
Alesha yang baru saja mendengar cerita dari sosok pria di hadapannya, merasa sangat iba karena nasib seorang Rafael Zafran yang terlihat sangat sempurna di mata orang lain karena merupakan CEO dari perusahaan besar ternyata memiliki rahasia yang cukup tragis.
Bagaimana tidak tragis jika seorang suami menjalani pernikahan tanpa pernah menyentuh sang istri yang ternyata hamil benih pria lain dan yang jauh lebih miris menurutnya adalah ketika wanita bernama Aeleasha tersebut ternyata tidak mencintai Rafael setelah mendapatkan banyak perhatian, kasih sayang dan juga cinta yang begitu besar.
Beberapa saat yang lalu, ia melarang Rafael untuk masuk ke dalam ruangan perawatan sang ibu sebelum menceritakan mengenai kisah perjalanan rumah tangga yang membuatnya tercengang.
Sebenarnya, Rafael tadi sama sekali tidak berniat untuk menceritakan perihal mantan istri yang tidak pernah mau menerima cintanya dan memilih kembali pada pria yang dulu menyakiti.
Meskipun semua yang terjadi adalah karena sebuah kekhilafan, tetapi ia masih merasa sakit hati dengan ulah Aeleasha saat memilih Arsenio dar pada dirinya.
Padahal ia sudah berusaha untuk menunjukkan ketulusan hati pada mantan istri, tetap saja tidak berhasil mengetuk perasaan wanita yang sampai saat ini belum bisa dilupakan.
Meskipun ia menyadari kebodohan, tetapi masih belum bisa menghilangkan pikiran yang dipenuhi bayang-bayang sang mantan istri.
Bahkan saat ini mendengar kekesalan setelah mengetahui cerita tentang rumah tangga bersama sang mantan istri.
"Kejam sekali wanita itu. Dia bahkan meninggalkanmu setelah membantu keluar dari masalah dan juga tidak membalas perasaan cintamu yang sangat tulus. Lalu, bagaimana dengan nasib putramu? Bukankah dia selama ini mengetahui bahwa kamulah ayahnya? Lalu, apa anak itu juga langsung melupakanmu setelah mendapatkan ayah baru?"
"Meskipun pria itu adalah ayah kandungnya, tetapi kamu cukup lama berstatus sebagai ayah dari anak itu." Alesha bahkan masih merasa sangat kesal dengan wanita yang merupakan mantan istri dari Rafael hingga membuat pria itu terluka begitu dalam karena tidak bisa melupakan.
Tentu saja ia saat ini sebenarnya ingin sekali mengumpat wanita itu, tetapi menyadari bahwa jika melakukannya, hanya akan ditanggapi penuh kemurkaan oleh Rafael yang dibutakan oleh cinta.
Akhirnya ia hanya mengumpat seadanya tanpa berlebihan. Bahkan ketika melihat raut wajah Rafael berubah murung, membuatnya merasa bersalah karena telah mengingatkan luka di hati pria itu.
"Maaf karena aku membuatmu harus mengingat tentang masa lalu bersama wanita itu."
Alesha melanjutkan perkataannya di dalam hati karena sedang asyik mengumpat wanita bernama serupa dengannya.
'Dasar wanita kejam tidak berperasaan yang tidak tahu balas budi karena menyia-nyiakan pria yang mencintainya dan juga menyayangi anak yang bukan darah daging sendiri seperti anak kandung.'
'Seharusnya ia menerima cinta Rafael dan hidup bahagia bersama, tetapi malah memilih pria yang telah memperkosa dan merupakan mantan kekasih dari sang ibu tiri. Mungkin jika aku bertemu dengannya, akan mengumpat habis-habisan.'
Sementara itu, Rafael yang baru saja menghembuskan napas kasar, hanya melirik sekilas ke arah wanita di sebelahnya tersebut.
"Aku telah dikalahkan oleh cinta. Bukankah kamu tahu bahwa cinta tidak bisa dipaksakan? Seperti itulah yang saat itu dirasakan oleh mantan istriku. Aku tahu jika dia sedang berusaha keras untuk bisa menerima cintaku karena merasa berhutang budi seperti yang kamu katakan tadi."
