
Awalnya Rafael ingin berbohong dengan menyembunyikan bahwa mantan istrinya saat ini ada di Jakarta dan sedang mengalami masalah dengan sang suami, sehingga ia menolongnya.
Namun, karena mengerti bahwa Alesha tadi mendengar perkataannya, sehingga saat ini berpikir bahwa wanita di hadapannya tersebut pasti tidak akan percaya dengan kebohongan yang dilakukan.
Karena merasa tidak ada pilihan lain, akhirnya Rafael menceritakan semua hal yang selama ini dilakukan pada mantan istrinya.
"Jadi, seperti itu ceritanya dan pasti semua orang akan melakukan hal yang sama sepertiku, kan? Apalagi aku bukanlah seorang pria berengsek yang dendam pada mantan istri karena tidak mencintaiku."
Saat ini, Alesha tidak langsung menjawab karena sibuk menenangkan perasaan yang membuncah begitu mengetahui kenyataan pahit itu. Ia bahkan merasa lidahnya keluh dan suara tercekat di tenggorokan, sehingga seperti orang bisu yang kehilangan suara.
'Lalu, bagaimana dengan nasibku sekarang? Apakah kau akan selamanya bersikap baik pada mantan istrimu dan berlaku sebaliknya padaku? Apakah setelah kita bercerai, kau akan pura-pura tidak mengenaliku?' gumam Alesha yang hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati karena tidak bisa mengatakan semua itu pada pria yang hanya memikirkan mantan istri.
Ia sadar bahwa selama ini Rafael tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya meskipun sudah beberapa kali menciumnya tanpa izin.
Alesha berpikir tidak boleh lemah di hadapan seorang Rafael hanya karena pernah menyerahkan tubuhnya di malam pengantin ketika pria itu sedang dikuasai oleh alkohol.
'Rafael tidak akan pernah melakukan itu saat sadar karena sama sekali tidak mencintaiku. Jadi, aku harus melupakan semua itu dan fokus pada hidupku sendiri tanpa memperdulikan apa yang dilakukan oleh pria yang bahkan sebentar lagi akan menceraikanku.'
Rafael yang dari tadi menunggu komentar Alesha, tapi wanita di hadapannya tersebut hanya diam seolah memikirkan sesuatu.
"Kenapa kamu malah melamun? Apa yang saat ini sedang kamu pikirkan?" tanya Rafael dengan memicingkan mata dan ingin mendengar jawaban dari wanita yang terlihat dipenuhi beban berat karena memikirkan sesuatu.
Bahkan untuk menghembuskan napas kasar pun tidak bisa dilakukan oleh Alesha karena harus berpura-pura menjadi seorang wanita yang tidak peduli atas apapun yang dilakukan oleh pria dengan paras rupawan dan membuatnya merasakan getaran aneh di sanubari.
Alesha saat ini memilih untuk menggeleng perlahan agar pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut tidak curiga atas apa yang dirasakan olehnya.
"Aku hanya sedang memikirkan nasib mantan istrimu yang malang. Lalu, Apa rencanamu untuknya?" Alesha bahkan seolah tidak mengerti bagaimana bisa ia sangat tenang dan bertanya hal yang membuatnya sakit.
__ADS_1
Tentu saja ia sebenarnya menyadari bahwa semua itu karena rasa penasaran mengenai nasibnya setelah Rafael melakukan sesuatu pada mantan istri.
Hingga bibirnya terkatup rapat dengan wajah menahan rasa kecewa begitu ia mendengar keputusan Rafael.
"Jika suatu saat nanti mereka bercerai, aku berharap bisa kembali pada mantan istriku dan hidup berbahagia tanpa ada bayang-bayang Arsenio. Lagipula kita menikah berdasarkan perjanjian semata dan dua minggu lagi akan bercerai."
Rafael saat ini menghentikan perkataannya dan menatap ekspresi wajah sosok wanita dengan rambut tergerai panjang di bawah bahu yang terlihat sangat tenang itu.
'Apa reaksinya saat aku mengatakan ini?' gumam Rafael yang sebenarnya tengah menatap intens wajah sosok wanita yang terlihat sangat tenang.
"Iya, kamu benar," sahut Alesha lirih dengan perasaan berkecamuk dan tentu saja tengah menahan rasa sakit ketika memikirkan nasibnya benar-benar akan berakhir dua minggu ke depan.
"Setelah sah bercerai, kita jalan hidup masing-masing dan semoga kau hidup bahagia bersama mantan istrimu. Semoga Aealeasha bisa melihat ketulusanmu dan akhirnya mencintaimu."
