I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menikahlah denganku


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam menuju ke restoran kini taksi yang membawa dua wanita cantik itu sudah tiba di salah satu tempat makan paling populer di kalangan anak muda.


Tempat itu adalah restoran favorit Alesha karena dulu sangat suka pergi ke sana dengan Alex. Selain tempatnya yang sangat cantik karena sering digunakan untuk para anak muda maupun dewasa berkencan, makanan di sana pun juga sangat enak dan sangat disukai oleh Alesha.


Kini, Alesha langsung turun dari mobil setelah cipika-cipiki dengan sahabatnya. Bahkan Aila untuk terakhir kalinya memberikan semangat pada sahabatnya sebelum keluar dari mobil.


"Semoga semuanya berjalan lancar dan telpon aku sudahlah kamu pulang ke rumah."


"Oke. Terima kasih." Alesha beranjak dari kursi penumpang dan melambaikan tangan pada sahabatnya, lalu melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah restoran.


Dengan perasaan berkecamuk dan dekuk jantung berdebar kencang, Alesha saat ini benar-benar merasa sangat gugup karena jujur saja ia sebenarnya paling tidak suka dengan momen perpisahan.


Ia sangat tahu bagaimana rasa sakitnya dan sekarang akan menyakiti hati pria yang tulus mencintainya. Embusan napas kasar terdengar sangat jelas hari ini dan mewakili perasaan alesha yang gugup saat akan bertemu dengan mantan pria yang dicintai.


Saat melangkah masuk ke dalam restoran, seorang waiters menyapanya dan ia langsung menyebutkan nama Alex karena ingin tahu di mana tempat yang di-booking malam ini.


"Mari, ikut saya, Nona. Saya akan mengantarkan Anda menangis tuan Alex yang sudah datang menunggu di private room." Waiters wanita tersebut tersenyum saat mempersilahkan kamu restoran agar mengikutinya berjalan menuju ke arah ruangan yang ada di bagian paling dalam.


Sementara Alesha mengedarkan pandangan ke sekeliling karena hari ini tidak terlalu ramai pengunjung restoran dan ia melangkahkan kaki dengan berjalan mengekor di belakang wanita berseragam hitam tersebut dengan perasaan berkecamuk.


Setelah diberi salah satu ruangan dengan pintu berwarna kecoklatan, wanita berseragam hitam tersebut segera mengetuk pintu di hadapannya. Kemudian beralih menatap ke arah wanita dengan penampilan sangat cantik itu.


"Silakan masuk, Nona. Tuan Alex sudah menunggu Anda."


"Terima kasih." Alesha saat ini tersenyum simpul dan langsung menggeser pintu di hadapannya.


Saat ia melangkah masuk ke dalam ruangan yang cukup luas, terlihat seorang pria berpenampilan sangat rapi dengan memakai setelan jas warna hitam dan dasi kupu-kupu yang membuat seorang Alex menjadi sangat tampan.


Alesha melihat seulas senyuman terbit dari sudut bibir pria yang seketika bangkit berdiri dari kursi dan berjalan mendekat.


"Selamat datang, Sayang." Alex yang dari tadi menunggu dengan perasaan tidak karuan karena khawatir jika wanita yang sangat dicintainya tidak datang dan berubah pikiran.


Hingga ia merasa sangat lega sekaligus bahagia begitu melihat sosok wanita yang ditunggunya, saat ini sudah berada di hadapannya. Refleks ia langsung menghambur memeluk wanita yang sangat dirindukan.


"Aaah ... aku sangat merindukanmu, Sayang. Akhirnya aku bisa kembali bertemu denganmu setelah tersiksa selama satu bulan lamanya." Alex berbinar wajahnya karena merasa penantiannya selama satu bulan tidak sia-sia.


"Aku mengenal diri selama satu bulan untuk tidak menghubungimu. Padahal sebenarnya merasa sangat tersiksa karena sangat merindukanmu, Sayang." Alex yang sangat menantikan momen hari ini, seolah tidak ingin melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Ia sangat takut jika wanita yang dicintai tidak datang, sehingga sekarang tidak ingin melepaskan wanita yang sudah berada di pelukannya.


