
Alesha tersadar begitu indra pendengarannya menangkap suara samar-samar dari seseorang yang sangat dihafalnya dan membuatnya langsung membuka mata. Seketika ia mencari sumber suara dan menoleh ke arah pintu keluar dan mengetahui bahwa ada dua pria yang sangat dikenalnya.
Hingga ia pun mendengar suara dari dokter dan perawat yang berbicara dan membuatnya segera bangkit dari posisinya yang tadi berbaring di atas ranjang perawatan.
"Anda sudah sadar, Nyonya?" tanya sang dokter yang saat ini berdiri di sebelah kanan ranjang.
Alesha yang mengingat bahwa tadi merasa sangat mual ketika berada di dalam taksi yang menuju ke arah restoran saat hendak menemui sosok pria yang memaksanya untuk bertemu.
Hingga ia menyuruh sopir taksi untuk menepikan mobil agar bisa mengeluarkan seluruh isi perutnya yang tidak bisa ditahan ingin keluar. Namun, saat kembali ke dalam mobil, merasa sangat pusing dan kehilangan kesadaran.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka jika yang terjadi adalah sekarang ada dua pria yang berada di IGD dan terlihat ribut. Tentu saja ia merasa bingung bagaimana bisa dua pria itu mengetahui keberadaannya.
Hingga ia yang berniat untuk menghentikan aksi dua pria yang mungkin sedang ribut di luar atau bisa jadi sudah berkelahi dengan saling baku hantam.
Hingga ia membulatkan mata begitu melihat wanita paruh baya yang saat ini tidak sadarkan diri di sebelahnya. "Ibu? Apa yang terjadi pada ibu saya, Dokter?"
"Pasien merasa sedih gitu mengetahui bahwa Anda saat ini sedang mengandung," sahut sang perawat yang ingin segera mengatakan masalah rumit yang terjadi dengan wanita itu karena membuat dua pria membuat keributan di IGD untuk pertama kalinya.
Alesha sebenarnya ingin mendekati sang ibu, tapi saat ini berpikir bahwa ada dokter dan perawat yang bisa menjaga. Jadi, memilih untuk bergerak turun dari ranjang perawatan karena ini segera menemui dua pria yang sangat dikhawatirkan olehnya.
"Saya harus menghentikan dua pria yang membuat keributan tadi." Alesha berniat untuk berjalan dengan membawa tiang infus ketika keluar.
Namun, seketika dihentikan oleh sang dokter yang berbicara padanya. "Anda bisa kembali pingsan jika berjalan karena masih pusing karena pengaruh hormon kehamilan."
__ADS_1
Kemudian berani menatap ke arah perawat dan memberikan perintah karena ia mengerti pada sesuatu yang harus diselesaikan oleh wanita yang membuat dua pria saling berdebat tadi.
"Bawa kursi roda untuk mengantar pasien!"
"Baik, Dokter." Perawat wanita tersebut langsung berjalan menuju ke arah ruangan yang menyimpan kursi roda dan menyuruh pasien untuk duduk agar ia bisa mendorongnya.
Alesha yang memang merasakan kepalanya berkunang-kunang dan sangat lemas, beberapa saat lalu menunggu dengan duduk di tepi panjang perawatan.
Kemudian segera melakukan perintah dari perawat dan mengucapkan terima kasih karena telah membantunya agar tidak susah-susah berjalan sambil mendorong tiang infus untuk menemui Rafael dan Alex.
Begitu mendengar suara teriakan dari dua pria yang ada di depan IGD, Alesha benar-benar merasa sangat marah karena Rafael menuduh Alex adalah ayah dari janin yang dikandungnya.
Meskipun sebenarnya ia sudah menduga respon dari Rafael akan seperti itu karena sama sekali tidak mengingat pernah bercinta dengannya karena efek mabuk, tapi begitu merasakannya dan melihat sendiri, rasanya sangat sesak dan membuatnya seperti kesulitan bernapas.
Bahkan ia juga merasa kesal pada Alex karena mengakui hal yang sama sekali tidak dilakukan dengan berbicara bohong. Kini, ia menatap tajam nggak ada Alex agar menghentikan kebohongannya.
