
Beberapa saat yang lalu, Alesha merasa tubuhnya sangat panas dan langsung berjalan menuju ke arah kamar mandi setelah melepaskan kebaya pengantin yang membalut tubuh rampingnya.
Kini, ia sudah dalam keadaan polos dan masuk ke dalam bathtub setelah menyalakan kran air untuk mengisi air hangat serta meneteskan aroma terapi yang akan membuat tubuhnya terasa lebih rileks.
Itulah yang saat ini dipikirkan olehnya dan kemudian ia berendam di dalam bathtub. Selama beberapa menit berlalu, merasa tubuhnya semakin memanas dan bergerak seperti cacing kepanasan karena dikuasai oleh hasrat yang seolah membakar syarafnya.
Bahkan Alesha sibuk mendesah dengan memejamkan mata sambil mencari kepuasan sendiri. Berharap gairah yang membonceng di dalam diri segera menghilang darinya. Bahkan ia sudah menghiasi ruangan kamar mandi berukuran luas dan sangat mewah tersebut dengan suara ******* serta rintihan.
******* Alesha terdengar sangat jelas dan ia sama sekali tidak memperdulikan itu karena satu-satunya yang terpikirkan hanyalah ingin memuaskan gairah yang telah menguasai diri.
Entah sudah berapa menit berlalu semenjak Alesha sibuk mencari kepuasan dengan melakukan kegiatan intim di kamar mandi. Namun, tetap saja tidak bisa menormalkan debaran nafasnya yang memburu.
"Aaarhh!" Alesha yang merasa sudah tidak kuat lagi dengan hasrat menggebu yang menguasainya, memilih untuk menenggelamkan tubuh sekaligus wajah ke dalam air selama beberapa menit dan begitu napasnya hampir habis, segera keluar dari air.
Alesha masih menormalkan deru napas yang terengah. "Rasanya aku tidak tahan lagi! Ini tidak bisa dibiarkan!"
Kemudian ia berjalan menuju ke arah shower dan memutar keran air dan berdiri di bawahnya. Berharap usaha terakhir kali ini bisa segera meredam lonjakan gairah yang dirasakan saat ini.
Suara gemericik air terdengar dan saat ini membasahi kepala seluruh tubuh Alesha. Hingga ia pun memilih untuk lebih lama berdiri di sana dengan sibuk meraba tubuhnya sendiri karena masih terangsang dan ingin melakukan sesuatu yang bisa mengakhiri apa yang dirasakan.
Bahkan ia tidak memperdulikan apapun saat ini meskipun sekujur tubuhnya terasa dingin. Hanya rasa panas yang terasa seperti membakarnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku? Aku ingin melakukan *** sekarang. Rasanya aku sudah tidak tahan!" ujar Alesha yang kini memilih untuk mematikan shower dan berjalan untuk mengambil jubah handuk.
__ADS_1
Bahkan ia sama sekali merasakan kedinginan dan masih dengan bulir air memenuhi tubuh, berjalan menuju ke arah pintu keluar. Langkah kaki telanjang menapaki lantai ruangan kamar terbaik hotel yang menjadi tempat menginap hari ini setelah menikah dengan pria yang memintanya menandatangani surat perjanjian.
Saat berjalan keluar, Alesha melihat sosok pria yang ternyata adalah Rafael dB bersitatap dengannya. "Rafael?"
Alesha menelan ludah dengan kasar saat merasa tenggorokan kering dan saat melihat sosok pria yang duduk tak jauh dari hadapannya, ia berjalan semakin mendekat.
Bahkan suara deru napas memburu terdengar sangat jelas dari Alesha ketika tidak bisa lebih lama untuk menahan diri. Hingga ia mendengar suara bariton dari Rafael yang menatapnya.
"Dari tadi kau baru selesai mandi?" Rafael berbicara dengan suara serak dan parau begitu melihat sosok wanita dengan jubah handuk dan rambut basah tersebut.