"Mulai sekarang, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Kita akan selalu bahagia hidup bersama selamanya." Alex melepaskan semua kerinduan dan perasaan mengguncang yang bergejolak.


Sementara itu, Alesha yang dari tadi hanya diam saja karena saat ini dihantui perasaan bersalah pada pria yang memeluknya erat. Awalnya ia hanya membiarkan pria itu memeluknya karena berpikir sebagai salam perpisahan.


Namun, lama-kelamaan merasa tidak tega pada pria itu, sehingga saat ini mengangkat tangan untuk mengusap lembut punggung lebar pria yang seolah tidak ingin melepaskannya.


"Kamu pasti sangat mencintaiku, sehingga sampai tidak mau melepaskan pelukan." Alesha ingin mengulur waktu sebentar dan berpikir bahwa ia harus merayakan ulang tahun Alex terlebih dahulu.


'Maafkan aku karena sebentar lagi akan menghancurkan harapanmu,' gumam Alesha yang saat ini merasakan pelukan pria itu melonggar dan menarik diri agar bisa menatapnya dengan intens.


Alex merasa kesal karena mendapat pertanyaan konyol dari wanita yang sangat dicintai. "Apakah semua bukti yang menunjukkan padamu masih belum cukup untuk meyakinkanmu bahwa aku sangat mencintaimu?"


Refleks Alesha mengulas senyuman dan terkekeh geli dengan pertanyaan pria di hadapannya saat menatap tajam, seolah mengungkapkan kekesalan.


"Bukan. Aku hanya merasa bahwa mantan sugar daddy-ku yang dulu sangat cuek dan dingin padaku, tiba-tiba berubah menjadi seorang pria bucin. Rasanya sangat lucu melihatmu lebih seperti ini."


"Padahal aku dulu sangat penasaran dengan mantan istrimu. Bagaimana bisa mencintai pria dingin dan datar yang bahkan tidak pernah memperlihatkan sifat romantis karena selalu cuek pada wanita. Namun, sekarang ternyata aku sudah mengerti kenapa istrimu sangat mencintaimu dulu."


Alex langsung menarik pergelangan tangan Alesha karena tidak ingin membuat wanita yang dicintai kelelahan berdiri terlalu lama. Kemudian menarik kursi agar Alesha duduk di sana.


Alex kini duduk di hadapan wanita yang terlihat sangat cantik itu. Ia bahkan saat ini ingin memanjakan mata untuk memuaskan indra penglihatan karena sangat merindukan Alesha.


Alesha sebenarnya merasa risi ketika pria yang duduk di hadapannya menata tanpa berkedip, seolah sangat mengagumi wajahnya yang tadi hanya memakai riasan tipis semata agar tidak pucat.


"Maafkan aku karena malah mengungkit istrimu yang sudah meninggal. Aku tadi keceplosan mengatakannya." Alesha ingin mengetahui kejutan apa yang dimaksud oleh Alex, tapi sekaligus tidak ingin menyakiti pria itu jika merusak kejutan saat mengungkapkan perasaannya.


Alex menggelengkan kepala serta mengibaskan tangan agar tidak membuat wanita cantik di hadapannya tersebut merasa bersalah.


"Lupakan saja karena itu tidak penting! Hari ini, aku sudah membuat kejutan untukmu dan pasti kamu sangat menyukainya." Alex harus saja menutup mulut dan mendengar suara pintu yang diketik dari luar serta beberapa saat kemudian terlihat ada dua pelayan membawa troli makanan.


"Kejutan itu seharusnya tidak dikatakan agar bisa menjadi sebuah kejutan, tapi kamu malah mengungkapkannya padaku. Lalu, dari mana bisa disebut kejutan?" Alesha saat ini melihat layar yang menaruh makanan di atas meja.


Ia seketika membulatkan mata karena ada banyak makanan, sedangkan mereka hanyalah berdua saja. "Apa kamu menghabiskan semua ini?"


Refleks Alex menggelengkan kepala, lalu ingin mengungkapkan apa yang telah disusun dengan sangat matang sebagai kejutan untuk pria itu.

__ADS_1


"Ini bukan hanya kita yang akan makan."


