
Hal yang dilakukan oleh Zea akhirnya berhasil. Semua ini berjalan begitu saja dan apa yang telah diperintahkan oleh Nick sudah diselesaikan olehnya.
Ia bahkan tersenyum smirk ketika melihat musuh Nick masuk dalam jebakan. 'Sebentar lagi, aku akan membuat kehidupan pria ini hancur dalam sekejap,' lirih Zea yang kini masih menatap intens wajah pria dengan beberapa kali menguap tersebut.
Menandakan bahwa obat tidur yang ia masukkan ke dalam kopi tadi mulai bereaksi dan membuatnya menjadi sangat senang.
Meskipun ia tahu jika Arsenio adalah seorang pengusaha yang memiliki perusahaan besar dan memiliki paras rupawan, tetapi tidak membuatnya tertarik karena menyukai Nick.
Hingga saat yang ditunggu telah tiba begitu melihat Arsenio tak sadarkan diri dengan posisi membungkuk. Terlihat pria itu membenamkan wajah dengan kedua tangan menopang di atas meja.
Pria berkebangsaan Swedia tersebut mulai melirik ke arah Zea dan tersenyum smirk. "Sekarang tugasmu untuk menyelesaikan perintah dari Nick. Aku harus segera pergi dari sini."
"Baik, Tuan." Zea kini membungkukkan badan sebagai tanda hormat pada pria yang bukan merupakan orang sembarangan tersebut saat berjalan menuju ke arah pintu keluar.
Kini, tatapannya datar saat beralih menatap ke arah sosok pria dengan bahu lebar tersebut.
Entah apa yang akan terjadi pada mereka, intinya saat ini mereka berdua berada di dalam kamar sebuah hotel.
Ya, tadi memang pertemuan berlanjut di kamar hotel dengan alasan ingin suasana lebih tenang.
Tanpa membuang waktu lagi, kini Zea berusaha untuk memapah pria yang sudah tidak sadarkan diri tersebut menuju ke arah ranjang dengan susah payah karena berat tubuh tidak seimbang, membuatnya sedikit kesusahan.
Hingga ia kini telah berhasil merebahkan tubuh kekar itu ke atas ranjang dan melepaskan satu-persatu kancing jas dan kemeja pria tidak sadarkan diri tersebut.
Hingga beberapa saat kemudian ia berhasil menelanjangi Arsenio dan beralih pada diri sendiri.
Kini, keduanya sama-sama telanjang dan Zea sudah menggunakan kamera yang tadi disiapkan untuk mengabadikan momen yang akan menjadi kehancuran seorang pemimpin perusahaan besar tersebut.
Seperti rencana Nick, ia akan menyerahkan bukti-bukti ini kepada semua orang, terutama istri Arsenio, agar hubungan mereka hancur.
__ADS_1
Tidak ada yang dipikirkan oleh Zea karena sama sekali tidak mempedulikan apa yang akan terjadi pada kehidupan rumah tangga pria itu nantinya. Ia sangat senang dengan ini semua dan tidak memperdulikan apa yang dirasakan oleh istri Arsenio nantinya.
Meskipun menyadari jika ia juga adalah seorang wanita yang harusnya bisa merasakan penderitaan istri jika melihat foto-foto hasil rekayasa itu, tetapi lebih mengutamakan perintah Nick yang sangat dicintai.
“Aku hanya berurusan dengan suaminya dan ini semua adalah perintah. Aku hanya dituntut untuk melakukan ini Jadi, ini bukan salahku.” Zea membela diri dan sama sekali tidak mau disalahkan jika nanti sang istri dari Arsenio marah padanya.
Terkadang ini yang terbersit di dalam pikiran seorang pendosa. Walaupun terbukti melakukan kesalahan fatal, tetapi tidak mau mengakui kesalahan.
Semua sudah terjadi dan percuma mengatakan terlalu banyak, jika pada akhirnya semua sudah terjadi.
Zea sudah mendapatkan apa yang diinginkan, serta menuruti keinginan Nick untuk bisa membuat keadaan makin runyam. Intinya, Zea bahagia dan tidak merasa dirugikan sama sekali karena hanya mengambil foto dan tidak benar-benar bercinta dengan pria yang dijebak.