"Namun, ia gagal melakukannya hanya karena sekali melihat pria yang dicintai. Sebesar itu pengaruh dari cinta. Aku bahkan tidak bisa memaksanya seperti yang kulakukan padamu karena sangat mencintainya. Cinta bisa membuat orang bertambah bodoh dan seperti kehilangan logika."
__ADS_1
Alesha saat ini masih mengunci rapat bibirnya karena menyadari bahwa semua yang baru saja dikatakan oleh Rafael memang benar adanya. Tentu saja ia mengerti karena mengetahui bahwa semua itu benar adanya.
Apalagi ia mengalami sendiri saat menjadi orang bodoh dan kehilangan logika ketika mencintai seorang pria.
'Rafael benar. Aku memang orang bodoh karena jatuh cinta pada Alex. Bahkan, menyadari bahwa aku tidak bisa memiliki Alex karena tidak mungkin menghadapi orang tuanya. Pria dingin itu pun tidak mempunyai perasaan.'
'Lupakan Alex Clarkson. Lanjutkan hidupmu dan buang kegalauan hati saat menatap pria itu karena tidak ada harapan untukmu. Bahkan, ibu Alex masih menatapku dengan sangat tajam. Seolah ingin menunjukkan rasa tidak suka pada wanita sepertiku.'
'Ibu Alex masih menganggap bahwa aku adalah seorang wanitanya karena menjadi seorang sugar baby.'
Alesha yang pada awalnya sibuk sendiri dengan pikiran kacau saat mengingat tentang Alex, ia merasakan tangan dengan buku-buku kuat sudah mendarat pada pundaknya dan membuatnya menoleh ke arah sosok pria dengan wajah murung itu.
"Tunjukkan balas budimu padaku dengan tidak membuatku merasa Dejavu," ucap Rafael yang kali ini memilih untuk mengungkapkan kekhawatiran pada wanita di sebelahnya tersebut.
Rafael berpikir bahwa ia sudah menceritakan semuanya dan berharap bahwa Alesha tidak akan meneruskan jejak dari mantan istrinya.
Tentu saja kalimat ambigu yang baru saja diungkapkan oleh Rafael membuat Alesha sama sekali tidak paham dan hanya mengerutkan kening. Namun, merasa sangat penasaran, memilih untuk mengatakan hal yang saat ini singgah di kepala.
"Tunggu, Apa maksudnya dengan mengatakan bahwa aku akan membuatmu mengalami Dejavu?" Alesha bertanya sambil memutar otak dan saat ia baru saja menutup mulut, apa yang dimaksud oleh Rafael.
Seolah tidak berniat untuk memikirkannya, Rafael yang memang merasakan hal itu, kini langsung mengungkapkan sesuatu yang mengganggu di otaknya.
"Aku dulu menikah dengan Aeleasha karena menolongnya dan tidak ingin ia mendapatkan banyak penghinaan dari orang-orang saat hamil tanpa suami, sedangkan sekarang, aku pun akan menikahimu atas dasar simbiosis mutualisme."
"Ada banyak orang yang akan mengetahui bahwa aku akan menikah denganmu, tapi jika sampai kabar buruk tersebar, bahwa kamu mencintai pria lain, yang ada nanti, aku akan kehilangan harga diri di depan orang lain." Ia kini menatap ke arah bola mata kecoklatan milik Alesha dengan tidak berkedip.
"Aku dulu memang seorang pria yang lemah, bodoh dan miskin, sehingga bisa diinjak-injak oleh orang lain dengan sangat mudah, tapi sekarang semuanya sudah berubah. Saat ada orang yang berani meremehkanku, aku akan menghancurkan tanpa tersisa dengan kekuasaan yang saat ini kumiliki."
Tatapan tajam masih terlihat sangat jelas dari iris hitam Rafael saat ini karena ingin menegaskan pada Alesha agar tidak main-main dengannya.
"Kamu tidak akan hancur jika mematuhi perintahku, Alesha. Jadi, jangan buat aku marah atau pun kesal padamu hanya karena kamu masih berhubungan dengan Alex saat kita sudah berstatus menikah nanti. Bahkan sebelum menikah pun, kamu harus menjaga jarak dengan Alex."
"Aku tidak suka jika kamu sering berinteraksi dengan Alex, meskipun merupakan dosenmu. Jika perlu, aku akan mengurus perpindahanmu ke universitas lain nanti agar tidak bertemu dengan Alex."
