
Satu bulan telah berlalu dan Alesha kini sudah melewati trimester pertama. Ia sudah tidak lagi muntah-muntah seperti awal-awal kehamilannya. Bahkan sang suami belum pernah sekalipun menyentuhnya semenjak di rumahnya dulu.
Ia merasa kasihan pada suami yang selama ini menahan diri untuk tidak menggaulinya demi kebaikan calon anak mereka. Namun, karena ia merasa keadaannya sudah baik-baik saja sekarang, berniat untuk menawarkan diri.
Tentunya ia takut jika suami menyalurkan gairah pada wanita lain dan tidak ingin apa yang dikhawatirkan oleh sang ibu terjadi. Beberapa saat kemudian, ia melihat sang suami baru keluar dari kamar mandi.
Pria yang menurutnya semakin tampan itu baru pulang kerja pukul 8 malam karena lembur. Namun, ia curiga jika suaminya hanya menipunya dan pergi bersama wanita lain.
Meskipun ia sudah tidak khawatir pada Aealeasha yang kembali ke New York dan hidup bahagia bersama suami, tetap saja merasa takut jika Rafael yang tidak pernah menyalurkan hasrat padanya memiliki wanita simpanan.
"Sayang, kamu benar-benar lembur, kan?" Alesha kini menatap penuh kecurigaan dan berharap pria dengan rambut basah yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang tersebut berbicara jujur.
Ia ingin melihat kejujuran di netra pekat pria yang kini mendaratkan tubuh di atas ranjang sebelahnya. Bahkan ia pun mengulurkan piyama senada dengan yang dikenakannya agar segera dipakai.
Karena ia merasa matanya selalu ternodai melihat tubuh dengan cetakan otot perut di hadapannya. Rasanya sekarang ingin menggerakkan tangan untuk merabanya, tapi malu melakukan itu. Jadi, ia berusaha untuk menahan diri.
Rafael yang kini menerima piyama dari tangan sang istri, kini tidak langsung memakainya karena menatap wanita yang terlihat penuh dengan sorot pertanyaan.
__ADS_1
"Apa kamu kembali curiga aku berbohong padamu? Apa ini salah satu bentuk cemburu yang bisa diartikan cinta?" Kemudian ia langsung melingkarkan tangannya untuk memeluk perut yang sudah ada benjolan kecil di sana.
Bahkan kini mengusapnya beberapa kali. "Kenapa perutmu tidak besar-besar, Sayang. Aku ingin anak kita segera keluar. Agar aku bebas bercinta denganmu. Aah ... rasanya sangat menyiksa, Sayang."
Embusan napas beraroma mint dari pria yang mendekapnya erat itu bisa dirasakan oleh Alesha saat ini. Kebetulan ia memang berencana untuk mengatakan jika saat ini sudah merasa lebih baik.
'Apa aku katakan saja sekarang? Tapi aku malu,' gumam Alesha yang saat ini menelan saliva dengan kasar untuk menormalkan perasaannya. Akhirnya ia mengatakan apa yang dirasakan selama ini.
"Aku khawatir kamu mempunyai wanita simpanan yang selama ini menjadi tempat penyaluran ***-mu. Kamu tidak melakukannya, kan?" Alesha menatap penuh curiga pada pria yang kini melepaskan tangannya.
"Astaghfirullah!" Rafael mengusap dadanya karena merasa sangat terkejut dengan pemikiran buruk sang istri.
Rafael saat ini bangkit berdiri dan berniat untuk memakai piyama, tapi tidak jadi melakukannya saat tiba-tiba handuk yang melingkar di pinggangnya tiba-tiba ditarik oleh sang istri yang tersenyum mengejek padanya.
"Benarkah? Kamu ingin bercinta hanya denganku?" Alesha yang tadinya merasa sangat bahagia karena mendengar kejujuran dari sang suami, merasa gemas dan refleks melakukan hal yang membuat tubuh suaminya polos.
Bahkan kali ini sudah tidak merasa malu lagi dan membuatnya tertawa melihat raut wajah terkejut dari sang suami.
__ADS_1
"Sayang, jangan nakal! Aku tidak akan bisa menahan diri jika sampai kamu macam-macam." Rafael berniat untuk memakai celana, tapi malah ditarik dan dibuang oleh sang istri.
"Tapi hari ini aku mau macam-macam, Sayang. Lagipula buat apa kamu menahan diri saat aku dan anakmu sudah baik-baik saja. Tadi siang aku pergi ke dokter sama ibu dan mama. Kata dokter, bayi kita sekarang sangat sehat. Bagaimana menurutmu?"
Saat Alesha baru saja menutup mulut, ia sangat terkejut begitu tiba-tiba mendapat serangan tiba-tiba dari sang suami yang langsung membungkuk dan menciumnya.
Tentu saja ia langsung melingkarkan tangannya di balik leher sang suami yang telah menguasai bibirnya karena memang ini yang dari tadi diinginkan. Bahwa tidak ingin sang suami menyalurkan hasrat pada wanita lain saat ia hamil.
Ia yang mengerjap beberapa kali, kini memilih untuk memejamkan mata dan menikmati ciuman memabukkan yang membuat aliran darah mengalir begitu cepat dan menimbulkan urat syaraf menegang.
Sensasi memabukkan yang membuat Alesha terlena dan tidak bisa menolak setiap sentuhan dan belaian intim dari pria yang telah membuat ia melupakan semua.
Rafael tadinya tersenyum smirk sambil dan merasa sangat senang sekaligus bahagia mendengar kabar bahagia dari sang istri. Jadi, tidak banyak bicara langsung membelai intim setiap inchi tubuh yang berada dalam kuasanya tersebut.
Ia pun mulai menyesap dan mengeksplore bibir hingga rongga dalam mulut tersebut yang membuatnya merasakan sensasi berbeda.
Rafael menikmati sari kemanisan bibir sensual yang kini menjadi candu, sama sekali tidak tinggal diam karena tangan kanannya sudah sibuk untuk merangkum dua benda padat yang membusung di hadapannya.
__ADS_1
Tentu saja karena secepat kilat tadi ia sudah membuka hingga membuat bagian atas tubuh dengan kulit putih itu terpampang nyata di hadapannya.
To be continued...