
Tidak ingin membuat para tamu hotel merasa terganggu dengan suara tangisan Aeleasha, akhirnya Rafael memilih untuk membawa wanita dengan wajah sembab tersebut untuk masuk ke dalam kamar hotel setelah ia membuka pintu.
Bahkan ia merangkul pundak Aeleasha agar mau berjalan masuk ke dalam kamar hotel bersamanya.
Akhirnya Rafael berhasil membawa wanita itu masuk dan di saat bersamaan, Arza pun menangis tersedu-sedu begitu melihat sang ibu banjir air mata.
Tentu saja hal itu seketika membuat Rafael merasa kebingungan. Hal pertama yang dilakukannya adalah menggendong balita tersebut agar tidak menangis lagi dengan cara menghibur.
"Arza diam, ya! Ini ada video bagus di ponsel Papa. Arza mau lihat?"
Rafael masih berusaha untuk menghibur agar bocah berusia lima tahun tersebut diam dan tidak mengikuti sang ibu yang menangis sesenggukan di dekat pintu.
Ia menurunkan Arza di atas ranjang king size dan mengeluarkan ponsel miliknya. Berpikir jika menunjukkan video yang lucu pada balita tersebut, akan membuat tangisan berhenti.
Rafael berpikir, tidak ada salahnya mencoba untuk menenangkan Arza dengan film-film kartun kesukaan anak-anak. Meskipun saat ini, bocah laki-laki tersebut sibuk memanggil sang ibu.
Sementara Aeleasha yang saat ini membekap mulut dengan kedua tangan ketika bersandar di pintu ketika menangis, masih tidak mengalihkan pandangan pada putranya yang juga melakukan hal-hal sepertinya.
Sebenarnya ia merasa sangat bersalah karena membuat putranya ikut menangis. Namun, ia tidak bisa menahan diri ketika kembali mengingat foto-foto tentang sang suami bersama wanita lain.
'Kamu benar-benar sangat jahat! Apa karena masalah perusahaan, membuatmu memilih untuk berselingkuh dariku? Apakah wanita lain membuatmu merasa nyaman untuk bercerita dibandingkan denganku.'
'Apa aku adalah seorang wanita tidak berguna? Hingga kamu sama sekali tidak mau menceritakan tentang masalah perusahaan padaku?'
__ADS_1
Perasaan hancur dan terluka yang saat ini dirasakan oleh Aeleasha ketika membuatnya berpikir jika ia hanyalah seorang istri tidak berguna bagi suami. Hingga membuatnya berpikir jika rumah tangganya sudah tidak bisa dipertahankan lagi.
Namun, ia tidak ingin menceritakan masalah yang dialami pada sang ayah karena nanti akan terjadi pertengkaran hebat dan juga perseteruan antara mertua dan menantu.
Ayahnya pasti akan sangat marah karena ia tersakiti untuk kedua kali. Mungkin bisa saja berakhir dengan perkelahian dan ia tidak ingin itu terjadi.
'Sebenarnya aku tidak ingin pulang ke rumah ayahku, tapi harus ke mana? Seandainya brother tidak menikah dalam waktu dekat, aku bisa sementara tinggal di rumahnya bersama ibu tanpa sepengetahuan ayahku. Namun, sepertinya itu tidak mungkin karena kedatanganku akan membuat retakan pada hubungan rumah tangga brother nanti.'
'Tidak, aku tidak ingin itu terjadi. Mereka harus bahagia. Brother harus bahagia bersama wanita yang bernama Alesha itu. Sudah saatnya ia memulai hidup baru bersama seorang wanita.'
Posisi Aeleasha yang saat ini terlihat mengenaskan karena masih berjongkok di depan pintu dengan membenamkan wajah diantara kedua tangan yang berada di atas lututnya.
Meskipun ia sudah tidak mengeluarkan suara ketika menangis, tetapi tidak menghentikan bola air mata yang menganak sungai di pipinya.
Hingga beberapa saat kemudian, ia mendengar suara bariton dari pria yang sangat dihafalnya. Ia seperti mengalami dejavu hari ini.
