
Arsenio menahan tangan Aeleasha yang tidak berhenti memukulinya. Meskipun tidak merasakan sakit, tapi ia kali ini mengerutkan dahi karena merasa heran dengan tanggapan dari sang istri yang seperti menunjukkan tidak setuju pada idenya.
Padahal menurutnya, ini adalah hal terbaik untuk membereskan masalah mengenai mantan suami tersebut. Ia menganggap bahwa saat Rafael merasakan nikmatnya bercinta dengan wanita yang bernama mirip dengan istrinya, besar kemungkinan akan langsung melupakan perasaan pada Aeleasha.
Jika itu terjadi, ia akan merasa bahagia karena pria itu telah membuatnya sedikit tidak tenang karena menjadi beban pikiran sang istri yang selalu merasa bersalah.
"Memangnya kenapa, Honey? Bukankah ini adalah sebuah ide yang sangat brilian? Aku yakin masalah Rafael akan selesai dan kamu tidak akan lagi dibebani oleh rasa bersalah seumur hidup."
Aeleasha hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar penjelasan dari sang suami yang dianggapnya sangat nakal karena ingin menjebak pria baik seperti Rafael.
"Aku tidak setuju karena tidak ingin membuat Rafael ternoda."
Kalimat terakhir dari sang istri, kini membuat Arsenio tertawa terbahak-bahak karena merasa sangat konyol. Bahkan saat ini ia tengah merasa sangat kesal pada sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut.
Seolah sang istri kini tengah menganggap seorang Rafael adalah pria yang suci dan tentu saja membuatnya merasa sangat cemburu.
"Apa kamu sangat mengagumi mantan suamimu? Hingga berpikir jika pria itu adalah seorang pria suci yang tidak pernah ternoda? Astaga, rasanya aku ingin mencari tahu tentang kelemahan atau keburukannya dan memberikan informasi itu padamu, Honey."
Saat selalu melihat raut wajah cemburu dari sang suami yang serasa merantainya ketika membahas Rafael, padahal sejatinya ia hanyalah mengangumi mantan suami yang merupakan pria sangat baik.
Bahkan ia menganggap Rafael adalah dewa penolong untuknya karena dulu menyelamatkan dari maut saat berniat untuk mengakhiri hidup. Hingga berlanjut menjaganya sampai ia hamil, melahirkan dan membesarkan Arza dengan menganggap seperti anak sendiri.
Hal itulah yang membuatnya selalu diliputi rasa bersalah saat Rafael masih belum bisa melupakan dirinya, sehingga ingin melakukan sesuatu yang baik, tapi bukan menggunakan ide dari Arsenio.
"Aku tetap tidak setuju dengan idemu itu. Jadi, jangan macam-macam, oke!
Aeleasha kini memilih untuk menguraikan ketegangan dengan sebuah ciuman di pipi dengan rahang tegas tersebut.
Mendapatkan sebuah kecupan di pipi, Arsenio merasa bahwa sang istri kini sedang mengingatkan pada hal yang sempat dilupakan, yaitu hukuman.
"Lebih baik kita bahas itu nanti saat di rumah. Sekarang, aku harus melanjutkan hukuman untukmu?" Tersenyum menyeringai dan mengedipkan mata.
Baru saja ia menggoda sang istri, malah melihat sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut langsung berbalik badan memunggungi. Seolah ingin kabur dan darinya atau mungkin merasa malu. Ia sangat gemas dengan sikap malu-malu dari sang istri ketika bercinta dan itu malah membuatnya sangat bersemangat untuk menggoda.
"Apa tidak bisa menunda hukumannya?" tanya Aeleasha yang tadinya berniat untuk bangkit dari bathtub dan melarikan diri dari sang suami.
Namun, gagal karena ditahan oleh dua tangan kekar yang langsung melingkar di perutnya.Tidak hanya itu saja, bahkan ia mendengar suara Arsenio di dekat daun telinganya.
__ADS_1
"Patuh atau mendapat tambahan hukuman?" bisik Arsenio yang saat ini tengah mendekatkan bibirnya pada daun telinga sang istri dan tersenyum menyeringai begitu melihat Aeleasha hanya diam tak berkutik.
Bahkan jawaban yang baru lolos dari bibir wanita cantik itu, kini kembali membuatnya merasa di atas angin karena menang.
"Cukup dua hukuman karena aku tidak mau badanku remuk redam hari ini." Aeleasha kini memilih untuk pasrah dan memberi akses pada pria di belakangnya untuk melakukan apapun demi membayar kesalahannya tadi.
Tentu saja mereka masih berendam di dalam bathtub dengan posisi berpelukan karena tentu saja Aeleasha merasa sangat malu dalam keadaan polos bersama pria tampan yang sangat dicintainya itu.
Meskipun sudah menjadi istri, tetap saja ia merasa malu saat melakukan hal-hal intim, sehingga lebih memilih untuk duduk membelakangi suaminya agar tidak melihat wajah tampan yang dari tadi menatapnya dengan tatapan lapar penuh hasrat yang seolah ingin langsung memangsanya habis-habisan.
Jantungnya yang berdetak sangat kencang seolah ingin keluar dari tempatnya saat ia merasakan bibir suaminya sudah menjelajahi setiap inchi lehernya.
Tubuhnya seperti terkena sengatan listrik begitu mendapat sentuhan. Bahkan aroma napas mint yang keluar dari mulut pria yang baru saja membisikkan sesuatu di telinganya, membuat tubuh Aeleasha seketika menegang.
