I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menyebarkan foto-foto


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, kini Arsenio sudah berada di depan sebuah rumah lantai dua berukuran cukup besar. Tampak beberapa anak buahnya sudah berada di sekitar area rumah itu untuk berjaga dan mengintai.


Asistennya langsung mendekati atasannya tersebut yang terlihat sangat kacau dan tangan terluka.


"Apa yang terjadi dengan tangan Anda, Tuan Arsenio?"


Arsenio hanya menampilkan wajah datar dan sama sekali tidak setuju dengan apa yang diungkapkan oleh orang kepercayaannya.


"Ini hanya luka kecil. Jadi, jangan terlalu berlebihan. Aku ingin menghabisi bajingan berengsek yang menipuku itu." Arsenio kini mengungkapkan kekesalan saat membayangkan penipu itu.


"Pria itu selalu melakukan penipuan. Bahkan Anda menjadi salah satu korbannya dan saya yakin dia mendapatkan banyak uang dari orang yang menyuruhnya."


"Bahkan penipuan ini sudah berjalan lama, serta banyak orang yang menjadi korban. Jadi, kita menangkap orang-orang yang selama ini merugikan orang lain."


Jantung Arsenio langsung berdetak dengan cepat begitu mendengar penjelasan dari asistennya tersebut yang sangat bersemangat sekali mengatakan hal yang diketahui hal itu tentu saja membuatnya merasa sangat marah.


Perasaan marah kini hinggap dalam dirinya dan perlahan-lahan menggerogotinya. Bahkan kini suara jantungnya berdegup dengan sangat kencang, seolah ingin melompat dari tempatnya.


"Pria brengsek itu, aku harus segera membunuhnya!" sarkas Arsenio yang merasa sangat murka saat mengetahui jika saat ini tidak bisa lagi menahan kemurkaan begitu mengingat menjadi korban penipuan.


Dengan raut wajah yang sudah terlihat mengerikan karena sudah dikuasai oleh amarah yang memuncak, Arsenio mulai mengeluarkan suara, "Siapa nama asli pria berengsek itu? Aku sendiri yang akan menghabisinya dengan tanganku! Aku tidak akan pernah melepaskannya."


Kini, sang asisten yang melihat wajah dengan kilatan amarah dan rahang yang mengeras itu, mulai bergidik ngeri melihat bosnya yang menakutkan tersebut.


"Apa yang Anda katakan, Tuan Arsenio? Saya sudah memanggil polisi untuk menangkap mereka semua dan mungkin sebentar lagi akan segera datang."


Arsenio menatap tajam ke arah asistennya karena bertindak tanpa memberitahunya terlebih dahulu. "Dasar bodoh! Kenapa kamu harus melibatkan polisi dalam masalah pribadiku? Cepat katakan padaku siapa namanya! Sebelum polisi datang, aku harus membunuhnya terlebih dahulu."

__ADS_1


Asisten tersebut seketika merasa sangat terkejut mendengar perkataan dari atasannya itu mencoba untuk menggagalkan rencana gila tersebut.


"Jangan berbuat gila, Tuan! Jika sampai Anda benar-benar membunuhnya, maka akan mendekam di penjara."


Merasa sangat murka, Arsenio meraih kerah baju asistennya dan menarik ke arahnya seraya berteriak dengan suara bariton, "Jangan banyak bicara! Cepat katakan padaku!"


Akhirnya mau tidak mau, pria itu mulai menjawab pertanyaan dari pria di depannya yang terlihat sudah dikuasai oleh amarah itu. "Nama asli pria itu adalah Mark Zuckerberg , Tuan."


Arsenio seketika melepaskan tangan, buru-buru ia berjalan mendekati rumah tersebut dan menyuruh pengawal untuk membuka paksa pintu depan.


Arsenio langsung meninju wajah salah satu pria yang akan memukulnya dan berkali-kali melayangkan pukulan. Terakhir kali, ia langsung menginjak dada bidang dari pria yang sudah telentang di atas lantai.


"Mana pria yang bernama Mark Zuckerberg? Cepat katakan padaku dimana dia sekarang!"


