I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menjadi pria yang tangguh


__ADS_3

Setelah menelan salivanya, pria yang tak lain adalah spesialis tulang tersebut mulai berbicara. "Untuk proses pemulihan pasca operasi patah tulang yang parah seperti Tuan, umumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dapat kembali beraktivitas normal."


"Selama masa pemulihan, perlu melakukan fisioterapi untuk membantu memperkuat otot, memulihkan tulang, serta mengurangi kekakuan. Selama menjalani fisioterapi ini, fisioterapis mungkin akan meminta Anda untuk mengikuti program latihan atau olahraga yang membantu melatih gerak."


"Selain itu, jangan lupa untuk selalu mengonsumsi makanan yang baik untuk patah tulang demi mempercepat masa pemulihan. Anda perlu menghindari pula hal-hal yang memperlambat masa pemulihan seperti mengonsumsi alkohol, merokok, mengemudi, dan mengoperasikan mesin. Apa ada yang ingin Anda tanyakan lagi, Tuan?"


Sontak saja Arsenio meninju udara di sekitarnya. Seolah ingin melampiaskan emosi setelah mendengar bahwa ia tidak bisa pulih dengan cepat.


"Berengsek! Pria sinting itu membuatku tidak bisa menjemput istriku dengan membuatku seperti ini. Sial!"


Adelardo kini mendekati putra kesayangannya dan menepuk lengannya. "Bukankah kalian berdua sudah impas karena tadi dengan brutal menghancurkan wajahnya yang tampan."


"Mungkin ketampanannya akan berkurang akibat ulahmu, sedangkan kau hanya mengalami patah tulang dan akan segera sembuh setelah melakukan operasi."


"Lebih baik kau ambil saja hikmah dari kejadian ini. Bahwa namamu saat ini telah bersih dan semua orang mulai menghormatimu."


"Jadi, sekarang lebih baik kamu fokus dengan operasimu dan penyembuhanmu. Untuk sementara, aku yang akan memimpin perusahaan. Setelah sembuh, kau bisa menjemput anak dan istrimu. Jadi, kamu tidak perlu merasa khawatir."


Kemudian Adelardo beralih menatap ke arah para dokter, "Semoga ahli bedah terbaik yang melakukan operasi pemasangan pen pada putraku bisa berjalan lancar karena aku ingin ia segera sembuh!"


"Kami akan melakukan yang terbaik, Tuan!"


Beberapa perawat tampak tergesa-gesa berjalan keluar untuk segera melaksanakan titah dari dokter.


Sementara Adelardo meringis kesakitan saat merasakan nyeri pada kakinya, lalu menatap ke arah sang ayah. "Jangan biarkan siapapun mengetahui keadaanku. Apalagi wartawan. Aku tidak ingin istriku mengetahui dari media sosial."


"Aku tidak ingin ia mengkhawatirkanku. Meskipun sebenarnya aku tidak tahu, apakah istriku akan khawatir atau tidak jika mengetahuinya." Suara Arsenio terdengar menyedihkan dan menyayat hati bagi siapapun yang melihatnya.

__ADS_1


Sementara Adelardo menganggukkan kepala tanda setuju. "Tentu saja, aku akan mengatakan melakukan itu."


Adelardo mulai menolehkan kepalanya saat beberapa dokter memasuki ruangan tersebut bersama para ahli bedah yang akan melakukan operasi pada putranya.


"Kami sudah siap, Tuan. Kami akan segera membawa pasien ke ruang operasi untuk segera melakukan operasi!"


"Baiklah, lakukan yang terbaik untuk putraku! Jangan sampai melakukan kesalahan sedikit pun." Adelardo menatap tajam satu persatu para dokter yang ada di hadapannya.


"Baik, Tuan."


Dengan serempak, beberapa dokter mengeluarkan suara.


Kemudian beberapa perawat mulai mendorong ranjang pasien keluar dari ruangan tersebut menuju ke ruangan operasi.


Begitu pun dengan Adelardo yang mengikuti para dokter dan perawat yang membawa putranya. Ia pun duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang operasi dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang asisten pribadi putra angkatnya.


