I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Saat yang tidak tepat


__ADS_3

Sosok wanita dengan memakai outfit panjang senada berwarna biru, baru saja turun dari bus dan terlihat tengah berjalan menuju ke arah pintu gerbang tinggi menjulang yang tak lain adalah tempat menuntut ilmu, yaitu kampus.


Ia berjalan santai menuju ruang kelas pagi ini. Namun, langkahnya terhenti saat tubuhnya berhadapan dengan sang dosen yang selalu menjungkirbalikkan perasaannya—Alex Clarkson yang merupakan mantan sugar daddy-nya.


Alesha tampak menelan saliva dengan sangat kasar. Melihat pria itu tidak kunjung melakukan pergerakan, ia pun mencoba membuka jalan.


“Silakan, Pak.”


Dengan perasaan berkecamuk di dalam hati, Alesha mempersilakan Alex untuk melanjutkan langkah, tetapi hal itu tidak seperti yang dipikirkan.


“Ikut aku!” ucap Alex sembari berjalan di depan Alesha.


Alesha hanya menurut dan mengekor. Hingga mereka berada di ruangan Alex.


“Ada apa, Pak?” tanya Alesha ingin tahu dan sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh pria di hadapannya.


Sementara Alex awalnya masih menatap intens sosok wanita dengan tatapan penuh rasa penasaran tersebut.


Namun, ia kini bergerak mendekat dan memeluk. Ya, Alex memeluk Alesha tanpa meminta izin.


Pria itu merasakan kenyamanan saat melakukannya, tetapi tiba-tiba saja Alesha mendorong tubuh Alex hingga pelukan itu terlepas.


“Pak, ini di kampus. Apa yang Pak Alex lakukan baru saja?” protes Alesha yang terkejut dengan tingkah dosennya.


“Maaf. Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja.”


“Memastikan? Apa itu?”


“Apakah sebelumnya kita pernah saling mengenal?”


Alesha membulatkan mata, tidak percaya dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut pria itu. Alex memang pernah mengisi hari-hari Alesha saat masih menjadi seorang sugar baby.


Hanya saja, kejadian itu sudah berlalu dan ia kini adalah calon istri Rafael.


“A-apa yang baru saja Pak Alex tanyakan? Saya tidak mengerti.” Alesha mencoba senormal mungkin untuk menjawab pertanyaan dari pria di depannya saat ini.


“Jawab pertanyaanku! Apa kita pernah saling mengenal atau memiliki hubungan sebelumnya?”


“Tentu saja tidak. Kita tidak pernah saling mengenal dan saya baru bertemu dengan Pak Alex di kampus ini.”


“Begitu rupanya. Jadi, rasa sakit yang kurasakan bukan karena kita pernah mengenal?”


Tiba-tiba saja Alex merasa kepalanya nyeri saat mencoba untuk mencari kepingan memori yang hilang. Ia saat ini sibuk memijat pelipisnya dengan sudut bibir melengkung ke atas saat menahan kenyerian luar biasa.


Melihat sosok pria yang terlihat dan terdengar kesakitan, membuat Alesha khawatir dan tanpa sadar memanggil Alex tanpa embel-embel ‘pak’.


"Alex, apa yang terjadi? Jangan membuatku takut!" teriak Alesha dengan wajah memerah penuh kekhawatiran sambil menahan lengan setelah punggung lebar itu agar tidak sampai jatuh ke lantai.


Hal itu menarik perhatian Alex dan kali ini ingin Alesha berkata jujur padanya. Hingga saat ia sudah tidak merasakan nyeri pada kepalanya, refleks langsung mengungkapkan apa yang kini memenuhi kepala.


“Jadi, kita pernah mengenal, bukan?”


“Maafkan saya, Pak Alex. Kita tidak pernah saling mengenal dan ...."


Alesha tidak melanjutkan ucapannya karena memilih berlari keluar dari ruangan itu.


Tingkah laku Alesha yang semakin mencurigakan, menunjukkan dengan jelas pada Alex.


“Ya, kita pernah mengenal. Hanya saja, aku mengalami amnesia yang membuat ingatan itu hilang. Aku akan mencoba menggali lagi tentang kita, Alesha. Aku yakin kita pernah memiliki keterikatan batin. Hanya saja, kamu tengah melarikan diri dariku."


Embusan napas kasar terdengar dari bibir Alex saat ini dan ia kini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Sepuluh menit kemudian ia berjalan keluar menuju ke ruangan kelas untuk mengajar.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, di dalam kelasnya, Alex beberapa kali mencuri pandang pada Alesha. Pria itu masih memikirkan siapa wanita yang berhasil membuatnya terus berpikir?


