I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Hukum tabur tuai


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita punya anak satu saja. Aku trauma melahirkan." Akhirnya meski ragu, Alesha langsung mengungkapkan pikirannya dan ingin tahu apa komentar Rafael.


Meskipun ia sangat khawatir jika sang suami akan kecewa, tetap saja ingin mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Namun, ia sama sekali tidak menyangka dengan respon pria yang baru saja mengunyah makanan itu.


"Aku juga berpikir seperti itu, Sayang. Melihatmu melahirkan dengan kesakitan, aku benar-benar sangat tidak tega. Bagiku, Alexi sudah cukup dan aku sudah sangat bahagia." Rafael yang baru saja menutup mulut, kini sangat terkejut dengan respon dari sang istri yang langsung mendekat dan memeluknya.


Bahkan kembali menangis tersedu-sedu saat memeluknya dan dengan suara serak mengungkapkan perasaan padanya.


"Sayang, terima kasih sudah menjadi suami luar biasa untukku. Aku tidak bisa berkata-kata lagi karena saat ini sangat bahagia." Suara serak Alesha kini mewakili luapan haru penuh kebahagiaan yang dirasakan.


Sementara itu, Rafael yang hanya terkekeh geli melihat tingkah sang istri yang hari ini sering menangis, hanya mengusap lembut punggung belakang wanita yang sangat dicintainya.


"Justru aku yang harusnya berterima kasih padamu, Sayang karena sudah melahirkan Alexi yang melengkapi kebahagiaan rumah tangga kita. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu dan sekaligus ayah yang bisa dibanggakan putra kita."


Rafael kini menarik diri dan kembali menunjukkan piring yang masih penuh makanan. "Cepat habiskan makanannya karena nanti kamu akan dimarahi ibu. Hapus dulu air matamu karena aku tidak ingin di hari penuh kebahagiaan ini membuat wajahmu sembab."


Alesha kini patuh pada sang suami, langsung menghapus air matanya sambil menoleh ke arah sang ibu dan mertua yang sibuk bersama cucu kesayangan tengah berbincang dengan para sanak keluarga.


"Iya, aku akan makan. Ibu dan mama sangat bahagia atas kehadiran putra kita. Semoga kelak Alexi menjadi anak Sholeh yang sukses dunia akhirat." Alesha mendengar Rafael langsung mengaminkan perkataannya.


"Iya, Sayang. Alexi Cairo Zafran akan menjadi anak Sholeh yang berbakti kepada orang tua dan berguna bagi agama dan negara."


Rafael kini kembali menyuapkan makanan ke mulut sang istri sambil sibuk memanjakan mata melihat ke arah ibu dan mertuanya yang terlihat berbahagia kala berbincang dengan sanak saudara yang datang.


***

__ADS_1


Lima tahun kemudian...


"Sayang, jangan lari-larian! Nanti jatuh!" teriak Alesha yang kini tengah mengejar putranya bermain bola di taman.


Tadinya bersama sang suami, tapi saat ini tengah ke toilet karena sakit perut. Ini adalah hari Minggu dan mereka sengaja menghabiskan weekend di rumah tanpa pergi ke mana-mana.


Sementara itu, sosok anak laki-laki berusia 5 tahun bernama Alexi tengah mengambil bola yang tadi ditendangnya ke dekat pintu gerbang. Ia tidak memperdulikan suara teriakan sang ibu dan kini sudah berhasil mengambil bola dan membawanya kembali ke rerumputan.


Namun, suara pintu gerbang yang terbuka membuatnya menoleh dan melihat ada mobil berwarna hitam memasuki area halaman. Refleks ia menunjuk ke arah mobil yang sangat asing dan bertanya pada sang ibu.


"Mama, itu mobing siapa?" tanya Alexi dengan suara masih tidak jelas.


Alesha yang kebetulan juga menatap ke arah mobil berwarna hitam itu mengerutkan kening karena juga tidak tahu siapa yang datang. Hingga ia mendengar suara bariton dari sang suami yang baru saja tiba.


"Aealeasha? Apa itu dia? Tapi dia sama sekali tidak mengabari akan datang ke Jakarta," ucap Rafael yang kini tengah merangkul sang istri dan melambaikan tangan pada putranya agar mendekat.


