
Rudy berkali-kali menolak panggilan yang sedari tadi membunyikan ponselnya di tengah perdebatan dengan seorang pengendara motor yang baru saja menabraknya.
Padahal Rudy sudah bilang dia sedang ada masalah di kantor polisi dan menyuruh sahabatnya untuk tidak menelepon, tetapi Rafael yang kini masih saja meneleponnya itu membuat hatinya semakin dongkol.
Belum lagi masalah kecelakaan kecil ini yang menjadi masalah besar. Setelah luka-luka ringan pengendara motor itu diobati, Rudy dengan terpaksa harus menetap di ruang ini— kantor polisi. Dipaksa untuk bernegosiasi.
Rudy mengembuskan napas panjang.
"Pak Polisi, lihatlah luka-luka suami saya ini, motornya juga rusak. Ini semua gara-gara pria ini mengerem mobilnya secara mendadak." Istri pengendara motor itu, bicara atas nama suaminya.
Benar. Urusan ini jadi berkali-kali lipat lebih runyam karena wanita cerewet itu ikut campur dalam urusan keduanya.
"Ibu, mohon maaf, tapi suami Anda juga mengendarai motor dengan kecepatan yang tidak seharusnya di saat macet. Bagian belakang mobil saya juga lecet."
Rudy masih tidak mau kalah. Ia benar-benar tidak terima. Jelas-jelas jalan raya yang macet menuntutnya untuk mengerem mobil kapan saja dan pengendara itu yang menabrak mobilnya, tetapi kenapa tiba-tiba ia yang harus bertanggung jawab atas semuanya?
Polisi itu pun sudah pusing dan kini memijat pelipisnya. "Jadi, apa yang masing-masing pihak inginkan sebagai penyelesaian?"
"Ganti rugi." Keduanya menjawab bersamaan.
Polisi itu kemudian melirik ketiga orang itu. "Bagaimana kalau Anda sekalian saling mengganti rugi? Bapak dan ibu mengganti rugi atas mobil pria ini. Sedangkan Anda mengganti rugi untuk bapak dan ibu ini."
Mereka bertiga kini saling lirik.
Sampai kemudian wanita itu kembali bersuara. "Pak, Anda sungguh orang yang tega, ya? Bisa-bisanya menyuruh orang yang telah terluka karena Anda untuk mengganti rugi?" ucap wanita itu dengan suara yang dibuat memelas.
Rudy merinding. Namun, tidak bisa berkata-kata macam-macam melihat ekspresi polisi itu yang kini menatapnya dengan ekspresi aneh.
Sedetik kemudian, ponsel Rudy kembali berbunyi. Membuatnya mendengus dan kembali menolak panggilan itu lagi. Melihat waktu yang sudah berlalu cukup lama, Rudy akhirnya memutuskan untuk bangkit.
Ia kemudian baru ingat sesuatu dari saku jasnya dan memberikannya pada polisi itu. "Saya yang akan ganti rugi semuanya," putusnya.
Kedua suami istri itu jelas senang karena merasa menang. Sedangkan Rudy kini bergegas cepat untuk kembali ke kantor Rafael.
Ngomong-ngomong, kesialannya hari ini terjadi atas andil pria itu. Awas saja nanti. Rudy akan meminta kompensasi pada Rafael ketika urusan dan semuanya yang merepotkan sudah selesai nanti.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Rudy sampai di kantor Rafael. Melewati ruang kerja para staf, ia mendengar desas-desus yang kini berubah total. Senyumnya mengembang.
Ia lantas memasuki ruangan Rafael. Dengan wajah jenakanya ia memberi salam.
"Selamat siang, orang yang kalian tunggu sudah datang."
Sebuah salam pembuka diserukan beriringan dengan pintu yang menganga. Pria itu tersenyum ringan, kemudian melenggang masuk menuju ruangan lebih dalam.
Rafael bangkit dari kursinya, beranjak menuju sofa yang terletak di depan meja kerjanya, di mana Alesha sedari tadi menunggu di sana dengan melamun. "Ini dia yang kumaksud, pengacara Rudy. Kamu bisa percaya padanya."
Lamunan Zaara mengenai masa-masa bersama sang ibu yang masih sehat, seketika buyar. Bahkan hanya mengangguk kecil untuk menjawab Rafael.
