I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menguraikan kesalahpahaman


__ADS_3

Rafael seketika membulatkan mata begitu mendengar jawaban dari sang istri yang berbohong pada sang ibu dan benar-benar menjerumuskannya.


Bahkan saat ini ia bisa melihat tatapan tajam dari sang ibu, sedangkan mertuanya lebih bersahabat karena hanya memijat pelipis.


Rafael benar-benar tidak terima atas jawaban penuh kebohongan dari sosok wanita yang ada di sebelahnya. "Sayang, kenapa kamu berbohong pada Mama dan Ibu?"


"Apa kamu ingin mengkhianati dan menghancurkan suami sendiri?" sarkas Rafael yang kini mengarahkan tatapan tajam pada wanita yang malah terlihat seperti malu-malu bagaikan gadis remaja baru jatuh cinta.


Alesha mengerjapkan kedua mata karena merasa kebingungan atas apa yang baru saja diucapkan ketika menjawab pertanyaan bernada intim dari mertuanya.


"Bukannya tadi Mama bertanya apa kamu sudah berbuat macam-macam padaku atau belum, Sayang? Memangnya tadi apa yang kamu lakukan di kamar? Kamu macam-macam padaku, kan? Astaga!"


Alesha tidak ingin disalahkan meskipun ia tahu salah mengartikan pertanyaan sang mertua. Ia bahkan kali ini merasa sangat bingung karena tidak ingin mendapatkan kemurkaan dari sang suami, sehingga tetap membela diri.


Refleks Rafael langsung memijat pelipis karena merasa sangat pusing melihat wajah polos tidak berdosa dari Alesha.


Bahkan ia menahan diri untuk tidak membuatnya mengumpat untuk menjelaskan jika arti macam-macam dari pertanyaan sang ibu itu berhubungan dengan ****, bukan tentang foreplay.


Bahkan ia belum merasakan apapun, tapi sudah berhasil membuat sang istri *******, tapi malah mendapatkan sebuah hukuman dari istri yang dianggap sangat durhaka.


'Jika bukan di hadapan ibu serta mertua, mungkin aku sudah langsung menghajar habis-habisan istriku ini di atas ranjang. Bisa-bisanya dia bilang aku sudah melakukannya. Padahal masuk ujungnya aja belum karena keburu mendengar suara mama yang sangat keras sambil menggedor pintu!'


Rafael benar-benar sangat marah serta kesal ketika mengingat jika yang terjadi saat ini adalah kembali mendapatkan hukuman dari sang ibu. Bahwa wanita yang melahirkannya kini asyik memukulinya.

__ADS_1


"Dasar anak tidak tahu diuntung! Apa kamu tidak dengar apa kata dokter tadi?


Apa salahnya tinggal dengan istrimu selama beberapa hari dengan menjaganya tanpa melibatkan nafsu? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada calon cucuku akibat perbuatanmu?"


Tiana benar-benar tidak bisa mentolerir perbuatan dari putranya yang tidak mendengarkan saran dari dokter ketika berada di rumah sakit tadi, sehingga membuatnya meluapkan semua amarah demi kebaikan bersama.


Ia benar-benar sangat khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada calon cucunya akibat perbuatan putranya yang tidak bisa menahan diri dari nafsu.


"Kalau begini, lebih baik kamu tidak menemui Alesha selama beberapa hari sampai ia melewati trimester pertama. Kamu ikut pulang saja bersama mama dan tidak boleh tidur di sini nanti malam. Bisa-bisa nanti kamu menghajar Alesha habis-habisan, lagi!"


Meskipun ia pernah muda dan mengetahui bahwa hasrat seorang suami tidak bisa dihentikan dan pernah mengalami sendiri, tapi lebih memilih untuk memakai cara lain yang tidak beresiko.


Ia tahu bahwa putranya sangat polos dan pastinya tidak tahu cara-cara yang lain dari hubungan **** dengan pasangan, jadi tidak ingin mengambil resiko.


Ia berniat untuk mengajak putranya pulang agar tidak tidur bersama dengan sang menantu.


