
Meskipun Alesha kenapa saat lalu mengungkapkan perasaannya yang sangat mencintai Rafael agar Alex menghentikan perbuatannya, tapi begitu pria itu meminta penjelasan padanya, membuatnya merasa kesal dan tidak ingin menjelaskan apapun.
Ia sebenarnya berharap pria yang telah berkali-kali membuatnya sakit hati sadar setelah ia memohon pada Alex agar menghentikan kegilaan, tapi yang diharapkan tidak terjadi karena tetap saja Rafael meminta penjelasan secara detail padanya dan membuatnya marah.
Jadi, memilih untuk masuk ke dalam IGD karena merasa kepalanya sangat pusing dan ingin merebahkan tubuh di tempat semula. Bahkan ia berjalan sambil membawa infus.
Tanpa memperdulikan sosok pria yang terdengar memanggil-manggil namanya karena ini meminta penjelasan. 'Aku sebenarnya tidak punya muka bertemu dengan Rafael setelah mengungkapkan semuanya beberapa saat lalu.'
'Seandainya aku bisa melarikan diri darinya, tapi itu tidak mungkin karena kondisiku yang sekarang sangat lemah,' gumam Alesha yang saat ini bisa melihat pergerakan dari wanita paruh baya yang tak lain adalah sang ibu.
Alesha yang tadinya ingin berbaring dan meminta perawat untuk membantunya memasang infus pada tiang, kini tidak jadi melakukannya karena langsung menghambur ke arah sang ibu yang baru saja membuka mata.
"Ibu?" lirih Alesha yang saat ini tengah berpikir apakah sang ibu mengetahui perdebatan antara Rafael dan Alex.
Ia berpikir akan bertanya pada Alex mengenai hal itu, tapi di saat bersamaan mendengar suara lemah sang ibu serta Rafael yang saat ini sudah berdiri di sebelahnya.
"Alesha?" lirih Lia Nuraini yang saat ini buru-buru bangkit dari posisinya yang terbaring di atas ranjang perawatan dan melihat putrinya dengan wajah pucat berdiri.
Namun, melihat serta mendengar suara dari pria dengan wajah babak belur yang tak lain adalah menantinya dan membuatnya membuatkan mata.
"Nak Rafael? Astaghfirullah! Apa yang terjadi pada wajahmu?"
"Alesha!" seru Rafael yang benar-benar ingin mendengar secara langsung mengenai sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.
__ADS_1
Namun, kekhawatiran dari mertuanya seketika membuatnya tidak berkutik dan merasa kebingungan untuk menjelaskan.
'Astaga! Tidak mungkin aku mengatakan bahwa tadi menuduh Alex adalah ayah dari janin Alesha dan si berengsek itu marah hingga membuatku babak belur seperti ini,' gumam Rafael yang saat ini tengah menahan rasa nyeri di wajahnya karena semakin menjadi.
Sementara itu, Alesha yang tadinya sama sekali tidak perduli pada Rafael, kini bisa mengerti jika pria di sebelah kirinya tersebut tengah merasa kebingungan menjelaskan.
'Rasanya aku ingin mengejeknya saat ini. Sukurin kebingungan tidak bisa menjelaskan pada ibu, tapi aku akan terkena imbasnya nanti jika tidak membantunya,' gumam Alesha yang kini tengah mencoba untuk mencari ide agar bisa membohongi sang ibu.
Kini, Alesha berakting mengusap lembut tangan sang ibu agar tidak bertanya banyak. "Hanya kesalahpahaman sedikit, Bu. Tadi ia dan Alex terlibat kesalahpahaman hingga emosi dan main pukul."
"Tapi sekarang sudah tidak ada masalah lagi karena sudah selesai. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir. Ibu tidak boleh berpikir macam-macam agar kesehatan tidak terganggu." Kemudian ia melirik sinis pada Rafael yang kini terlihat membiru wajahnya.
