I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Pernikahan ditunda


__ADS_3

Alesha kini mengarahkan tatapan tajam pada sosok pria yang saat ini duduk di hadapan. "Jangan macam-macam di rumahku karena aku akan berteriak jika kau melakukan sesuatu padaku!"


Jujur saja saat ini Alesha benar-benar sangat gugup berada di rumah dengan Alex. Takut jika ia khilaf dan tidak bisa menolak jika pria yang dari dulu dipujanya tersebut macam-macam padanya.


Apalagi saat amnesia, Alex benar-benar sangat berbeda karena jauh lebih agresif, sedangkan dulu sangat dingin dan cuek ketika menjadi sugar daddy-nya.


Sementara itu di sisi lain, Alex hanya tersenyum datar menanggapi ketakutan Alesha. "Tenang saja, aku bukanlah pria pemerkosa. Kamu bisa pegang janjiku, Sayang."


"Tidurlah! Aku hanya ingin melihatmu tidur dan akan langsung pergi setelah kamu tertidur. Bukankah aku sudah mengatakannya tadi?" ucap Alex yang kini masih bersedekap di dada.


Sikap Alex yang sangat cool benar-benar menjungkirbalikkan perasaan Alesha saat ini. Bahkan ia berkali-kali menelan saliva dengan kasar karena sangat mengagumi paras rupawan mantan sugar daddy-nya tersebut.


Ia berakting tersenyum masam, padahal hati serasa seperti mau meledak saat ini juga. "Baiklah, aku pegang kata-katamu itu. Aku pun sangat lelah dan mengantuk."


Tanpa merasa malu atau pun tidak enak, Alesha kini merebahkan tubuh di sofa yang ada di ruang tamu karena dari tadi mereka


ada di sana.


Alesha berniat untuk berpura-pura tidur, agar Alex segera pulang, lalu nanti pindah ke kamar. 'Semoga Alex menepati janji dan benar-benar pulang setelah melihatku tertidur.'


Niat hati ingin berpura-pura karena berharap perasannya yang jungkir balik segera kembali seperti semula, tapi yang terjadi adalah Alesha benar-benar tertidur pulas beberapa menit kemudian.


Sementara itu, Alex yang dari tadi tidak berkedip menatap wajah cantik wanita dengan mata tertutup tersebut, sama sekali tidak bergerak dari posisi.


Bahkan Alex mengetahui semua pergerakan Alesha saat itu dan beberapa kali mengulas senyuman saat ada perasaan damai ketika menatap wanita dengan napas teratur tersebut.


'Sepertinya kamu sangat mempercayaiku, Alesha, sehingga bisa tidur sepulas ini di hadapanku.'


Satu jam sudah Alex belum beranjak dari tempatnya karena memuaskan indra penglihatan yang memanjakan dari tadi. Hingga merasa jika hari sudah larut malam, kini bangkit berdiri dari kursi dan berjalan mendekati Alesha.


Kemudian Alex membungkuk dan memberikan kecupan manis di kening Alesha. "Jangan lupa mimpikan aku."


Puas menatap Alesha, Alex pun berjalan ke arah pintu utama dan langsung keluar. Kemudian mengunci pintu dan memasukkan kunci melalui celah bawah, agar Alesha besok bisa membukanya.

__ADS_1


Hari ini Alex memang tidak membawa mobil dan naik ojek khusus yang disewa satu hari saat mengikuti Alesha seharian pergi dengan Rafael. Ia pun langsung menelpon dan beberapa saat kemudian, seorang pria yang mengendarai motor telah datang.


"Antarkan aku pulang," ucap Alex yang kini naik ke atas motor dan memakai helm.


"Siap, Tuan," jawab sosok pria yang saat ini langsung melajukan motor keluar dari gang menuju alamat yang baru saja dikatakan oleh penumpang khusus yang hari ini membayarnya mahal.


*****


Sudah satu minggu Aeleasha dan sang suami berada di Jakarta. Besok, mereka akan kembali ke New York. Usahanya untuk membuat Rafael dan Alesha sama sekali tidak membuahkan hasil, meski sudah beberapa kali mengajak mereka dobel date.


Terlihat Aeleasha tengah mandi bersama sang suami, sedangkan Arza menginap di rumah ayahnya karena akan sangat lama bisa bertemu lagi setelah kembali ke New York.


Hingga beberapa saat kemudian, keduanya telah selesai melakukan ritual membersihkan diri dan berniat untuk keluar.


Aeleasha berniat untuk berjalan keluar lebih dulu setelah memakai wardrobe, tetapi kaki telanjangnya yang tadinya berjalan, tergelincir dan tubuhnya hampir saja terjerembab ke lantai.


Ia berteriak dan memejamkan kedua mata karena berpikir bahwa sebentar lagi tubuhnya terjerembab ke lantai.