"Kau tidak perlu datang ke sini karena harus mengurus perusahaan. Jangan sampai kabar ini tersebar karena Arsenio tidak ingin ada pihak media yang meliput."


"Baik, Tuan. Saya akan mengurus semuanya di sini. Semoga operasi tuan Arsenio berjalan lancar," sahut Rey di seberang telepon.


"Baiklah, lakukan tugasmu!"


Kemudian Adelardo mulai memencet tombol merah pada panggilan telponnya dan langsung memasukkan ponselnya pada saku jas. Ia saat ini tengah bersandar pada dinding yang ada di balik kursi.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Pasti adikku dan istrinya akan murka karena aku sama sekali tidak menunggu Nick di ruangan gawat darurat."


"Apa aku ke sana saja untuk melihatnya sekarang." Adelardo kini bangkit dari posisinya setelah mempertimbangkan keputusan. "Operasi akan berjalan cukup lama, jadi aku bisa melihat keponakanku dulu."

__ADS_1


Sebenarnya, Adelardo dari dulu sangat menyayangi keponakannya dan berniat untuk mewariskan semua aset miliknya pada Nick. Namun, semuanya berubah begitu melihat perubahan sikap keponakannya itu setelah dewasa.


Ia tahu jika itu juga salahnya karena memang dari dulu sangat memanjakan Nick dan menganggapnya seperti anak kandung sendiri, sehingga menuruti apapun yang diminta.


Apalagi ia tidak mempunyai anak dan membuatnya mencurahkan kasih sayang dengan memanjakan Nick. Hingga ia mengetahui jika keponakannya akhirnya membencinya setelah mengangkat Arsenio sebagai putranya.


Hingga sampai menyuruh orang untuk mencelakakannya hanya demi bisa menguasai hartanya.


Setelah berjalan menyusuri lorong di rumah sakit, saat ini ia sudah tiba di ruang gawat darurat dan menuju ke tempat keponakannya yang dipikirnya belum dipindahkan ke ruangan.


Namun, ia seketika menghentikan langkah kaki begitu mendengar suara perbincangan dari ayah dan anak yang tak lain adalah adik dan keponakannya yang merupakan ayah dan anak itu. Obrolan mereka membuat wajah Adelardo seketika pucat dan memegangi dadanya.


"Apa yang harus kita lakukan untuk menyingkirkan pria tua bodoh itu, Dad? Bagaimana mungkin dia lebih memilih orang asing daripada keluarga sendiri? Ini benar-benar sangat keterlaluan! Rasanya aku ingin mencekik lehernya agar bisa segera menghilang dari muka bumi ini."


Nick saat ini tidak bisa berhenti mengumpat untuk melampiaskan amarahnya karena kali ini merasa sangat marah dan geram pada pamannya.


Sementara itu, sosok pria yang saat ini duduk di kursi roda dan sebelah kiri ada sang istri, menepuk pelan pundak putranya.


"Pamanmu itu memang sangat keterlaluan. Kau tenang saja karena Daddy punya rencana untuk menyingkirkan pria tua."


"Iya, lebih baik cepat singkirkan saudaramu itu karena sangat meresahkan. Hari ini aku sangat terkejut saat melihat berita di televisi. Pria tua itu memang sangat bodoh dan gila!" umpat wanita dengan rambut keemasan yang digelung ke atas dan wajah memerah karena dikuasai oleh rasa emosi.


Sementara itu, Adelardo saat ini memilih untuk berbalik badan dan beranjak pergi karena tidak ingin mendengar lagi perkataan dari sanak saudara yang ternyata sangat menginginkan kematiannya.


'Kalian tidak perlu bersusah payah dan membuang tenaga untuk menyingkirkanku karena sebentar lagi, aku juga meninggalkan dunia ini. Arsenio, aku harap kamu jadi pria yang tangguh saat aku mati nanti. Jangan biarkan orang-orang jahat itu menghancurkanmu,' gumam Adelardo yang saat ini memilih untuk berbelok ke toilet untuk mencuci muka.


To be continued...

__ADS_1


...


__ADS_2