
Arsenio kini sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju ke hotel terdekat, sedangkan putranya masih bersama para pengawal dan satu orang pengasuh. Tentu saja selama berada di area permainan anak-anak, membuat Arza tidak akan mau diajak pulang cepat karena menyukai bisa bermain sepuasnya.
Hal itulah yang membuat Arsenio memilih untuk mengajak sosok wanita yang sangat dicintainya tersebut untuk pergi lebih dulu dan menganggap bulan madu kedua karena sang istri telah berubah pikiran.
Ia sangat senang begitu mendengar keinginan sang istri yang ingin memiliki anak perempuan. Padahal dulu mengatakan tidak mau hamil lagi karena trauma. Apalagi Aeleasha menceritakan proses saat hamil, melahirkan, menyusui dan merawat putra mereka tanpa keluarga, benar-benar dilalui penuh perjuangan.
Arsenio merasa salut pada Aeleasha karena bisa melewati semua masalah dan ujian yang telah datang bertubi-tubi ketika berusia belia dan menurutnya belum cukup umur. Namun, ia sadar jika itu semua juga karena ada peran dari Rafael.
Pria baik hati dan berhati malaikat yang dianggapnya adalah dewa penolong untuk wanita yang saat ini sedang duduk di sebelahnya seperti sedang memikirkan sesuatu karena semenjak masuk ke dalam mobil, ia melihat sang istri lebih banyak diam.
"Honey, ada apa? Kamu seperti sedang melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan? Seperti sedang memikirkan sesuatu. Katakan padaku dan jangan menyembunyikan apapun dariku."
Sementara itu, Aeleasha yang tadi awalnya merasa sangat yakin ingin memiliki seorang anak perempuan dan tidak trauma lagi, tiba-tiba mengingat sesuatu begitu berada di dalam mobil.
Ia yang dimintai pertolongan oleh sosok wanita paruh baya yang teramat sangat disayangi seperti ibu sendiri, lupa mengatakan pada sang suami. Kini, ia menoleh ke arah sosok pria di balik kemudi tersebut.
Sosok pria dengan tubuh tinggi tegap yang mengenakan kaos casual berwarna putih dan terlihat sangat memesona.
Mata gelapnya yang berkilat, serta tatapan menantang, seolah menegaskan bahwa wajah tampan itu adalah sebuah pahatan sempurna dan sanggup meluluhlantakkan kaum hawa yang menatapnya.
Lekukan pipi putih yang tajam, hidung mancung, bibir padat yang sensual dan lekukan kecil di dagunya yang sama sekali tidak ditumbuhi bulu-bulu halus sedikit pun.
Pria yang tak lain adalah mantan secret daddy yang berubah menjadi suaminya itu tengah merapikan rambut pirangnya dengan jari-jari dan masih bersikap sangat tenang ketika mengemudi.
Ya, pria yang sangat dicintainya tersebut baru saja mengganti warna rambut hitamnya dengan pirang dan menurutnya malah terlihat jauh lebih muda dan keren.
Bahkan saat itu ia yang menemani ke salon, juga disuruh untuk mengganti warna rambutnya, tapi ia tidak mau karena lebih menyukai warna asli rambutnya yang hitam berkilat.
"Aku lupa memberitahumu tentang Rafael," ucap Aeleasha yang kini sudah terbiasa memanggil pria itu dengan nama saja karena menyadari bahwa panggilan brother membuat Rafael merasa terluka.
Ia yang merasa berhutang budi pada Rafael, tidak ingin pria itu semakin terluka dan akhirnya tidak pernah menghubungi dan kini memanggil nama saja.
Arsenio kini mengerutkan kening begitu tidak memahami kalimat ambigu dari sang istri. Jujur saja ia masih bisa merasakan cemburu jika sang istri membahas tentang mantan suami Aeleasha tersebut.
Dulu sewaktu awal-awal menikah, ia bahkan merasa sangat kesal karena Aeleasha sering menceritakan tentang semua kebaikan dan pengorbanan dari Rafael.
Meskipun ia tahu jika hubungan suami istri antara Aeleasha dan Rafael tidak seperti pasangan selayaknya, tetap saja ia merasa cemburu saat bibir sensual sang istri dengan mudahnya meloloskan nama pria lain.
Namun, ia sadar bukanlah seorang remaja labil yang gampang mengungkapkan rasa cemburu dengan sikap kekanak-kanakan. Hal itulah yang membuatnya memilih untuk menahan diri sekuat tenaga agar tidak membuat Aeleasha merasa ilfil padanya.
Apalagi jarak antara ia dan Aeleasha terpaut cukup jauh. Ia merasa seperti pria tua, sedangkan sang istri masih sangat muda dan cantik, sehingga takut jika yang wanitanya akan mencari pria muda.
