I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
6. Menjadi Sugar Daddy


__ADS_3

Edina menyipitkan matanya. Rasanya ingin mengamuk, tetapi ia berusaha untuk menahan diri karena tidak mau membuat keributan di tempat umum dan mengundang perhatian.


"Tidak, tuh. Aku dapat pria kaya raya."


Edina kemudian mengeluarkan ponsel baru dari tas mungilnya, menunjukkan kilap mewah dari smartphone terbaru yang baru ia beli dan tampak belum tergores sedikit pun.


Faizah hanya mengerucutkan bibirnya karena merasa iri. "Sayang sekali kamu selalu berganti-ganti smartphone, tapi tidak pernah mencoba baju-baju desainer mahal."


Intonasi pamer itu bukan ditujukan untuk dirinya sendiri, melainkan pada Ayla, gadis di sampingnya yang cukup fashionable.


Jika Ayla dibandingkan dengan Edina, jelas sekali bagaimana perbedaan gaya mereka.


Ayla adalah maniak fashion, sedangkan Edina adalah maniak teknologi hingga teman-temannya harus mengingatkan perempuan itu untuk lebih memperhatikan penampilan.


"Ngomong-ngomong, Alesha?" Ayla menoleh dan menyahut, mencondongkan badannya ke arah Alesha.


Gadis yang tengah menggigit sedotan dengan pipi menggembung itu tampak teralihkan dari lamunannya.


'Sebanyak apapun yang aku hasilkan sepertinya masih belum cukup,' lirih Alesha di dalam hati. Ia lantas menunduk lesu.


Teman-teman Alesha tidak tahu persis bagaimana kehidupannya. Namun yang mereka tahu, Alesha benar-benar sangat membutuhkan uang dan mereka mengerti mengapa karena Alesha bukanlah anak yang begitu boros di antara mereka.


Mereka tahu, setiap orang memiliki permasalahannya sendiri. Hal itulah yang membuat mereka saling mendukung dan selalu menghibur satu sama lain.


"Ah, sudahlah. Ayo makan dulu." Alesha mengibaskan tangannya sambil terkekeh. Merasa bersalah. Tidak menyangka wajahnya yang lesu mampu memancing empati ketiga perempuan materialistis itu.


Di sisi lain, Rafael merasa hal yang tidak sengaja didengarnya dari gadis-gadis dengan make up tebal itu benar-benar menarik. Ketidaksengajaan itu justru ia sengajakan sekarang.


Ia menajamkan semua indranya. Menajamkan indera pendengaran untuk memperoleh informasi dari percakapan mereka, serta menajamkan indra penglihatan untuk diam-diam menatap wanita yang sedari tadi mengalihkan atensinya.


Gadis dengan tatapan mata yang dalam dan lembut, bibir ranumnya yang imut, serta pipi bak puteri salju yang membuat proporsinya sempurna. Entah bagaimana … gadis itu mengingatkannya pada Aeleasha —mantan istrinya. Wanita yang selalu ia rindukan selama ini.

__ADS_1


Percakapan keempat wanita muda itu tanpa sadar menarik perhatian Rafael. Lelaki itu sampai sengaja memesan latte lagi, agar bisa duduk lebih lama di sana.


Mereka tampak sudah selesai makan, tetapi masih semangat untuk melanjutkan obrolan mereka.


"Kalian tahu tidak, tempat paling akurat untuk melihat di mana saja pria-pria kaya?"


Ketiga perempuan itu mencondongkan badannya ke arah Ayla. Wanita satu ini memang paling pintar membuka topik kontroversial.


"Aku bertanya." Ayla menatap teman-temannya satu persatu, memasang wajah sok bingung.


"Jangan memaksaku untuk mengutukmu, Ayla." Edina si gadis yang paling tidak sabaran di antara mereka selalu saja membuat suasana percakapan semakin panas.


"Ayolah, kita tahu kamu tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak diketahui." Alesha kali ini membuka suara.


Ayla kali ini tidak menyerah untuk menggoda. "Aku benar-benar bertanya pendapat kalian."


"Mana ada orang bertanya pendapat dengan intonasi seperti ingin bercerita film horor begitu." Faizah kini menggerlingkan bola matanya. "Kalau begitu apa pendapatmu sendiri, Ayla?"