Sementara itu, Alesha hanya diam karena saat ini masih mencoba untuk memahami arti dari ancaman Rafael.
'Kenapa aku merasa seperti sedang mendapatkan sebuah ancaman dari calon suami sesungguhnya? Padahal kami hanya bersandiwara,' gumam Alesha yang berniat untuk membuka mulut, tetapi mendengar suara dering ponsel dan diketahui adalah milik pria di sebelah yang tak lain adalah Rafael.
__ADS_1
Rafael yang tadinya menunggu respon dan jawaban dari Alesha, refleks langsung meraih ponsel dari saku jas dan melihat panggilan luar negeri yang sudah bisa ia tebak siapa. Refleks ia memberikan sebuah kode pada Alesha agar masuk dulu ke dalam ruangan perawatan.
"Ada telpon penting dari rekan bisnisku." Mengibaskan tangan sebagai bentuk sebuah pengusiran.
Alesha yang tadinya merasa sangat penasaran dengan siapa yang menghubungi Rafael, memilih pergi dengan raut wajah kecewa.
'Padahal aku ingin tahu siapa yang menelpon. Apa mantan istrinya? Tapi sepertinya tidak mungkin karena wanita itu sudah bahagia bersama suami baru,' lirih Alesha yang memilih untuk bangkit berdiri dari kursi dan mulai berjalan meninggalkan sosok pria yang terdengar berbicara dengan sangat nada suara datar.
Hal itu membuatnya mengerutkan kening karena merasa heran pada perkataan yang tadi mengatakan akan mengangkat telpon dari rekan bisnis.
"Ada apa? Apa kamu sedang kurang kerjaan? Hingga menghubungiku secara langsung? Padahal kamu biasa menghubungi Rudi," ucap Rafael dengan wajah datar dan masam begitu menggeser tombol hijau ke atas.
Bahkan tanpa menunggu suara dari orang yang menelpon, ia sudah langsung bicara dengan nada suara terdengar kejam dan sinis.
"Astaga, kau masih dendam padaku, Rafael. Bahkan aku rela bangun pagi hanya untuk bisa menghubungimu, tapi mendapatkan respon buruk darimu. Di sini, seharusnya masih nyaman tidur karena jam enam pagi."
Rafael yang kali ini melirik mesin waktu di pergelangan tangan kiri menunjukkan jam lima sore dan baru mengetahui jika jarak waktu dan tempat antara mereka sangat jauh.
"Siapa yang menyuruhmu untuk bangun pagi? Aku pun malas untuk berbicara denganmu. Ada apa sebenarnya kau menelponku?" tanya Rafael dengan berbagai macam pertanyaan tengah menari di otak.
Ia tahu jika seorang Arsenio yang merupakan pebisnis terkenal di New York tidak akan pernah menghubungi jika tidak ada hal penting. Hingga ia mendengar suara bariton dari seberang telepon seperti tombak tajam yang menghunus tepat di jantungnya.
"Aku akan datang ke Jakarta seminggu lagi bersama anak dan istriku. Bukankah kamu sudah menerima tentang peralihan kekuasaan perusahaan? Istriku sangat senang mendengar kabar itu dan saat aku mengatakan ingin ke Jakarta, ia ingin ikut dan aku tidak bisa menolak permintaannya."
Rafael berkali-kali menelan ludah dengan kasar karena tidak bisa membayangkan akan bertemu dengan wanita yang sampai saat ini masih belum bisa ia lupakan.
'Aku tidak mau bertemu dengannya karena hanya akan semakin tersiksa melihat kemesraan mereka. Apa yang harus kulakukan? Aku sama sekali tidak pernah berpikir jika menerima perusahaan akan membuat Arsenio datang ke sini.'
Rafael yang baru saja selesai bergumam sendiri di dalam hati, semakin frustasi begitu mendengar suara bariton dari pria yang merebut kebahagiaannya tersebut.
"Istriku ingin mengucapkan selamat padamu karena sebentar lagi akan menikah. Dia ingin bertemu dengan kembarannya," ucap Arsenio di seberang telepon dengan tersenyum simpul dan sudah bisa menebak seperti apa wajah pria itu sekarang.
To be continued...
Ada rekomendasi novel bagus nih. Jangan lupa masukkan ke rak baca, ya. Terima kasih 🙏
__ADS_1