Kelas berlangsung seperti biasa, tetapi saat mata kuliah hampir saja selesai, Alex meminta Alesha untuk membantunya membawa beberapa buku milik mahasiswanya ke ruang kerja yang ada di gedung dosen.


Tidak bisa menolak, Alesha hanya mengikuti keinginan Alex.


“Letakkan saja di atas meja,” ujar Alex sembari menutup pintu dan menguncinya.


Aksi Alex membuat Alesha takut, hingga degup jantung tidak beraturan saat ini. Wanita itu mengambil langkah mundur dan memberi peringatan pada Alex.


“Jangan mendekat, Pak. Saya ini mahasiswi Anda.” Ucapan Alesha terbata karena gugup.


Perasaannya begitu gelisah. Bagaimana jika Alex berhasil mengingat siapa dirinya di masa lalu? Apa yang harus dijelaskan Alesha pada Rafael?"


“Alesha, jujurlah. Siapa kamu sebenarnya? Aku sungguh tidak bisa membiarkan pikiran ini tidak tenang.”


“Apa yang membuat Bapak begitu yakin? Bukankah sudah saya katakan, bukan seseorang dari masa lalu Anda. Jadi, lepaskan saya!"


Cepat katakan padaku! Siapa kamu?”


“Tidak, Pak. Saya sungguh bukan ....“


Belum selesai Alesha menjelaskan, tubuhnya ditarik dan Alex menciumnya dengan kasar.


Alex yang selalu teringat pada kejadian di rumah sakit, tidak bisa menjelaskan pada diri sendiri, kenapa ia merasa marah melihat Alesha dicium oleh Rafael dan diam saja. Hal itulah yang memicu untuk melakukan hal segila ini.


Beberapa kali Alex menggigit bibir bawah wanita itu, tetapi masih saja tidak ada balasan untuk ciumannya.


Sementara kedua tangan Alesha berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan pria itu.


Alex berhasil meloloskan lidahnya untuk menyusuri deretan gigi yang rapi itu.


Alesha benar-benar sangat shock dan seperti menghadapi sosok orang lain. Bukan Alex yang dikenal sangat dingin dan tidak pernah menyentuhnya.


Cukup lama ciuman itu berlangsung dan akhirnya Alesha terdiam dengan air mata yang menggenang. Alex mencegah air mata yang membasahi wajah cantik itu.


“Maafkan aku.”


Alex menyesali perbuatannya, tetapi sama sekali tidak bisa menarik diri. Ia bahkan ini sudah meraih tubuh Alesha sekali lagi dan sama sekali tidak ada perlawanan.


Alesha bahkan menyerahkan tubuhnya untuk bisa berada dalam pelukan pria itu.


“Alesha, bisakah kamu jujur sekarang?”


Alex kembali memastikan bahwa perasaannya benar nyata pada wanita di pelukannya.


“Alex, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu jadi seperti ini?"


Akhirnya, ada rasa yang melegakan, seakan rasa sesak di dada Alex sembuh begitu saja mendengar panggilan intim itu. Alex kembali menenggelamkan tubuh Alesha dalam pelukannya.


“Kita duduk di sana. Kamu bisa jelaskan padaku apa yang terjadi di antara kita?”


Alesha terlihat ragu, ia tidak bisa mengatur hatinya yang terus berkecamuk dengan sikap ibu Alex pada masa lalu.


“Aku hanyalah seorang pengganggu. Aku hanya seorang gadis yang memintamu untuk memberikan apapun yang kuinginkan, saat itu. Awalnya aku memanfaatkanmu untuk mengisi dompetku. Membuatku bisa membeli apapun yang aku inginkan.


Alex masih terdiam, mencoba mencerna apa yang sedang dijelaskan Alesha padanya.


“Alex, entah apakah ini cinta atau hanya perasaan memiliki. Saat itu, aku tidak ingin melepaskanmu. Aku ingin lebih dari itu, tapi hubungan kita membuat seseorang marah dan terluka."


"Apalagi kamu mengalami kejadian itu. Aku tidak ingin semakin menyakitimu, sehingga memutuskan untuk pergi.”

__ADS_1


“Jadi, benar kita pernah mengenal? Pantas saja perasaanku sangat kuat padamu.”


“Kamu sudah mendapatkan jawabannya. Sekarang lepaskan aku, Alex. Aku harus pulang."


“Tidak! Setidaknya kita bisa dekat jika berada di kampus. Apa kamu tidak ingin menemaniku seperti dulu?”