"Sebenarnya apa maksudmu, Honey? Memangnya apa yang terjadi pada Rafael? Aku tidak paham. Apalagi kamu berbicara setengah-setengah seperti itu. Coba jelaskan apa maksudmu!"
Tidak dipungkiri jika Aeleasha saat ini tengah bimbang karena diliputi rasa bersalah saat Rafael yang merupakan mantan suaminya sampai sekarang belum menikah juga. Ia benar-benar takut jika Rafael tidak akan menikah seumur hidup hanya karena patah hati akibat perbuatannya.
__ADS_1
Tentu saja ia tidak ingin itu terjadi pada pria yang sangat disayanginya tersebut. Ia ingin Rafael bahagia dan menemukan sosok wanita yang jauh lebih baik darinya, sehingga kini memilih untuk menceritakan semuanya pada sang suami.
"Rafael sampai sekarang belum menikah dan mamannya menyuruhku untuk menasihatinya. Aku sudah menelponnya dan menyuruhnya menikah, meskipun mengetahui bahwa perkataanku menyakitinya, tetap saja melakukannya."
"Tadi aku ingin hamil lagi, tapi begitu mengingat Rafael yang sampai sekarang belum menikah, membuatku merasa tidak enak dan semakin merasa bersalah padanya. Bagaimana jika kita menundanya sampai Rafael benar-benar sudah menikah?"
Arsenio yang awalnya sangat berkosentrasi mendengar cerita panjang lebar dari sang istri, terakhir kali spontan berteriak untuk mengungkapkan rasa terkejutnya atas keputusan mendadak dari sang istri seperti kaya pepatah, 'Pagi kedelai, sore tempe.'
Artinya seperti seseorang yang tidak punya pendirian dan membuatnya merasa sangat kesal sekaligus kecewa.
"Semua itu adalah takdir dan Rafael harus bisa menerima takdirnya, Sayang. Jadi jangan selalu menganggap bahwa ini semua salahmu. Rafael juga bersalah karena mengharapkan seseorang yang
sama sekali tidak mencintainya."
"Aku benar-benar seperti pria yang sangat berdosa karena merupakan penyebab dari semua itu. Seharusnya kamu menyalahkanku, bukan diri sendiri. Bila perlu, hukum aku saja. Aku akan dengan senang hati menerimanya."
Tidak ingin konsentrasi menyetir terganggu, kini ia memilih tempat untuk berhenti dan mematikan mesin mobil. Kemudian menoleh ke arah sang istri yang terlihat sangat muram.
Refleks ia melepaskan sabuk pengaman dan bergerak untuk menggeser tubuhnya agar bisa semakin lebih dekat dengan sang istri. Kemudian merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya. Hingga terdengar suara bergetar yang tertahan.
"Maafkan aku," lirih Aeleasha yang merasa bersalah karena telah merusak momen romantis mereka beberapa saat lalu.
"Maafkan aku juga karena telah membuat posisimu berada di tengah-tengah antara kami, sehingga membuatmu merasa bersalah seperti ini." Arsenio menyahut sambil mengusap punggung belakang sang istri.
Berharap perbuatannya itu tidak lagi membuat Aeleasha bersedih dan sedikit menghibur.
"Bagaimana apanya?" Arsenio yang masih tidak paham dengan maksud dari sang istri karena pikirannya seperti langsung blank karena pria pembahasan mengenai Rafael.
Kini Aeleasha memilih untuk melepaskan pelukannya dan menarik diri, serta menciptakan jarak di antara mereka. Ia kini bisa menatap pria tampan yang selalu dipujanya tersebut.
"Aku ingin mendengar pendapatmu tentang Rafael. Menurutmu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan untuk membuat Rafael segera menikah?"
Saat Arsenio mulai mengerti dengan semuanya, kini terdiam sejenak dan menatap sekilas ke arah sosok wanita yang sangat dicintainya tersebut.
Ia sedang mencari ide agar Rafael segera menikah dan melupakan istrinya. "Sepertinya aku perlu banyak menghadirkan beberapa wanita cantik di hadapannya. Siapa tahu ada salah satu yang menarik hatinya dan memilih untuk menikahinya."
"Rafael sudah punya kekasih." Aeleasha menghentikan perkataannya karena ingin melihat respon dari sang suami.
"Benarkah? Lalu apa masalahnya? Bukankah ia bisa langsung menikahi kekasihnya? Lalu, kenapa kamu bingung dan khawatir seperti ini, Honey?" tanya Arsenio yang kini semakin tidak mengerti dengan apa yang ditakutkan oleh Aeleasha setelah jalan keluar ada di depan mata.
Tentu saja Aeleasha sudah menebak tanggapan dari sang suami yang tidak tahu mengenai kenyataan sebenarnya. Kini, ia membenarkan posisi duduknya yang terasa tidak nyaman karena tadi sempat mendaratkan kepalanya di dada bidang yang dianggap tempat ternyaman setelah menikah dengan pria itu.