Rafael saat ini memijat pelipis karena benar-benar pusing dengan situasi hari ini. Apalagi gairahnya tadi sudah sampai di ubun-ubun, tapi tidak bisa disalurkan, sehingga membuatnya di jongkok di lantai sambil menatap kosong ke sembarang arah.


Ia benar-benar sangat frustasi dan bingung harus bagaimana saat ini. Antara menahan libidonya yang memuncak dan ancaman dari sang ibu yang marah karena kesalahpahaman atas perkataan dari sang istri yang seolah mendorongnya ke dasar jurang paling terdalam.


'Dasar istri durhaka. Bukannya melindungi suami yang sudah berhasil memanjakannya hingga sampai ke puncak agar tidak mendapatkan hukuman dari mamaku, tapi yang ada malah seolah sengaja.'


"Dah lah, aku pasrah saja. Terserah Mama mau memukulku sampai berapapun, aku tidak akan melawan ataupun membantah tuduhan." Rafael masih berjongkok sambil mengacak frustasi rambut dan tidak peduli apa yang dipikirkan oleh mertua yang hanya diam di hadapannya.

__ADS_1


Ia tahu bahwa mertuanya tersebut sebenarnya ingin melindunginya agar tidak mendapatkan kemurkaan dari sang ibu, tapi juga merasa serba salah karena khawatir dengan keadaan putrinya yang tengah hamil muda.


Rafael saat ini mendengar begitu sang ibu menghentikan pukulan, tapi ia menatap ke arah sang istri dengan sangat kesal.


"Sekalian kamu saja, Sayang. Sekalian pukul suamimu yang bersalah ini karena telah membahayakan janin yang ada di dalam rahimmu."


Sengaja Rafael ingin menyindir sang istri dan ingin melihat apa yang dilakukan sambil mengumpat di dalam hati untuk meluapkan kemurkaan yang dirasakan saat ini.


'Padahal aku yang menghadirkan janin di rahim istriku, tapi aku juga yang disalahkan karena khawatir terjadi sesuatu yang buruk saat aku sama sekali tidak melakukan apapun tadi.'


Rafael benar-benar merasa sangat menyesal karena telah mengantarkan sang istri pada puncak kenikmatan hanya dengan mengandalkan kekuatan lidahnya.


Sementara ia malah mendapatkan hukuman setelah sang istri berbicara konyol seperti tidak merasa berdosa sama sekali padanya. Apalagi sama sekali tidak melindunginya agar tidak dipukuli oleh sang ibu yang sangat marah padanya.


Sementara itu, Tiana dan besannya saat ini saling bersitatap karena melihat sikap Rafael yang tiba-tiba sangat memelas ketika berjongkok di lantai. Bahkan seperti seorang penjahat yang sudah menyerah dan tidak akan melawan apapun yang dilakukan padanya.


"Sudah, Jeng. Kasihan menantu. Lagipula semuanya sudah terlanjur dan kita anggap saja sebagai pelajaran. Menantu pasti tidak akan mengulangi kesalahannya lagi setelah mengetahui jika perbuatannya sangat rawan untuk calon anaknya."


Lia Nuraini saat ini menatap ke arah putrinya begitu besannya sudah tidak lagi marah seperti tadi. "Kamu nanti juga harus mengingatkan suamimu jika menginginkannya. Lebih baik pakai cara lain saja untuk hal itu agar tidak beresiko."


"Kalau tidak tahu caranya, tanya saja di mesin pencarian karena sekarang ini semuanya bisa ditanyakan di sana, kan?"


Alesha yang dari tadi ingin sekali tertawa melihat perbuatan sang suami yang masih stay berjongkok di lantai, kini menatap sang ibu dan mengerti apa yang dimaksudkan.

__ADS_1


Apalagi melihat pergerakan dari pria yang kini terhempas ke lantai dengan duduk di sana seperti orang yang sangat mengenaskan sambil memijat pelipis. Kemudian ia beralih menatap ke arah mertuanya untuk menguraikan kesalahpahaman yang terjadi.


To be continued...


__ADS_2