"Aku ingin memberikan hukuman nikmat padamu, Honey," ucap Arsenio masih di dekat daun telinga istrinya dan sudah mulai sibuk memberi jejak kepemilikan di leher wanita yang sudah melenguh dan mendesah karena perbuatannya.
Tidak hanya itu saja karena tangannya sudah merajalela di area-area sensitif milik istrinya. Seolah ia tidak ingin melepaskan satu inchi pun lolos dari tangannya.
Otomatis stempel kepemilikan di leher belakang sang istri terlihat sangat jelas dan bisa dilihat oleh semua orang yang menatapnya. Seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa wanita di depannya hanyalah miliknya.
"Sayang, hentikan! Nanti tubuhku merah semua. Apa kata orang-orang nanti saat melihatku keluar dari hotel. Aku malu!"
"Aku sudah membuktikan kekuatan cintaku pada dunia, Sayang. Sekarang aku ingin menunjukkan pada semua orang kalau kamu hanyalah milikku seorang. Ini adalah sebuah tanda cinta dariku untukmu."
Arsenio masih melanjutkan kegiatannya memberikan jejak kepemilikan di sana.
Aeleasha langsung menoleh ke arah belakang, niatnya adalah untuk merengut agar pria yang masih tidak berhenti menjamah tubuhnya itu menghentikan kegiatannya.
Namun, saat hendak membuka mulutnya untuk bersuara, yang terjadi malah tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena bibirnya sudah dibungkam oleh pria yang sudah menciumnya dengan liar dan mengabsen setiap sudut bagian dalam mulutnya.
Ciuman itu bertambah semakin liar saat Arsenio mulai terbakar gairahnya, sehingga ia seolah tidak bisa menahan diri lagi untuk menyalurkan hasratnya.
Aeleasha yang sudah membalas ciuman brutal yang membuat bibirnya kebas itu bisa membaca pikiran suaminya yang sudah mulai dikuasai oleh gairah. Bahkan ia bisa merasakan sesuatu yang mulai mengeras di bawah sana.
'Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan, Aeleasha karena suamimu ini akan menghabisimu dengan kekuatannya yang selalu luar biasa,' lirihnya di dalam hati saat hanya bisa mengungkapkan perasaannya tanpa bersuara.
Arsenio kini melepaskan pagutannya begitu kehabisan stok pasokan oksigen dan mengarahkan tangannya untuk merangkum kedua sisi wajah imut nan menggemaskan itu.
__ADS_1
"Honey, nikmati hukumanmu sekarang!"
Aeleasha yang sudah semakin merah permukaan kulit wajahnya hanya bisa menganggukkan kepala tanpa berani untuk mengeluarkan suara.
Melihat jawaban yang menunjukkan sebuah persetujuan dari wanita yang sudah mengangguk perlahan, tentu saja membuat raut wajah Arsenio yang parau karena dikuasai oleh gairah, seketika berubah berbinar begitu mendapatkan sebuah lampu hijau yang membuatnya benar-benar bagaikan seorang pejuang di medan peperangan yang telah menang karena mengalahkan musuh.
Tanpa memperdulikan apapun lagi, ia tentu saja sudah kembali membuat wanitanya menghiasi ruangan kamar mandi mewah itu degan suara merdu saat merintih dan mendesah.
Tentu saja seperti yang dikatakan oleh Arsenio, terjadilah ronde kedua di kamar mandi berukuran luas tersebut.
***
Setengah jam kemudian, mereka keluar dari ruangan Presidential suite room tersebut dan langsung menuju ke arah lift untuk turun ke lobby hotel. Keduanya terlihat sangat mesra bagaikan sepasang pengantin baru yang baru saja melakukan honeymoon.
"Saat dipikirkan, tingkah kita sangat lebay dan memalukan, Sayang. Mungkin perbuatan kita sudah menjadi berita utama di media sosial dan surat kabar. Dengan tajuk utama pasangan mesum yang melupakan anaknya."
Arsenio yang masih memeluk erat sang istri di dalam lift, kini hanya terkekeh geli dan berkomentar, "Meskipun kita berbuat sesuka hati dan ada paparazi yang mengetahuinya, aku akan dengan mudah menghapus berita apapun, tapi kalau berita itu mengenai keromantisan kita, akan membiarkannya."
Bunyi denting lift menandakan pintu kotak besi itu akan terbuka, mereka melangkah keluar dari lift tersebut dan mulai berjalan keluar hotel.
Seorang pria terlihat tersenyum puas saat mendapatkan sebuah berita terbaru yang menurutnya akan membuatnya naik pangkat.
"Pengusaha terkenal dan sukses di New York baru saja keluar dari hotel terbaik," ucap sang wartawan yang saat ini diam-diam memotret dengan kamera miliknya.
To be continued...
***Halo pembacaku tersayang, Author kembali membawa karya teman yang pastinya sangat menarik dan cocok untuk dijadikan bacaan kalian semua.
Novel dari Eka Pradita yang berjudul One Night Destiny. Jangan lupa masukkan ke rak baca, ya! Terima kasih 🙏***
Blurb :
Satu malam yang kelam di mana ketika Zoya mabuk dia dipertemukan dengan seorang pria kaya raya yang kejam hingga berakhir di atas ranjang. Tanpa sadar kesuciannya hilang. Namun, Zoya menganggapnya sebagai jalan keluar dari masalah yang kini dihadapinya.
Bagaimana jika ternyata cinta satu malam itu sampai membuatnya hamil? Apakah Lucas akan mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya? Ikuti kisahnya sampai tamat hanya di One Night Destiny.
__ADS_1