"Bukankah begitu? Kenapa diam saja? Seharusnya kamu menjelaskan pada ibuku kalau tadi marah pada Alex yang ikut masuk ke dalam IGD, padahal sama sekali tidak ada hubungan denganku."
Rafael yang mendapatkan tatapan tajam dari Alesha, seketika mengangguk perlahan dan memilih cari aman. "Iya, Bu. Tadi aku marah pada dosen Alesha dan ia pun marah padaku karena ingin menunjukkan perhatiannya. Ibu pasti sudah bisa membaca jika dosen itu mempunyai perasaan pada Alesha."
Lia Nuraini kini sudah tidak memperdulikan apapun karena satu-satunya yang dikhawatirkan hanyalah tentang nasib putrinya. Bahkan ia merasa sangat iba pada putrinya yang hamil dan mendapatkan talak satu. Ia kini menatap tajam ke arah Alesha.
"Kenapa tidak mengatakannya pada ibu? Bukankah akan lebih baik jika menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi? Ibu akan membicarakan ini dengan mertuamu karena berpikir jika ia juga harus tahu."
Kini, Alesha yang hanya diam saja karena sudah terlalu lelah untuk menjelaskan.
"Aku pusing, Bu." Kemudian berbaring ke arah ranjangnya yang tadi untuk membaringkan diri.
__ADS_1
Sementara Rafael yang kini menelan ludah karena bingung harus menjawab, akhirnya memilih untuk berbicara asal seperti orang-orang yang melakukan kesalahan. Tentu saja tidak perduli jika itu adalah alasan klise dari semua orang ketika bersembunyi dari kesalahan.
Meskipun ia tidak tahu kapan melakukan kesalahan itu pada Alesha, tetap saja ingin membuat ibu mertuanya mengerti. "Maafkan aku, Ibu karena saat itu benar-benar khilaf. Aku hanya melakukannya sekali saja pada Alesha dan tidak pernah menyangka jika putri Ibu akhirnya akan hamil."
Tentu saja saat ini sebagai seorang ibu sekaligus mertua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan berumahtangga, bisa mengerti jika pria dan wanita yang tinggal dalam satu kamar bisa melakukan apapun meski tidak saling mencintai.
Apalagi status mereka sudah sah di mata agama dan negara, jadi merasa wajar jika sampai khilaf karena berpikir tidak melakukan dosa.
Namun, ia kali ini ingin tahu apa yang akan dilakukan menantunya tersebut pada Alesha. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan pada putriku yang tengah hamil? Apakah kamu akan mengurus perceraian setelah Alesha melahirkan?"
"Bukankah dalam agama, wanita hamil tidak boleh diceraikan oleh suaminya? Lebih baik kamu hubungi mamamu karena ia berhak tahu jika Alesha saat ini tengah mengandung cucu yang sangat diharapkan selama ini."
Rafael hanya menganggukkan kepala tanpa membantah dan langsung mengambil ponsel miliknya di saku jas yang sudah kusut akibat perbuatan pria yang membuatnya kini merasakan kenyerian luar biasa.
Ia tahu jika menghubungi sang ibu tidak akan diperdulikan dan hanya didengar saja tanpa menjawab. Jadi, memilih untuk langsung berbicara pada intinya.
"Halo, Ma. Mama harus ke rumah sakit sekarang karena Alesha dan ibu mertua sedang dirawat."
"Apa? Alesha dan besan sedang dirawat di rumah sakit? Sakit apa? Rumah sakit mana mereka dirawat? Mama akan langsung ke sana sekarang!"
Rafael memilih untuk mematikan sambungan telpon karena ia merasa sangat kesal dengan respon sang ibu yang langsung terkejut dan angkat bicara. Padahal selama ini tidak pernah mau menanggapinya karena marah padanya.
'Mama benar-benar membuatku merasa seperti anak tiri saja. Menyebalkan sekali,' gumam Rafael yang langsung mengirimkan pesan mengenai rumah sakit yang menjadi tempat dirawatnya Alesha dan mertuanya.
__ADS_1
To be continued...
To be continued...