Argumennya dibalas decak kagum oleh ketiga temannya. Ayla kemudian melanjutkan perkataannya dengan nada pelan setengah berbisik.


"Ketika ingin masuk ke sini aku melihat pria dengan mobil sport mewah, lho. Ah, sayangnya aku ada janji dengan kalian hingga harus cepat-cepat datang ke sini."


"Kalau aku tidak sebingung itu. Aku hanya perlu melihat pria yang lewat, lalu lihat apakah harga arlojinya mahal atau tidak. Selain itu, indikatornya bisa ponselnya, atau earphone-nya. Sangat mudah membedakannya." Edina kini menunjukkan keahlian penilaiannya.


Alesha bertepuk tangan dan tersenyum simpul. "Wah … hebat sekali kemampuan kalian."


Faizah mengerutkan keningnya. "Bagaimana bisa kalian melakukan observasi serumit itu? Mau sekaya apapun, percuma saja kalau pelit."


Ketiga gadis itu sontak tertawa.


Sampai kemudian Ayla kembali mengambil posisi tegak, bersiap mengambil atensi.

__ADS_1


"Teman-teman, untuk apa kalian berdandan secantik ini dan datang ke sini?"


Ayla menyahut. "Setiap ada ruang, maka di situ ada kesempatan, bukan? Bagaimana kalau kita buktikan sekarang?" Gadis itu tersenyum dan membuat senyuman teman-temannya mengembang.


Faizah kini berdiri dengan semangat. "Ayo kita lihat siapa yang berhasil mendapatkan mangsa tampan!" serunya dengan suara centil penuh semangat.


Keempat wanita muda itu lantas beranjak satu persatu dari kursinya dan berpencar mengambil arah yang berbeda-beda.


Rafael menegakkan tubuhnya. Ia bersiap mengikuti arah perginya wanita bernama Alesha yang berjalan ke arah utara. Entah bagaimana langkah kaki yang mengenakan heels tinggi itu bisa lebih lincah darinya. Langkah wanita itu terlihat semakin cepat. Rafael setengah berlari mengejarnya.


Hingga kemudian Rafael menemukan gadis itu telah memasuki lift bersama beberapa orang. Rafael berlari menuju lift itu untuk menghentikan pintu. Namun, terlambat karena ia sampai tepat setelah pintu tertutup rapat.


Tentu saja ia ini berdecak kesal dan mengempaskan tangannya dengan kasar ke udara. Hampir saja ia bisa meraih wanita itu.


Ia lantas bergegas berlari menaiki tangga menuju lantai tiga, yang mana merupakan arah terdekat tujuan lift. Berpikir bahwa ia akan tepat waktu, tetapi dibuat semakin gusar ketika melihat orang-orang sudah keluar dari lift tanpa wanita bernama Alesha tersebut. Di dalam lift pun sudah tidak ada.


Rafael mencari ke seluruh sudut lantai tiga. Dari mulai gerai buah-buahan segar, sayur-sayuran hidroponik, sampai daging-daging beku.


Ia seketika sadar, wanita muda tidak mungkin ke sana. Pria itu berbalik menelusuri sudut-sudut yang memungkinkan. Hingga ia melihat pintu keluar menuju parkiran. Rafael berharap gadis itu berada di sana.


Ia berkeliling menelusuri seluruh area parkir, tapi tetap tidak menemukan sedikit pun tanda-tanda keberadaan wanita itu.


Rafael yang sudah terengah-engah lantas kembali ke dalam area Mall. Menaiki elevator menuju lantai empat berdasarkan insting tak konkrit yang ia punya. Menelusuri setiap sudut Mall seperti mencari anak kecil yang hilang.


Rafael terus-menerus mengulangi pencariannya dari lantai satu sampai lantai empat. Entah optimisme yang tiba-tiba meluap dari mana yang membuatnya begitu gigih tanpa indikasi menyerah satu persen pun.


"Astaga! Ke mana wanita bernama Alesha itu? Kenapa berjalan sangat cepat seperti dikejar hantu? Di mana ia mencari sugar daddy? Tidak perlu mencari karena akulah yang akan menawarkan diri untuk menjadi sugar daddy."


Rafael kini berpikir akan menjadi sifat daddy untuk Alesha karena berpikir bisa memanfaatkan wanita yang cocok dengan kriterianya selama ini.


"Alesha ... wanita itu sangat mirip dengan mantan istriku."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2