
Wanita itu hanya menatapnya datar. "Aku tegaskan sekali lagi, apa urusannya masalah ini denganmu? Apakah kamu lupa batasan kita? Itu sudah termasuk mencampuri urusan pribadiku, tahu!"
Rafael membalas tatapan datar Alesha. "Kalau kamu ingin aku membayar denda, pasti akan membayarnya. Namun, sayangnya ini bukan kehendakku."
"Maksudmu?" Alesha mengernyitkan alisnya karena makin dibuat bingung oleh Rafael.
Rafael kemudian mengambil beberapa buah map yang ada di lacinya, kemudian memindahkannya ke meja. "Pertanyaan terakhir, pelajaran apa yang paling kamu suka?"
Masih merasa bingung, Alesha sejenak memejamkan matanya. Seolah tengah mengeluh tanpa suara. "Bahasa Inggris," jawabnya kemudian dengan terpaksa.
Rafael kemudian membuka map itu satu persatu, memilah dan memilih isi yang mana yang paling tepat.
Sampai kemudian ia menemukan satu yang dirasa paling tepat.
Lelaki itu kemudian memasukkan map-map lainnya kembali ke lacinya. Map yang sudah Rafael pilih tadi ia sodorkan pada Alesha.
"Bahasa Inggris, Sastra Inggris, Bahasa Inggris terapan, semuanya paling baik di sini."
"Apa ini?" tanya Alesha bingung hingga alisnya terangkat satu.
"Bukalah." Rafael mempersilakan dengan elegan.
Merasa sangat penasaran, buru-buru Alesha membuka map itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar formulir yang tampak asing di matanya. Ia kemudian membaca formulir itu di dalam hati, lantas sontak melebarkan kelopak matanya sendiri.
"Apa maksudnya formulir ini?" tanya wanita itu seraya membulatkan mulutnya.
"Formulir pendaftaran kuliah. Kamu bisa membacanya dengan jelas, bukan?" ucap Rafael memastikan dengan sarkas.
Sementara itu, Alesha membasahi bibirnya, lantas menyunggingkan senyum paksa. "Aku bertanya, apa maksud formulir ini? Kenapa kau tiba-tiba memberikan formulir pendaftaran kuliah padaku?"
Rafael memajukan badannya, bermaksud bersiap menjelaskan. "Untukmu. Untuk apa lagi? Mamaku yang menyuruhku melakukan ini. Jadi, ini bukan keputusanku dan tidak ada hubungannya dengan transaksi kontrak kita."
Wanita itu semakin menukikkan alisnya. "Jadi, maksudmu?"
"Mamaku ingin kamu melanjutkan kuliah. Aku sudah memilih beberapa universitas yang bagus dan memilahnya lagi dengan yang paling tepat berdasarkan referensi jawabanmu."
__ADS_1
"Aku juga akan menanggung biayanya. Aku sudah melakukan sampai sejauh ini. Jadi, kurasa akan keterlaluan jika kamu menolaknya." Lelaki itu menatap Alesha dengan seksama, mengamati reaksinya yang masih terkejut.
Kini, Alesha kemudian terkekeh karena merasa apa yang didengarnya sangatlah konyol. "Bukankah ini agak …."
Wanita itu menggaruk tengkuknya, merasa bingung sendiri dan tak mampu berkata-kata lagi.
"Kamu ingat sekarang statusmu itu adalah calon istriku? Anggaplah ini sebagai upaya untuk menyetarakan posisimu denganku. Apa kata orang kalau calon istriku putus sekolah karena masalah ekonomi?" Rafael kembali bersuara, dengan sedikit upaya meyakinkan Alesha yang terlihat ragu dan bingung.
Terdengar suara helaan napas dari wanita di depannya. Alesha tampaknya masih berpikir keras dan tidak tahu ingin berucap apa lagi.
"Pulanglah dan isilah formulir itu tanpa terlewat. Besok, kembalilah jam tujuh pagi dan bawa perlengkapan berkasnya. Aku akan mengantarmu mendaftar." Rafael akhirnya berucap tegas, membuat Alesha tak punya celah lagi untuk menolaknya.
Alesha kini menatap Rafael sekilas. "Baiklah," ucapnya pelan. Ia kemudian memasukkan kertas-kertas itu kembali ke dalam map.
"Sampaikan terima kasih terdalamku pada mamamu. Aku pamit dulu."
Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduk. Lantas melangkahkan tungkainya keluar meninggalkan Rafael sendiri dalam ruangan.