Selalu saja Rafael yang bersamanya ketika sedang merasa hancur berkeping-keping. Bahkan saat ini posisinya seperti sama. Pergi dalam keadaan hamil dan melihat pria yang dicintai bersama wanita lain. Namun, kali ini jauh lebih parah karena ia sudah menikah dengan pria yang menghianati ikatan suci pernikahan mereka.
"Apa yang dilakukan bajingan itu kali ini padamu, hingga membuatmu menangis seperti ini? Lebih baik kamu ceritakan semuanya padaku! Atau aku cari tahu sendiri dengan cara menghubungi suamimu?"
Rafael yang tadi sukses menghentikan tangisan dari Arza dengan menunjukkan film kartun yang disukai bocah laki-laki itu, kini beralih berdiri di hadapan wanita yang menenggelamkan wajah di antara dua lutut tersebut.
Bahkan setelah berbicara penuh dengan ketegasan sekaligus ancaman, Rafael menyamakan posisi dengan cara berlutut dan menatap intens sosok wanita mengangkat pandangan untuk menatapnya.
__ADS_1
Hingga ia kembali membuka suara agar Aeleasha mau menceritakan masalah yang dihadapi. Namun, sebelum itu, Rafael mendaratkan telapak tangan pada pundak wanita yang baginya hanyalah orang lemah.
"Kamu pilih mana? Apakah kamu ingin aku menghubungi pria berengsek yang membuatmu menangis itu? Aku masih menyimpan nomornya dan tidak sulit untukku menghubunginya."
Selama tiga tahun tinggal bersama, membuat Rafael sudah mengetahui seperti apa wanita itu. Ancaman seperti itu dianggap sangat mudah untuk membuat mantan istrinya berubah pikiran dan mau menceritakan semua yang terjadi kepadanya.
Tujuan Aeleasha kabur adalah ingin menghindar dan tidak ingin melihat pria yang telah menyakiti hatinya. Jadi, begitu Rafael mengatakan akan menghubungi Arsenio, seketika membuatnya mengangkat pandangan.
"Tidak! Jangan pernah menghubungi karena aku tidak ingin melihatnya lagi. Dia telah berselingkuh dengan wanita lain, Brother. Dia telah mengkhianati ikatan suci pernikahan kami. Apa aku tidak pantas hidup bahagia? Hingga pernikahan kami berakhir hancur seperti ini?"
Aeleasha sebenarnya ingin kembali menangis tersedu-sedu, tetapi menyadari jika melakukannya akan membuat bocah laki-laki di atas ranjang yang sudah tenang dan asyik dengan ponsel tersebut kembali menangis sepertinya.
Jadi, ia hanya menahan perasaan agar tidak semakin lemah. "Aku membenci diri sendiri karena selalu terlihat lemah di depanmu, Brother. Aku tidak suka berada pada posisi seperti ini."
"Kenapa kamu selalu melihatku saat berada di titik paling rendah dalam hidup? Aku sangat tidak suka dikasihani olehmu, tapi takdir selalu berakhir seperti ini dan mengulang kejadian beberapa tahun lalu."
Rafael diam terpaku melihat seseorang wanita yang dicintai terlihat hancur dan bersedih. Jika dulu ia langsung merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya untuk menghibur, tetapi kali ini tidak bisa melakukannya.
Itu semua karena ia tahu batasan seorang wanita yang sudah memiliki suami, sehingga hanya diam dan menatap intens wajah sempat dengan penuh air mata tersebut.
Rafael saat ini hanya mengepalkan kedua tangan ketika mengingat luka yang ditorehkan oleh Arsenio pada Aeleasha di masa lalu. Hingga kejadian itu terulang kembali saat ini. Ia sangat menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
Itu semua karena pernikahan yang berdasarkan perjanjian untuk menyenangkan sang ibu akan berlangsung beberapa hari lagi. Jadi, ia merasa sangat bingung apa yang harus dilakukan. Apakah ia memilih untuk melindungi Aeleasha atau menuruti perintah dari sang ibu untuk menikah dengan Alesha.
__ADS_1
To be continued...