“Alex, hubungan kita sudah berakhir. Aku tidak bisa terus berada di dekatmu.”


“Kenapa? Aku sama sekali tidak memperdulikan itu. Biarkan aku tetap dekat denganmu, meski kamu adalah calon istri pria itu. Apa dia tahu tentang masa lalu kita?"


Alesha sungguh tidak menyangka jika Alex akan berbuat nekat. Pria itu sungguh membuatnya semakin bingung dan merasa bersalah pada Rafael.


Wanita itu menggeleng beberapa kali, menepis apa yang menjadi keinginan pria di depannya saat ini.


Alesha tidak ingin kembali mengulas masa lalu yang sudah ia lupakan. Kembali berurusan dengan wanita tua yang tak lain adalah ibu Alex, akan membuatnya dalam bahaya.


Tidak, bukan hanya Alesha, sang ibu juga akan terancam jika ia bermain api.


“Alex, aku tidak bisa. Mengertilah! Aku milik pria lain. Aku tidak ingin masa lalu itu terulang kembali.”


“Kamu sungguh pandai bermain sandiwara, Alesha. Seperti inikah kamu membalas kebaikanku dulu?”


“Alex, ini bukan masalah kebaikan atau balas budi. Ini tentang kehidupan yang aku alami. Aku hanya tidak ingin kembali masuk dalam lubang yang sama.”


“Baiklah, aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Sebagai bahan pertimbangan, selama kita menjalin hubungan, aku akan tetap memberikan apa yang kamu inginkan. Di sisi lain, kamu juga akan mendapatkan dari Rafael."


Alesha terdiam mendengarkan tawaran dari Alex. Sungguh pria itu sangat pandai membuatnya melambung tinggi.


“Entahlah, aku harus pergi sekarang. Tasku tertinggal di kelas. Rafael pasti khawatir jika aku tidak segera menerima telpon atau membalas pesannya.”


“Alesha, aku tidak akan menyerah sampai di sini. Kamu sudah membuatku terus memikirkanmu, sekarang kamu harus bertanggung jawab.”


Aeleasha hanya menatap sekilas pada pria itu, lalu membuka pintu dan menghilang dari sana.


***


Aeleasha masih mengatur degup jantungnya yang tidak bisa normal sejak pertemuannya dengan Alex di kampus. Saat ini, ia sudah di rumah sakit dan menunggu sang ibu.


Aeleasha tampak memikirkan tawaran dari Alex. Cukup menggiurkan, tetapi ia tidak bisa melakukannya saat telah terikat kontrak dengan Rafael.


Lamunan Aeleasha seketika terhenti saat melihat siapa yang muncul dari balik pintu ruangan perawatan sang ibu.


“Ada apa? Kau seperti tengah banyak beban pikiran," tanya Rafael dengan wajah datar ketika melihat wajah murung Aeleasha.


Sementara itu, Aeleasha berakting tidak terjadi apapun dengan menggelengkan kepala. "Ada apa? Tidak ada apa-apa."


“Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa terjadi sesuatu di kampus? Aku tahu ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan karena itu jelas terlihat dari wajahmu." Rafael yang merasa curiga, ingin membuat Alesha berbicara jujur.


Sekali lagi, jantung Aeleasha seakan tertembak tepat di sana. Membuatnya canggung hingga tampak memikirkan suatu alasan yang tepat.


“Tidak ada. Hanya saja, tugas kuliahku sungguh membuat lelah. Sepertinya aku akan begadang malam ini.”


Mendengar pengakuan Aeleasha, Rafael berjalan mendekat, lalu berkata akan menemaninya hingga tugas itu selesai.


“Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri. Bukankah kamu besok harus bekerja? Lebih baik kamu pulang dan istirahat di rumah."


“Tidak masalah, kondisi tubuhku dalam stamina yang bagus." Rafael yang tadi baru pulang dari perusahaan, memang memilih untuk mampir ke rumah sakit dan berniat untuk menemani Aeleasha di sana.


Ia yang ingin wajahnya segar, kini memilih masuk ke kamar mandi di ruangan perawatan ibu Alesha.


Sementara itu, Alesha yang beberapa saat lalu melihat punggung lebar Rafael menghilang di balik pintu, kini mendengar ponselnya berdering dan di sana terlihat nama Alex yang menghubungi.

__ADS_1


'Astaga! Kenapa dia muncul di saat yang tidak tepat?' lirih Alesha yang merasa jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal karena takut jika Rafael mengetahui Alex menghubungi.


To be continued....


__ADS_2