Alex semakin bertambah kesal karena respon dari wanita yang dibelanya mati-matian malah seolah tidak menyalahkan Rafael.
"Aku hanya ingin memberikan pelajaran pada pria yang sama sekali tidak bisa memahami seorang wanita," sarkas Alex yang menghampiri sosok wanita di atas kursi roda tersebut.
"Tidak perlu! Biarkan saja ia berpikir bahwa aku hanyalah seorang wanita murahan dan tidak tahu diri di matanya." Alesha saat ini tidak peduli dengan pemikiran Rafael karena berpikir sudah tidak ada hubungan apapun semenjak ditalak.
Satu-satunya yang dipikirkan saat ini hanyalah menjelaskan pada sang ibu tentang kehamilannya. Hal itu membuatnya benar-benar tertekan karena merasa bingung harus bagaimana mengatakan tentang janin yang ada di dalam rahimnya.
__ADS_1
'Bagaimana ini? Aku belum siap untuk menjelaskan tentang janin yang ada dalam rahimku sama sekali tidak diakui oleh Rafael yang merupakan ayah biologis. Lalu, Alex? Pasti ia juga merasa bingung hingga rela mengakui sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan.'
Sementara itu, Rafael yang merasa bahwa alasan dari Alesha menunjukkan jika wanita itu memang telah melakukan hubungan lebih jauh dengan Alex, membuatnya mengepalkan tangan untuk menahan amarah yang memuncak di dalam dirinya.
Ingin sekali ia mengumpat Alesha yang telah menipunya dan tidak mengatakan apapun padanya, sedangkan Alex tahu semua hal. Kini, mendorong tubuh Alex agar menjauh dari hadapan Alesha karena ia ingin berbicara.
"Menyingkirlah dari Alesha karena statusmu bukanlah apa-apa. Akulah yang masih menjadi suami Alesha karena belum mengurus surat perceraian dan juga masih menjatuhkan talak 1. Satu hal lagi, bukankah wanita yang sedang hamil tidak boleh diceraikan oleh suami?"
Rafael yang merasa bahwa ia menang status, ingin membuat Alex tidak sombong karena telah menjadi pemenang, sehingga menggunakan hal itu agar tidak merendahkannya sebagai seorang pria.
Kini, ia mengarahkan tatapan tajam ada wanita di atas kursi roda yang berada tepat di hadapannya. Bahkan ia sedikit membungkuk agar bisa menyamakan posisi dengan Alesha.
"Katakan janin itu adalah anakku jika kamu masih ingin ibumu berumur panjang. Aku sangat menyayangi ibu dan tidak ingin terjadi hal yang buruk padanya hanya gara-gara perbuatan memalukan kalian berdua!"
Rafael sengaja mengejek untuk menampar rasa percaya diri dari Alesha yang dianggapnya telah menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang pria yang berstatus suami.
Jadi, ia memilih untuk menggunakan nama wanita paruh baya yang sama sekali tidak bersalah, tapi harus dimanfaatkan untuk membuatnya tidak terlihat hina sebagai seorang suami.
Sementara itu, Alesha saat ini bisa melihat netra memerah yang menampilkan amarah dari pria di hadapannya tersebut. Ia bisa melihat bahwa Rafael saat ini tengah menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menghinanya habis-habisan.
'Dasar pria bodoh yang tidak tahu malu! Seandainya aku bisa mengatakan bahwa kaulah ayah biologis dari janin ini, mungkin kau akan merasa sangat malu dan tidak berani menatapku penuh dengan kebencian seperti ini.'
Hingga Alesha yang tadinya tengah berusaha untuk merangkai kata saat menanggapi, seketika membulatkan mata begitu melihat Alex mendorong Rafael hingga terhuyung ke sebelah kirinya.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Aku benar-benar akan menghabisimu, Rafael!" sarkas Alex yang semakin merasa interaksi dari Rafael dan Alesha benar-benar sangat konyol dan membuatnya tidak bisa bersabar lebih lama melihat kebodohan dari dua orang yang memantik amarahnya.
To be continued...