Alesha mengurutkan kening karena merasa penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Alex saat ini. "Bukan hanya kita? Lalu?"


"Orang tuaku sedang dalam perjalanan menuju ke sini karena aku sudah mengatakan akan memperkenalkan calon istri pada mereka." Kemudian Alex mengeluarkan kotak perhiasan berukuran kecil dengan bentuk hati serta warna merah dari saku jas


Ia bahkan langsung mengambil buket bunga mawar yang tadi disembunyikan di bawah meja karena tidak ingin Alesha melihatnya terlebih dulu. Kemudian berjalan mendekati kursi wanita yang terlihat membulatkan mata begitu ia membawa buket bunga mawar di tangan.


Alex memang tidak ini menyia-nyiakan waktu karena setelah bertemu Alesha, sudah berjanji ingin segera menikahi wanita itu.


Namun, ia yang menyadari bahwa posisi Alesha saat ini masih belum sah bercerai dengan suami pertamanya, sehingga memutuskan untuk melamar terlebih dahulu sambil menunggu proses perceraian di pengadilan.


Alex ini langsung membulatkan di sebelah wanita yang saat ini membulatkan mata karena terkejut atas perbuatannya.


"Menikahlah denganku dan menjadi ibu dari anak-anakku, Alesha Indira." Alex saat ini menatap dengan penuh cinta serta pengharapan pada wanita yang dicintai agar segera menganggukkan kepala dan setuju untuk menikah dengannya.


Sementara saat ini, Alesha yang tadinya merasa sangat terkejut atas perkataan dari Alex mengenai orang tua yang sudah dalam perjalanan menuju ke restoran, membuatnya sangat kebingungan harus bagaimana.


Ia khawatir akan mempermalukan Alex jika mengatakan bahwa perasaannya saat ini pada pria itu sudah tidak lagi seperti dulu. Bahkan kali ini semakin dikejutkan dengan hal yang sudah terpikirkan olehnya.


Bahwa Alex akan melamarnya, tapi tidak menyangka bahwa semuanya akan secepat ini. Tadinya ia berpikir akan merayakan terlebih dulu dengan makan malam romantis, baru iya mengungkapkan perasaannya pada Alex.


Namun, saat semuanya tidak seperti ekspektasinya, Alesha saat ini masih terdiam di kursinya dan merasa bingung harus bagaimana.


'Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar tidak tega melihat wajah Alex saat ini yang terlihat sangat tulus padaku. Tapi aku malah berencana menyakiti hatinya tepat di hari ulang tahun dan sebentar lagi orang tuanya akan tiba.'


Lamunan Alesha saat ini seketika musnah begitu mendengar suara bariton dari pria di bawah kakinya yang mengungkapkan nada protes.


"Sayang? Apa kamu sama sekali tidak menyukai kejutanku?" Alex yang saat ini merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika melihat ekspresi wajah wanita di hadapannya.


Apalagi Alesha tidak langsung menjawab dan membuatnya khawatir jika sampai wanita di hadapannya tersebut menolak lamarannya.


"Sayang, aku butuh jawaban iya darimu sekarang! Jangan membuat kakiku patah saat terlalu lama berlutut di hadapanmu." Alex memang tadi tidak pertanyaan mengenai lamaran yang karena ia langsung mengungkapkan nada perintah.


Berharap wanita yang dilamarnya langsung menyambut memeluknya dan menjawab akan menikah dengannya tanpa ragu, tapi ia mendadak ketakutan jika Alesha menggelengkan kepala sebagai penolakan.


Saat Alesha hendak membuka mulut untuk menanggapi, seketika jantungnya seperti mendapatkan anak panah tajam tepat di sana saat pintu terbuka dan melihat pasangan suami istri paruh baya yang dulu pernah sangat menghinanya dengan memberikan cek.

__ADS_1


'Astaga! Kenapa mereka datang secepat ini? Aku bahkan belum mengatakan semuanya pada Alex. Apa yang harus kulakukan sekarang?' gumam Alesha yang saat ini bersitatap dengan iris berkilat milik wanita paruh baya yang sangat membencinya dan membuat degup jantungnya tidak beraturan saat ini.


To be continued...


__ADS_2