"Sayangnya, hubungan mereka itu hanyalah sebuah settingan semata untuk menipu mamanya. Kekasih dari Rafael yang bernama
Aeleasha Indira itu menandatangani surat perjanjian pernikahan kontrak dan membuatku semakin merasa bersalah."
__ADS_1
"Bahkan Rafael sampai mencari wanita yang bernama sama sepertiku. Justru itu akan membuatnya semakin sulit melupakanku."
Rasa bersalah berkepanjangan mulai menyeruak dalam dirinya saat ini begitu mengungkapkan semuanya pada sang suami. Aeleasha sedikit merasa lega karena sudah menceritakan pada pria itu.
Hal berbeda kini tengah dirasakan oleh Arsenio karena sekarang berpikir jika sang istri selama ini memantau perkembangan dari mantan suami dan lagi-lagi ia merasa cemburu.
Ia merasa sangat heran, dari mana sang istri mengetahui semua hal yang bersifat rahasia itu. Padahal ia yang sudah menyuruh orang untuk mengawasi Rafael, tidak mendapatkan kabar apapun dan hari ini membuatnya sangat geram dan hanya mengumpat di dalam hati.
'Dasar pria tidak berguna! Apa yang dikerjakannya hingga tidak melaporkan hal sepenting ini padaku? Aku akan menghabisinya jika sampai rumah tanggaku berakhir buruk!' gumam Arsenio di dalam hati dan kemudian melanjutkan perkataannya.
"Dari mana kamu mengetahui semua itu, Honey? Apa kamu menyuruh orang untuk melaporkan semua perkembangan dari Rafael? Siapa? Kamu menyuruh siapa dan kenapa aku sama sekali tidak tahu?"
Tatapan tajam menyelidik membuat Aeleasha kini mengangkat tangan untuk membentuk simbol peace dan love. Tentu saja itu untuk meredam kekesalan dari sang suami dan berniat untuk merayunya.
"Maaf, Sayang karena selama ini menyuruh Rudy untuk melaporkan semuanya padaku mengenai hal-hal yang bersifat pribadi. Aku ingin memantau perkembangan Rafael dan selalu berdoa agar dia cepat menikah. Aku melarangnya memberitahu hal-hal pribadi mengenai sedang dekat dengan siapa saja padamu."
Aeleasha kini bisa melihat ekspresi wajah kecewa dari pria yang mulai menunjukkan rahang tegas dengan bunyi geraham yang bersahutan.
"Sayang, kamu marah padaku?"
"Tidak. Mana mungkin aku marah pada istriku?" Arsenio menjawab sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mencari kontak seseorang.
Sementara Aeleasha masih belum puas dengan jawaban yang menurutnya terpaksa dan tidak mengenakkan tersebut.
"Sayang, tapi kenapa wajahmu seperti itu? Aku tahu kamu sedang marah padaku."
"Sudah kubilang tidak. Aku marah pada Rudy karena malah patuh padamu dari pada aku. Sepertinya dia harus dihukum." Arsenio sudah memencet tombol panggil dan menunggu hingga panggilan terjawab.
Bertambah satu lagi rasa bersalah pada seseorang. Awalnya Rafael, Arsenio dan sekarang Rudy.
"Apa yang akan kamu lakukan pada Rudy? Menghukum Rudy sama saja kamu menghukumku?"
Tidak hanya itu saja, setelah ia menutup bibirnya, suara bariton dari sang suami terdengar begitu menakutkan.
Arsenio yang masih menunggu jawaban, tapi tidak kunjung diangkat. Hingga ia memilih untuk menoleh ke arah Aeleasha.
"Tenang saja, Honey. Hukumanmu sebentar lagi, sedangkan hukuman dari Rudy adalah dipecat karena tidak ada yang lebih bagus dari itu. Bukankah dia benar-benar sangat menghinaku karena tidak mengutamakan orang yang memberikan gaji untuknya?"
"Aku tidak suka memelihara seorang pengkhianat!" umpat Arsenio yang saat ini merasa sangat terkejut karena ponsel di tangannya telah direbut oleh sang istri dan terlihat langsung mematikan panggilan telpon.
"Lebih baik hukum aku saja karena Rudy tidak bersalah," ucap Aeleasha yang kini memilih memasukkan ponsel itu ke dalam tasnya. "Ayo, kita segera ke hotel. Hukum aku sesukamu."
Aeleasha yang sangat mengetahui kelemahan pria di sebelahnya, kini langsung menyerang tepat sasaran karena ia kini melihat wajah sang suami yang tadinya memerah karena dikuasai oleh amarah, sudah mulai terlihat biasa dan membuatnya malah terkekeh geli.
Ia melihat pria yang merajuk itu kini sudah kembali menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya meninggalkan area pemberhentian mereka. Bahkan suara Arsenio yang nakal membuatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Hari ini hukumanmu langsung dua ronde, Honey."
To be continued...