" Adelardo meninju ringan lengan kekar di balik jas dan kemeja tersebut.
Hingga seulas senyuman dari Arsenio membuatnya merasa sangat lega ketika pria itu tidak lagi menunduk lemah seperti beberapa saat lalu.
"Aku akan selalu mengingat nasihat Daddy." Arsenio beranjak dari tempatnya setelah membuka pintu dan menunggu pria paruh baya tersebut melakukan hal sama.
Hingga begitu ia terlihat, para pemburu berita yang tak lain adalah wartawan, kini sudah berlari mendekatinya.
__ADS_1
Namun, nasib baik para pemburu berita itu sudah langsung ditahan oleh para pengawal yang tadi berada di belakang mobil pria paruh baya itu.
To be continued...