Saat ini, ia kembali meneguk air dalam gelas yang baru saja dituangkan. Hingga begitu menghabiskannya, kembali menatap Alesha yang sudah berdiri tepat di hadapannya. Namun, pandangannya seolah blur dan sesekali mengerjapkan mata. Berharap apa yang dilihat bisa jelas seperti biasa.
"Rafael, aku ...." Alesha tidak bisa melanjutkan perkataannya karena bingung harus berkata apa, sehingga ia memilih untuk mendaratkan tubuh di sofa sebelah kiri Rafael.
"Apa kamu tidak bisa lebih feminim sebagai seorang wanita?" tanya Rafael dengan tatapan kesal dan menoleh ke kiri, di mana Alesha berada.
Hingga jarak yang begitu dekat, membuat Rafael bisa menatap dengan jelas wajah Alesha. Hingga ia yang masih dalam pengaruh mabuk, menatap tidak berkedip setiap sudut dari wajah Alesha.
Di mulai dari bersitatap mata, beralih turun ke hidung, pipi putih memerah seperti buah Cherry dan terakhir pada bibir sensual pucat tersebut.
Sebenarnya saat ini Rafael merasa tubuhnya memanas dan tiba-tiba gairah mulai bangkit begitu menyentuh tepian bibir sensual wanita yang ada di hadapannya.
"Kenapa kau hanya diam, Alesha? Aku pikir kau sudah tidur dan aku merasa kepalaku sangat pusing sekarang." Rafael tidak melanjutkan perkataannya karena merasa tidak tahan lagi atas rasa panas di tubuhnya saat ini.
__ADS_1
Hingga ia pun seketika melepaskan kancing jas dan melempar ke sembarang arah. Bahkan ia juga meloloskan satu persatu kancing kemeja.
"Rasanya tubuhku sangat panas sekali. Sepertinya pendingin udara di ruangan ini tidak berfungsi." Rafael bangkit berdiri dari sofa dan tanpa membuang waktu, kini sudah berhasil melepaskan kemeja berwarna putih yang dari tadi membalut tubuhnya.
Sementara itu, Alesha yang dari tadi tidak berkedip menatap ke arah tubuh sixpack Rafael untuk pertama kalinya, menelan ludah karena otot-otot perut tercetak jelas di hadapan.
Seolah ia ingin langsung mengarahkan jemari lentiknya untuk menelusuri setiap sudut perut seperti roti sobek tersebut. Namun, masih bisa menahan diri karena tengah sibuk menormalkan respon tubuhnya yang ingin segera menyuruh Rafael memuaskan hasratnya.
Embusan berat masih terdengar sangat jelas dari bibir Alesha dan tubuhnya merasakan pergerakan ketika Rafael mendaratkan tubuh dengan kasar seperti yang ia lakukan tadi. Hingga ia benar-benar mendapat keinginannya.
Rafael yang merasa tubuhnya sangat panas dan sudah setengah telanjang, kini deru napas memburu terdengar karena mewakili apa yang saat ini dirasakan.
Setiap urat syarafnya menegang karena tiba-tiba terbakar gairah dan begitu mendaratkan tubuh di dekat Alesha, tanpa pikir panjang menghambur membungkam bibir sensual yang dianggap bisa membuatnya tidak tersiksa.
Awalnya, Rafael mencium bibir Alesha dengan lembut, tapi lama-lama semakin menuntut dan semakin brutal ketika sudah merasa hasrat sampai di ubun-ubun.
Tidak hanya itu saja, bahkan ia merasakan jika sesuatu di bawah sana telah menegang. Seolah memberikan isyarat jika semuanya tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang.
Alesha yang dari tadi sudah lebih dulu terangsang, sama sekali tidak menolak ciuman pria yang semakin bergerilya di beberapa bagian tubuhnya.
Bahkan ia sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi karena kini telah agresif untuk menyingkirkan pelindung tubuh bagian bawah pria yang masih menciumnya.
'Aku tidak kuat lagi dan ingin segera merasakannya,' gumam Alesha yang saat ini bisa merasakan tangan dengan buku-buku kuat tersebut membuka ikatan jubah handuknya dan mendorong tubuhnya hingga telentang di sofa.
__ADS_1
To be continued...