Refleks wajahnya berbinar dan langsung mengajak anak serta istri menghampiri tamu jauh dari luar negeri. "Wah ... ada angin apa ini kalian datang tanpa memberi kabar pada kami. Apa kalian ingin memberikan sebuah kejutan?"


Kemudian langsung merangkul Arsenio dan dua wanita itu juga saling menyapa dengan bercipika-cipiki.


"Kebetulan aku ambil libur satu minggu dan akan di Jakarta menemani anak-anak dan istri di sini. Kau semakin gagah saja, Rafael," seru Arsenio yang kini sudah menepuk pundak kokoh Rafael.


"Bisa saja kau ini. Apa kau baru sadar jika aku selama ini gagah? Bagus sekali jika kalian di sini. Jadi, anak-anak kita bisa saling mengenal." Rafael yang kini menoleh ke arah Aealeasha yang tersenyum padanya, kini mengulurkan tangannya. "Tak terasa sudah lima tahun tak melihatmu."


"Iya. Bahkan putramu sudah besar sekarang, seumuran dengan putriku." Aealeasha yang saat ini tengah menatap ke arah anak laki-laki yang berdiri di hadapannya, kini membungkuk untuk mengusap lembut rambut hitam berkilat Alexi. "Tampan sekali Alexi."

__ADS_1


Alesha yang tertawa melihat Aealeasha memuji putranya, kini berjongkok untuk menyamakan posisi dengan putranya. "Sayang, salim dulu sama tante Aealeasha. Bilang terima kasih karena sudah bilang Alexi tampan."


Saat Alexi yang langsung menganggukkan kepala dan berniat untuk mengulurkan tangan, tapi tiba-tiba malah ditarik oleh anak perempuan yang membuatnya bingung karena berbicara aneh.


"Hey, let's play ball over there!" sahut Lily yang tadi melihat bola di rerumputan dan ingin langsung bermain bersama, sehingga kini menarik tangan anak laki-laki itu.


Tentu saja perbuatan anak perempuan itu seketika membuat para orang tua saling bersitatap penuh keheranan.


"Wah ... putrimu sangat agresif sekali, Honey," sahut Arsenio yang geleng-geleng kepala melihat putrinya memaksa putra Rafael saat tadi seolah menolak karena menggelengkan kepala.


Aealeasha masih menatap interaksi dari putrinya yang kini terlihat sangat bersemangat bermain bola karena memang putrinya sangat berbeda dari anak perempuan lain karena suka dengan hal-hal yang dilakukan anak laki-laki. Apalagi di rumah selalu bermain dengan Arza.


"Benar juga, Sayang. Itu kenapa Lily bisa langsung mengajak putra brother bermain? Padahal selama ini sangat nakal pada teman laki-laki di sekolah hingga selalu mendapatkan laporan. Aku malah khawatir ia jadi anak tomboi karena suka kasar pada anak laki-laki, tapi kelihatannya langsung cocok dengan Alexi."


Sementara itu, Rafael yang tadinya langsung memeluk Arza untuk melepas rindu, kini mengamati putranya yang terlihat seperti malas bermain bola dengan Lily.


"Arza, sana sekalian main bola."


"Iya, Papa Rafael," ucap Arza yang langsung berlari ke rerumputan untuk ikut bermain bersama dengan adik serta Alexi.


Alesha yang dari tadi tidak berkedip menatap interaksi putranya dengan Lily, kini seketika mengungkapkan sesuatu di pikirannya.


"Jangan-jangan nanti Lily kalau sudah besar menyukai putraku yang sangat tampan," sahutnya dengan tertawa dan seketika mendapatkan tatapan dari tiga orang di sebelahnya.


"Apa jangan-jangan seperti itu? Tapi aku tidak mau putriku mendapatkan hukum karma dari perbuatanku yang dulu tidak bisa menerima brother. Kasihan putriku jika sampai mengejar-ngejar putramu, tapi tidak mendapatkan balasan."

__ADS_1


Aealeasha mendadak takut dengan hukum tabur tuai karena dulu pernah menyakiti hati seorang pria baik seperti Rafael. Hingga ia menoleh ke arah sang suami yang seolah ingin menghiburnya.


To be continued....


__ADS_2