Alesha seolah tengah berbicara pada diri sendiri karena posisinya sama dengan Rafael yang mencintai sepihak tanpa mendapatkan sebuah balasan.
Karena tidak ingin semakin sakit hati mendengar rencana Rafael pada mantan istrinya, Alesha bangkit berdiri dari sofa dan menepuk pundak pria yang terlihat sangat kelelahan itu.
Alesha berpura-pura menguap agar terlihat meyakinkan dan berbalik badan menuju ke arah ranjang. Jika tadinya berniat untuk menyuruh Rafael tidur di ranjang dan ia disofa, kini berubah pikiran karena merasa sangat marah pada pria itu.
Jadi, membiarkan Rafael tidur di sofa seperti biasanya dan ia merasakan kenyamanan tidur di atas ranjang king size pria itu.
'Sial! Kenapa rasanya sangat sesakit ini? Awalnya aku mengira jika Rafael memiliki sedikit perasaan karena pernah menciumku. Ternyata kenyataannya hanya akulah yang baper atas semua perbuatannya.'
'Dasar bodoh!' sarkas Alesha di dalam hati dengan bola mata sudah berkaca-kaca dan memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk tersebut.
Saat ia ingin segera tidur, tapi tidak seperti yang diharapkan karena mendengar suara bariton dari Rafael.
__ADS_1
"Kamu tidak berpikir aku dulu menciummu karena memiliki perasaan padamu, bukan? Karena aku merasa bersalah semenjak hari itu." Rafael yang tadinya hanya melihat siluet wanita yang berjalan ke arah ranjang tersebut.
Ia ingin mengetahui apa yang dirasakan seorang wanita yang pernah diciumnya. "Entah mengapa saat aku kesal padamu karena memancing amarahku, refleks melakukan itu padamu."
"Mungkin jika kamu laki-laki, sudah membuatmu babak belur. Mungkin itulah perbedaan perlakuan seorang pria pada wanita ketika sangat marah."
Masih tidak mengalihkan pandangan dari Alesha yang tengah memunggunginya, Rafael benar-benar ingin tahu bagaimana perasaan wanita yang pernah diciumnya.
Bahkan ia hampir saja melakukan hal yang lebih jika saat itu mertuanya tidak datang. Saat mengingat kejadian itu, Rafael tidak tahu harus berbuat apa jika sampai melakukan perbuatan layaknya pasangan suami istri.
'Mungkin semuanya akan semakin bertambah rumit karena aku ingin kembali pada Aealeasha jika nanti benar-benar tercapai dengan Arsenio.'
Sementara itu, saat ini Alesha hanya bisa meremas kedua sisi pakaian di bawah selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya.
Dengan sekuat tenaga menahan agar tidak menangis dan suaranya berubah serak, Alesha kini membuka suara. "Dasar bodoh! Aku sama sekali tidak memikirkan itu karena tahu bahwa kau sedang marah padaku."
"Aku malah merasa sangat senang jika kita segera bercerai dan aku bisa kembali pada Alex. Sepertinya kau lupa bawa aku sangat mencintai Alex dan berjanji akan kembali menjadi hubungan setelah bercerai."
Saat mendengar jawaban tersebut, Rafael mendadak merasa sangat kesal dan mengepalkan tangannya. Namun, ia tidak ingin berbicara hal lain saat dikuasai oleh amarah.
Bahkan ia sendiri pun tidak tahu kenapa harus marah saat Alesha meyebut nama Alex, apalagi berbicara dengan penuh percaya diri akan kembali pada sang kekasih.
"Baguslah kalau begitu. Jadi aku tidak akan merasa bersalah padamu karena kita impas! Aku sangat mengantuk dan mau tidur!"
"Sama, aku juga sudah sangat mengantuk. Aku jadi tidak sabar untuk segera bercerai denganmu. Jadi, kau kembali pada mantan istri, aku kembali pada kekasihku."
Saat tadinya ia berpikir akan mendapatkan respon ketika mengatakan hal itu, tapi tidak terjadi, karena hanya keheningan yang terjadi, sehingga kini tenggelam dalam kesedihan seorang diri.
__ADS_1
Bahkan bulir air mata mulai membasahi wajahnya dan sama sekali tidak diperdulikan. Alesha yang kini hanya memejamkan mata, berharap bisa segera tidur dan tidak lagi memikirkan Rafael
To be continued...