
Pagi-pagi sekali Aeleasha sudah bangun dan memandikan Arza. Tentu saja ia harus mengejar waktu karena penerbangan jam satu siang. Willy kemarin langsung membelikan tiket dan lebih mudah pergi ketika sang suami tidak pulang lagi.
Kemudian menyuruh supir untuk mengantarkan ke Mall dengan alasan belanja. Padahal nanti akan berangkat ke bandara dari sana.
Tanpa merasa curiga sama sekali, sang supir mengantarkan majikannya tersebut.
Selama di dalam mobil, Aeleasha tak berhenti berdoa agar hari ini bisa ke Jakarta tanpa ada yang menghalangi.
'Semoga tidak ada yang tahu saat aku pergi tanpa mengatakan apapun pada pelayan.'
Aeleasha memeluk erat Arza yang saat ini terlihat tengah menikmati roti coklat kesukaannya.
Setelah dua puluh menit berlalu, mobil mewah tersebut sudah tiba di Mall.
"Kau tunggu saja di mobil. Aku ingin fokus menemani putraku bermain di area permainan."
Aeleasha menatap tajam supir yang berniat untuk mengikuti. Tak lupa mengeluarkan jurus omelan.
Akhirnya karena tidak mau membuat kesal majikannya itu, supir mulai menuruti perintah dari wanita paling berpengaruh tersebut.
"Baiklah, Nyonya. Kalau begitu, saya akan berjaga di depan," ucap sang supir yang membungkuk hormat setelah membuka pintu.
Beberapa saat berjalan masuk ke dalam Mall, Aeleasha menutup mulut, ia merasakan perutnya seperti diaduk-aduk dan refleks bangkit dari posisinya yang duduk dan berlari ke arah toilet. Nasib baik toilet tidak begitu jauh dari tempat ia berjalan, sehingga dengan mudah langsung memuntahkan seluruh isi perutnya di sana.
Aeleasha pergi ke toilet sebentar dengan membekap mulutnya karena tidak ingin muntah sembarangan dan membuat orang yang melihatnya jijik.
Suara Aeleasha yang muntah-muntah di toilet memenuhi ruangan sempit itu.
Saat ini, ia sudah sangat lemas setelah selesai muntah-muntah dan membuatnya tidak bisa berdiri terlalu lama, sehingga memutuskan untuk berjongkok di depan closet sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Ada apa denganku? Padahal kemarin setelah minum obat, aku baik-baik saja. Kenapa sekarang tiba-tiba muntah-muntah?"
Aeleasha yang masih belum bangkit dari posisinya, terdiam sejenak dan menguatkan diri agar bisa bangkit berdiri dan segera keluar dari toilet.
__ADS_1
Namun, rasa pusing semakin merajai kepalanya dan membuat ia tidak bisa berdiri, sehingga memilih diam sejenak karena takut jika sampai jatuh di kamar mandi.
Hingga ia mengingat sesuatu dan refleks langsung menggeleng perlahan untuk tidak menerima pemikiran yang baru saja terlintas.
"Tidak!"
Berkali-kali Aeleasha menggelengkan kepalanya karena saat ini sangat ketakutan jika yang dipikirkan terjadi. Ia saat ini seperti mengalami Dejavu dan mengulang masa lalu.
"Aku tidak hamil, kan?"
Wajah Aeleasha saat ini terlihat sangat pucat setelah memuntahkan seluruh isi perutnya. Saat ia dikuasai oleh berbagai macam ketakutan saat berpikir jika hamil benih suaminya karena memang sedang program anak kedua, tetapi sama sekali tidak pernah menyangka jika akan terjadi hal yang buruk dalam rumah tangga mereka.
Saat Aeleasha belum selesai dengan kekhawatiran dan ketakutan yang dirasakan, ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya. Refleks ia mengambil benda pipih itu dari dalam tas selempang miliknya.
Kemudian membaca pesan yang tak lain dari salah satu istri rekan bisnis sang suami.
Bagaimana keadaan suamimu? Kalian baik-baik saja, kan? Kamu pasti sangat shock dengan kabar yang beredar di media sosial, mengenai suamimu, kan? Jika butuh teman bercerita, aku siap untuk menjadi pendengar yang baik.
Aeleasha saat ini mengerutkan kening karena merasa aneh dengan pesan dari istri rekan bisnis suaminya yang memang pernah beberapa kali berkirim pesan padanya.
Saat Aeleasha kembali membaca pesan itu, ia mengerti jika ada yang bisa dicari informasi, sehingga langsung membuka media sosial mengenai nama sang suami.