Rudy mulai duduk di sisi sofa, sedangkan Rafael duduk di sisi yang lain menghadap Alesha. Rudy yang berada di tengah-tengah, mulai menunjukkan sesuatu dari dalam tas kerja yang ia bawa.
"Ini stempel resmiku." Rudy mengangkat benda silinder itu. "Ketika stempel ini tercetak, maka otomatis saya juga terlibat untuk bertanggung jawab." Pria itu melanjutkan.
Ia lalu mengeluarkan satu benda lagi, lalu menyodorkannya ke depan Rafael.
"Ini cek yang kamu minta."
Alesha tiba-tiba bersuara, mengeluarkan pernyataan yang membuat Rudy sontak menganga.
Bukan maksud Alesha bertindak labil, tetapi untuk urusan operasi ibunya itu perlu mengurus beberapa hal terlebih dahulu.
Rudy tersenyum miris, menatap Rafael dengan sengit seakan mengatakan. 'Puas kamu menyusahkanku?'.
Bagaimana tidak kesal, ia sudah susah-susah terjebak macet dan berurusan dengan pengendara motor yang menabraknya hingga berakhir sendiri yang harus ganti rugi demi urusan pria itu.
Akan tetapi, setelah ia berhasil mendapatkannya, usahanya seakan-akan tidak diterima.
'Entah mengapa firasatku mengatakan kalau ada dua Rafael di sini,' gumamnya dengan wajah pucat pasi.
"Baiklah, kirim nomor rekeningmu. Setelah itu, silakan tanda tangan di sini."
Rafael menunjuk pada sisi bawah kertas kontrak itu. Di samping nama Rafael, sudah terpajang namanya serta tanda tangannya.
__ADS_1
Alesha mengirimkan nomor rekening melalui ponselnya. Wanita itu kemudian mengambil ballpoint dan melihat kertas kontrak itu, lantas kembali membaca memindai isinya.
Genggaman tangan pada ballpoint itu seketika merenggang, Alesha menyadari sesuatu.
"Sebentar! Aku rasa surat perjanjian kontrak ini belum adil." Ia kembali menaruh ballpoint itu di meja dengan hentakan sedikit. Matanya kemudian menatap Rafael dan Rudy.
"Ini perjanjian dua belah pihak. Bagaimana bisa semua isinya ditulis olehmu sendirian?"
"Tuan Rafael, perlu kamu tahu, bahwa keputusanku untuk menandatangani surat ini bukan hanya mempertaruhkan kebebasan, tapi juga masa depan."
Wanita itu menundukkan pandangannya, berpikir sejenak.
"Masa depan seseorang itu sangat mahal harganya. Jadi, bolehkah saya minta untuk membuat persyaratan juga dalam pernikahan ini?"
Rafael mengangguk. "Tentu, jika itu yang kamu mau." Ia kemudian menatap Rudy dan lelaki itu langsung mengerti.
Kemudian pria itu langsung mengambil laptop dari tasnya.
"Silakan katakan persyaratanmu, Alesha," ucap Rafael mempersilakan.
"Sebelumnya, aku ingin benar-benar memastikan kalau pernikahan ini hanyalah status legal yang tertulis di atas kertas." Wanita itu membuka pernyataan. "Jadi, aku tidak mau terikat hubungan yang berarti."
"Lalu, di luar kepentingan, kamu tidak boleh mencampuri urusan pribadiku."
"Kemudian, tidak boleh melakukan sesuatu yang membuat hidupku susah."
"Ada yang paling penting, ini adalah hal menyangkut masa depanku. Tidak peduli seberapa mendesaknya hal itu, tetapi aku tidak ingin hamil." Alesha mengakhiri pernyataannya dengan tegas.
Rafael menatap wanita itu dengan pandangan lurus. Ia bisa mengerti kekhawatiran wanita dengan paras cantik dan manis tersebut. Hingga kemudian ia memikirkan sebuah keputusan.
"Baiklah. Aku mengerti. Maka dari itu, aku jamin bahwa nanti sama sekali tidak akan menyentuhmu selama menikah. Apapun yang terjadi dalam pernikahan ini hanya akting." Rafael menyatakan dengan tegas.
Refleks Alesha mengangguk setuju. "Aku juga tidak akan menyentuhmu."
To be continued...
__ADS_1