"Astaga! Hati-hati, Sayang." Kini Arsenio melihat wanita yang berada dalam kuasanya dengan tidak berkedip.


Sementara Aeleasha yang mulai membuka mata dan mengerjap beberapa kali begitu bersitatap dengan sosok pria yang berada di belakangnya. Kemudian ia langsung berdiri tegak dan refleks mengarahkan pukulan bertubi-tubi pada sang suami.


"Ini semua pasti karena kamu mandi tadi menggunakan banyak sabun dan shampo. Aku hampir merasakan tubuhku terhempas lantai dingin dan basah ini."


Arsenio yang sama sekali tidak pernah menyangka respon luar biasa dari wanita yang telah ditolong bukan mengucapkan terima kasih, tetapi malah menyalahkan, tentu saja membuat ia refleks langsung tertawa terbahak-bahak.


"Kamu sekarang berani membentakku? Wah ... istriku ternyata sekarang sudah tidak takut padaku rupanya."


Merasa semua yang dikatakan olehnya adalah sebuah kebenaran, sehingga membuat Aeleasha merasa percaya diri. Refleks ia langsung mendekatkan leher ke arah wajah pria dengan tatapan tajam dan berhasil menghujam jantungnya.


"Buat apa aku takut pada suami sendiri? Apa saat kamu marah, mau mencekik leherku? Sekarang cekik saja, aku sama sekali tidak keberatan."


Aeleasha yang sangat percaya diri karena berpikir bahwa sosok pria yang ada di hadapannya tersebut tidak akan mungkin mencekik leher yang didekatkan. Ia masih terdiam pada posisinya.

__ADS_1


Aeleasha yang masih mengarahkan tatapan intens pada wajah dengan rahang tegas dan menampilkan ekspresi datar tersebut, masih dengan sabar menunggu.


Sementara itu, Arsenio yang kali ini merasa sosok wanita yang dianggapnya makin berubah liar dan sangat berani, kini memilih untuk menanggapi kemarahan itu dengan sebuah tindakan.


Tanpa berniat untuk membuka suara karena ia sudah mengarahkan tangan untuk menahan kepala dan tulang rusuk wanitanya. Kemudian langsung menyesap habis leher jenjang yang sudah dihiasi oleh kiss mark yang merupakan hasil karyanya.


'Inilah hukumanmu karena berani meninggikan suara pada suamimu,' gumam Arsenio yang semakin menyesap habis leher jenjang nan putih itu hingga seketika meninggalkan bekas kemerahan di sana.


Bahkan ia hanya tersenyum smirk saat mendengar rintihan kesakitan bernada serak dari wanita yang kini mencengkeram kuat pinggangnya.


Aeleasha yang tadinya berpikir bahwa suaminya akan memaklumi semua perkataannya dan tidak akan pernah menyakiti, sama sekali tidak pernah menyangka jika pria itu memberikan kiss mark yang sangat menyakitkan.


Hingga suara parau rintihannya terdengar sangat jelas memenuhi ruangan kamar mandi tersebut.


"Sayang! Sakit! Berhenti! Kamu menyakitiku," seru Aeleasha yang merasa lemas kakinya dan seperti kehilangan tenaga.


Hingga ia menopang beban tubuhnya dengan cara berpegangan kuat pada pinggang kokoh itu.


'Apa ia drakula? Hingga menghisap leherku? Aku yang salah tadi karena mengumpankan leherku. Dasar bodoh! Sekarang nikmati hukumanmu karena berani melawan suamimu,' lirih Aeleasha yang kini hanya memejamkan mata saat sensasi nyeri dan kenikmatan bercampur menjadi satu dalam waktu bersamaan.


Hingga membuat urat syaraf menegang dan tubuh memanas.


Begitu berhasil menghiasi seluruh leher jenjang putih itu dengan hasil karyanya, Arsenio yang kini mulai menarik diri dengan menjauhkan wajah, menatap sosok wanita yang juga tengah melepaskan tangan pada pinggang.


"Aku mengganti hukumanmu dengan ini."


Arsenio kini mengarahkan tangan pada kedua lengan wanita yang terlihat sangat datar, seolah mengungkapkan sama sekali tidak merasa terkejut.


"Apakah enak, Honey? Kebetulan aku ingin menunjukkan pada Rafael saat ia mengantar kepergian kita ke bandara. Jadi, jangan coba-coba memakai fondation karena Rafael harus melihatnya, agar segera melupakanmu. Aku bahkan masih melihat cinta di matanya saat melihatmu."


"Hal yang tidak bisa kulihat saat Rafael menatap Alesha—wanita yang akan menikah kontrak dengannya. Sayangnya ibu wanita itu belum pulih juga, jadi pernikahan ditunda entah sampai kapan."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2