I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Malam ini bisa tidur bersama


__ADS_3

Tiana seketika menoleh ke arah putranya yang suka menjadi seorang pria bucin pada Alesha. Jika selama beberapa minggu terakhir ini ia marah pada Rafael karena menipunya.


Hingga akhirnya Rafael memilih untuk berpisah dengan menantu kesayangan, kali ini seketika amarah yang memenuhi dirinya seolah luntur begitu saja melihat sikap putranya pada Alesha.


Tentu saja tidak ada pemandangan yang lebih membahagiakan selain hari ini saat melihat putranya sudah sepenuhnya menerima sang istri yang ternyata sudah mengandung calon cucunya yang selama ini sangat diharapkan.


Ia yang tadi dikabari Rafael ketika mengatakan bahwa besan serta menantu kesayangan dirawat di rumah sakit, seketika berangkat dengan perasaan berkecamuk karena bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.


Apalagi Rafael sama sekali tidak menjelaskan karena menutup panggilan secara sepihak. Jadi, ia berpikir bahwa lisan serta menantunya dirawat di rumah sakit karena merasa bersedih pada perbuatan putranya yang tidak bertanggung jawab.


Rencananya adalah ingin memberikan hukuman pada putranya dan juga melampiaskan kemurkaan demi bisa menebus kesalahan pada ibu dan anak yang menurutnya sama sekali tidak bersalah karena ia tahu bahwa Alesha melakukan hal itu demi kesembuhan sang ibu.


Tetap ia berpikir bahwa putranya yang menjadi pusat permasalahan karena telah menipunya mentah-mentah dengan melakukan pernikahan kontrak melalui pemanfaatan musibah yang dialami oleh Alesha demi menghindari perjodohan.


Meskipun mengakui bahwa ia turut bersalah karena selalu mendesak putranya agar segera menikah, tapi berpikir bahwa itu semua demi kebaikan Rafael agar tidak menjadi duda tua yang tidak laku dan tidak bisa meneruskan jejak keluarga Zafran.


Ibu mana yang bisa melihat putra satu-satunya tidak menikah lagi dan juga tidak akan meneruskan jejak keluarga Zafran. Ia pasti akan merasa bersalah dan berdosa pada sang suami jika menyusul pria yang dicintainya tersebut di surga nanti.


Namun, hari ini ia merasa sangat lega karena putranya baru menyadari ada cinta yang tersemat di hati untuk Alesha. Menantu kesayangan yang saat ini tengah mengandung buah cinta mereka.


Meskipun mengetahui yang sebenarnya bahwa Rafael melakukannya karena di bawah pengaruh minuman alkohol, tapi tidak memperdulikan itu karena saat ini merasa lega.


Bahwa rumah tangga putranya yang di ambang kehancuran ini kembali kokoh dan semakin kuat karena hadirnya janin di rahim Alesha. Kini, Tiana menatap ke arah sosok putra kesayangan yang selama ini selalu menjadi kebanggaan.


"Alhamdulillah, ternyata sekarang putraku sudah kembali seperti semula. Mama benar-benar sangat bahagia melihatmu kembali bersemangat dalam melanjutkan hidup dan mengakui keberadaan istrimu serta calon penerus keluarga Zafran."


Tiana bahkan saat ini sudah berurai air mata ketika memeluk putranya untuk mengungkapkan kebahagiaan yang tidak terhingga. Ia benar-benar sangat terharu melihat sikap gentleman yang ditunjukkan oleh putranya ketika melindungi Alesha.


"Meskipun dari dulu Mama ingin melihat sikap yang seperti ini, tapi tidak ada yang terlambat dan ternyata rencana Tuhan jauh lebih indah. Akhirnya kalian bisa saling mencintai dan melindungi satu sama lain."


Bahkan beberapa kali Tiana mengusap punggung lebar Rafael karena merasa bangga memiliki seorang putra yang bisa dibanggakan atas sikap tanggung jawab sebagai seorang suami.


"Mama selama ini sangat bahagia memilikimu yang bertanggung jawab sebagai seorang putra dan juga pemimpin yang baik di perusahaan. Sekarang, jauh lebih berharga karena menjadi suami yang perhatian pada istri serta kelak menjadi ayah yang dibanggakan."