Dengan suaranya yang serak karena menahan sakit, pria tersebut mulai menjawab pertanyaan dari pria yang berdiri menjulang di atasnya. "Tuan Mark ada di kamar atas."


Saat ingin membuka salah satu pintu kamar, netra pekatnya kini bersitatap dengan iris hazel pria yang menipunya.


"Kau? Bagaimana bisa kau ada di sini?" seru Mark Zuckerberg yang saat ini membulatkan mata karena tidak percaya atas apa yang dilihatnya dan berpikir tidak akan selamat hari ini


Tanpa basa-basi dan tidak berniat menjawab pertanyaan dari pria didepannya tersebut, Arsenio langsung mengangkat tangannya untuk melayangkan tinju ke wajah pria di depannya tersebut.


Tentu saja seperti yang diharapkan, pria tersebut jatuh tersungkur ke lantai ruangan kamar. Tanpa membuang waktu, Arsenio duduk berkali-kali melayangkan pukulannya karena dikuasai oleh amarah yang membara.


"Dasar berengsek! Kau harus menerima pembalasanku! Kau hanyalah seorang penipu tidak berguna! Apa bajingan Nick yang telah membayarmu? Berapa yang kau terima? Hingga berani menipuku. Aku benar-benar akan membuatmu menyesal karena berani berurusan denganku!"


Dengan sangat brutal Arsenio berkali-kali memukuli wajah pria yang sudah membuatnya merasa sangat marah. Bahkan noda darah kini memenuhi wajah pria yang dipukulinya tersebut.

__ADS_1


Sang asisten langsung menghentikan perbuatan gila dari bosnya tersebut karena merasa sangat khawatir jika nanti akan berakhir di penjara karena main hakim sendiri.


"Tuan Arsenio, berhenti. Biarkan para polisi yang menangani pria ini karena sudah berurusan dengan hukum." Sang asisten bahkan berbicara sambil menahan lengan kekar pria yang sangat dihormatinya tersebut agar menyadari kesalahan dan tidak berbuat gila dengan menghabisi nyawa orang lain.


Kini Arsenio berdiri dari atas tubuh pria yang sangat membuatnya murka dengan posisi tangan yang masih dipegangi oleh asistennya.


"Lepaskan! Atau kau kupecat?" Arsenio menatap wajah pria di sebelah kanannya dengan tatapan tajam yang menusuk.


Tentu saja pria yang selama ini sudah menjadi asisten pribadi tersebut langsung langsung melepaskan tangan majikannya karena khawatir malah akan menjadi sasaran dan membuat wajahnya babak belur karena dihajar oleh Bos sendiri.


Kini Arssnio beralih menatap ke arah asistennya. "Hubungi pengacara untuk menuntut pria ini karena telah melakukan penipuan. Dia harus membayar semua perbuatannya di penjara."


Hingga saat Arsenio yang baru saja menutup mulut, suara lirih Mark Zuckerberg terdengar menahan kesakitan. "Jika kau melakukanya, saat itu juga langsung tersebar foto-fotomu saat bercinta dengan wanita yang bersamaku tadi."


Arsenio dan sang asisten yang merasa sangat terkejut dengan perkataan dari pria yang tergolek lemah di lantai itu, kini saling bersitatap. Seolah mencoba bertanya dengan tatapan mata karena berpikir salah dengar.


"Apa, Tuan Arsenio bercinta dengan wanita lain?"


"Kamu mendengarnya, tapi pasti berpikir salah dengar. Kamu tidak salah dengar karena memang itulah kenyataannya."


Sementara Arsenio yang masih terdiam di tempat, kini mulai memahami kenapa ia sampai tidak sadarkan diri dan bangun di ranjang salah satu kamar hotel.


Refleks kembali menghambur pada pria itu dan langsung mengarahkan tangan pada lehernya.


"Bangsat! Aku akan benar-benar membunuhmu!" sarkas Arsenio yang saat ini tidak bisa menahan lebih lama kemurkaan untuk semakin membuat pria yang terlentang di atas lantai dan tidak berdaya tersebut kembali mengarahkan pukulan untuk meninju wajah pria yang telah menipunya hari ini.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2