Hingga ia seketika membulatkan mata begitu melihat kabar di media sosial mengenai sang suami dan refleks bulir kesedihan sudah berhasil memenuhi bola matanya.
Bahkan ia saat ini membekap mulut begitu air mata sudah menganak sungai di wajahnya karena lolos tanpa seizinnya. Aeleasha kini sudah menangis tanpa suara karena tengah membekap mulutnya agar tidak terdengar dari luar suara tangisan menyayat hati yang mengungkapkan perasaan terluka saat ini.
'Jadi ini alasannya? Aku tidak pernah berpikir bahwa hubungan kita akan berakhir sampai di sini,' gumam Aeleasha yang saat ini masih tidak bisa menghentikan laju air mata yang semakin menganak sungai di pipi putihnya.
Aeleasha kini membaca berita mengenai suaminya yang ramai di media sosial. Apalagi saat ini air mata tidak berhenti menganak sungai di wajahnya kala melihat judul artikel di sana.
Dengan suara menyayat hati, ia bahkan membacanya, meskipun dalam hati merasa sangat hancur perasaannya.
"Seorang pengusaha sukses bernama Arsenio Giovanni Adelardo memiliki affair dengan seorang wanita tidak dikenal publik dan melakukan hubungan terlarang di sebuah hotel bintang lima."
__ADS_1
Aeleasha yang sudah tidak kuasa menahan kesedihannya, kembali membekap mulut agar suara tangisannya tidak terdengar dari luar. Ia merasa hancur begitu membaca artikel mengenai sang suami dengan foto-foto tidak pantas terlihat di sana.
Foto di mana sang suami yang sangat ia percaya dan cintai melebihi apapun ternyata berselingkuh dengan wanita lain.
Aeleasha tidak kuasa melihat lebih lama foto-foto Arsenio berada di atas ranjang dengan seorang wanita dalam keadaan telanjang dan membuatnya memegangi dada yang terasa sangat sesak.
Foto-foto itu menunjukkan jika Arsenio berada di bawah, sedangkan sang wanita berada di atas dengan berciuman. Meskipun tidak jelas dari depan, tapi dari samping bisa dihafal oleh Aeleasha jika itu memang benar adalah suaminya.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka jika hatinya akan kembali terluka untuk kedua kali saat dalam keadaan hamil.
Sebagai seorang wanita yang sudah berpengalaman karena pernah hamil, pastinya ia mengetahui jika salah satu tanda kehamilan adalah terlambat menstruasi dan juga mual muntah.
Hal itulah yang membuatnya merasa sangat yakin jika ia saat ini benar-benar sedang dalam keadaan mengandung.
Aeleasha saat ini memilih untuk mematikan ponsel dan memasukkan ke dalam tas selempang miliknya. Ia kini menunduk dan mengusap perutnya yang masih datar.
"Kenapa kamu hadir saat rumah tangga kami hancur seperti ini? Apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana dengan nasibmu saat perasaanku hancur seperti ini?"
Entah sudah berapa lama menangis tersedu-sedu di dalam toilet. Kemudian mengusap kasar bulir air mata di wajah, kini berusaha menormalkan perasaannya dan juga suara agar tidak terdengar serak.
Tentu saja efek menangis tersedu-sedu, membuat suaranya terdengar berbeda dari normal, sehingga berdehem sejenak dan kemudian baru menjawab.
Hanya keheningan yang kembali menemani perasaan Aeleasha yang telah hancur berkeping-keping.
Ibarat sebuah kaca, kini telah hancur dan tidak mungkin bisa disatukan kembali. Aeleasha tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan karena ia mengingat harus mengejar waktu untuk pergi ke Bandara.
Ia kini bangkit berdiri dari posisinya yang awalnya berjongkok dan langsung mencuci muka agar tidak terlihat jelas jika ia baru saja menangis tersedu-sedu.
Beberapa saat kemudian, ia mengambil napas teratur dan berusaha menormalkan perasaannya.
"Kamu adalah wanita kuat. Semua ini demi Arza dan juga jika benar hamil, harus berjuang demi dua anakku." Menatap ke arah putranya yang masih diam di sebelahnya.
Kemudian Aeleasha membuka pintu setelah perasaannya sedikit membaik dan berjalan melanjutkan rencana yang sudah disusun.
__ADS_1
Akhirnya setelah satu jam berlalu, Aeleasha kini telah berada di Bandara. Ia mulai berjalan untuk check in dan berharap bisa segera kembali ke Jakarta.
To be continued...