Rafael saat ini ikut berkaca-kaca karena jujur saja ia merasa bersalah pada Alesha. Membiarkan wanita yang tengah hamil itu sendirian tanpa perhatian seorang suami, membuatnya berdosa karena mengetahui bagaimana perjuangan seorang ibu ketika mengalami morning sicknes.


"Terima kasih karena Mama mau mengerti aku yang selama ini terpuruk karena tidak bisa bangkit. Aku sekarang baru menyadari bahwa selama ini hanya kasihan pada Aealeasha. Aku menyalah artikan rasa sayangku padanya sebagai cinta."

__ADS_1


"Padahal setelah hari ini aku menyadari rasa cintaku pada Alesha, baru memahami bahwa dulu sangat menyayangi Aealeasha sebagai saudara perempuan. Karena jika aku mencintainya, tidak mungkin dengan mudah merelakannya kembali dengan Arsenio."


Tiana masih berusaha untuk memahami apa yang dirasakan putranya selama ini pada Aealeasha yang merupakan putri dari mantan majikannya.


Ia sebenarnya dari dulu merasa tidak setuju jika putranya memiliki perasaan pada Aealeasha meski sudah menganggap sebagai putri sendiri karena tinggal bersamanya setelah diusir dari rumah oleh sang ayah.


Selain karena dulu status sosial yang sangat berbeda kasta, menganggap bahwa selera seorang putri dari majikannya pasti pria yang hebat serta memiliki kekuasaan dan berparas tampan.


Putranya memang tampan, tapi dulu hanyalah pekerja biasa di perusahaan Arsenio. Jadi, sadar diri dan menyuruh putranya untuk mengikhlaskan Aealeasha yang sama sekali tidak pernah membalas perasaan Rafael.


Karena Aealeasha hanya menganggap jika Rafael adalah seorang saudara laki-laki dan tidak akan pernah berubah menjadi cinta sampai kapan pun.


"Mama sekarang benar-benar lega karena kamu sudah mengetahui hal yang baik untukmu, putraku. Mama sudah lama menunggu pengakuan ini keluar dari bibirmu ketika menemukan sosok wanita yang membuat hatimu luluh."


"Apalagi Mama sangat setuju begitu kamu membawa Alesha ke rumah karena merasa yakin jika ia bisa menjadi seorang istri serta ibu yang baik dan melengkapi kebahagiaan di rumah keluarga besar kita."


Rafael seolah tidak bisa berkata-kata lagi karena ia mengakui semua perkataan dari sang ibu memang benar. Bahwa Alesha memang adalah satu-satunya wanita yang tepat dan bisa membuatnya menyadari arti cinta sejati yang sebenarnya.


"Iya, Ma. Sekarang aku ingin menjadikannya ratu kedua di keluarga kita. Aku sangat mencintai Alesha dan menyadarinya setelah ia melindungiku dari Alex."


Rafael seketika menarik diri begitu sang ibu melepaskan pelukan dan menatapnya penuh dengan sorot pertanyaan.


Tiana saat ini menoleh ke arah Alesha, tetapi sudah dijawab oleh besannya yang langsung menyahut untuk menjelaskan demi menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi.


"Dia adalah dosen dari Alesha dan ternyata mencintainya. Bahkan aku baru tahu hari ini setelah melihat kejujuran di mata pria itu," ucap Lia Nuraini yang saat ini menoleh ke arah putrinya karena khawatir jika keberatan ia mengatakan hal sebenarnya.


Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena Alesha hanya diam saja tanpa berkomentar. Seolah membiarkan siapapun untuk menjelaskan pada sang mertua yang belum tahu mengenai dosen dengan paras rupawan itu.


Alesha yang tadi merasa sangat terharu hingga berurai air mata melihat interaksi antara ibu dan anak yang saling meluapkan perasaan bahagia begitu menyadari kesalahan masing-masing, ia tidak berhenti mengucap syukur pada Sang Kuasa.


Bahkan pemandangan yang dilihatnya benar-benar tidak membuatnya sedetik pun memalingkan wajah karena sangat terharu serta bahagia memiliki seorang suami beserta ibu mertua yang sangat menyayanginya.


'Terima kasih, Ya Allah. Semua kebahagiaan ini tidak luput dari cobaan yang Engkau berikan padaku dimulai dari ibuku yang sakit sampai aku terombang-ambing dalam perasaan kosong ketika tidak mendapatkan balasan dari pria yang kucintai.'