***
Sementara itu di tempat berbeda, ponsel Nick bergetar. Ada sebuah pesan terkirim yang masuk dan membuatnya tidak sabar untuk membukanya.
“Pasti ini pesan dari Zea yang sudah berhasil melakukannya,” kata Nick sambil tersenyum miring.
Semua ini membuat Nick tersenyum smirk dan langsung diam tanpa kata ketika memikirkan kehancuran Arsenio.
Kebersamaan Arsenio dengan Aeleasha sebentar lagi dalam kehancuran dan itu membuatnya tertawa lepas.
"Kau tidak akan pernah bisa melawanku, Arkan. Kali ini, kau hancur berkeping-keping di tanganku. Kau memang bodoh karena hanya datang ke kantorku dengan marah-marah saat itu."
Nick mengingat saat Arsenio datang ke perusahaannya dan melemparkan bukti-bukti kecurangan yang ia lakukan. Tanpa membawa polisi atau pun pamannya, hal itu membuatnya merasa di atas angin.
Hanya saja, ia mendapat beberapa pukulan dari Arsenio dan memang tidak melawan karena hanya membiarkan pria itu meluapkan amarah padanya. Hal itu akan ia gunakan untuk bukti kekerasan dengan melakukan pemeriksaan di rumah sakit dan menyimpan bukti itu.
Hingga suatu hari akan ia gunakan untuk menghancurkan Arsenio sampai pada titik paling terendah sepanjang sejarah hidup pria itu.
__ADS_1
Kini, Nick memegang kopi di tangan sambil menatap ke arah bawah gedung melalui kaca jendela raksasa di ruang kerjanya.
"Apa kata dunia jika melihat foto-foto seorang pebisnis terkenal berselingkuh dengan wanita lain di hotel? Bahkan rumah tangga kalian yang selalu menjadi sorotan karena terlihat sangat romantis akan berubah menjadi kehancuran sebentar lagi."
"Nikmati saja kehancuranmu kali ini, Arsenio. Inilah hukuman dari orang yang merebut hakku. Kau sama sekali tidak berhak mendapatkan harta dari pamanku karena hanya akulah satu-satunya keponakan yang harusnya mendapatkan itu."
"Apalagi di dalam darahku mengalir darah yang sama dengan paman Adelardo. Bukan pria yang tidak jelas sepertimu."
Nick yang masih tersenyum smirk, kini meneguk kopi di tangan dan merasakan sensasi aroma wangi dari minuman berwarna gelap itu.
Tak lupa wajah berbinar terlihat jelas saat ini dan menandakan jika ia benar-benar sangat bahagia karena merasa yakin jika sebentar lagi pamannya akan mengalihkan semua harta padanya setelah mengetahui berita tentang Arsenio.
Pria yang berselingkuh dan menghancurkan perusahaan karena kehilangan para pemegang saham.
Apalagi surat yang ditandatangani oleh Arsenio dan pria itu palsu mengenai penanaman modal.
"Rasanya aku sudah tidak sabar untuk merayakan keberhasilanku ini saat menghancurkan hidup pria tidak tahu diri itu."
Dengan binar kebahagiaan terpancar dari wajah Nick, ketika membayangkan kehancuran hidup pria yang dianggap sudah merebut haknya. Kini, ia meraih ponsel di saku celana dan menghubungi seseorang.
Begitu sambungan telepon diangkat oleh seseorang yang ia hubungi, Nick tidak membuang waktu untuk mengatakan rencananya.
"Siapkan pesta di Perusahaan besok karena aku ingin merayakan sesuatu."
Tanpa menunggu jawaban dari asisten pribadi yang ia hubungi, kini Nick langsung mematikan sambungan telpon dan kembali menatap ke arah jalanan padat di bawah gedung perusahaannya.
"Selamat datang kehancuranmu, Arsenio!"
"Selamat datang kesuksesan untukku," ucap Nick dengan senyuman lebar di bibirnya.
__ADS_1
To be continued...