Alesha keluar dengan perasaan berkecamuk. Rasanya sungguh asing. Hatinya merasa sangat bingung, tetapi juga berdebar-debar dengan sangat heboh.
Sapaan resepsionis yang ada di depan pun diabaikan. Alesha terlalu sibuk dalam pikirannya sendiri.
Hingga memasuki bus mini untuk pulang, ia terus mengeratkan map itu dalam pelukannya sendiri, seakan isinya adalah uang puluhan juta rupiah yang akan dicuri orang jika lengah sedikit saja.
Alesha tidak bisa mengerti dengan pasti perasaannya sekarang. Rasanya bingung, berdebar-debar dan mungkin … senang.
Sedari dulu, ia memiliki mimpi yang pasti. Akan tetapi, ada satu impian yang selalu ia rindukan dalam dambaannya. Mimpi untuk melanjutkan pendidikannya, yang selama beberapa tahun tertunda dan terhambat oleh berbagai rintangan.
Alesha tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena ekonominya tidak mencukupi. Kemudian, ibunya tiba-tiba jatuh sakit sehingga ia harus mengalah, menghabiskan tabungannya yang tidak seberapa untuk biaya perawatan dan bekerja keras untuk pengobatan rutinnya.
Sampai goncangan selanjutnya akhir-akhir ini, yang membuat ia benar-benar merasa telah kehilangan banyak kesempatan untuk bisa menggapai mimpinya.
Bus berhenti di sebuah halte, Alesha mengerucutkan bibirnya merasa perjalanannya kali ini begitu cepat.
Ia kemudian terpaksa turun dari bus mini itu, kini melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki menuju rumahnya yang sudah dekat.
__ADS_1
Semburat senyum terukir di wajahnya, debaran di dadanya masih ada, jelas sekali.
Sampai di depan rumahnya, Alesha lantas berlari kecil. Wanita itu melepas sepatunya dengan tergesa dan memasukkannya ke dalam rak dengan asal.
Alesha membuka kunci pintu rumahnya dengan gestur buru-buru. Pintu terbuka, ia langsung memasuki rumahnya dengan antusias. Wanita itu lantas berlari menuju kamarnya.
Kemudian membuka map itu dan meletakkan beberapa kertas dari dalamnya di atas meja. Ia kemudian mengambil ballpoint dari lacinya dan mengetuk-ngetukkannya di dagu sendiri. Senyum lebar perlahan mengembang di wajahnya.
Alesha kemudian menutup wajahnya sendiri, memekik tanpa suara.
Beberapa saat menggila, wanita itu kemudian menarik-embuskan napasnya, lantas mengelus dadanya sendiri.
Alesha kemudian membaca formulir itu dengan seksama, tidak seperti di kantor Rafael yang hanya membacanya dengan sekilas.
Setelah membaca dengan teliti, wanita itu kembali membulatkan mulutnya, lalu beberapa saat kemudian membekap mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.
"Astaga!" bisiknya. "Apakah aku baru saja kejatuhan bintang dari langit?" Alesha merintih dramatis.
Wanita itu kemudian mengangkat kertas itu, menghadapkannya pada jendela. "Bukankah ini universitas mahal? Apa ini benar-benar nyata?"
Alesha sungguh tidak percaya dengan apa yang dialaminya sekarang.
Pertama, mama Rafael menyuruhnya kuliah dan menanggung biayanya. Kedua, ia akan mendaftar kuliah di universitas yang terkenal mahal itu. Kedua hal itu masih sangat terdengar mustahil baginya.
Akan tetapi, keduanya benar-benar terjadi padanya sekarang. Alesha tak pernah menyukai berbagai kejutan yang terjadi dalam hidupnya, tetapi hari ini, mungkin ia harus menarik kata-katanya kembali.
Alesha tidak tahu harus merasa tidak enak atau tidak tahu diri menerima itu semua, tetapi ia mengakui kalau ia benar-benar senang sekarang.
Melanjutkan pendidikannya adalah impiannya sejak lama. Impian itu sudah menjadi tujuan utamanya yang membuatnya terus berdiri dengan kuat hingga saat ini.
Alesha perlahan menggerakkan tangannya, selangkah demi selangkah mengisi formulir itu dari urutan paling awal. Senyumnya mengembang, menanamkan keyakinan pada dirinya sendiri.
Mungkin, Alesha akan sedikit berbahagia mulai hari ini.
To be continued...
__ADS_1