I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menunggu jawaban


__ADS_3

"Wah ... akhirnya pengantin baru sudah datang juga," ucap salah satu wanita paruh baya yang tak lain adalah adik Tiana Aiza.


Selama ini tinggal di kampung karena keluarga mereka tidaklah sekaya seperti sang kakak. Memang dulunya mereka berasal dari keluarga sederhana yang pas-pasan dan tiba-tiba nasib berubah setelah Rafael bercerai dengan putri dari majikan sang kakak.


Jadi, para sanak saudara menganggap kemalangan yang dialami oleh Rafael adalah sebuah berkah karena mereka semua ikut merasakan kebahagiaan. Hal itu karena sang kakak sering membagikan rezeki pada sanak saudara dan saling menolong.


Ia dulu yang dulu membantu merawat Rafael dari kecil dan berharap keponakannya tersebut bisa hidup bahagia dengan menemukan wanita yang dicintai.


Hari ini, ikut merasakan aura kebahagiaan dari pasangan pengantin baru tersebut dan ia berjalan mendekati istri dari keponakannya yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Ternyata kamu jauh lebih cantik dari fotonya. Rafael sangat beruntung menikah dengan wanita cantik sepertimu," seru Tini yang saat ini memilih untuk duduk di sebelah anggota keluarga baru yang terlihat cantik tersebut.


"Tentu saja sangat cantik karena dia adalah menantuku dan sebentar lagi akan memberikan cucu untuk keluarga Zafran." Tiana yang baru saja masuk ke rumah, langsung menyuruh Alesha menyapa semua orang dan melihat menantunya tersebut bersalaman.


Kemudian duduk dan berbincang santai sebelum makan siang. Bahkan ia tersenyum simpul ketika melihat wajah merona dari menantunya yang duduk di sebelahnya.


Alesha yang sebenarnya merasa sangat gugup karena takut jika mengacaukan acara keluarga yang sebenarnya ingin menyambutnya. Ia berakting layaknya seorang istri yang bahagia setelah menikah dengan Rafael.


Padahal sebenarnya ada luka menganga di dalam hati, tapi tidak boleh sampai diketahui oleh semua orang karena itu akan membuatnya merasa bersalah. Apalagi harapan besar yang baru saja diungkapkan oleh mertuanya tersebut semakin membuat Alesha tidak berkutik.

__ADS_1


Ia seperti tertampar dengan kenyataan mengenai realita yang sedang dijalani. Bahwa meskipun pernikahan mereka terjadi atas dasar perjanjian, tapi faktanya mereka telah melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri yang normal.


Tentu saja ia bukanlah anak kecil yang tidak tahu apa-apa mengenai penyebab melakukan hubungan intim. 'Aku tidak boleh hamil karena Rafael tidak menginginkannya.'


Sebenarnya ia ingin sekali menatap ke arah pria yang sibuk menyapa beberapa sanak saudara dan terlihat serius mengobrol. Seolah sama sekali tidak mendengarkan ataupun memikirkan mengenai perkataan dari sang ibu yang sangat menginginkan seorang cucu.


'Pria itu tak lebih dari seorang pria yang bodoh karena tidak tahu apa-apa setelah bercinta dengan wanita. Rasanya aku ingin sekali mencekik lehernya agar tidak bisa bernapas,' gumam Alesha yang saat ini mendapatkan banyak pertanyaan dari wanita yang sangat mirip dengan mertuanya tersebut.


Apalagi di kanan kiri sudah diapit oleh kakak beradik tersebut yang selalu mengungkit mengenai masalah keturunan. Ia hanya bisa tersenyum simpul dan menjawab seperlunya saja.


Apalagi sama sekali tidak ada pembelaan ataupun pertolongan dari Rafael untuk menjawab semua keinginan para wanita tersebut.


"Iya, aku dari tadi juga ingin mengatakan jangan menduda kehamilan karena di luaran sana ada banyak wanita kurang beruntung yang belum kunjung hamil juga saat menginginkan memiliki anak." Tini mengusap lembut lengan Alesha karena merasakan aura ketegangan dari pengantin wanita tersebut.


Refleks Alesha langsung menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan kekhawatiran dan pemikiran dari mertua. "Kami sama sekali tidak menunda memiliki keturunan. Kami menyerahkan semua pada yang Kuasa."


"Syukurlah. Mama ingin Rafael mengurangi kesibukan di kantor karena sering pulang malam dengan alasan banyak pekerjaan. Mama sangat yakin jika nanti setelah mempunyai anak, akan lebih betah di rumah dan tidak sabar pulang dari kantor untuk bertemu anak." Tiana berbicara sambil memandang putranya yang juga tengah menatapnya.


Rafael dari tadi melepas rindu dengan beberapa sepupu yang datang, seketika merasa kesal karena sang ibu terus saja membahas mengenai anak saat pernikahan baru saja digelar semalam.

__ADS_1


"Mama, jangan membuat istriku malu. Apa tidak bisa berbicara biasa tanpa membahas mengenai anak? Bahkan kami baru saja menikah dan ingin puas menikmati kebersamaan. Nanti masalah keturunan, pasti akan mengabarkan pada kalian."


Saat Rafael baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton dari sepupu tertua.


"Itu sudah biasa dan merupakan sebuah hal wajar jika setelah menikah akan ditanya masalah keturunan. Bahkan setelah kalian punya anak pun, tetap akan ditanya, kapan nambah lagi? Kalau punya anak laki-laki, pasti dikomentari suruh buat perempuan biar pas."


Wanita dengan tubuh kurus tinggi itu mengungkapkan hal yang lazim terjadi di kampung karena selalu saja ada komentar-komentar yang terkadang seperti tidak memikirkan perasaan orang lain.


"Sepertinya kamu sedang curhat padaku," sahut Rafael yang tertawa melihat sepupunya menjelaskan dengan berapi-api. Karena ingin memuaskan pemikiran sanak saudara, kini Rafael beralih menatap ke Alesha.


"Sayang, memangnya kamu mau punya anak berapa?"


Sementara itu, Alesha hanya diam karena tidak tahu menjawab apa ketika pertanyaan Rafael mewakili perasaan galau saat ini. Ia takut jika sampai hamil benih pria yang terlihat seperti manusia tanpa dosa itu.


'Kenapa ada pria berengsek nan bodoh seperti ini? Menyebalkan sekali saat harus menjawab pertanyaan konyol itu. Bahkan aku adalah wanita bodoh juga karena memberikan kesucian yang selama ini kujaga pada seorang pria berengsek.'


Tanpa Aeleasha sadar, mata semua orang tengah mengarah padanya karena ingin mendengar jawaban darinya.


To be continued...

__ADS_1


Saat ini, Rafael


__ADS_2