'Ternyata semuanya terbayarkan lunas dengan penuh kebahagiaan saat Alex memberikan pelajaran pada Rafael dan membuatku tidak tega hingga mengungkapkan hal yang selama ini kusimpan di dalam hati.'


Alesha saat ini merasa sangat bahagia yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata dan mengingat jika penyebab dari kebahagiaan ini adalah Alex.

__ADS_1


'Alex, aku perlu berbicara dengannya, serta mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan yang dilakukannya padaku. Ia pasti sangat terluka karena pengakuanku tadi. Aku akan meminta maaf padanya dan berdoa agar Alex menemukan wanita yang dicintai suatu saat nanti.'


Saat Alesha sibuk dengan pemikirannya, kini ia mendengar suara dari perawat yang mengungkapkan kekesalan karena ada banyak orang yang menunggunya.


"Maaf, di sini hanya diizinkan satu orang penunggu. Mohon yang lainnya menunggu di luar karena pasien akan segera dipindahkan ke ruangan!" sahut sang perawat datang bersama rekannya yang bertugas untuk mendorong memindahkan pasien.


Karena merasa sangat tidak nyaman serta tidak bebas berada di rumah sakit, Alesha seketika membuka suara untuk menghentikan pria yang hendak mendorong ranjang perawatan tempatnya berbaring.


"Tunggu, Suster!"


Kemudian Alesha menatap ke arah Rafael agar membantunya segera pulang karena benar-benar bosan berada di rumah sakit.


"Aku tidak ingin dirawat di rumah sakit. Lebih baik rawat jalan saja. Bukankah keluarga kita punya dokter pribadi? Lagipula aku tadi pingsan karena efek lemas setelah muntah-muntah. Hal yang biasa terjadi pada kehamilan di trimester pertama."


Sebenarnya Alesha tahu bahwa Rafael sudah paham mengenai kehamilan seorang wanita karena sudah pernah menjaga mantan istri yang hamil benih pria lain.


Hingga ia pernah merutuki kebodohan Rafael yang terlalu baik pada wanita yang sama sekali tidak mencintainya, tapi menyia-nyiakan wanita yang mencintai dan bahkan sudah hamil benihnya.


Namun, sekarang ia merasa bahwa Rafael adalah satu-satunya pria yang pantas untuk dicintainya karena sangat mencintainya hingga tidak berniat melepaskannya untuk pria lain, seperti Alex.


Hingga ia yakin jika hidupnya akan bahagia bersama pria bertanggung jawab seperti Rafael yang sudah mengakui di hadapan ibu dan mertuanya bahwa sangat mencintainya dan akan menjadi seorang suami bertanggung jawab serta membanggakan anaknya.


Karena tidak mendapatkan tanggapan dari sang suami, Alesha yang merasa kesal, kini menahan diri dan berusaha untuk merayu agar pria itu menuruti kemauannya.


"Sayang, aku ingin pulang dan tidur di ranjang kita yang nyaman." Alesha seketika mengerjapkan mata karena merasa salah bicara begitu menyadari Rafael seketika tersenyum menyeringai padanya.


Tatapan nakal dari sang suami yang tertuju padanya membuatnya bisa mengerti apa pemikiran pria yang seketika bersemangat untuk menuruti permintaannya.


"Suster, seperti yang dikatakan istri saya tadi bahwa ia sudah merasa lebih baik. Saya akan membayar biaya satu hari ruangan VIP meskipun tidak ditempati. Saya pun akan menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut rumah sakit ini jika terjadi apapun pada istri saya yang sangat bandel ini."


Rafael seketika membayangkan bisa tidur di atas ranjang empuk di kamarnya begitu mendengar pengakuan Alesha yang tidak mau dirawat di rumah sakit.


Bahkan ia sudah membayangkan bisa berbicara panjang lebar sambil menatap wajah cantik wanita yang saat ini hamil benihnya di atas ranjang yang sama untuk pertama kali. Karena selama ini selalu bertengkar dan tidur terpisah.


'Hore! Malam ini aku bisa tidur bersama istriku,' gumam Rafael yang hanya bisa mengungkapkan kebahagiaan tak terhingga di dalam hatinya.


Karena ia tidak mungkin mengungkapkan secara terang-terangan di depan ibu serta mertuanya karena yakin akan diejek habis-habisan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2